Syaren menoleh dan melihat Rafael yang tengah memasukkan buku-bukunya di atas meja ke dalam tas setelah guru yang mengajar keluar dari kelas mereka. Ia mencolek pinggang Rafael mengganggu dan mengetes apa Rafael masih marah padanya atau tidak.
"Apa?" tanya Rafael menatap Syaren saat kekasihnya itu mencolek pinggangnya.
"Gitu amat jawabnya," ucap Syaren. "Kamu masih marah sama aku?" tanya Syaren.
"Enggak, biasa aja perasaan," ucap Rafael.
"Tapi keliatan kalau kamu marah sama aku, Raf."
"Syukur kalau paham, artinya kamu peka." jawab Rafael menaruh kedua tangannya lagi di atas meja hendak menaruh kepalanya di atas tangan untuk memejamkan mata. Namun, ternyata tangan Syaren sudah lebih dulu menarik tangan Rafael dan langsung menggenggamnya.
Rafael sontak langsung menoleh lagi menatap Syaren. "Apaan?" tanya Rafael.
"Mianhae ...." ucap Syaren dengan bibir yang mengerucut. (Maaf)
"Be-te aku sama kamu," ucap Rafael dengan mata yang memicing kesal.
"Kan udah minta maaf," ucap Syaren. "Masa masih marah, cuma gitu doang juga, lagian gak ada tuh aku belain si Rizky."
"Jangan sebut nama dia! Aku gak suka!" ucap Rafael.
"Iya enggak, tapi udahan ya marahnya? Jangan cuekin aku lagi," ucap Syaren.
"Akan aku pikirkan."
"Jangan di pikirin! Tinggal jawab iya aja apa susahnya sih?"
"Lahh ... ya terserah aku lah!" jawab Rafael. "Kenapa kamu yang protes? Kan hak aku untuk marah atau enggak."
"Kamu kok gitu sih sama aku?" tanya Syaren. "Jahat banget sumpah!"
"Kamu yang mulai duluan! Jadi lebih jahat siapa? Aku atau kamu?"
"Hihh ... ya udahlah! Nanti aku mau sengajain aja! Aku iyain ajakan si Rizky yang mau bicara serius sama aku. Aku yakin tuh dia pasti mau jujur tentang perasaannya sama aku."
Rafael sontak langsung memicingkan mata dan mendelik sinis. "Ya udah sana! Gak akan aku larang! Samperin aja sana!" ucap Rafael.
"Raaaf!"
"Mau nemuin dia kan? Ya udah sana!" ucap Rafael lagi.
"Bener ya?"
"Iya!" jawab Rafael dengan nada yang sedikit sinis.
Syaren kembali mengerucutkan bibirnya kesal. "Ya udah awas! Aku mau keluar!"
'Aihh ... dia beneran?' ucap Rafael di dalam hati. 'Enggak lah, dia pasti ngegertak doang. Paling juga ke toilet, kalau enggak paling ke kantin, ini kan jam istirahat, dia pasti mau beli cemilan atau minuman, dia kan punya maag, gak bisa kalau perutnya kosong,' batinnya berucap lagi.
"Awas!" ucap Syaren lagi sudah berdiri tegak.
Rafael bangkit dari duduknya dan melangkah satu langkah keluar dari meja. Mempersilakan Syaren untuk keluar.
"Jangan nangis ya nanti!" ucap Syaren mendelik sinis.
"Emang aku bocah!" jawab Rafael.
"Ckk!" Syaren berdecak, ia mengerucutkan bibirnya kesal pada Rafael lalu berjalan ke arah pintu hendak keluar dari kelas.
Rafael mengerutkan alis, ia ikut melangkahkan kaki juga penasaran saat Syaren sudah keluar dari kelas. Menakuti Syaren memang pergi ke kelas Rizky.
Tap tap tap
Rafael berjalan sekitar 3 atau 4 meter di belakang Syaren, mengikuti langkah kaki Syaren dari belakang.
"Nah kan bener, dia ke kantin," ucap Rafael saat melihat Syaren yang berjalan ke arah kantin.
Rafael berdiri di bibir pintu utama kantin yang lebarnya sekitar 2 meter. Tangannya terlipat di d*da dan tersenyum. Ia melihat Syaren yang tengah berdiri di depan kasir kantin tengah memesan sesuatu.
"So-soan mau bikin orang cemburu, nyatanya cuma ke kantin doang! Dasar perempuan," gumam Rafael, ia lalu berbalik dan kembali ke kelasnya lagi.
Tap tap tap
Huuhhh
Rafael menghembuskan nafasnya kasar setelah duduk di kursinya lagi, ia duduk di tempat biasa Syaren duduk. Ia duduk bersandar pada tembok dengan kaki terjulur lurus ke depan berselonjor. Kaki kanan yang berada di atas kaki kiri.
Rafael lalu mengambil handphone di dalam saku kemejanya, ia juga mengambil earphone berwarna putih di dalam tas milik Syaren. Memasangkannya ke dalam lubang handphone, lalu memasangkan juga earphone itu di telinga kanan dan kirinya. Rafael lalu menyentuh layar handphonenya ke atas dan ke bawah mencari lagu yang akan ia putar.
Klik
Sebuah lagu dengan judul Arcade milik Duncan Laurence, Rafael putar. Ia memejamkan mata dan menikmati alunan lagu.
Beberapa menit kemudian.
"Ooh, ooh ... All i know, all i know ... loving you is a losing game," lirik lagu yang Rafael nyanyikan. Ia benar-benar menikmati alunan musik dan lagu yang terdengar, tak peduli jika teman-temannya yang lain sesekali melihat ke arahnya.
Rafael membuka mata saat satu lagu selesai terputar, ia lalu menatap lagi layar handphonenya mencari lagu kembali untuk ia dengar.
"Tumben gak ngintilin Si Syaren," ucap Rendi tiba-tiba duduk di samping kaki Rafael yang terjulur.
"Ngintilin, emang Gua bocah yang selalu ada sama emaknya? Yang bener aja!"
"Kan Gua bilang tumben," ucap Rendi. "Hmmm … Gua pikir kalian pacaran, abis berduaan mulu kek amplop sama perangko, nempel banget dahh ... lahh ternyata dugaan gua salah ya?"
"Hm?" Rafael mengerutkan alis. "Kenapa bisa mikir begitu?" tanya Rafael.
"Ya Elu sama dia berduaan mulu daahh, duduk juga berdua lagi, berangkat sama balik juga berdua ... ya Gua kira beneran jadian, bukan gua doang sih yang mikir, tapi yang lain juga mikirnya sama, kita semua mikirnya kalian pacaran," ucap Rendi lagi.
"Ckk! Bukan itu!" ucap Rafael.
"Terus?" tanya Rendi.
"Kenapa akhirnya bisa mikir kalo Gua sama Si Syaren gak ada apa-apa!" ucap Rafael. "Kenapa bisa mikir kesitu?"
"Ahh ... soalnya barusan gua liat dia lagi sama si Rizky anak IPA apa IPS ya, gua lupa deh, tapi seangkatan sih sama kita."
Rafael sontak langsung melepas earphone di telinganya. "Apa? Dia lagi sama siapa?" tanya Rafael lagi memastikan.
"Si Rizky, yang kelasnya deket tangga itu loh," ucap Rendi lagi.
"Serius?" tanya Rafael lagi.
"Iyalah, ngapain Gua bohong. Manfaat buat Gua apa coba?"
"Dimana?" tanya Rafael berdiri tegak.
"Kantin! Kenapa sih? Heboh amat," ucap Rendi menanggahkan kepala menatap Rafael.
Rafael mengepalkan kedua tangannya erat-erat.
"Minggir!" ucap Rafael.
"Apaan sih? Kenapa?" tanya Rendi.
"Gua mau keluar!" ucap Rafael.
"Kemana?" tanya Rendi lagi.
"Lu lama-lama kek cewek ya! Banyak nanya!"
"Ya kan kudu jelas. Gua nyamperin Elu bukan tanpa maksud ya! Bukan sekedar laporan Si Syaren ada di kantin sama Rizky doang! Ada yang lebih penting."
"Haisshh ...," Rafael memalingkan wajah memejamkan mata kesal. Ia lalu menatap Rendi lagi. "Apaan? Mau ngomong apa?" tanya Rafael.
"Pulang sekolah ikut gua sebentar ya? Oke? Gak lama kok," ucap Rendi.
"Ahh ... males! Udah ... awas!" pinta Rafael.
"Ayolah, Raf ... mau ya? Please ...."
"Ya udahlah, serah! Minggir! Gua mau lewat!" ucap Rafael.
"Bener dulu, mau ya?" tanya Rendi lagi memastikan.
"Lama ahh!" Rafael naik ke atas meja lalu melompat dari atas meja ke lantai dan berjalan ke arah pintu hendak keluar.
"RAF? OKE YA?" teriak Rendi.
"YA!" jawab Rafael mengarahkan telapak tangannya ke atas seraya terus berjalan keluar dari kelasnya.
Rafael berjalan ke arah kantin lagi hendak melihat apakah benar apa yang di katakan Rendi jika Syaren sedang berduaan dengan laki-laki lain.
Tap tap tap
Rafael menghentikan langkah saat sudah berada di bibir pintu kantin. Ternyata benar apa yang Rendi katakan, Syaren tengah terduduk berdampingan berduaan dengan Rizky.
Terlihat Rizky yang tengah menatap Syaren dengan bibir yang melengkung ke atas tersenyum dan mengajak Syaren mengobrol.
"Kurang ajar tuh orang!" ucap Rafael. Ia lalu melangkahkan kaki lagi mendekati meja di mana Syaren dan Rizky terduduk.
Tap tap tap
Brak!
"Allahuakbar." ucap Syaren memegang d**a kaget.
Rafael berdiri tepat di depan meja di mana Syaren dan Rizky terduduk, ia menggebrak meja dengan sangat kasar hingga minuman cup di atas meja hampir saja tumpah.
"Ckk! Elu lagi," ucap Rizky terduduk tegak menatap Rafael.
Bersambung