Bercerita

1565 Kata
"Udah kan? Udah beres. Ada yang mau di tanyain lagi gak?" tanya Syaren dengan mata yang terus melirik ke arah lemari. "Enggak, udah kok. Udah paham," jawab Aileen. "Ya udah sana, balik kamar. Kakak udah mau tidur, ngantuk." ucap Syaren beralasan. Matanya tak henti-hentinya melihat ke arah lemari, menakuti Rafael dehidrasi karena terlalu lama di dalam lemari. Aileen hampir satu jam lebih berada di kamarnya dan selama itu pula Rafael berada di dalam lemari. "Iya, makasih ya. Thanks udah mau bantuin," ucap Aileen beranjak turun dari ranjang. Syaren tersenyum paksa dan mengangguk pelan, ia juga ikut turun dari ranjang dan mengantarkan Aileen untuk keluar dari kamarnya. Tap tap tap "Night," ucap Aileen. "Iya ... night too," jawab Syaren. Ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Klak! Syaren langsung mengunci pintu kamarnya dan langsung berjalan cepat ke arah lemari, ia membuka pintu lemari dan melihat Rafael yang menyeringai memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan "Kenapa?" tanya Syaren. "Kaki aku, kebas! Mati rasa karena di tekuk terus dari tadi. Lagian kenapa lama banget sih? Masa pelajaran anak SMP aja kamu gak paham! Kan jadinya lama!" ucap Rafael. "Bukan gak paham, ya aku kan lupa lagi. Itu pelajaran lima tahun yang lalu, wajarlah kalau aku lupa," jawab Syaren. "Ya tapi aku kesiksa!" jawab Rafael dengan wajah yang terlihat mengkhawatirkan. "Ya udah maaf kenapa," ucap Syaren, "ayo ... aku bantuin berdiri," ucap Syaren seraya mengulurkan kedua tangannya pada Rafael. Rafael memegang kedua tangan Syaren dan keluar dari lemari, ia mengaduh saat kakinya yang kesemutan itu terasa tersengat. Pfftt Syaren tertawa pelan. Ia menaruh tangan Rafael di pundaknya. "Lagian kamu ada-ada aja, ngapain coba malem-malem begini ke rumah aku, pake acara masuk segala, biasanya juga cuma sampe balkon, gak masuk ke kamar." ucap Syaren seraya memapah Rafael berjalan ke arah kursi meja belajarnya. Tap tap tap Syaren mendudukkan Rafael di atas kursi. "Ya namanya orang kangen, gimana?" "Besok pagi kan kamu jemput aku sekolah, kita satu kelas, satu bangku, istirahat berdua, pulang berdua, main berdua. Masa gak bisa nunggu sampe besok." ucap Syaren yang kini sedang berdiri bersandar pada meja belajar yang kursinya Rafael duduki. "Udah ah jangan banyak ngomel! Kaki aku masih mati rasa," ucap Rafael. "Ya udah ... mau aku pijit kakinya?" tanya Syaren. "Enggak, gak usah ... jangan! Nanti malah kek kesetrum," ucap Rafael. "Ya gak pa-pa, bagus tau! Nanti lama-lama ilang kesemutannya," ucap Syaren. "Enggak ah gak mau!" tolak Rafael. "Ya udah ... aku gak akan maksa," ucap Syaren. "Aku penasaran," ucap Rafael. Syaren mengerutkan alis tak mengerti. "Penasaran? Penasaran kenapa?" tanya Syaren. "Iya penasaran aja, manusia kan sering tuh ngerasain kesemutan. Aku penasaran ... kalau semut, ngerasain kemanusiaan juga gak ya?" tanya Rafael. Pffftt Syaren menutup mulut tertawa pelan. "Kamu beneran gak ada akhlak ya!" ucap Syaren. "Laahh ... apa yang salah sama pertanyaan aku?" Rafael bertanya lagi. "Ya yang bener aja, Raf! Gimana bisa semut kemanusiaan?" "Ya kan manusia sering kesemutan! Ya aku penasaran lah, siapa tau kan semut juga bisa kemanusiaan," ucap Rafael. "Dahlah! Aku curiga, jangan-jangan selama ini kamu predikat pertama di kelas karena nyogok guru! Iya kan? Ngaku!" ucap Syaren. "Enak aja! Jan ngadi-ngadi ya! Kalau ngomong kadang itu omongan gak di saring dulu ya! Aku belajar ya!" ucap Rafael mendelik. "Masa belajar otaknya gak pake! Aku yakin nih itu otak kalau di jual pasti mahal! Orang gak pernah di pake!" ucap Syaren. "Kamu jadi pacar beneran gak punya adab ya!" ucap Rafael memicingkan mata dan mendelik sinis menatap Sang Kekasih. "Iya iya maaf, bercanda Sayang." ucap Syaren saat melihat mata Rafael yang tak bersahabat. "Dihh …." "Apa?" tanya Syaren. "Enggak gak pa-pa," ucap Rafael. "Ehh ... tapi ... btw, tadi aku rada terharu sih," ucap Rafael. Syaren kembali mengerutkan alis lagi. "Terharu? Terharu kenapa?" tanya Syaren naik dan duduk di atas meja saat kakinya terasa pegal karena berdiri. "Itu loh yang pas Papa kamu dateng, yang nyuruh kalian harus saling mengasihi," ucap Rafael. "Ahh ... itu?" "Heem." Rafael tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan. "Salut aja sama keluarga kamu, padahal kita kan tau ya kalau Uncle Al sama Papa kamu itu satu Ayah beda Ibu, tapi akur aja gitu, apalagi Papa kamu, dia memperlakukan Aileen sama Alfian seperti dia memperlakukan kamu, Daniel sama Dazriel. Semua sama di mata Papa kamu. Galak-galak begitu ternyata hati papa kamu bikin orang mikir 'Wuuahh' gitu. Papa kamu keren, bangga aku jadi mantunya," jelas Rafael seraya mengacungkan jempolnya. Syaren tersenyum. "Mama aku tuh dulu pernah cerita, kalau Uncle Al itu dulu lebih sayang sama almarhumah Oma, Mamanya Papa aku, di banding ibu kandungnya sendiri. Uncle Al malah ngelawan dan benci sama ibu kandungnya karena ngerasa gak di urus dan ada beberapa hal yang gak bisa mama aku ceritain apa alasannya. Mungkin cukup mereka aja orang dewasa yang tau." "Terus?" tanya Rafael menatap Syaren dengan sangat serius mendengarkan cerita kekasihnya itu. "Uncle Al itu, dia ngerasa bener-bener di sayang banget dan ngerasain kasih sayang seorang ibu ya dari ibu tirinya, yaitu Mamanya Papa aku. Dia bahkan sampe berani ngelawan ibu kandungnya sendiri demi bela Oma. Makanya Papa aku, Anty Sesha sama Anty Riana, adik-adiknya Papa bisa sayang ke Uncle Al karena Uncle Al juga setulus itu sayang sama almarhumah oma." "Terus ibu kandungnya Uncle Al sekarang dimana?" tanya Rafael. "Mama aku bilang sih, pas aku masih umur empat tahunan, Mamanya Uncle Al pernah tinggal di sini juga karena dia menyesali semua yang udah dia lakuin sama semuanya, Mamanya Papa, Papa aku, Anty Riana sama Anty Sesha, termasuk Uncle Al juga. Mereka sempet akur kok. Tapi ternyata ya … Tuhan berkendak lain, beberapa bulan setelah itu Mamanya Uncle Al meninggal karena dia sakit ginjal kalau gak salah. Aku rada inget sih, namanya Oma Metta. Waktu kecil aku pernah main sama dia, tapi ya rada lupa, orang aku masih kecil banget juga waktu itu." jelas Syaren lagi. "Rada rumit juga ya silsilah keluarga kamu," ucap Rafael. "Enggak rumit perasaan, biasa aja ah," jawab Syaren. "Rumit!" "Rumitnya sebelah mana?" tanya Syaren. "Ya itu, adik-kakak tiri. Ibu kandung-ibu tiri, ya kan rumit." "Ya ... mmhh ... gak bisa di bilang rumit juga sih," ucap Syaren, "kayak kamu sama kakak kamu aja gimana," ucap Syaren. "Hm?" "Iya … kayak kamu sama kakak kamu," ucap Syaren lagi, "Kak Shelia, dia punya dua ayah kan? Ayah kandung dan ayah tiri. Ya sama aja kaya Papa aku sama Uncle Al, mereka juga punya ibu kandung sama ibu tiri. Kalau kamu dan Kak Sheila satu ibu beda ayah. Kalau Papa sama Uncle Al, satu Ayah beda ibu, simple kan? Gak rumit!" ucap Syaren. Rafael mengerutkan alis. Benar juga apa kata Syaren. Kakaknya, Arshelia putri. Mereka memang lahir di satu rahim yang sama tetapi beda ayah. Sebelum sang ibu, Diandra, menikah dengan ayahnya. Sang ibu sudah lebih dulu mempunyai putri dari pria lain. Mereka satu ibu beda ayah. "Iya juga ya," ucap Rafael. "Udah ... gak usah di bahas, kalau di bahas gak akan pernah beres dan bikin kepala pusing," ucap Syaren. "Kamu gak mau pulang? Ini udah mau jam setengah sepuluh loh, kamu mau pulang jam berapa? Ateu Diandra gak marah? Kamu gak akan di cariin?" tanya Syaren. "Astagfirullah … keasyikan ghibah! Aku sampe lupa kalau aku harus pulang," ucap Rafael. "Lahh … kamu yang mulai duluan," ucap Syaren. "Enak aja, kamu yang mancing duluan," ucap Rafael. "Dihh ... nyalahin, kamu yang pertama kali nanya sama aku ya! Ya aku jawablah," ucap Syaren. "Udah … jangan ngajak debat! Pulang sana!" "Ya udah ... pinjem novel, biar nanti pas pulang Mama aku nanya bukunya aku bisa kasih liat sama dia bukunya," ucap Rafael. "Itu novel ada di depan mata kamu, ambil aja." ucap Syaren. Rafael langsung melihat ke arah buku-buku yang Syaren lirik. Ia lalu mengambil satu novel dan berdiri tegak. "Kakinya udah gak kesemutan?" tanya Syaren. "Enggak, ini udah gak pa-pa," jawab Rafael berjalan ke arah pintu kaca yang mengarah ke arah balkon. "Are you sure?" tanya Syaren beranjak turun dari kursi dan berjalan juga ke arah pintu kaca. "Iya," jawab Rafael memutar kunci dan berjalan ke arah pagar balkon. "Bisa gak turunnya?" tanya Syaren. "Ya bisa lah! Emang aku manjat ke kamar kamu terus turun baru sekali ini aja? Sering ya!" jawab Rafael. "Ya siapa tau aja kamu lupa gimana caranya turun," jawab Syaren. "Cih!" Rafael mendecih sinis. "Kamu pindah kamar kenapa, yang di bawah aja hitu biar gak ribet kalau aku mau nyamperin kamu," ucap Rafael. "Bukan aku gak mau, tapi di kamar bawah kamar mandinya pisah! Aku males keluar kamar kalau malem-malem mau buang air. Terus udah gitu kamar di bawah rada sempit, kalau ini kan enak, ada balkon, kamar mandi di dalem, sama luas juga," ucap Syaren seraya menaik-turunkan alis. "Terserah kamu lah," jawab Rafael. "Aku mau pulang." "Ya udah … sana pulang!" ucap Syaren lagi. "Gak mau salim?" tanya Rafael seraya mengarahkan tangan kanannya. "Apa? Gak mau ih! Emang kamu bapak aku apa!" ucap Syaren mengatupkan bibir menahan senyum. "Kan calon suami." Syaren semakin mengatupkan bibir. "Pulang! Udah malem," ucap Syaren. "Dasar!" ucap Rafael. "Ya udah, aku pulang ya! Besok pagi aku jemput di jam seperti biasa. Bye-bye," ucap Rafael. "Bye …." jawab Syaren tersenyum. Rafael lalu naik ke atas pagar besi kamar Syaren, ia menuruni anak tangga hingga kakinya berhasil mendarat di atas rerumputan, ia lalu mengangkat tangga itu dan menaruhnya lagi di tempat biasa. Ia lalu menanggahkan kepala menatap Syaren yang tengah mengawasinya di lantai atas. "Bye …." ucap Rafael tanpa suara seraya melambaikan tangannya. "Daahh …." jawab Syaren dari atas balkon. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN