Angry and Jealous

1374 Kata
"Sekarang kalian beneran udah tobat ya? Tepat waktu terus datengnya, gak pernah telat lagi." ucap Seorang Satpam sekolah yang biasa menjaga pintu pagar berbicara pada Syaren yang baru saja turun dari sepeda. "Pak Satpam gak bosen apa nanya itu terus tiap hari?" tanya Syaren. "Saya aja bosen loh dengernya," ucap Syaren lagi. Satpam itu dengan seketika diam tak berucap lagi. "Kok diem? Kalah debat ya, Pak?" tanya Syaren tersenyum. "Syaren di lawan." ucap Syaren seraya tersenyum puas. "Gak sopan ya kamu," ucap Satpam itu lagi. "Bukan gak sopan, abisan Pak Satpam mulai duluan," ucap Syaren. "Denger ya, Pak. Nanti, setelah saya lulus dari sekolah ini. Saya jamin, Pak Satpam bakalan kangen sama saya! Kangen sama semua tingkah yang sering saya lakuin." "Dihh ... pe-de banget kamu! Ngapain saya kangen kamu, kurang kerjaan!" ucap Pak Satpam. "Ehh ... gak percaya, liat aja entar! Saya pastikan ucapan saya ini akan terbukti," ucap Syaren tersenyum lalu melangkahkan kaki meninggalkan pos satpam di depan pintu pagar. Ia lalu berjalan mendekati Rafael yang tengah menstandarkan sepedanya di parkiran. Tap tap tap "Ngobrol apa sama Pak Satpam?" tanya Rafael. "Enggak, bukan apa-apa," ucap Syaren seraya tersenyum. "Kamu sama Pak Satpam sekarang udah kek Ayah sama anak ya. Bestie banget," ucap Rafael. "Dihh … Papa aku gak tergantikan ya! Walau dia nyebelinnya maksimal, tapi dia ... stay number one," ucap Syaren merangkul pundak Rafael hingga tubuh Rafael sedikit membungkuk. "Adu-duh ... lepas gak?" "Enggak!" jawab Syaren melangkahkan lagi kakinya berjalan ke arah ruang kelasnya. Rafael melepas tangan Syaren di yang melingkar di pundaknya dan ia balas merangkul Syaren juga, lalu menariknya pelan hingga kepala Syaren bersandar di d*danya. "Ihhh ... aku susah jalannya!" protes Syaren. "Ya mulai duluan siapa hm?" tanya Rafael. "Iya-iya maaf!" ucap Syaren. Rafael tersenyum dan melepaskannya, ia lalu merangkul pundak Syaren dan terus berjalan lagi hendak ke ruang kelasnya. "Semalem aman gak?" tanya Syaren. "Aman lah," jawab Rafael. "Gak kena omel? Sampe rumah jam berapa?" tanya Syaren. "Maaf ya, semalem begitu kamu pulang aku langsung tidur, lebih tepatnya ketiduran karena lama nunggu chat dari kamu, terus pas bangun juga gak ada tuh chat dari kamu. Ckk!" "Iya maaf," jawab Rafael. "Semalem aku sampai ke rumah jam sepuluhan deh kayaknya, gak liat jam juga soalnya. Begitu sampe ternyata Papa aku belum tidur, nanya sebentar terus ya udah aku langsung ke kamar, liat HP dan tenyata handphone aku mati. Aku langsung charger, tadinya mau nunggu berapa persen dulu baru chat kamu, ehh ... ternyata malah ketiduran juga," jelas Rafael. "Hmmm ... kirain," ucap Syaren setelah mendengar penjelasan Rafael. "Kirain apa? Chat-an sama cewek?" tebak Rafael. "Mau chat-an sama cewek juga gak pa-pa. Aku gak masalah kok dan gak akan marah juga," ucap Syaren. "Beneran boleh?" tanya Rafael antusias. Syaren menghentikan langkah dan memicingkan mata. "Iya boleh," ucap Syaren dengan bibir yang tersenyum paksa dan mata yang masih memicing. "Tumben baik ...." ucap Rafael tersenyum. Syaren mengangkat kedua telapak tangannya sejajar dengan d*da berdoa. "Aku berdoa, semoga ... pacar aku yang ganjen, pas chat-an sama cewek lain, nanti HP-nya tiba-tiba ngeblank atau HP-nya jatuh, retak, gak bisa nyala terus nanti pas minta beliin HP baru malah kena omel, uang jajannya juga di potong tujuh puluh lima persen dan semoga nanti kalau lagi jalan mau kemanapun itu, dia kesandung terus gak sengaja pegang pup ayam! Aamiiiiin ...." "Astagfirullahaladzim," ucap Rafael mengelus d*da, "serem amat doanya." "Doa orang yang teraniaya, yang tersakiti, biasanya suka di kabul kan?" ucap Syaren tersenyum dengan sangat manis menatap Rafael. "Gitu amat sama aku," ucap Rafael. "Ya udah, terserah kamu, lakuin apa yang kamu mau, gak akan aku larang." ucap Syaren lagi, ia menepuk pelan pipi Rafael dan kembali berjalan lagi. Rafael ikut melangkahkan lagi kakinya mengejar Syaren. Ia memegang pundak Syaren dari belakang dan kembali merangkulnya lagi. "Aku tidak akan pernah mengkhianatimu," bisik Rafael tepat di telinga Syaren. Syaren menoleh dan menjulurkan lidahnya. "Gak percaya! Yang aku butuhin bukan hanya sekedar kata! Tapi juga perbuatan!" "Akan aku lakukan," ucap Rafael. "Syaren?" panggil Rizky tiba-tiba dari arah belakang. Syaren dan Rafael sontak langsung menoleh dan melihat ke arah belakang. "Yaahh ... pebinor dateng lagi," gumam Rafael. Pffttt Syaren tertawa pelan. "Kamu lihat? Jika nanti aku lepas dari kamu, akan ada banyak pria yang akan menggantikan kamu," ucap Syaren. "Jadi jangan pernah main-main sama aku!" "Ckk!" Rafael berdecak kesal. "Iya, Riz? Kenapa?" tanya Syaren. "Nanti siang, pulang sekolah ada waktu gak?" tanya Rizky. "Ka,-" "Ada!" jawab Rafael cepat hingga Syaren tak jadi mengucapkan kata. "Kita ada latihan taekwondo! Kenapa? Mau apa?" tanya Rafael dengan nada sinis hingga membuat Syaren mengatupkan bibir menahan senyum. "Gua nanya sama Syaren ya! Bukan sama Elu! Kenapa Elu yang nyaut?" tanya Rizky. "Lahh ... serah Gua lah," jawab Rafael. "Ckk!" Rizky mengalihkan pandangan ke arah lain dan berdecak kesal. Ia lalu menatap Syaren lagi tak memperdulikan Rafael. "Kamu kapan ada waktu? Bisa ketemu cuma BERDUAAN gak?" tanya Rizky menekankan kata dengan mata yang melirik ke arah Rafael. "Ada yang mau aku omongin sama kamu … penting," ucap Rizky lagi. "Sebenernya aku,-" "Gak ada!" jawab Rafael memotong lagi. "Ckk!" Rizky berdecak kesal lagi. "Lu bisa diem gak sih? Mulut Lue lama-kelamaan kok kek banci ya! Gua ngomong sama Syaren! Kenapa Lue yang nyaut mulu sih? Heran Gua" "Apa Lu bilang? Gua kek apa?" tanya Rafael melangkahkan kaki mendekati Rizky. "Banci! Lu kek banci!" jawab Rizky. "Kurang ajar!" ucap Rafael mengepalkan tangan kanan dan mengangkatnya hendak mendaratkan sebuah pukulan ke pipi Rizky. "Rafaa!" ucap Syaren cepat memegang tangan kiri Rafael hingga Rafael tak jadi melayangkan tinjuan. "Apaan sih? Udah! Ayo! Bentar lagi bel," ucap Syaren. Ia lalu menatap Rizky. "Riz? Sorry ya ... aku gak pernah ada waktu setelah pulang sekolah. Pulang sekolah aku langsung latihan taekwondo dan gak di bolehin kemana-mana. Bokap selalu nyariin, jadi ... sorry ya." ucap Syaren tersenyum paksa. Terlihat wajah kecewa dan kesal di wajah Rizky, ia mengalihkan pandangan ke arah lain lagi dan tersenyum miris. "Sial!" gumamnya. "Udah kan? Udah denger?" Rafael menatap Rizky tak suka. "Udah! Malah mulai lagi," ucap Syaren. "Sorry ya Riz, kita duluan," ucap Syaren lagi. Ia lalu menarik telapak tangan Rafael untuk segera pergi dan menjauh dari Rizky. "Urusan kita belum selesai! Lu terima pembalasan Gua nanti," ucap Rizky pada Rafael tanpa bersuara. "Gua gak takut!" jawab Rafael tanpa suara juga, matanya memicing dan mendelik sinis lalu menatap lurus. "Kamu apaan sih? Malah berantem," ucap Syaren. "Ya dia yang mulai lebih dulu," ucap Rafael. "Kalian sama! Bukan dia aja, tapi kamu juga!" "Kok kamu gitu? Bukan belain pacarnya juga, malah nyamain aku sama dia" ucap Rafael. "Aku gak belain siapa-siapa ya! Udah tau si Rizky emang begitu, kenapa kamu ladenin hm?" "Ya ... abisan muka dia ngeselin," ucap Rafael. "Gimana gak ngeselin, kamu yang mancing dia duluan," jawab Syaren masuk dan duduk di kursi kelasnya. Meja di mana ia dan Rafael terduduk berada di barisan ujung kelas yang merapat dengan tembok. Mereka duduk di tengah-tengah antara dua meja di depan dan juga belakang. "Kok aku? Dia lah! Ngapain dia ngajakin cewek orang jalan coba, gak ada adab emang," ucap Rafael yang kini sudah duduk di samping Syaren. Syaren duduk dan bersandar pada tembok. Matanya menatap lurus ke arah pria yang duduk di sebelahnya itu. "Kenapa liatin aku kayak begitu?" tanya Rafael. "Dia kan gak tau kalau kita pacaran! Kalau tau juga aku yakin, dia gak bakalan kayak begitu," ucap Syaren "Dihh ... malah belain orang lain," ucap Rafael. "Serah lah," ucapnya lagi. Ia lalu merapatkan kedua tangannya di atas meja dan menaruh kepalanya di atas tangan, memejamkan mata. "Laahh ... malah marah," ucap Syaren. "..." "Rafa?" panggil Syaren seraya menepuk pelan punggung Rafael namun sama sekali tak di dengar dan tak ada tanggapan. "Raf?" panggilnya lagi Masih diam tak ada jawaban. "Kamu beneran marah?" tanya Syaren. "..." "Masa gitu doang marah," ucap Syaren. "Raf? Raraaaaf ih ...." ucap Syaren seraya menggoyangkan punggung Rafael. Rafael sontak langsung terduduk tegak dan menatap Syaren. "Apaan sih teriak-teriak. Malu tau! Di liatin sama anak-anak lain nanti." Syaren sontak langsung melihat ke segala arah melihat ke teman-temannya. "Ya abisan kamu, gitu doang marah." "Terserah aku lah!" jawab Rafael kembali menaruh lagi kedua tangannya di atas meja dan menaruh lagi kepalanya di atas tangan memejamkan mata. "Hiihh ambekan! Kek cewek lagi PMS!" "Bodo amat!" jawab Rafael. "Raraaaff …." "Berisik!" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN