Rafael berjalan seraya merangkul pundak Syaren hendak menuju ruang kelasnya, mereka berjalan seraya mengobrol dan sesekali tertawa bersama, namun langkah Rafael tiba-tiba saja melambat saat ia melihat seorang pria yang tengah berdiri di bibir pintu kelas lain.
Terlihat pria itu tengah menatapnya dengan tatapan sinis, tajam dan tak suka.
Langkah Syaren juga ikut melambat saat Rafael berjalan dengan lambat juga.
"Kenapa?" tanya Syaren.
"Tuh," Rafael mengerucutkan bibir ke arah pria yang berdiri di bibir pintu. "Mukanya ngajak berantem! Di pikir aku takut apa sama dia. Cih!" Rafael mendecih sinis.
"Udah, lewatin aja. Gak usah di tanggepin, ini masih pagi dan aku males berantem pagi-pagi begini, tadi kita udah berantem ya. Masa sekarang kamu berantem lagi," ucap Syaren.
"Ya dia nantang," ucap Rafael.
"Udah! Ayo!" ucap Syaren berjalan cepat hendak melewati Rizky yang berdiri di bibir pintu itu.
Tap tap tap
"Pagi, Syaren." salam Rizky begitu Syaren melewatinya.
Rafael sontak langsung menghentikan langkah begitu juga dengan Syaren, ia juga ikut menghentikan langkah saat Rafael yang berjalan seraya merangkulnya itu menghentikan langkah.
"Astagfirullahaladzim," gumam Syaren.
"Loh, kok istighfar?" tanya Rizky saat mendengar Syaren beristighfar.
Rafael menatap Rizky dengan tatapan tajam tak suka.
"Hm? Pagi juga, Riz." jawab Syaren, "Udah mau bel, aku duluan ya ...." ucap Syaren lagi.
"Pelajaran pertama Sosiologi kan? Tenang aja, tadi aku denger Bu Meila gak masuk kok, kita bisa ngobrol lama," ucap Rizky.
"Jangan kurang ajar ya!" ucap Rafael melepas tangannya yang tadi merangkul Syaren dan berjalan mendekati Rizky.
Syaren sontak langsung melangkahkan kaki dan berdiri tepat di depan Rafael.
" Kamu mau ngapain sih? Gak usah di tanggepin! Ayo!" ucap Syaren menatap mata Rafael.
"Tapi dia,-"
"Raf?" Syaren menggelengkan kepalanya meminta Rafael untuk tidak menanggapi Rizky.
"Ckk! Oke!" jawab Rafael menggenggam tangan Syaren. "Gue gak takut ya sama elo!" ucap Rafael menatap Rizky dengan tatapan sinis tak suka.
Yang di tatap hanya tersenyum smirk saat Rafael menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ayoo!" Syaren menarik tangan Rafael dan berjalan ke arah ruang kelasnya.
Tap tap tap
Huuhhh
Rafael menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar setelah ia dan Syaren duduk di kursi biasa mereka terduduk.
"Udahlah, lain kali kamu gak usah tanggepin dia, buang-buang waktu tau! Kalau nanti dia nyapa aku atau apapun itu, ya udah ... biarin aja! Kita lewatin aja, gak usah di denger. Toh ... sama aku juga gak di tanggepin ini kan? Kamu gak usah riweuh."
"Tapi dia ngejar-ngejar kamu, Sya!" ucap Rafael.
"Ya udah, biarin aja. Lama-lama dia juga bakalan bosen sendiri kalau akunya cuek dan gak nanggepin," jawab Syaren.
"Laki-laki itu, gak akan pernah nyerah dapetin perempuan yang dia suka meskipun di cuekin! Malah berasa jadi tantangan Syaren! Dia jadi semakin gencar ngejar kamu nanti!" ucap Rafael.
"Gak semua laki-laki! Lagian, kan yang penting akunya setia sama kamu, gak pernah kepikiran sama sekali buat main hati apalagi sama Si Rizky. Paling aku main hatinya sama Kim Taehyung." ucap Syaren seraya tersenyum menatap Sang Kekasih.
Rafael langsung mendelik sinis. "Jangan mulai ya, Sya! K-pop mulu perasaan, kamu gak bosen apa?" tanya Rafael.
"Enggak, aku kan ARMY sejati. Sama mereka aja aku setia, apalagi sama kamu, iya kan? Dengerin ya, Raf. Kalau sama yang jauh, gak pernah ketemu, dan hanya sekedar fans aja setia, apalagi sama pasangan. Yang ada di otak aku tuh cuma kamu sama Bias! Udah ... gak akan ada yang lain, k-popers itu biasanya gak pernah sama sekali kepikiran buat selingkuh loh. Terus, kalau misalnya ulang tahun, kamu gak usah pusing mikirin ngasih kado apa buat aku, kamu ngasih stand figure idol aja aku udah seneng."
"Astagfirullahaladzim," ucap Rafael.
"Kok istighfar?" tanya Rafael.
"Stand figure idol itu mahal Syaren! Kamu meres aku itu namanya, lagian di kamar kamu aku liat udah ada tiga loh, masa masih kurang." ucap Rafael.
"Hehe ... aku kan cuma nyontohin contoh kadonya, bukan ngasih kode," ucap Syaren tersenyum menyeringai.
"Buat laki-laki, yang kaya begitu namanya ngasih kode," ucap Rafael mendelik.
"Ultah aku kan baru bulan kemaren, Sayang. Masih ada setahun lagi buat kamu ngumpulin duit," ucap Syaren seraya menyelipkan tangannya di siku lengan Rafael dan menaruh dagunya di lengan atas Rafael.
"Apa?" tanya Rafael saat Syaren memeluk tangannya dan menatapnya seraya tersenyum.
"Taun depan stand figure Suga sama Park Jimin ya? Sama foto card tujuh member," ucap Syaren tersenyum lagi.
Huuhhh
Rafael memalingkan wajah ke arah lain dan tersenyum miris. "Beneran ngerampok nih anak," ucap Rafael.
"Masih setaun lagi loh, kan bisa nabung."
"Ciee ... ciiee ... yang makin lengket," ucap Rendi tiba-tiba di temani Dinda, mereka duduk di meja depan Syaren dan Rafael yang masih kosong.
"Sirik!" jawab Syaren masih memeluk tangan Rafael, ia lalu melihat Dinda yang tersenyum ke arahnya dan juga Rafael. "Kamu kok senyum-senyum sama pacar aku?" tanya Syaren pada Dinda.
"Kenapa? Gak boleh?" tanya Dinda.
"Enggak! Rafael punya aku! Hak milik aku!" jawab Syaren melepas tangan Rafael yang tadi ia peluk dan beralih melingkarkan tangan di pinggang Rafael memeluk Sang Kekasih dari arah samping. "Jangan macem-macem ya!"
Rafael sontak langsung mengernyitkan dahi dan tersenyum.
"Apa sih, Sya?" tanya Dinda.
"Apa-apa," ucap Syaren, "Rafael punya aku ya! Matanya di jaga!" ucap Syaren lagi seraya mengerucutkan bibir.
"Gak usah di tanggepin, Din. Dia sedang dalam mode enggak waras," ucap Rendi.
"Rafael punya aku! Titik! Valid no debat!" ucap Syaren.
Rafael kembali tersenyum lagi melihat tingkah kekasihnya itu.
"Ya ampun, Sya. Lu waras kenapa, cinta sih boleh, bucin juga boleh, tapi ya yang waras kenapa," ucap Rendi.
"Tau ih, beneran gak waras nih anak," ucap Dinda. "Lagian, ya ambil aja, orang aku juga gak doyan sama dia," ucap Dinda seraya melirik ke arah Rafael.
"Masa?" tanya Syaren.
"Dahlah, Din. Gak usah di tanggepin, dia lagi gak waras, gak akan nyambung kalau ngobrol sama dia," ucap Rendi.
"Enak aja, bini gue waras ya!" ucap Rafael, ia tak terima saat Rendi terus mengatai Syaren tidak waras.
Pfftt ... hahahah
Rendi dan Dinda sontak langsung tertawa keras.
"Bini? Gak salah denger?" tanya Rendi.
Syaren yang mendengar juga sontak langsung mengatupkan bibir menahan senyum karena malu.
"Kenapa? Dia kan calon ibu dari anak-anak gue," ucap Rafael.
"Haelah Raf, Raf, masih jauh! Ujian aja belum, kuliah, kerja, baru ke situ," ucap Rendi.
"Terserah gue lah," jawab Rafael.
"Udah, gak akan menang Ren debat sama mereka," ucap Dinda. "Pasangan aneh! Dua-duanya bucinnya kebangetan!"
"Biarin aja, dari pada jomblo! Wleee …." Syaren menjulurkan lidah pada Dinda dan Rendi.
"Sialan!" jawab Rendi.
"Hehh … berani kasar, gue yang maju!" ucap Rafael.
"Ckk! Serah lu lah, Raf." jawab Rendi.
"Terus kalian kesini mau ngapain?" tanya Rafael. "Ganggu!"
"Minta PJ," ucap Rendi. (Pajak Jadian)
"Ho-ohh ... gak pa-pa dah jajan bakso juga, gue lagi pengen makan yang pedes-pedes," ucap Dinda lagi.
"Bakso? Yang pedes?" tanya Rafael. "Kamu kan punya maag, Din. Gak boleh makan pedes," ucap Rafael.
Syaren langsung melepas tangannya yang masih melingkar di pinggang Rafael dan terduduk bersandar pada tembok saat Rafael kembali care lagi pada Dinda, ia menggigit bibir bawahnya dan merapatkan kedua tangannya di d*da terlipat.
'Mulai lagi,' ucap Syaren di dalam hati.
Rafael yang paham sontak langsung menoleh ke arah Syaren saat Syaren tiba-tiba saja melepas pelukannya. 'Ck! Lupa lagi,' ucap Rafael di dalam hati.
"Haelah, Raf. Dari kemarin ngelarang mulu perasaan," ucap Dinda.
"Ya udah sih, terserah. Aku kan cuma ngingetin," ucap Rafael pada Dinda lalu setelahnya ia meraih telapak tangan Syaren dan mengukir huruf M A A F serta gambar love di telapak tangan Syaren dengan jari telunjuknya.
Syaren menoleh menatap Rafael dan tersenyum, ia membalas dengan menggenggam tangan Rafael.
Rafael langsung balas tersenyum.
Bersambung