You are the only One

1191 Kata
"Kamu tuh bener-bener ya! Kamu pacar aku atau bukan sih? Kenapa gak peka-peka sama hati aku hah?" tanya Syaren. "Hm? Apa?" Rafael menatap Syaren bingung masih tak mengerti kenapa Syaren tiba-tiba saja marah padanya. "Ya iyalah, kamu pacar aku, dari kemarin-kemarin, sekarang, besok, besok lusa, dan seterusnya sampe nanti kita di restui untuk menikah ya kamu pacar aku, bahkan kalau kamu mau kita tunangan dulu, aku oke-oke aja, gak masalah," ucap Rafael. Syaren masih menatap Rafael dengan tatapan kesal, ucapan yang Rafael katakan barusan sama sekali tak membuat rasa kesalnya pada Rafael berkurang. Ia masih sangat tak suka jika Rafael memperhatikan wanita lain. Huuhhh Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. Rafael memegang telapak tangan kanan Syaren menggenggamnya saat melihat Syaren yang menghembuskan nafas dengan sangat kasar. "Kenapa? Bilang sama aku, sebuah hubungan itu harus saling terbuka, biar awet dan gak ada salah paham, jadi sekarang kamu cerita sama aku, oke?" ucap Rafael menatap Syaren dengan sangat serius. Syaren langsung menggigit bibir bawahnya menatap Rafael. Sebenarnya ia juga tak mau dan tak bisa terlalu lama marah pada Rafael. "Sekarang cerita," ucap Rafael lagi, "Jangan ada yang di kurangin dan jangan ada yang di lebihin. Mulai sekarang kita harus saling terbuka, jangan ada kebohongan di antara kita, biar aku atau kamu bisa saling memahami. Kamu jujur sama aku, kamu sebel kenapa. Kalau kamu sebel sama aku, kamu jelasin sama aku, apa yang buat kamu sebel biar aku bisa perbaiki apa yang salah sama diri aku sampe buat kamu sebel." Syaren mengerucutkan bibir. "Raf?" "Hm? Kenapa?" tanya Rafael. "Denger ya, Raf." Syaren menatap mata Rafael dengan sangat serius. "Iya, ini aku dengerin kok, kenapa?" tanya Rafael. "Ya ... mmhh ...." Syaren bingung bagaimana cara memulai pembicaraannya. "Kenapa sih? Lama banget mau cerita juga." "Ya sabar, aku kan kudu memulai kata yang pas dulu kayak gimana," ucap Syaren. "Ya udah, aku sabar." Syaren menatap Rafael dengan bibirnya yang masih mengerucut. "Aku sebel sama kamu," ucap Syaren to the point. "Ahh ... jadi dari kemarin kamu sebel sama aku? Dari kemarin kamu juga marah sama aku?" tanya Rafael. "Kenapa? Kamu sebel kenapa? Marah kenapa? Bilang sama aku, apa yang buat kamu sebel dan marah." ucap Rafael lagi. Huhhh Syaren menghembuskan lagi nafasnya terus menatap Rafael. "Kasih tau aku, kenapa?" tanya Rafael. "Aku tau kamu orang baik," ucap Syaren. "Iya terus?" "Aku gak suka kamu bersikap terlalu baik sama perempuan lain! Apalagi terlalu manis! Ya ... oke, dia punya maag. Aku tau, tapi harus gitu sampe bela-belain ambilin dia nasi? Harus gitu seperhatian itu sama dia? Sampe harus keluar padahal kamu lagi gak fit? Dan kenapa harus saling senyum-senyuman? Kenapa kalian harus saling tatap-tatapan? Kenapa harus sentuh-sentuhan segala? Kenapa kamu memperlihatkan care-nya kamu sama dia terang-terangan di depan mata aku? Maksudnya apa hah?" tanya Syaren kembali kesal, Rafael mengernyitkan dahi. "Kamu sengaja buat aku kesel? Iya hah? Kenapa kalian ngobrol banyak kaya begitu di depan aku? Kenapa hah?" tanya Syaren seraya menghempaskan tangan Rafael yang menggenggamnya sejak tadi karena terlalu kesal. Syaren semakin mengerucutkan bibir setelah berbicara panjang lebar pada Rafael. Sedangkan Rafael, ia mengatupkan bibir menahan tawa setelah mendengar Syaren berucap. Ia mulai menyadari kalau sejak kemarin Syaren sebal, kesal dan marah padanya karena kemarin ia terlalu perhatian, mengkhawatirkan Dinda dan mengambilkan nasi untuk Dinda. "Ahh ... jadi, kamu marah karena kemarin? Si Dinda?" tanya Rafael masih menahan senyum. Syaren memicingkan mata dan mendelik sinis saat Rafael menyebut nama Dinda. "Kamu beneran gak punya perasaan!" ucap Syaren. "Katanya kamu bukan tipe perempuan yang cemburuan, lah ini?" "Aku gak cemburu ya! Aku cuma gak suka!" ucap Syaren. "Sama aja, ini kamu cemburu, Sayang. Uuhhh ... gemoy sekali ...." ucap Rafael seraya memegang dagu Syaren dengan sangat gemas hingga membuat Syaren menghindarkan dagunya dari tangan Rafael. "Jangan sentuh aku!" ucap Syaren. "Ciee ... cemburu juga," ucap Rafael, hatinya tersenyum bahagia saat melihat wajah Syaren yang kesal, ini kali pertama ia bahagia saat melihat wajah Syaren yang tak bersahabat. "Jahat ya kamu! Malah senyum, dahlah ... terserah! Perhatiin aja semua perempuan!" ucap Syaren kembali melangkahkan kaki. "Sya? Kok marah?" Rafael berjalan mengikuti langkah Syaren, ia langsung menggenggam lagi tangan Syaren saat sudah berjalan di samping Syaren. "Saranghae," bisik Rafael tepat di telinga Syaren. Syaren menoleh dan mengatupkan bibir menahan senyum karena malu saat Rafael berbisik di telinganya. "Kamu dengerin aku ya, perhatian aku sama Dinda hanya sebatas temen, kalaupun yang punya maag itu Si Rendi ya aku bakalan memperlakukan hal yang sama juga, aku juga pasti nawarin makan ke Si Rendi, lagian kemarin kan aku nawarin ke semuanya, termasuk kamu loh," ucap Rafael. "Dinda itu cuma temen, gak akan lebih, Sayang." "Namanya laki sama sama cewek kalau temenan pasti nanti ada yang berharap! Kalau gak kamu ya Si Dinda! Apalagi dia jomblo," ucap Syaren. "Aku kan udah punya kamu, ya masa aku berharap sama yang lain, enggak lah ... gak akan pernah. Emang bukti cinta aku sama kamu masih kurang apa? Aku sampe hujan-hujanan terus demam loh, karena apa dan siapa? Ya karena aku cinta sama kamu dan demi kamu Syaren Putri Anichole, aneh deh ... masa gitu aja gak paham," ucap Rafael. "Yaa kan aku kesel!" "Ya udah aku minta maaf, mulai sekarang aku bakalan lebih hati-hati kalau care sama yang lain, aku juga bakal lebih jaga batasan sama perempuan lain. Gak akan pernah lebih dan hanya kamu yang akan aku perlakukan kaya ratu." Syaren semakin mengatupkan bibir menahan senyum setelah mendengar Rafael berucap. "Tapi aku masih marah sama kamu," ucap Syaren. "Marah mulu perasaan, aku udah buktiin loh ke kamu kalau aku itu sayang sama kamu, aku juga cinta sama kamu, You are the only one and will never be replaced! Valid! No debat!" ucap Rafael. "Gelay!" jawab Syaren tersenyum malu. Cup Satu kecupan Rafael daratkan di atas pipi Syaren hingga membuat Syaren langsung memegang pipinya. "Kamu ...?" "Apa? Mau marah lagi?" tanya Rafael. "Enggak!" jawab Syaren. Kring Suara nada dering pesan masuk terdengar, Syaren langsung mengambil handphone di saku seragamnya. Ia melihat layar handphonenya dan membaca nama siapa yang mengiriminya pesan di notif atas. "Siapa?" tanya Rafael. "Rizky," jawab Syaren. Wajah Rafael dengan seketika langsung berubah kesal. "Kita baru aja baikan loh, Sya. Kok sekarang malah kamu yang mulai sih," ucap Rafael. "Beneran Si Rizky," ucap Syaren memperlihatkan layar handphonenya pada Rafael. Rafael melihat nama paling atas di aplikasi w******p di handphone kekasihnya itu, benar saja ternyata yang mengirimi Syaren pesan adalah Rizky. "Gak usah di buka chatnya! Atau read doang aja sekalian, jangan di bales!" ucap Rafael. "Kok gitu?" "Kalau kamu bales chatnya dia, aku tinggalin!" ucap Rafael melangkahkan kaki. "Hiihh ... Rafael!" panggil Syaren dengan bibir yang kembali mengerucut. Rafael yang baru melangkah beberapa langkah itu langsung menghentikan langkah dan mendekati Syaren lagi. "Makanya jangan di bales," ucap Rafael. "Kan belum aku baca juga," ucap Syaren. "Intinya jangan pernah bales chat dari dia! Aku gak suka! Aku jaga batasan dengan perempuan lain, kamu juga jaga batasan dengan laki-laki lain, oke?" Syaren menganggukkan kepalanya pelan mengiyakan. "Udah siang, keburu macet! Nanti kita kesiangan lagi dan kena hukuman lagi, kamu gak mau kan? Jadi ... lets go!" ucap Rafael menggenggam dan menarik tangan Syaren berjalan pelan. Mereka berjalan ke arah jalan raya seraya bergandengan tangan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN