Brak!
"Allahuakbar," ucap Syaren kaget. Ia menanggahkan kepala melihat siapa orang yang menggebrak meja. "Mati!" gumam Syaren.
"Ckk! Elu lagi," ucap Rizky lalu bangkit dari duduknya mendekati Rafael hingga akhirnya berdiri satu langkah di depan Rafael.
"Kenapa? Gak suka? Mau marah?" tanya Rafael. "Mau berantem? Ayo! Gua kagak takut!"
Syaren langsung berdiri di tengah-tengah di antara Rafael dan Rizky setelah melihat beberapa anak lain melihat ke arahnya sebagai tontonan. "Udah ... kalian apaan sih? Malah berantem," ucap Syaren, ia lalu mengambil kebab dalam plastik di atas meja lalu menyelipkannya di jari telunjuknya. Syaren juga mengambil dua cup minuman di atas meja yang ia pegang di tangan kanan dan kirinya. "Sorry ya, Riz, aku kan udah bilang kalau aku gak bisa ngobrol terlalu lama.Aku duluan ya. Sekali lagi sorry," ucap Syaren lagi.
Syaren lalu berbalik memutar tubuh dan menatap Rafael.
"Ayo," ucap Syaren mendorong tubuh Rafael dengan lengannya.
"Belum selesai," ucap Rafael pada Syaren.
"Ayok!" ucap Syaren lagi dengan gigi yang menggertak dan mata yang membulat.
"Ckk!" Rafael berdecak kesal saat melihat wajah dan mata Syaren yang tak bersahabat.
"Liat balesan gua nanti," ucap Rizky pada Rafael.
"Rizky!" Syaren menatap pria di sampingnya itu dengan tatapan tak suka.
"Gua gak takut!" jawab Rafael balas menatap Rizky dengan tatapan tak suka.
"Ihh ... udah! Ayo!" ucap Syaren lagi, ia memberikan satu cup minuman yang ia pegang di tangan kirinya pada Rafael, lalu memegang pergelangan tangan Rafael dan menariknya keluar dari kantin.
Tap tap tap
"Bisa gak jangan bikin masalah? Kan malu di liatin anak lain," ucap Syaren.
"Yang bikin masalah bukan aku, tapi kamu!" ucap Rafael mendelik, ia lalu melepas tangan Syaren yang menggenggamnya dan memberikan minuman cup itu pada Syaren. Rafael lalu berjalan cepat meninggalkan Syaren sebelum ucapannya di jawab.
"Yaaahh ... dia makin marah," gumam Syaren berjalan cepat mengejar Rafael. "Raf? Rafaaaa ...." panggil Syaren namun sama sekali tak di jawab.
Syaren kembali berjalan lagi ke arah ruang kelasnya hingga akhirnya ia berdiri di bibir pintu ruang kelas. Hanya ada beberapa siswa yang ada di kelasnya karena sebagian lainnya masih di luar.
Syaren lalu berjalan mendekati mejanya. Rafael sudah terduduk di sana, duduk bersandar pada tembok dimana ia terbiasa duduk. Pria itu duduk dengan earphone miliknya yang terpasang di telinga dan dengan mata yang terpejam.
"Dia terlihat lebih tampan kalau lagi merem begitu, tapi coba kalau lagi melek. Bikin keselnya nauzubillah." gumam Syaren.
Syaren berdiri di samping mejanya, ia menaruh minuman dan kebab dalam plastik di atas meja.
"Rafa?" panggil Syaren.
Rafael membuka mata dan menatap Syaren, ia bangun dari duduknya dan keluar, berdiri satu langkah di hadapan Syaren. "Masuk," ucap Rafael meminta Syaren untuk masuk dan duduk di kursinya.
Tanpa menjawab, Syaren langsung melangkahkan kaki lalu duduk di kursi biasanya ia terduduk. Setelah Syaren duduk di kursinya, Rafael lalu kembali terduduk lagi di tempat duduknya. Terduduk kembali di samping Syaren.
"Sumpah demi apapun aku sama sekali gak nyamperin dia," ucap Syaren membuka pembicaraan, "Tadi aku niat cuma mau beli kebab sama minuman buat kita, pas aku lagi nungguin pesenannya, Si Rizky tiba-tiba aja dateng terus duduk di samping aku, dia emang ngajak ngobrol, tapi gak aku tanggepin kok," ucap Syaren menjelaskan.
"Aku gak nanya!" jawab Rafael
"Ya ampun Raf, gitu amat sama aku." ucap Syaren. "Kan aku udah jelasin, kalau kamu gak percaya ya kamu tanya aja sama Ibu Kantin. Aku gak bohong." ucap Syaren lagi.
"Emang aku ada bilang kalau kamu bohong? Enggak kan!"
Syaren tersenyum, ia langsung menggeser duduknya hingga merapat dengan tubuh Rafael. "Jadi kamu percaya sama aku?" tanya Syaren.
"Iya ... aku percaya," jawab Rafael.
"Nah gitu dong," ucap Syaren, ia memegang kedua pipi Rafael dengan tangan kanannya, memegangnya seperti ia memegang squishy.
"Hiihhh ...." ucap Rafael melepas tangan Syaren di pipinya.
"Coba aja kalau kita gak lagi di sini ya? Yang kemarin aku lakuin di depan rumah udah aku lakuin lagi kayaknya," ucap Syaren tersenyum.
Rafael sontak langsung menoleh menatap Syaren dan mengatupkan bibir menahan senyum.
"Jan ngadi-ngadi ya!" ucap Rafael.
"Kenapa? Nagih ya?" tanya Syaren.
"Enggak! Jan asal ya!," ucap Rafael mengambil minuman cup di atas meja. "Ini buat aku kan?" tanya Rafael hendak meminum ice cappucino itu.
"Jangan di minum," ucap Syaren cepat.
Rafael mengerutkan alis tak jadi menyedot minuman itu. "Kenapa? Bukan buat aku?" tanya Rafael. "Kalau bukan buat aku, terus buat siapa?" tanya Rafael lagi.
"Aku niat pesen dan beli itu emang buat kita, apalagi kamu emang jarang sarapan. Jadi aku beliin kamu kebab sekalian minumnya. Cuma pas aku mau bayar, itu udah keburu di bayar sama Si Rizky," ucap Syaren.
"Hiiihh ...." Rafael langsung menaruh lagi minuman itu di atas meja.
"Udah aku tolak tapi dia malah so-soan mau bayar," ucap Syaren.
"Kan ... baru juga baikan, kenapa kamu mulai lagi sih?"
"Kan aku jujur, dari pada nanti kamu tau dari orang kan?"
"Ckk! Iya juga sih," ucap Rafael. Ia lalu menoleh ke arah belakang, melihat Rendi yang tengah memainkan gitarnya di kelilingi para siswa perempuan. "Reeen? Rendi?" panggil Rafael.
Yang di panggil sontak langsung berhenti memainkan gitarnya dan menatap Rafael. "Oii? Kenapa?"
"Mau minum gak?" tanya Rafael.
"Minum? Mau lah," jawab Rendi.
Rafael mengambil dua cup di atas meja dan juga kebab di dalam plastik lalu berjalan mendekati Rendi yang hanya 4 langkah di belakangnya.
Tap tap tap
"Buat Elu," ucap Rafael memberikan makanan dan minuman pada Rendi.
"Wiihhh ... punya siapa? Kenapa gak di makan?" tanya Rendi. "Gak Elu kasih obat yang aneh-aneh kan? Obat sakit perut gitu misalnya."
"Enggak lah! Gua gak punya dendam sama Elu," ucap Rafael. "Ini Si Syaren, dia beliin ini buat Gua, tapi Gua masih kenyang, dari pada mubazir gak Gua makan dan di buang kan? Jadi buat Elu aja, aman kok. Belum Gua makan sama sekali dan gak Gua kasih racun."
"Owalah, oke oke, thanks ya!"
Rafael mengarahkan jari telunjuk dan jari jempolnya yang ia satukan hingga terlihat berbentuk huruf O. "Oke, sama-sama," ucap Rafael, ia lalu kembali lagi ke mejanya mendekati Syaren.
"Yakin gak laper?" tanya Syaren saat Rafael sudah kembali dan berdiri di samping meja.
"Aku tadi pagi sarapan kok. Jadi masih kenyang, nanti aja pulang sekolah kita ke mie ayam langganan kita biasa makan siang," ucap Rafael.
Syaren tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan.
Rafael lalu hendak duduk kembali di tempat duduknya.
"Tunggu-tunggu," ucap Syaren.
"Kenapa?" tanya Rafael.
"Aku mau keluar, mau ikutan gabung sama Rendi, keknya mereka lagi asik," ucap Syaren bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Rendi di belakang.
Rafael tak jadi terduduk, ia malah ikut melangkahkan kaki juga mendekati Syaren.
"Mau ikutan boleh gak?" tanya Syaren.
"Boleh lah, biar rame," ucap Seorang siswa bernama Lisa.
Syaren tersenyum dan duduk di atas meja paling belakang. Sedang di kursi ada Dinda yang tengah terduduk juga.
"Din? Pindah dong, Gua di situ," ucap Rafael meminta Adinda untuk pindah.
"Hiihh ... dateng-dateng malah ganggu, pake ngusir lagi," ucap Adinda.
"Entar kalau ulangan Gua kasih contekan," ucap Rafael.
"Hm?" Adinda tersenyum, "bener ya …."
"Iya bener! Awas! Pindah," ucap Rafael lagi.
"Oke," jawab Adinda tersenyum, ia bangun dari duduknya dan terduduk di atas lantai di samping Rendi yang terduduk di atas lantai memainkan gitarnya.
"Segitunya amat," ucap Syaren seraya memainkan rambut Rafael yang duduk di kursi di mana mejanya ia duduki.
"Oke ... enaknya nyanyi lagu apa?" tanya Rendi.
"Yang lagi viral aja, Kaleb J to the bone itu loh," ucap Syaren.
"Boleh ... Gua dulu terus ntar kalian nyaut yaa … kek yang lagi viral," ucap Rendi.
"Oke ...." ucap Syaren, Rafael, Dinda dan yang lainnya.
Syaren yang terduduk di atas meja itu melingkarkan tangannya di leher Rafael yang duduk di bawahnya.
Rafael juga langsung memegang tangan Syaren yang melingkar di antara d*da dan lehernya.
Rendi mulai memainkan gitarnya. "I want you to the bone ...."
Rendi tersenyum dan mengangguk mengisyaratkan agar teman-temannya meneruskan lirik lagu selanjutnya yang akan di nyanyikan.
Syaren, Rafael, Adinda, Lisa dan yang lainnya mulai menyanyikan lirik lagu selanjutnya.
Rendi terus memainkan gitarnya hingga lirik selanjutnya kembali ia nyanyikan lagi.
Kemudian, yang lainnya kembali menyanyikan lagi lirik lagu selanjutnya, mereka menyanyikan lagu dengan sangat menghayatinya dan juga begitu menikmatinya. Satu siswa bahkan mengarahkan handphone ke arah teman-temannya yang bernyanyi mengambil video.
Beberapa kali Syaren memberikan senyuman manis dengan jari tangan berbentuk huruf V ke arah kamera handphone seraya bernyanyi. Siswa lain juga melakukan hal yang sama.
"Ehh ... di videoin kan?" tanya Rendi.
"Iya, Gua video-in kok, ntar Gua kirim di grup WA." ucap Seorang Siswa laki-laki bernama Adi.
"BTW ini harusnya udah masuk kan? Kok belum bel ya, tumben banget," ucap Rafael.
"Gak pa-palah, bosen Gua belajar mulu. Pinter enggak stress iya!" ucap Rendi.
"Gimana mau pinter kerjaan Lu di sekolah ngecengin cewek doang," ucap Rafael.
"Hehee …." Rendi tersenyum menyeringai.
"Yang pinter omongannya beda ya," ucap Lisa.
"Dihhh ...." jawab Rafael.
"Udah ... kita ke lagu selanjutnya aja. Sambil nunggu guru dateng," ucap Syaren.
"Oke ... mau lagu apa lagi sekarang?" tanya Rendi.
"Dynamite atau euphoria," ucap Syaren.
"Kpop mulu." ucap Rafael menanggahkan kepala menatap Syaren.
"Biarinlah, terserah aku!" jawab Syaren, "Aku kan Istrinya Seokjin, selingkuhannya Jimin, pacarnya Kim Taehyung."
"Halu!" ucap semua orang termasuk Rafael.
Syaren mengatupkan bibir menahan tawa. "Lahh ... nyatanya begitu, sirik!" ucap Syaren.
Bersambung