Orangtua Bucin

1154 Kata
Darren mengikuti langkah kaki istrinya yang berjalan ke arah dapur setelah meminta Syaren mengantarkan Rafael untuk mengganti baju di kamar Alfian. Tap tap tap "Mau apa?" tanya Darren saat melihat Sang Istri yang mengambil satu mangkuk berukuran besar di atas meja makan dan membawanya ke depan kompor. "Mau angetin sayur buat Rafael makan," ucap Nadisya. "Hm?" Darren yang berdiri bersandar pada meja keramik di samping kompor itu terlihat mengerutkan alis menatap Nadisya. "Mereka kan pulang sekolah langsung latihan, Yaang, beres latihan langsung pulang. Pasti belum makan kan? Apalagi anak kamu nyuruh gak pake aturan, udah tau mau ujan malah nyuruh orang, jadi hujan-hujanan kan. Kalau nanti Rafael demam karena hujan-hujanan gimana? Aku gak enak lah sama Diandra," ucap Nadisya seraya mengaduk sayur di dalam panci di atas kompor. "Ya Si Rafaelnya juga kenapa mau coba di suruh-suruh, dia kan laki-laki, masa mau di suruh-suruh sama perempuan. Harga dirinya di mana?" "Perempuannya itu anak kamu ya!" ucap Nadisya mendelik sinis. Yang di tatap sontak langsung mengatupkan bibir dan tersenyum. "Lagian Rafael itu sayang sama anak kamu, aku liat dari matanya kalau dia itu kaya punya rasa lebih. Sayangnya itu bukan sayang biasa! Bisa jadi dia ada rasa cinta sama Syaren. Laki-laki biasanya kalau udah cinta sama perempuan, apapun yang perempuannya mau pasti di turutin, pasti bucin banget. Dan itu yang terjadi sama Si Rafael, pas Syaren nyuruh ya dia mau-mau aja, gak bisa nolak." "Kaya aku sama kamu ya? Kayak kita dulu pas jaman masih pacaran, kamu bucin banget sama aku." jawab Darren tersenyum dengan sangat manis menatap Sang Istri. "Aku mah biasa aja perasaan," ucap Nadisya. "Biasa aja? Yakin biasa aja?" tanya Darren, "Terus yang maksa ikut ke Bandung pas pacarnya ada bisnis sama mantannya, itu siapa? Yang pacarnya di pegangin terus pas jalan keluar itu siapa? Yang jadi judes pas pacarnya ngobrol sama mantannya itu siapa? Yang ngaku udah jadi istri padahal belum nikah, itu siapa?" tanya Darren. Nadisya sontak langsung menatap Suaminya dan memicingkan mata. "Yaang? Ini spatula kalau kena kepala lumayan loh rasanya, kamu mau ini ngelayang ke kepala kamu?" tanya Nadisya. "Dulu di kejar, giliran udah jadi suami, di siksa mulu perasaan," ucap Darren, "Katanya cinta, masa cinta begitu banget sama suaminya," ucap Darren. "Aku aja gak paham kenapa dulu aku bisa sebucin itu sama kamu, padahal mantan-mantan aku lebih oke loh dari kamu, kayak si Rafli, terus adek kamu juga Si Alfa, terus cinta pertama aku dulu itu siapa ya? Aduh ... aku lupa namanya lagi, hmmm ...," Nadisya menatap langit-langit mengingat siapa nama cinta pertamanya. "Galih! Iya kan? Aku rada lupa namanya siapa." "Yaang? Jangan kurang ajar ya sama suami! Aku ini suami kamu!" ucap Darren. "Yang bilang kamu Kakak aku siapa?" tanya Nadisya. "Ya kenapa malah bahas mantan? Aku gak suka!" Darren sontak langsung memicingkan mata dan mendelik sinis menatap Sang Istri. Hehee Nadisya tersenyum menyeringai. Ia mematikan kompor dan mendekati suaminya, melingkarkan tangannya di pinggang Darren dan menanggahkan kepala menatap Sang Suami. "Bercanda Sayang, bercanda! Gitu doang masa marah." ucap Nadisya. Ia berjinjit dan, Cup Satu kecupan ia daratkan di atas bibir Suaminya. "Jangan mulai ya! Jangan mancing! Ini masih sore dan ini di dapur!" ucap Darren. "Yang bilang ini kamar siapa?" Nadisya melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah rak piring, ia membuka pintu atas lemari dan mengambil gelas di sana. "Ehh ... kamu mau teh manis gak?" tanya Nadisya. Darren menganggukkan kepalanya pelan. "Mau, tapi pake s**u ya," ucap Darren. "Iya," jawab Nadisya mengambil tiga gelas di dalam lemari dan menaruhnya di atas meja keramik dapur. "Banyak amat, buat siapa aja?" tanya Darren. "Buat anak kamu sama Rafael, biar perut mereka anget," ucap Nadisya seraya memasukkan kantung teh ke dalam gelas. Darren mendekati Nadisya, melingkarkan tangannya memeluk Nadisya dari arah belakang. "Ibu dan Istri terbaik di dunia," ucap Darren. Cup. Satu kecupan Darren daratkan di atas tengkuk leher Nadisya lalu setelahnya ia menaruh dagunya di atas bahu Nadisya. "Sayang gak sama aku? Cinta enggak sama aku?" tanya Darren. "Kalau gak sayang ya aku gak mungkin bertahan sampe anak kamu yang paling gede udah SMA, kalau gak cinta ya mana mungkin aku lahirin tiga anak kamu!" jawab Nadisya. Cup Satu kecupan Nadisya daratkan di atas pipi Darren. "Kalau mau mesra-mesraan di kamar! Bukan di dapur," ucap Seorang Wanita tiba-tiba. Darren dan Nadisya sontak langsung menoleh ke bibir pintu dapur, terlihat Ibu dari Alfian dan Aileen, Istri dari Alfa tengah berjalan ke arah kulkas. "Yaahh ... iklan!" ucap Darren melepas pelukannya. "Kalau ada dia berarti drama selesai!" ucap Darren lagi. Nadisya tersenyum seraya mengelus pipi Darren. "Ya lagian, kenapa kudu di dapur sih?" tanya Sherly mengambil buah apel di dalam kulkas. "Kek gak ada tempat lain aja." "Sirik!" jawab Darren pada istri adiknya itu. "Kenapa harus sirik? Aku punya suami, suami aku juga ada di kamar! Kalau mau tinggal godain dikit nanti dia bisa mulai!" "Mulai apaan?" tanya Darren. "Enggak! Males jelasin! Nanti malah jadi panjang," ucap Sherly. "Hiihh ... ge-je!" ucap Darren, "Yaang? Tehnya bawa ke depan ya, aku mau minum sambil nonton, bawain cemilan juga," ucap Darren lagi. Nadisya tersenyum dan mengangguk. "Iya, nanti aku anterin kesana," ucap Darren. Darren melangkahkan kaki keluar dari dapur. "Ehh ... Yaang?" panggil Nadisya. Darren yang baru saja melangkah hingga bibir pintu sontak langsung menoleh. "Apa?" "Sekalian panggil Syaren sama Rafael ya, suruh makan sama minum tehnya," ucap Nadisya. Darren mengangguk lalu melangkahkan lagi kakinya keluar dari dapur dan berjalan ke arah kamar Alfian. Tap tap tap. Ceklek Terlihat Syaren yang tengah memegang rambut Rafael mengeringkannya dengan hair dryer itu menoleh ke arahnya, Rafael dan Alfian juga menoleh melihat ke arahnya. "Lagi ngapain?" tanya Darren pada Syaren. "Bantu keringin rambut Rafael," jawab Syaren. "Dia bisa sendiri, ngapain di bantuin segala?" tanya Darren lagi. "Aku yang mau, kenapa sih? Kan ini bentuk tanggung jawab aku sama dia! Tadi kata Papa aku egois, ya ini bentuk rasa menyesal dan minta maaf aku sama Rafa." "Ckk! Ya udahlah, terserah kamu," ucap Darren setelah mendengar jawaban Syaren, lalu menatap Rafael, "Rafael?" "Hm? Iya? Kenapa Uncle?" "Kamu pasti belum makan kan? Mamanya Syaren habis ngangetin sayur sama udah bikinin kamu teh manis anget, kamu makan dulu terus minum tehnya, biar badan kamu anget, biar gak masuk angin juga," ucap Darren pada Rafael. "Ahh iya, nanti Rafael kesana. Thanks Uncle." Darren mengangguk dan menutup pintu kamar Alfian lalu kembali berjalan ke arah ruang keluarga. Tap tap tap Darren duduk di atas sofa dan menyandarkan punggungnya pada punggung sofa dan menyalakan televisi menonton. Tak berselang lama kemudian, seorang wanita tiba-tiba saja datang, menaruh biskuit kaleng dan teh s**u di atas meja. Cup Satu kecupan Nadisya daratkan di atas pipi Suaminya saat setelah menaruh biskuit kaleng dan teh di atas meja. "Saranghae ...." ucap Nadisya setelah duduk di samping suaminya, ia melingkarkan tangannya di pinggang Sang Suami, memeluk suaminya dari arah samping. "Keseringan nonton drakor sama Si Syaren ini pasti," ucap Darren. "Biarin aja lah, kan jadi buat aku makin bucin sama kamu," ucap Nadisya tersenyum. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN