Membantunya Mengeringkan Rambut

1780 Kata
Ceklek Syaren membuka pintu kamar Alfian, terlihat Alfian yang tengah terduduk di atas ranjang bersandar, kaki kiri berada di atas kaki kanan dan mata yang fokus menatap layar handphone. "Dia belum beres?" tanya Syaren begitu masuk ke dalam kamar. Alfian menoleh dan menggelengkan kepala. "Orangnya gak ada kan? Itu artinya Kak Rafa belum beres dan belum selesai mandinya," ucap Alfian berbicara dengan mimik wajah yang datar dan kembali menatap layar handphone lagi. "Dihh ... biasa aja kali," ucap Syaren berjalan mendekati ranjang, ia naik ke atas ranjang, berbaring tengkurap dan mendekati Alfian. "Lagi ngapain sih?" tanya Syaren. Alfian menjauhkan layar handphonenya saat Syaren mengintip layar handphonenya. "Apaan sih? Kepo deh," ucap Alfian. "Cuma liat doang Alfian, masa gak boleh," ucap Syaren. "Ya jangan kepo lah," ucap Alfian. "Kepo apa? Palingan juga kamu cuma scroll IG doang," ucap Syaren terduduk tegak dengan mata masih melirik ke arah handphone Alfian. "Enak aja! Aku punya ...." Alfian menghentikan ucapannya tak jadi berucap. "Punya apa?" tanya Syaren seraya menaik turunkan alisnya. "Pacar ya?" tanya Syaren tersenyum menggoda. "Apaan? Enggak!" jawab Alfian. "Bohong! Kakak aduin uncle Al ahh ...." "Dihh ... aduin aja, orang aku gak punya salah, gak ngelakuin apa-apa juga, kenapa harus takut? Enggak tuh," ucap Alfian. Syaren langsung mengerucutkan bibir. "Masa?" "Iya!" jawab Alfian. Ceklek Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Rafael keluar dari kamar mandi dengan setelan kaos berwarna hitam dan celana jeans pendek selutut, rambut yang basah berantakan dan handuk yang masih melingkar di leher. Syaren menelan ludah saat melihat Rafael yang terlihat lebih cool dan fresh setelah selesai mandi. 'Aku baru sadar kalau dia ternyata ganteng banget, pantes aja Si Maura ngebet banget. Untung aku kasih kesempatan, kalau enggak? Pasti nanti langsung di embat Si Maura,' batin Syaren berucap. "Sya? Minta kantong kresek dong, buat seragam aku yang basah," ucap Rafael. "Hm?" Syaren beranjak turun dari ranjang dan berjalan mendekati Rafael. "Seragamnya taruh aja di keranjang, nanti biar aku yang cuci. Ya kali kamu pulang bawa kantong kresek," ucap Syaren. "Hm? Gak pa-pa?" tanya Rafael. "Gak pa-pa," jawab Syaren. "Kan di cucinya juga pake mesin cuci, gampang lah." "Ya udah deh, bajunya aku taruh di keranjang kok, jadi gak usah aku ambil ya?" tanya Rafael. Syaren mengangguk pelan mengiyakan. "Iya gak usah, biarin aja. Biar nanti aja aku yang ambil," ucap Syaren. "Itu rambut kenapa gak di keringin pake handuk sih? Kenapa handuknya malah di taro di leher?" tanya Syaren. "Hm?" Rafael memegang handuk yang ia lilitkan di leher. "Ini mau aku keringin," ucap Rafael. "Sini, aku bantu keringin," ucap Syaren mengambil handuk di leher Rafael dan membantu Rafael mengeringkan rambut dengan handuk itu, ia berjinjit karena Rafael jauh lebih tinggi darinya. Tingginya hanya sedada Rafael. Huuhh Syaren menghembuskan nafasnya kasar. "Kenapa?" tanya Rafael. Syaren berbalik dan naik ke atas ranjang. "Sini kamu, kamu ketinggian, kaki aku pegel kudu jinjit, punya kaki tuh jangan kepanjangan! Susah kan jadinya," ucap Syaren. Alfian yang mendengar sontak langsung menoleh melihat Syaren yang sudah naik ke atas ranjang di mana ia terduduk. "Udah pendek mah pendek aja, gak usah ngatain kaki orang kepanjangan," sahut Alfian. Syaren menoleh menatap Alfian. "Adek lucknut!" ucap Syaren Pffttt Rafael tertawa pelan. Ia berjalan mendekati ranjang di mana Syaren berdiri di atasnya. "Gak usah ngetawain!" ucap Syaren pada Rafael. "Enggak! Aku gak ngetawain kamu," ucap Rafael. "Ayo ... bantu aku lagi ngeringin rambut," ucap Rafael lagi berdiri di depan Syaren yang berdiri di atas ranjang hingga tingginya sekarang sejajar antara perut dan d*da Syaren. Syaren kembali membantu Rafael mengeringkan rambut dengan handuk tadi. Huuhh Kali ini Alfian yang menghembuskan kasarnya. "Kok berasa jadi nyamuk ya? Sebenernya ini kamar siapa sih? Ini kali pertama aku gak betah ada di kamar sendiri," gumam Alfian. "Kenapa kamu?" tanya Syaren menoleh menatap Alfian saat mendengar Alfian menghembuskan nafas. "Bengek? Minum obat sana." Alfian mendelik sinis, ia mengangkat bibir atasnya kirinya hingga terlihat mengkeriting lalu berbaring menyamping memunggungi Syaren dan kembali memainkan lagi handphonenya. "Dih ... ge-je!" ucap Syaren lalu menatap Rafael lagi. "Udah rada kering, kita keringin pake hair dryer aja," ucap Syaren beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah meja rias milik Alfian yang di atasnya hanya ada sisir, parfum dan beberapa skincare. "Sini, kamu duduk." pinta Syaren pada Rafael untuk duduk di depan meja rias. Rafael berjalan dengan langkah gontai dan bergumam, "Ya ampun, ribet banget perasaan, tinggal nyisir doang udah beres! Ini kenapa ribet banget? Untung cinta," Rafael berjalan mendekati Syaren lalu duduk di atas kursi di mana Syaren berdiri di sampingnya. Syaren melihat ke segala arah, dari nakas hingga meja belajar mencari sesuatu. "Alfian? Hair dryer dimana?" tanya Syaren. "Di laci bawah meja," ucap Alfian masih menatap layar handphonenya. Syaren langsung melihat ke arah laci di bawah meja. Ia menepuk kasar lutut Rafael. "Awas!" ucap Syaren seraya menggeplak paha Rafael. "Astagfirullah," Rafael langsung memutar lututnya ke arah kanan seraya mengelus paha yang tadi Syaren geplak karena terasa perih, "Perempuan kalau nabok damage-nya emang kagak pernah pake akhlak ya! Kek Preman sekali Kakak!" ucap Rafael dengan mata yang sedikit memicing. "Ya lagian salah sendiri, kenapa gak peka?" Syaren membuka laci dan mengambil hair dryer disana. "Dia bukan preman, tapi popeye! Liat aja badannya, kecil-kecil begitu makannya kek tukang bangunan gak di kasih makan tiga hari!" ucap Alfian bersuara dengan mata masih tetap pada layar handphone di tangannya. "Adek lucknut! Kurang ajar ya kamu sama Kakak!" ucap Syaren menoleh menatap Alfian. "Bodo amat!" jawab Alfian. "Ciihh!" Syaren kembali menatap Rafael lagi, ia mencolokkan kabel ke stop kontak menyalakan hair dryer. Rafael menatap diri dalam pantulan cermin. Terlihat Syaren tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ia tersenyum saat melihat Syaren yang dengan sangat telaten mengeringkan rambutnya. Rafael malah membayangkan hal yang jauh, membayangkan bagaimana nanti Syaren mengurusnya sebagai suami. Pfft Rafael mengatupkan bibir tertawa pelan dan tersenyum saat membayangkan apa yang terjadi nanti setelah mereka menikah, walau di rasa masih sangat jauh dan lama. Syaren yang melihat Rafael tertawa pelan di pantulan cermin sontak langsung mengerutkan alis. "Kenapa ketawa-ketawa kayak begitu?" tanya Syaren. Rafael menatap Syaren di pantulan cermin. "Hm? Enggak gak pa-pa, keinget seseorang aja," jawab Rafael. "Seseorang? Siapa?" tanya Syaren. "Ya pacarnya lah," sahut Alfian. "Ya kali mikirin Kak Syaren, gak penting banget!" Syaren yang mendengar ucapan Alfian sontak langsung menoleh dan kembali mendelik sinis. "Iya kan Kak Rafa?" tanya Alfian. "Hm?" Rafael menoleh menatap Alfian lalu menanggahkan kepala menatap Syaren. "Iya, mikirin pacar, sayang banget sama dia soalnya," jawab Rafael. "Tuhh kaaaaaan ... mikirin pacar. Emang Kak Syaren, jones!" ucap Alfian. "Alfian? Sekali lagi kamu ngomong, parfum kamu Kakak pecahin ya!" ucap Syaren. "Jomblo emang biasanya gak terima kalau di panggil jones! Kalau mau pecahin ya pecahin aja, paling nanti Papa sama Uncle yang marah ke Kakak," ucap Alfian. "Beneran kurang ajar ya kamu! Gak ada akhlak! Laki-laki di rumah ini emang kurang ajar! Pada gak punya akhlak!" ucap Syaren. "Astagfirullahaladzim ...," Alfian terduduk dan menatap Syaren. "Papa sama Uncle? Kurang ajar? Gak punya akhlak?" tanya Alfian. "Aihh ... kecuali mereka! Anak-anaknya!" ucap Syaren memperjelas. "Kak Rafa kurang ajar juga? Gak punya akhlak juga?" tanya Alfian. "Di rumah ini Alfian di rumah ini!" ucap Syaren. "Iya, Kak Rafa kan lagi ada di rumah ini, Kak Syaren punya mata gak sih? Orang duduk di sampingnya gitu masa gak keliatan!" jawab Alfian. Huuhhh. Syaren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar. "Kayaknya waktu lahir dia gak di adzanin," ucap Syaren. "Kamu punya masalah hidup apa sih, Fi ... yok cerita yok sayang sama kakak, Sayang." ucap Syaren. "Dihh ...." Alfian mengangkat bibir atas sebelah kiri hingga terlihat mengeriting. "Kalah kan lu!" gumam Syaren saat Alfian tak menjawab ucapannya, ia lalu kembali berdiri menatap cermin lagi. "Kamu duduk yang bener lagi," ucap Syaren pada Rafael. Rafael memutar tubuh dan kembali menatap diri dalam cermin, ia kembali tersenyum lagi setelah melihat perdebatan Syaren dan Alfian. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Syaren lagi saat melihat Rafael yang tersenyum lagi dalam pantulan cermin. "A,-" Ceklek Syaren, Rafael dan Alfian sontak langsung melihat ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Terlihat Darren, ayah dari Syaren tengah berdiri di bibir pintu. "Lagi ngapain?" tanya Darren. "Bantu keringin rambut Rafael," jawab Syaren. "Dia bisa sendiri, ngapain di bantuin segala?" tanya Darren. "Aku yang mau, kenapa sih? Kan ini bentuk tanggung jawab aku sama dia! Tadi kata Papa aku egois, ya ini bentuk rasa menyesal dan minta maaf aku sama Rafa," jawab Syaren. "Ckk! Ya udahlah, terserah kamu," ucap Darren, lalu menatap Rafael, "Rafael?" "Hm? Iya? Kenapa Uncle?" "Kamu pasti belum makan kan? Mamanya Syaren habis ngangetin sayur sama udah bikinin kamu teh manis anget, kamu makan dulu terus minum tehnya, biar badan kamu anget, biar gak masuk angin juga," ucap Darren. "Ahh iya, nanti Rafael kesana. Thanks Uncle," ucap Rafael. Darren mengangguk dan menutup pintu kamar. Rafael memegang d*da, jantungnya berdegup kencang saat menjawab ucapan dari ayah kekasihnya itu "Makan dulu, ayo! Aku juga laper," ucap Syaren memegang perut lalu melepas kabel di stop kontak. "Iya ayok," jawab Rafael. "Liat aja deh, Kak. Nanti nasinya pasti porsi tukang bangunan, badannya emang kecil. Tapi sebenernya dia kek hulk," ucap Alfian lagi bersuara. "Bodo amat! Yang penting aku cantik dan banyak yang mau! Wlee!" Syaren menjulurkan lidah meledek dan menggenggam tangan Rafael. "Ya mau bakalan nyesel kalau tau aslinya kek gimana!" jawab Alfian mengerucutkan bibir pada Syaren. "Dihh ... dasar! Ayo, Raf. Lama-lama di sini bikin darah tinggi," ucap Syaren. "Udah tua sih, makanya dikit-dikit kena darah tinggi!" sahut Alfian. Syaren memicingkan mata dan mendelik sinis, ia menarik tangan Rafael keluar dari kamar. Tap tap tap Klak "Kamu keknya gak akur ya sama semua adek-adek kamu," ucap Rafael. "Kemarin Aileen, sekarang Alfian. Daniel sama Dazriel juga?" "Semua anak laki di rumah ini emang gak ada akhlak semua, gak ada yang hormat sama aku! Kurang ajar kan? Padahal aku yang paling gede loh di sini. Ckk! Andai aja aku punya adek cewek, seru kayaknya, bisa di ajak sharing. Lahh mereka? Boro-boro!" ucap Syaren. "Kenapa gak minta aja sama orangtua kamu," ucap Rafael tersenyum. Plak Syaren menggeplak punggung Rafael. "Aa-aarhh ... sakit!" ucap Rafael. "Ya kamu mikir! Ya kali aku bilang begitu sama mereka, kalau aku di coret dari kartu keluarga gimana hah?" "Ya kita bikin kartu keluarga sendiri lah," ucap Rafael. "Kamu mau ada anak cewek juga kan? Kita aja yang punya anak cewek." Syaren memalingkan wajahnya ke arah lain dan tersenyum malu, ia lalu menatap Rafael dengan mengubah mimik wajahnya menjadi datar. "Rafael kamu mulai kurang ajar ya Sayang." Pfftt Rafael tertawa pelan. "Udah ayok, makan!" ucap Syaren berjalan lagi ke arah ruang makan di ikuti Rafael. "Tadi senyum-senyum mikirin siapa?" tanya Syaren seraya berjalan. "Kamu gak denger? Aku kan tadi udah jawab, aku mikirin pacar aku," jawab Rafael. Syaren kembali mengatupkan bibir lagi menahan senyum seraya berjalan ke ruang makan. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN