Membayangkan Hal yang Terlalu Jauh

1573 Kata
"Tadi senyum-senyum mikirin siapa?" tanya Syaren seraya berjalan ke arah ruang makan. "Kamu gak denger? Aku kan tadi udah jawab, aku mikirin pacar aku," jawab Rafael. Syaren kembali mengatupkan bibir lagi menahan senyum. "Kamu bisa aja," ucap Syaren, ia lalu mendorong punggung Rafael dengan cukup keras hingga Rafael hampir saja terjatuh. "Damage cewek kalau ngegeplak atau nabok beneran kek,-" "Jangan mulai ya, Raf." ucap Syaren mendelik sinis. Hehe "Enggak," jawab Rafael tersenyum. "Saranghae ...." Syaren dan Rafael sontak langsung menghentikan langkah dan saling beradu pandang saat mendengar suara seorang wanita mengucapkan kata cinta. Mereka menoleh melihat ke arah ruang keluarga, melihat ayah dan ibu Syaren yang tengah terduduk di ruang keluarga seraya berpelukan. "Hiihh ... geli!" Syaren bergidik ngeri lalu berjalan cepat ke arah ruang makan meninggalkan Rafael. Rafael berjalan cepat juga mengejar Syaren ke arah ruang makan. "Yakin geli?" tanya Rafael yang kini sudah duduk di samping Syaren di meja makan. "Iya lah! Lebay!" ucap Syaren seraya mengambil nasi dalam mangkuk berukuran besar di atas meja makan. "So sweet tau! Nanti kita juga begitu kan setelah nikah?" tanya Rafael. Syaren langsung menoleh menatap Rafael. "Ini centong nasi kalau ngelayang ke kepala kamu, rasanya lumayan loh, Raf." ucap Syaren seraya memperlihatkan centong nasi pada Rafael. "Widih ... calon istri galak, nanti aku jadi suami takut istri gitu?" tanya Rafael seraya tersenyum. Syaren mengatupkan bibir menahan senyum, ia memukul lengan Rafael dengan centong nasi di tangannya. "Tuh tuh tuh kan ... jiwa istri galak udah mulai keliatan," ucap Rafael. "Nyebelin!" ucap Syaren lagi. "Iya tau, tapi sayang kan? Iya kan?" tanya Rafael seraya menyenggol bahu Syaren dengan bahunya. "Diem ih! Aku mau makan!" ucap Syaren. "Ya udah ... sini, suami yang baik mau ambilin nasi buat istrinya," ucap Rafael mengambil centong nasi di tangan Syaren. "Rafa? Jangan bikin kesel ya!" "Siapa yang bikin kesel? Ini kan latihan, Sayang." jawab Rafael menaruh nasi di atas piring. "Sayang mau ayam? Atau mau sayur?" tanya Rafael. Pffttt Hahahaha "Rafael cukup ya! Aku geli sumpah!" ucap Syaren duduk bersandar pada kursi dan memegang perut tertawa keras. Rafael yang melihat Syaren tertawa malah tersenyum. "Kan latihan," ucap Rafael. "Udah ah! Laper! Aku mau makan! Jangan lebay! Sayang, sayang! Geli tau!" ucap Syaren mengambil ayam goreng di atas piring lalu menaruhnya di atas piringnya. "Jangan mulai lagi ya! Makan! Aku gak mau keselek!" ucap Syaren lagi. "Ini juga mau makan yeee ...." ucap Rafael mengambil nasi dan menaruhnya di atas meja. Syaren mulai melahap nasi, ia lalu menoleh menatap Rafael yang tengah melahap nasi juga. Syaren lalu menatap lurus ke arah nasi di atas piring, menatapnya dengan tatapan kosong memikirkan hal lain. Syaren malah membayangkan bagaimana jadinya nanti jika mereka benar sampai ke jenjang pernikahan. Apa yang akan terjadi nanti? Tak bisa Syaren bayangkan sama sekali jika hal itu benar terjadi. Dan kini bayangan Syaren semakin jauh, ia malah membayangkan apa yang akan terjadi saat malam pertama pernikahannya dengan Rafael nanti. Mereka akan mengobrol sepanjang malam? Bertengkar? Bercanda dan bergurau semalaman? Atau ....? Bayangkan saja, mereka bersama sejak lahir, bermain bersama sejak usia mereka masih dalam hitungan bulan. Sekolah dari TK, SD, SMP dan sekarang SMA juga bersama, mereka hidup bersama sejak kecil, kurang atau lebihnya satu sama lain lebih sedikitnya saling mengetahui, lalu setelah dewasa di persatukan dalam pernikahan. Rasanya pasti akan sangat aneh dan juga canggung. Syaren menelan ludah saat bayangannya semakin jauh. 'Apa yang harus aku lakukan jika hal itu benar terjadi?' ucap Syaren di dalam hati. 'Suami istri, biasanya ... mereka ...,' Syaren menoleh menatap Rafael yang masih tetap fokus memakan nasi di piringnya. 'Apa nanti aku pura-pura tidur aja ya? Pura-pura gak paham aja gitu, tapi kalau dia bangunin aku terus minta aku ...,' Syaren menggelengkan cepat. "Astagfirullah ... ENGGAAAAAK ENGGAK ENGGAK ...." "Allahuakbar," ucap Rafael melempar sendok di tangannya, berdiri tegak dan mundur beberapa langkah menjauh dari meja makan karena kaget saat Syaren Berteriak. "Apa sih?" tanya Rafael. "Hah? Apa?" tanya Syaren menoleh menatap Rafael. "Kamu kenapa ih?" tanya Rafael. "Kenapa? Ada apa?" tanya Nadisya tiba-tiba dan juga Darren di sampingnya. "Kamu apain hah?" tanya Darren pada Rafael. "Sumpah demi apapun berani jatuh kepeleset pas pulang," ucap Rafael seraya mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga terlihat seperti huruf V, "gak Rafa apa-apain, dia langsung teriak gitu aja, Rafa juga kaget Uncle, makanya ini langsung ngejauh dari dia. Rafa pikir dia kesurupan, orang dari tadi kita fokus makan, terus dia tiba-tiba teriak," ucap Rafael. "Kamu kenapa hah? Kenapa teriak-teriak?" tanya Darren pada Syaren. "Bikin orang kaget aja," ucap Darren lagi. "Hah?" Syaren menatap ayah, ibunya dan juga Rafael, ia menunduk dan memejamkan mata malu. "Apa yang aku lakukan?" gumam Syaren. "Kenapa? Ada apa?" tanya Alfa tiba-tiba juga datang dari arah kamarnya di temani Istrinya, Sherly. Lalu tak berselang lama kemudian Alfian juga datang dan berdiri di samping ayah dan ibunya. "Ada apa? Kok rame?" tanya Alfian. "Dia kesurupan," ucap Rafael menunjuk Syaren yang masih terduduk di kursinya. Syaren semakin menunduk saat semua orang melihat ke arahnya. 'Apa yang telah aku lakukan? Ya ampun ....' Dugh dugh dugh Syaren menjedugkan keningnya ke meja makan. "Tuh kan, dia aneh," ucap Rafael. "Syaren? Kamu kenapa?" tanya Alfa mendekati Syaren dan duduk di kursi di mana tadi Rafael terduduk. "Beneran kesurupan kali, Paa" celetuk Alfian. "Enak aja! Aku sadar ya!" ucap Syaren pada Alfian. "Terus kenapa?" tanya Alfa memegang kepala Syaren lembut. Darren, Nadisya, Sherly, Alfian dan juga Rafael berjalan mendekati Syaren. 'Drama apa yang aku ciptakan Tuhan? Bikin malu aja!' ucap Syaren di dalam hati menunduk dan memejamkan mata. Ia berpikir dan mencari alasan untuk ia katakan pada keluarganya kenapa tadi ia berteriak. Tak mungkin kan ia mengatakan pada keluarganya kalau tadi ia berteriak karena membayangkan malam pertama pernikahannya dengan Rafael. "Kenapa, Sayang?" tanya Alfa lagi. "Ada masalah?" Tuk tuk tuk Rafael yang berdiri di samping Syaren itu menekan-nekan lengan atas Syaren dengan jari telunjuknya. Syaren langsung menoleh, memicingkan mata dan mendelik sinis menatap Rafael. "Aku gak kesurupan Rafael!" ucap Syaren dengan alis yang mengerut dan bibir yang mengerucut. "Terus tadi kenapa teriak-teriak kek begitu? Kan aku kaget," ucap Rafael. "Dia pasti mikir yang aneh-aneh," ucap Alfian, "Hayoo ... mikirin apa? Jangan-jangan ...." "Apa? Jangan-jangan apa? Aku gak bayangin yang aneh-aneh ya!" sahut Syaren. "Tuh kan ... dia bayangin sesuatu," ucap Alfian. "Kamu bayangin apa?" tanya Rafael. Syaren menatap Rafael, lalu menatap Sang Paman yang duduk di sampingnya kirinya dan juga menatap kedua orang tuanya yang berdiri di seberang meja makan di hadapannya. "Kamu bayangin apa?" tanya Darren. Syaren menelan ludah, otaknya sama sekali tak bisa berpikir untuk berbohong mencari alasan. "Bayangin apa?" tanya Alfa lagi seraya mengelus kepala Syaren dengan lembut. Syaren jadi semakin bingung, otaknya sama sekali tak bisa bekerja dengan baik, ia lalu merengut, bibirnya melengkung ke bawah. "Haaaa ... Huwaaa ... Hiks hiks hiks ...." Saking bingungnya harus bagaimana, Syaren malah menangis dan terisak keras. "Loh? Kok nangis? Kenapa?" tanya Alfa. "Kamu kenapa?" tanya Rafael ikut bingung. Padahal beberapa menit yang lalu mereka masih tertawa bersama. 'Si Rafael beneran kurang ajar! Bisa-bisanya aku sampe mikir sejauh itu,' ucap Syaren di dalam hati, ia masih terisak menangis. "Beneran kesurupan deh, Paa, kayaknya, bawa ke dukun aja udah," ucap Alfian lagi pada Alfa. "Alfian? Malah ganggu Kakaknya, udah ... kamu masuk sana," ucapan Sherly yang berdiri di belakang Syaren berbicara pada Alfian. "Abis dia geje, Maa! Di tanya kenapa malah nangis," ucap Alfian. "Alfian? Masuk kamar sana," ucap Sherly lagi. "Enggak! Gak mau, orang Fian penasaran, makanya kesini," ucap Alfian. "Jadi kenapa?" tanya Alfa lagi pada Syaren. Syaren memang sudah tak lagi menangis, namun ia masih sedikit terisak. "Enggak, gak pa-pa," jawab Syaren. "Gak mungkin gak kenapa-kenapa tapi teriak, terus pas di tanya malah nangis," ucap Darren. "Bilang sama Papa, kenapa?" tanya Darren lagi. "Hmm ... mmhh ...." "Kenapa?" tanya Alfa. "Ayo Sayang, bilang aja sama Uncle, kenapa?" "Enggak Uncle, Syaren gak pa-pa, tadi cuma tiba-tiba aja keinget novel yang semalem baru aja Syaren baca, ceritanya sedih banget. Masa tokoh cowoknya pergi pas malam pertama pernikahan ninggalin istrinya, terus cowoknya malah nemuin mantannya, istrinya di tinggal sendirian di hotel. Terus pas mereka udah saling jatuh cinta, eh istrinya kena kanker terus meninggal. Syaren rada gak terima aja sama endingnya, masa tokoh utama ceweknya gak ngerasain sedikitpun gimana rasanya bahagia, jadi tadi Syaren teriak bilang enggak itu karena gak terima sama endingnya," ucap Syaren menjelaskan. "Hah? Apa?" tanya Darren menghembuskan nafasnya dengan sangat kasar saat mendengar Syaren bercerita. "Beneran gak waras! Aku jauh-jauh dari kamar kesini cuma buat nyaksiin korban novel? Impressive!" ucap Alfian lalu berbalik dan kembali ke kamarnya lagi. Alfa yang tadi terduduk tegak sontak langsung duduk bersandar di kursi di mana ia terduduk saat setelah mendengarkan Syaren bercerita. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Kamu konyol sumpah, Sya. Aku beneran kaget loh tadi," ucap Rafael. Syaren menoleh dan mendelik pada Rafael. 'Ini semua gara-gara kamu!' ucap Syaren di dalam hati. "Lain kali kalau mau baca novel yang alurnya happy aja! Gak usah yang sad-sad, atau cari yang fantasi! Horor! Atau apa gitu! Biar gak bikin serumah heboh!" ucap Darren. "Masa kita lari-lari kesini cuma mau denger drama yang dia buat." "Yaa ... yaa ... maaf .... " ucap Syaren. "Lain kali jangan bikin orang khawatir ya, Uncle pikir tadi kamu kenapa-kenapa loh" ucap Alfa. "Iya maaf, enggak." jawab Syaren. Syaren menoleh menatap Rafael dengan tatapan tajam, sedangkan yang di tatap malah mengatupkan bibir menahan tawa setelah mendengar cerita Syaren. "Astagfirullah, punya pacar kelakuannya begini amat ya?" gumam Rafael seraya mengusap wajah. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN