"Ohh ... ya udah! Nanti aku sengajain aja! Aku iyain ajakan si Rizky yang mau bicara serius. Aku yakin tuh dia pasti mau jujur tentang perasaannya sama aku." ucap Syaren mencoba memanasi Rafael.
Terlihat Rafael yang langsung memicingkan mata dan mendelik sinis.
'Nah kan. Aku rasa dia mulai panas dan cemburu,' ucap Syaren di dalam hati saat melihat Rafael yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Ya udah sana! Gak akan aku larang!" ucap Rafael.
"Hiihh!" Syaren langsung mengerucutkan bibirnya kesal saat Rafael yang malah mempersilahkannya.
"Mau nemuin dia kan? Ya udah sana!" ucap Rafael lagi.
"Bener ya?" tanya Syaren.
"Iya!" jawab Rafael.
"Beneran nih, Raf?"
"Iya!" jawab Rafarl lagi menekankan kata.
Huuhhh
Syaren menghembuskan nafasnya kasar, ia menggigit bibir bawahnya kesal. "Ya udah awas! Aku mau keluar!" ucap Syaren.
Rafael bangkit dari duduknya dan keluar dari meja. Dengan segera Syaren langsung keluar juga dari mejanya, ia menatap Rafael dengan tatapan kesal dan mengerucutkan bibir.
'Dia beneran iyain lagi,' ucap Syaren di dalam hati lagi. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang kelasnya dengan tatapan kesal.
Tap tap tap
Syaren berjalan keluar dari ruang kelasnya, ia bingung harus kemana. "Kemana ya? Gak mungkin kan aku beneran nyamperin si Rizky ke kelasnya? Males banget lah! Dia so ganteng! So perfect! Padahal mah ... hmmm ... lebih enak di pandang Rafael, lebih oke si Rafael kemana-mana lah," gumam Syaren. "Hmmm ... terus aku harus kemana ya? Ahh ... ke kantin aja kali ya? Sekalian beli cemilan sama minum, beliin Rafa minum juga deh, siapa tau marahnya agak reda kalau di sogok minuman," ucap Syaren lagi.
Syaren lalu berjalan setengah berlari ke arah kantin.
Tap tap tap
"Misi, Bu ...." ucap Syaren tersenyum ramah pada Ibu penjaga kantin.
"Ehh ... Neng Syaren, tumben sendirian, Den Rafa mana?" tanya Ibu kantin. Ia sudah terbiasa melihat Syaren dan Rafael yang selalu bersama saat datang untuk membeli sesuatu.
"Dia lagi sensitif, Bu. Ini mau saya sogok pake minuman," jawab Syaren tersenyum.
"Ya jangan di bikin sensitif dong," ucap Ibu kantin balas tersenyum juga. "Ya udah ... jadi? Mau apa?" tanyanya.
"Hmmm ... mau ice cappuccino dua deh, sama kebab ya, dua juga," ucap Syaren.
"Oke, tunggu sebentar ya ...."
Syaren tersenyum dan mengangguk. "Saya tunggu sambil duduk ya, Bu."
Ibu kantin itu tersenyum dan balas mengangguk juga mengiyakan.
Syaren lalu berjalan ke arah meja yang kosong dan duduk di sana. Ia lalu mengambil handphone di saku seragam yang ia kenakan. Membuka kunci dan memainkan handphonenya.
Tak berselang lama kemudian, seorang pria tiba-tiba saja datang dan duduk di sampingnya hingga Syaren menggeser duduknya karena kaget.
"Haii ...." sapanya.
"Rizky?"
"Iya ...," jawab Rizky tersenyum. "Kenapa? Kaget ya?" tanya Rizky.
Syaren tersenyum paksa.
Rizky masih tersenyum dan menatap Syaren. "Tadi Rangga gak sengaja liat kamu lagi jalan, dia bilang kamu ke kantin sendirian, jadi ya udah ... aku samperin aja kamu kesini. Ehh ... ternyata bener, kamu sendirian," ucap Rizky.
"Hmm ... iya," ucap Syaren kembali tersenyum paksa. "Rafael lagi ... emmhh ... lemes, dia belum sarapan tadi, aku gak tega. Jadi, aku suruh dia diem di kelas terus aku yang pesenin dia makanan, buat dia makan biar gak lemes lagi," ucap Syaren beralasan. Ia tak mau Rizky tau jika ia dan Rafael sedang bermasalah. Ia takut Rizky malah akan semakin gencar mendekatinya nanti.
"Ahh ... dia lemes?" ucap Rizky seraya mengangguk pelan.
"Iya." jawab Syaren, ia lalu menatap layar handphonenya lagi berusaha mengalihkan pandangan dari Rizky dan berusaha menjaga batasannya agar Rizky tak semakin berharap padanya.
"Kamu kok gak pernah chat aku sih? Kan waktu itu aku udah kasih nomor aku sama kamu," ucap Rizky.
"Hm?" Syaren menoleh menatap Rizky lagi.
"Kenapa gak pernah hubungin aku? Kan waktu itu aku udah kasih nomor aku sama kamu," ucap Rizky lagi.
"Ahh ... kayaknya kertasnya ilang atau mungkin ke cuci apa gimana gitu, soalnya gak ada di aku. Waktu itu aku taruh di saku baju seragam kan. Nah bisa jadi seragamnya di cuci terus kertasnya di buang sama asisten rumah tangga di rumah aku," ucap Syaren beralasan.
"Ahhh ... gitu?" tanya Rizky.
"Iya," jawab Syaren tersenyum paksa lagi. 'Hadeuhh ... ibu kantin mana coba, kok lama banget! Si Rafael juga ... bukannya ngejar aku, malah tidur!' ucap Syaren di dalam hati menggerutu kesal.
"Neng Syaren? Ini kebab sama ice cappuccino-nya," ucap Ibu kantin tiba-tiba menaruh dua kebab dalam plastik dan dua cup minuman di atas meja.
"Ahh ... iya," ucap Syaren, ia merogoh saku kemeja mengambil uang untuk membayar pesanannya.
"Biar aku aja yang bayar," ucap Rizky.
"Hm? Gak usah, Riz. Rafael gak akan suka kalau di bayar sama kamu," ucap Syaren.
"Gak pa-pa, kamu gak usah bilang aja sama dia," ucap Rizky, "Lagian dia kok kayak lagi manfaatin kamu ya? Masa yang makan dia tapi yang bayar kamu sih, laki-laki macam apa kayak begitu? Gak bertanggung jawab." ucap Rizky lagi seraya merogoh saku celananya dan memberikan selembar uang kertas berwarna biru pada Ibu Kantin.
Syaren mengerutkan alis saat mendengar Rizky berucap. Hatinya merasa tidak senang dan tak suka bahkan ilfeel saat Rizky yang mengatakan seolah Rafael bukan pria baik-baik.
"Sebentar, saya ambil kembaliannya dulu ya," ucap Ibu kantin lagi.
"Gak usah, Bu. Kembaliannya ambil aja, buat Ibu." ucap Rizky tersenyum pada Syaren.
"Ahh ... makasih ya, Den."
"Iya sama-sama, Bu." ucap Rizky.
Syaren sontak langsung mengalihkan pandangan ke arah lain dan tersenyum smirk. "Caper amat ini orang," gumam Syaren.
"Hm? Kenapa?" tanya Rizky
Syaren langsung menoleh lagi menatap Rizky. "Hah? Enggak-enggak," ucap Syaren.
"Ahh ...," Rizky mengangguk pelan. "Ehh iya, balik lagi ke obrolan kita di awal," ucap Rizky.
"Obrolan awal? Apa?" tanya Syaren.
"Yang tadi," jawab Rizky.
"Aku gak bisa terlalu lama ngobrol di sini, Riz. Sorry ya ... aku mau balik ke kelas, kasian Rafael pasti nungguin." ucap Syaren beralasan.
"Sebentar ... sini handphone kamu, biar aku langsung save nomor aku di HP kamu, terus aku ping ya, biar nanti aku gampang hubungin kamu," ucap Rizky mengambil paksa handphone di tangan Syaren.
"Ehh ...." Syaren sedikit mendelik kesal saat Rizky mengambil handphonenya tanpa meminta izin.
Rizky tersenyum, ia lalu menyentuh layar handphone Syaren. Wajahnya yang tadi tersenyum dengan seketika langsung terlihat kesal saat melihat wallpaper HP Syaren. Terlihat seorang wanita dan pria tersenyum dengan sangat manis ke arah kamera. Si wanita malah memegang pipi si pria dengan sangat gemas.
Syaren tersenyum smirk saat melihat wajah Rizky yang seketika langsung berubah.
Rizky lalu menekan gambar telepon dan mengetik angka-angka di layar handphone Syaren. Setelah selesai, ia lalu kembali memberikannya lagi pada Syaren.
Brak!
Seseorang tiba-tiba saja datang dan menggebrak meja di mana Syaren dan Rizky terduduk.
"Allahuakbar," ucap Syaren kaget. Ia menanggahkan kepala melihat siapa orang yang menggebrak mejanya. "Mati aku!" gumam Syaren.
"Ckk! Elu lagi," ucap Rizky.
Bersambung.