"Raf? Ayo." ucap Rendi berdiri di samping meja Rafael dan Syaren setelah guru mata pelajaran terakhir keluar dari ruang kelas mereka.
Rafael mengerutkan alis bingung. "Ayo? Kemana?" tanya Rafael.
"Lahh ... tadi waktu istirahat kan udah oke," ucap Rendi.
"Oke apaan?" tanya Rafael memasukkan semua buku-bukunya di atas meja ke dalam tas. "Gak ngerti Gua."
"Anterin Gua keluar, sebentar doang. Haelah ...."
"Kapan Gua bilang oke?"
"Tadi, sebelum Lu nyamperin tuh anak ke kantin," ucap Rendi lagi seraya melirik ke arah Syaren yang tengah terduduk melihat ke arah Rendi dan Rafael.
"Ahh ... itu? Hmm ... Ya ... tadi kan Gua lagi emosi, jadi main iyain aja gitu. Keknya Gua gak bisa deh, Ren. Sorry ya," ucap Rafael.
"Lahh ... kok gitu?"
"Kalo Gua sama Elu, Syaren gimana? Kalau dia ikut, emang gak pa-pa?"
"Yaa ... gak bisa, dia gak mungkin bisa ikut," ucap Rendi.
"Nah kan ... ya kali Gua ninggalin dia," ucap Rafael.
"Kalau udah janji ya harus di tepatin," ucap Syaren. "Kalau kamu mau pergi sama Rendi ya udah gak pa-pa," ucap Syaren lagi.
"Lahh ... terus kamu gimana?" tanya Rafael menoleh menatap Syaren. " Lagian jam dua kita ada latihan taekwondo juga kan?"
"Latihan kan jam dua, sekarang masih jam satu. Kalian ada waktu satu jam," ucap Syaren lagi.
"Terus kamu? Gimana?" tanya Rafael.
"Ya aku gak pa-pa," jawab Syaren, "Kamu sama Rendi aja, aku tunggu kamu di toko buku biasa kita beli novel, kalau jam dua kurang seperempat kamu belum dateng juga jemput aku. Aku duluan ke tempat latihan, kita ketemu di sana aja," jelas Syaren.
"Nah tuh, ide yang bagus. Jam dua kurang gua anterin ke toko buku yang Syaren maksud. Kalo dia udah gak ada, Gua anterin ke tempat latihan," ucap Rendi.
Rafael menatap Rendi sebentar lalu menatap Syaren lagi. "Kamu beneran gak pa-pa?" tanya Rafael.
"Aku bukan anak TK, ya bener lah," ucap Syaren, "kamu ikut Rendi naik motor kan? Sepeda biar aku yang bawa."
"Hmm? Beneran?" tanya Rafael.
"Astagfirullah, iya ih!" jawab Syaren.
"Lu mah lama ih!" ucap Rendi. "Ayo! Malah buang waktu tau!"
Rafael menoleh dan mendelik sinis.
"Oke-oke, sorry!" ucap Rendi. "Kalian cepet ngobrolnya! Gua tunggu di parkiran." ucap Rendi lagi, ia lalu berbalik dan keluar dari ruang kelasnya.
"Kamu yakin? Gak pa-pa? Gak marah kan?" tanya Rafael.
"Aahhh ... ribet ya! Kan aku yang ngusulin, ya berarti gak pa-pa Rafael!" ucap Syaren bangkit dari duduknya. "Awas! Nanya mulu perasaan, di bilang gak papa juga."
Rafael ikut bangun dari duduknya dan keluar dari mejanya, lalu diikuti Syaren. Ia juga keluar dari meja dan berjalan keluar dari ruang kelasnya.
"Ya kan aku takut kamu marah," ucap Rafael merangkul pundak Syaren berjalan ke arah parkiran.
"Kenapa harus marah? Orang nanti di tempat latihan juga ketemu lagi, ya kali aku marah cuma karena kamu nganterin Si Rendi doang. Aku gak seposesif itu ya! Ya aku juga paham, kamu pasti punya aktivitas lain yang gak selalu sama aku," ucap Syaren. "Kecuali nih yaa ... kalau misal kamu keluar terus jalan sama cewek lain, terus jalannya dalam tanda kutip, nah baru aku marah. Lah ini? Nganterin si Rendi doang, ya masa aku marah."
"Ya siapa tau aja kan? Kamu curiga aku gimana gitu, terus marah sama aku," ucap Rafael.
"Diihh ... aku bukan tipe perempuan yang curigaan dan aku juga bukan tipe perempuan yang cemburuan ya! Harus berapa kali aku bilang sama kamu? Aku bukan tipe perempuan yang kaya begitu!"
"Bener? Gak akan cemburu?" tanya Rafael.
"Iyalah! Ngapain cemburu? Kek bocil! Pacaran mah ya yang normal-normal aja kali! Gak usah lebay!" ucap Syaren.
Rafael yang mendengar hanya mengerucutkan bibir sedikit kecewa, padahal ia berharap Syaren akan sedikit curiga dan juga cemburu, tapi ternyata nihil! Tidak ada sama sekali terlihat wajah curiga apalagi cemburu di wajah Syaren. Rafael lalu berjalan ke arah parkiran seraya merangkul Syaren.
Tap tap tap
"Ayo, naik," ucap Rendi yang sudah berada di atas motor.
"Bentar," jawab Rafael, ia lalu menoleh ke arah Syaren.
"Hati-hati bawa sepedanya, jalannya di pinggir jalan aja, jangan di tengah-tengah," ucap Rafael.
"Iya," jawab Syaren naik ke atas sepeda milik Rafael.
"Aku usahain gak akan lama, biar kamu gak terlalu lama nunggu aku," ucap Rafael.
"Astagfirullah, iya ih."
Rafael lalu melihat rambut Syaren yang terurai tak terikat. "Hiihh ...."
"Apa? Masa gitu doang marah," ucap Syaren.
"Enggak, bukan. Itu kenapa rambut gak di iket?" tanya Rafael.
"Ahhh ...," Syaren langsung memegang rambutnya yang terurai. "Lepas kali, aku aja gak sadar kalau gak ngiket rambut," ucap Syaren lagi.
Rafael mendelik, ia lalu melepas tas yang ia gendong dan membuka resleting kantong paling depan, mengambil ikat rambut berwarna biru di dalam tas bagian depan.
"Dihhh ... perasaan, kok kamu punya banyak iketan rambut kek begitu sih?" tanya Syaren.
"Jaga-jaga, kamu kan sering ngeyel kalau aku suruh iket rambut. Ya aku persediaan lah, di rumah masih banyak," ucap Rafael melangkah satu langkah dan mengikat rambut Syaren yang terurai panjang.
Syaren sedikit menunduk dan mengedipkan mata berkali-kali saat Rafael mengikat rambutnya. Padahal ini bukan pertama kalinya Rafael mengikat rambutnya, tapi kenapa ia masih deg-degan saat Rafael menyentuh rambutnya.
"Berasa jadi nyamuk ya Gua," ucap Rendi.
Rafael menoleh dan menatap Rendi. "Kenapa? Sirik Lu?" tanya Rafael.
"Dihhh ... ya kali Gua sirik," ucap Rendi.
"Udah ... sana! Kamu pergi," ucap Syaren setelah Rafael mengikat rambutnya.
"Kamu duluan, setelah liat kamu jalan. Baru aku jalan sama Rendi," jawab Rafael.
"Hmmm ... begini amat punya pacar," ucap Syaren berbisik.
"Aku begini karena sayang ya sama kamu," bisik Rafael.
"Iya-iya! Ya udah ... aku duluan ya?"
Rafael mengangguk pelan mengiyakan. "Hati-hati."
"Ren? Gua duluan ya?" pamit Syaren pada Rendi.
Rendi tersenyum dan mengangguk. "Pinjem dulu bocahnya ya …." ucap Rendi.
Syaren balas tersenyum dan mengangguk juga. Ia lalu menggoes sepeda Rafael keluar dari area sekolah.
"Udah ... ayo! Cepetan!" ucap Rendi lagi.
Rafael lalu berbalik dan berjalan mendekati motor Rendi. "Bawel Lu kek cewek!" ucap Rafael naik ke atas motor Rendi.
"Gak kebalik? Lu yang kek cewek! Si Syaren tuh udah gede! Lah Elu perlakuin dia kek emak ke anaknya yang baru masuk TK." ucap Rendi menyalakan mesin motornya.
"Emaknya nitipin ke Gua ya, jelaslah Gua jagain!" ucap Rafael.
"Jagain juga gak kek gitu Raf," ucap Rendi mulai melajukan motornya dengan kecepatan normal.
"Pelan-pelan bawanya!" ucap Rafael menepuk pelan bahu Rendi.
"Ya ampun, Raf. Baru juga Gua nyalain!" ucap Rendi. "Lu liat nih, masih dua puluh kilometer perjam, heboh amat perasaan. Kek cewek!"
"Hehh Fuad Gua trauma ya naik motor!" ucap Rafael.
"Udah, tenang aja ... kalau Gua yang bawa, gua jamin aman!" ucap Rendi menaikkan kecepatan laju motornya hingga 40 km/jam.
"Astagfirullah, Rendi!" ucap Rafael kembali menepuk lagi pundak Rendi berkali-kali. "Pelan-pelan! Gua masih muda! Gua mau nganterin bukan ke kuburan atau rumah sakit ya!"
"Empat puluh, Raf, empat puluh! Haelah … berisik amat!" ucap Rendi setengah berteriak.
"Pelanin atau nanti pas turun Gua tinggalin!"
"Ya kali dua puluh, Raf, mau sampe jam berapa hah? Udah ... Lu peluk pinggang Gua," ucap Rendi, "Gua jamin ini aman."
Rafael lalu melingkarkan tangannya di pinggang Rendi memeluk dari arah belakang. Rendi yang mengendarai motornya hanya tersenyum simpul saat Rafael memeluknya dari belakang, ia malah sengaja menambah kecepatan laju motornya hingga 60 km/jam.
"Lu ngajak perang ya! Berhenti gak? Gua masih mau hidup!" ucap Rafael, ia memejamkan mata karena takut. Ia pernah terjatuh dari motor saat sedang belajar mengendarai motor saat masih SMP dulu, tangan kanannya patah karena motor yang ia kendarai naik ke atas trotoar dan menabrak pagar beton. Ia sampai tak sadarkan diri beberapa hari di rumah sakit.
"Biar cepet Rafa!" ucap Rendi tersenyum.
***
Hueekk hueekk
Rafael memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel toilet khusus laki-laki di salah satu cafe yang sedang mereka kunjungi.
Pffttt
Rendi tertawa pelan saat melihat Rafael memuntahkan isi perutnya.
"Kurang ajar Lu ya Rendi! Gak lagi-lagi gua anterin Lu!"
"Lebay amat hidup Lu, Raf. Laki tuh belum keliatan laki kalau gak bisa bawa motor kebut-kebutan! Ganteng doang gak bisa bawa motor, canda gak bisa bawa motor," ledek Rendi.
Rafael mengambil tisu yang menggantung di samping wastafel, mengelap mulutnya yang basah dengan tisu itu. Ia lalu berdiri tegak dan menatap Rendi dengan tatapan sinis.
"Ganteng doang, ganteng doang," ucap Rafael mendelik sinis. "Gua emang ganteng! Gak kek elu! Jomblo!" ucap Rafael memutar kedua bola matanya kesal dan berjalan melewati Rendi keluar dari toilet.
Rendi menaikkan bibir atas kirinya. "Kadang ucapannya emang sedikit, tapi nyelekitnya itu loh," gumam Rendi berbalik dan berjalan juga ke arah pintu hendak keluar dari toilet. "Raf? Tunggu kenapa."
Tap tap tap.
"Ini kita mau ngapain kesini?" tanya Rafael.
"Ikut aja ayo," ucap Rendi merangkul pundak Rafael dan berjalan mendekati ke salah satu meja di sudut ruangan.
Rafael mengerutkan alis bingung.
"Ini mau apa sih?" tanya Rafael.
"Nanya mulu perasaan, berisik tau! Diem aja udah, tinggal ikutin langkah Gua doang" ucap Rendi lagi, ia lalu berjalan mendekati meja di sudut ruangan.
Terlihat punggung dua orang wanita yang mengenakan seragam yang sama tengah terduduk di sana.
Rafael mengerutkan alis saat Rendi membawanya mendekati meja yang di duduki oleh dua orang wanita yang duduk membelakanginya itu.
Tap tap tap.
"Hai? Lama gak?" tanya Rendi saat sudah satu langkah di samping meja.
Rafael semakin mengerutkan alis. "Maura?" panggil Rafael.
"Haii, Raf?" Yang di panggil itu melambaikan tangannya pada Rafael. "Kok lama sih?" tanyanya.
Rafael sontak langsung menoleh menatap Rendi yang berdiri di sebelahnya.
"Hehee ...." Rendi tersenyum menyeringai.
Melihat Rendi yang tersenyum seperti itu, Rafael langsung mengerti apa maksud Dari senyuman itu, ia langsung memicingkan mata dan mendelik sinis. "Maksudnya apa hah?" bisik Rafael dengan gigi yang menggertak.
"Biar kita gak jomblo terus!" ucap Rendi berbisik juga.
"Lu gila ya? Gua udah,-"
"Ssttt ... duduk aja, udah terlanjur sampe kesini ini," ucap Rendi mendorong tubuh Rafael agar terduduk berhadapan dengan Maura dan ia duduk di samping Rafael.
"Kurang ajar Lu ya!" ucap Rafael menutup mulut dengan tangan kanannya, berbisik tepat di telinga Rendi.
To be continue ....