Kamu yang Salah, Aku yang Kena Omel

1220 Kata
"Aku nunggu di sini aja," ucap Rafael saat ia dan Syaren sudah satu langkah di depan pintu rumah Syaren. Syaren yang tadi hendak mendorong pintu rumahnya itu sontak langsung menoleh menatap Rafael. "Masuk! Mandi dan ganti baju kamu!" ucap Syaren dengan mata yang sedikit melotot. "Baju aku kan basah, ya kali aku masuk basah-basahan, nanti lantai rumah kamu basah loh," ucap Rafael beralasan. "Jangan alesan ya, Raf. Aku tau kamu bukan takut lantainya basah tapi karena kamu takut ketemu Papa aku kan? Malu juga kan?" Huuhh Rafael menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar dan berdiri dengan punggung yang sedikit membungkuk lemah. "Kalau papa kamu marah karena aku minta kamu nemuin aku pas ujan-ujan begini gimana? Papa kamu itu udah sensi loh sama aku, terus sekarang anaknya hujan-hujanan hanya karena aku, nanti dia malah makin kesel sama aku." "Kamu percaya aja sama aku udah! Aku pastiin kamu aman, gak akan kena omel." ucap Syaren, ia memegang pergelangan tangan kiri Rafael dan menariknya masuk ke dalam rumah. Rafael memegang kenop pintu dengan tangan kanan saat Syaren menarik tangan kirinya, membuat Syaren tak bisa melangkahkan kaki lagi dan berdiri di tempat. "Astagfirullah … ayo ih!" ucap Syaren. Rafael mengerucutkan bibir dan menggelengkan kepala cepat. "Gak mau," ucap Rafael. "Rafa? Jangan bikin aku kesel lagi ya! Kamu gak mau kan aku marah lagi." "Hmm ... kenapa gak kamu minjem aja bajunya Alfian dan bawa kesini, nah aku ganti bajunya di toilet belakang, aku jalan lewat samping. Biar lantai rumah kamu juga enggak basah," ucap Rafael beralasan lagi. "Di toilet belakang gak ada sabun buat mandi!" jawab Syaren. "Gak pa-pa, aku ganti baju doang, mandinya nanti di rumah," ucap Rafael. "Hiihhh ... kamu tuh susah ya di kasih tau! Gak ada penolakan! Ikut aku ke kamar Alfian! Lantai basah biar nanti aku yang pel!" ucap Syaren kembali menarik tangan Rafael namun Rafael malah semakin erat memegang kenop pintu rumah. "Gak mau, Sya!" "Rafaaaa ih!" ucap Syaren masih menarik tangan Rafael mulai kesal. "Kenapa? Ada apa?" tanya Nadisya tiba-tiba. Syaren dan Rafael sontak langsung melihat ke arah Nadisya yang baru saja datang dari arah dapur. Hehee Rafael tersenyum menyeringai menatap Ibu dari kekasihnya itu. "Ehh ... Rafael? Kok baju kamu basah? Kamu hujan-hujanan?" tanya Nadisya. Rafael menatap Syaren lalu menatap ibu dari kekasihnya itu lagi. "Iya, Rafa habis hujan-hujanan tadi," ucap Rafael kembali tersenyum menyeringai lagi. "Kenapa, Yaang?" tanya Darren tiba-tiba dari arah tangga. Degh Rafael langsung menunduk saat mendengar suara Ayah dari kekasihnya dan tengah berjalan ke arahnya. Nadisya menoleh menatap suaminya. "Ini, Rafael hujan-hujanan," ucap Nadisya. "Hmm?" Darren melihat Rafael di bibir pintu, melihat rambut Rafael yang memang basah, jaket yang basah serta celana panjang berwarna abu yang sudah sangat basah, terlihat air menetes dari lingkaran kain celana yang Rafael kenakan. "Kamu ngapain kesini hujan-hujanan?" tanya Darren lalu menatap Syaren, terlihat jaket yang Syaren kenakan juga sedikit terlihat basah. "Syaren? Bukannya tadi kamu di kamar? Kenapa kamu keluar hujan-hujanan?" tanya Darren lagi. Rafael yang mendengar Ayah dari kekasihnya itu berucap sontak langsung menunduk dan memejamkan mata. "Syaren tadi minta tolong sama Rafa," ucap Syaren. "Minta tolong apa?" tanya Nadisya. "Minta tolong ambilin novel yang ketinggalan di toko buku, Syaren baru inget kalau itu novel ketinggalan pas tadi Rafa anter Syaren pulang. Pas di depan pager banget baru ke inget sama itu novel. Tadinya setelah pulang dari latihan mau ke toko buku dulu buat ambil, tapi lupa. Syaren tuh pengen banget baca itu novel, mau Syaren baca nanti malem. Terus begitu anter Syaren pulang, Rafa langsung ke toko buku, ambil novel itu, ehh ... pas balik lagi ke sini, dia malah kejebak hujan. Dia neduh di ruko kosong depan komplek." ucap Syaren berbohong dengan mata melirik Rafael. Rafael menatap Syaren takjub, alasan yang Syaren katakan sepertinya akan menyelamatkannya. "Ya ampun, Rafa ... ngapain maksain sih? Kalau ujan ya kamu gak usah maksain," ucap Nadisya, ia lalu menatap putri sulungnya. "Kamu juga, kalau mau nyuruh tuh liat-liat dulu, orang dari tadi aja udah keliatan mau hujan, kenapa malah nyuruh? Kayak yang gak ada besok aja." "Yaa ... ya kan aku mau banget baca novelnya," jawab Syaren. "Ya gak gitu juga Syaren! Itu kamu nyusahin orang!" ucap Darren. Rafael sontak langsung menatap Ayah dari kekasihnya, rasanya ini kali pertama ayah kekasihnya itu berada di pihaknya. "Gak baik nyusahin orang kayak begitu, Papa gak pernah ya ngajarin kamu egois kaya begitu," ucap Darren lagi. Syaren langsung menatap Rafael dan memicingkan mata, yang di tatap malah balas tersenyum. Syaren lalu menatap Ayahnya lagi. "Ya ... kan, aku gak tau kalau bakal hujan, Paa … gak tau juga dia bakal hujan-hujanan," ucap Syaren. "Hiih ... kalau di kasih tau jangan ngejawab terus," ucap Darren pada Syaren lalu menatap Rafael. "Rafael?" "Hmm? Iya?" "Kamu mandi dan ganti baju, pinjem baju punya Alfian," ucap Darren lagi. "Ini juga mau Syaren ajak ke kamar Alfian, tapi dia gak mau, takut lantainya basah," ucap Syaren. "Lantai kok di pikirin," ucap Nadisya. "Udah ... Syaren? Bawa ke kamar Alfian, pinjem baju sama Alfian dan ganti bajunya. Nanti masuk angin lagi, lain kali kamu kalau nyuruh orang liat-liat dulu, waktunya pas atau enggak, udah tau langit udah mendung, malah nyuruh orang kaya begitu, Mama gak suka ya, Sya. Ini kamu egois banget." ucap Nadisya. "Iya iya maaf, kan gak tau," ucap Syaren. Ia lalu menarik tangan Rafael lagi untuk masuk dan berjalan ke arah kamar Alfian yang berada di bawah tangga. Sedang Nadisya, ia menggelengkan kepala dan kembali lagi ke arah dapur di ikuti Darren. Syaren menarik pelan tangan Rafael berjalan ke arah kamar Alfian, ia menoleh dan kembali memicingkan mata. "Kamu yang salah, aku yang kena omel," ucap Syaren, "kamu tuh beruntung tau punya pacar kaya aku, awas aja kalau berani nyakitin aku lagi, gak akan pernah aku maafin! Cinta kamu kudu lebih double dari cinta aku! Gak mau tau kamu yang harus lebih sayang, lebih cinta sama aku!" Rafael tersenyum dengan sangat manis menatap kekasihnya itu. "Aku kan udah bilang kalau aku sayang banget sama kamu," ucap Rafael. Syaren masih memicingkan mata. Ia lalu mengetuk pintu kamar Alfian saat sudah satu langkah di depan pintu. Tok tok tok "Fian? Alfian?" panggil Syaren sedikit berteriak. Dugh dugh dugh "Pelan-pelan ngetuk kamar orang," ucap Rafael saat Syaren mengetuk pintu kamar Alfian dengan sangat kasar. "Kamar orang? Kamar adek aku!" jawab Syaren. Ceklek "Kenap ... eehh? Kak Rafa? Kok ...?" Alfian terlihat kaget saat melihat Rafael yang basah kuyup. "Jangan banyak tanya dulu, Rafael ikut mandi sama minjem baju kamu," ucap Syaren menerobos masuk seraya menarik tangan Rafael untuk masuk, padahal si yang punya kamar belum mengizinkannya untuk masuk. Alfian kembali masuk lagi ke dalam kamar setelah Syaren dan Rafael masuk. "Kamu mandi dulu, keramas juga, biar gak sakit kepala karena kehujanan," ucap Syaren mendorong tubuh Rafael masuk ke dalam kamar mandi lalu menutup pintu kamar mandi itu rapat-rapat padahal Rafael belum menjawab ucapannya. Syaren menoleh menatap Alfian yang baru saja menutup pintu. "Bajunya mana?" tanya Syaren. Alfian berjalan ke arah lemari dan mengambil baju miliknya. "Kok bisa basah kuyup begitu?" tanya Alfian. "Kalian habis dari mana?" tanya Alfian. "Dihh ... kepo!" ucap Syaren, "Alfian? Bajunya nanti kamu kasih ke Rafael ya, Kakak mau ganti baju dulu, rada basah ini." ucap Syaren pada adik sepupunya itu. "Hmm?" Alfian mengangguk pelan, "Oke." Syaren lalu keluar dari kamar Alfian berniat kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya yang sedikit basah. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN