Bersembunyi

1379 Kata
Syaren mendorong dengan kasar tubuh Rafael hingga terjatuh dari atas ranjang ke lantai. "Aa-argghh ...." rintih Rafael. "Maaf, maaf," ucap Syaren. Ceklek Brak! "Kak Syaren?" Syaren sontak langsung memutar tubuh berbalik melihat ke arah pintu. "Aileen? Apa?" tanya Syaren pada adik sepupunya itu. "Ngapain kesini? Budayakan ketuk pintu ya sebelum masuk, jangan main dobrak gitu aja! Kalau Kakak lagi mandi gimana? Gak sopan tau main buka kamar orang gitu aja," ucap Syaren. "Iya iya maaf! Urgent soalnya," ucap Anak laki-laki berusia 12 tahun itu. "Ya udah apa? Urgent apa?" tanya Syaren, matanya lalu dengan tak sengaja melihat ke arah bawah, terlihat dua kaki Rafael berada di bawah samping ranjang. Syaren sontak langsung menendang pelan kaki Rafael agar Rafael segera menyembunyikan kakinya. "Auuww," rintih Rafael tanpa bersuara saat Syaren menendang kakinya. Ia lalu menggeser tubuhnya ke atas agar kakinya tak terlihat, berniat untuk masuk ke dalam kolong ranjang namun ternyata sulit sekali untuk masuk karena kolong ranjang hanya sekitar 30 centi, ranjang milik Kekasihnya itu tak terlalu tinggi. "Bantuin apa?" tanya Syaren. "Ngerjain PR, sumpah aku gak paham!" ucap Aileen. "Minta tolong Daniel atau Dazriel aja sana!" usir Syaren. Matanya sesekali melirik ke arah belakang menakuti Aileen melihat Rafael. "Kak Daniel sama Kak Dazriel udah pada tidur," jawab Aileen. "Ada Alfian kan? Minta tolong sama dia aja sana, Kakak ngantuk! Capek!" ucap Syaren lagi. "Udah ih, ini sebagian udah di bantuin Kak Alfian, soal pertanyaan yang lain dia gak paham." "Kamu tuh aneh deh. Yang sekolah kan kamu, sebelum guru kasih PR, mereka pasti kasih tau caranya dulu kan? Pas guru lagi ngejelasin, kamu ngapain aja hm? Nyimak gak sih?" tanya Syaren. "Ngejelasinnya cepet! Jadi lupa!" ucap Aileen, "Udah ... bantuin aja kenapa, ngomong mulu perasaan." "Nanti aja lah! Besok shubuh! Sekarang lagi sibuk!" ucap Syaren. "Gak mau ah! Habis shubuh aku mau belajar buat ulangan harian," ucap Aileen. "Ya udah terserah kalau gak mau gak pa-pa! Gak rugi ini," ucap Syaren. "Hiihhh … Aku aduin Uncle sama Papa ya!" ancam Aileen. "Bodo amat! Gak takut!" ucap Syaren memutar tubuh Aileen dan mendorong tubuh Aileen ke arah pintu. "Uncleeeee ... papaaaaaaa," teriak Aileen saat Syaren mendorongnya keluar. Ia berusaha masuk lagi namun ternyata tenaga Syaren jauh lebih kuat darinya. "Uncleeeeee ...." teriaknya lagi memanggil Pamannya. "Apa sih teriak-teriak?" tanya Darren tiba-tiba berdiri di bibir pintu kamar Syaren. Syaren dan Aileen sontak langsung melihat ke arah pintu. Degh. Syaren menelan ludah saat melihat Sang Ayah sudah beberapa langkah di depannya, ia menoleh melihat ke arah belakang. Matanya membulat sempurna kaget saat melihat kaki Rafael yang masih terlihat di bawah ranjangnya. "Ini nih Uncle ... Kak Syaren, masa Aileen minta tolong bantuin ngerjain PR dia gak mau," adu Aileen. "Syaren? Adeknya bantuin kenapa," ucap Darren. "Mmhh ... iya di bantuin, tapi besok shubuh," jawab Syaren. "Ini udah malem, aku kan ngantuk, capek, mau istirahat," jawab Syaren. "Ini masih jam setengah sembilan kak," sahut Aileen, "Aku tau ya, Kakak sering tidur malem karena telfonan sama Kak Rafa! Bilang aja mau telfonan kan? Bukan mau tidur! Pake alesan segala," "Haisshh ...." Syaren langsung memicingkan mata dan mendelik sinis menatap adik sepupunya itu. "Syaren?" Darren juga memicingkan mata dan mendelik sinis pada putri sulungnya itu. "Apa?" tanya Syaren menatap Sang Ayah. "Sama Rafael ada waktu, masa sama adek sendiri gak ada." ucap Darren. "Gak ada penolakan! Bantuin dulu adeknya! Atau ... uang jajan kamu minggu depan Papa kurangin setengah! Mau cukup atau enggak Papa gak peduli, Papa larang Mama juga buat kasih kamu jajan," ancam Darren. "Ihh ... kok gitu? Anak Papa tuh aku atau Aileen sih?" "Kalian semua sama-sama anak Papa!" ucap Darren. Wleee Aileen langsung menjulurkan lidahnya pada Syaren mengejek. "Kalian tuh harusnya kompak! Saling bantu, saling mengasihi, biar nanti saat Papa pulang dan udah gak ada di dunia ini, Papa bisa tenang ninggalin anak-anak Papa di sini karena kalian saling sayang," ucap Darren. Syaren langsung menelan ludah saat mendengar Ayahnya berbicara, dadanya sedikit merasakan sesak. "Ihhh ... Papa apaan sih? Kok gitu ngomongnya?" ucap Syaren. "Ckk! Ya udah! Masuk!" ucap Syaren pada Aileen dengan bibir yang mengerucut. Tap tap tap Aileen berjalan mendekati Pamannya dan, Cup Satu kecupan Aileen daratkan di atas pipi Darren. "Makasih Uncle," ucap Aileen tersenyum. "Kamu gak mau cium Papa?" tanya Darren pada Syaren. Tap tap tap Syaren mendekati Ayahnya juga dan, Cup Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi Darren. Ia lalu memeluk Sang Ayah karena masih terasa sesak saat Ayahnya mengatakan bagaimana jika nanti sudah tiada. "Jangan ngomong gitu lagi," ucap Syaren. "Ya kamunya juga jangan mancing. Kamu kan Kakak paling gede di rumah ini, harus bisa jagain adek-adeknya dong. Saling bantu, saling sayang. Kalau kalian akur kan Papa, Mama, Uncle Al, Anty Sherly, seneng liatnya," ucap Darren seraya mengelus rambut Syaren. Aileen juga ikut mendekati Paman dan Kakak sepupunya itu. Ia ikut melingkarkan tangannya di tubuh Syaren memeluk. "Aileen minta maaf karena udah gak sopan tadi main masuk aja," ucap Aileen. Darren melepas pelukannya. "Ya udah ... malah drama. Sekarang bantuin Aileen kerjain PR-nya, nanti keburu malem, setelah itu langsung gosok gigi, cuci muka terus tidur, jangan tidur terlalu malem," ucap Darren. Syaren mengangguk pelan mengiyakan. Darren menepuk pelan pucuk kepala rambut Syaren dan Aileen lalu berbalik meninggalkan kamar Syaren. "Ayo! Bantuin!" ucap Aileen berjalan ke arah meja belajar Syaren. Ia berjalan hendak melewati ranjang di mana Rafael bersembunyi. "JANGAN DI SITU," teriak Syaren hingga membuat Aileen menghentikan langkah dan menoleh. "Kenapa?" tanya Aileen. "Hmm ... mmhh ...." Syaren bingung harus menjawab apa. Ia menatap langit-langit kamarnya berpikir mencari alasan. "Kenapa?" tanya Aileen lagi. "Itu ... kursinya kan cuma ada satu," ucap Syaren beralasan. "Kalau kamu duduk ya masa Kakak berdiri! Pegel tau!" "Terus dimana?" tanya Aileen. "Di kamar kamu aja gimana?" tanya Syaren. "Gak mau ah. Kak Alfian udah tidur, dia suka marah kalau berisik," ucap Aileen. "Di bawah aja gimana? Sambil nonton TV, atau di meja makan ... sambil ngemil," ucap Syaren lagi. "Gak mau ah! Mager! Capek nurunin tangga! Nanti naik lagi, buang-buang waktu! Udah di sini aja!" ucap Aileen naik ke atas ranjang dan duduk di tengah-tengah ranjang. "Ckk!" Syaren berdecak kesal. Ia lalu langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan cepat naik juga ke atas ranjang. Duduk di tepi ranjang agar Aileen tak melihat ke bawah ranjang. Syaren melihat ke arah bawah, terlihat Rafael yang masih terbaring di atas lantai. "Cepet!" ucap Rafael tanpa bersuara. "Sabar," jawab Syaren tanpa suara juga. "Yang ini gimana kak?" tanya Aileen. "Hm? Apa? Yang mana?" tanya Syaren menoleh menatap Aileen. "Kenapa sih? Liatin apa? Kenapa liat ke belakang? Ada apa di belakang?" tanya Aileen. "Apa? Siapa yang liat ke belakang? Orang leher Kakak pegel." ucap Syaren seraya menggerakan kepalanya ke arah kanan dan kiri seperti sedang senam. "Ihh! Ge-je ... katanya mau cepet, tapi malah main-main," ucap Aileen. "Ya udah cepet mana? Bagian mana yang gak kamu ngerti," ucap Syaren. Aileen membuka lembaran buku yang ia bawa dan memperlihatkannya pada Syaren. "Yang dua ini, tadi sisanya udah Kak Alfian bantu," ucap Aileen seraya menunjuk ke arah buku yang ia bawa. "Aku juga gak paham sama persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel, pas di terangin sama gurunya aku ngerti, tapi pas di kasih soal, soalnya kok beda sama yang di contohin, kan jadi bingung." "Cuma itu doang?" tanya Syaren. "Ada ... satu lagi, perbandingan dan Aritmetika Sosial ... aljabar-aljabar gitu. Bikin pusing," ucap Aileen. "Kita bahas yang persamaan dan pertidaksamaan linier satu variabel dulu, setelah itu baru perbandingan dan aritmetika," ucap Syaren. Rafael yang masih berada di bawah langsung menggeser tubuhnya saat mendengar Syaren dan Aileen yang terdengar sangat serius, ia berniat untuk pindah dan masuk ke dalam lemari agar Aileen tak melihatnya. Ia berbaring di atas lantai menggerakkan kaki dan tubuh bergerak ke arah lemari. Syaren yang menoleh melihat Rafael bergerak sontak langsung berusaha membuat Aileen agar tetap fokus padanya dan tak membiarkan Aileen menoleh sedikitpun. Rafael membuka perlahan lemari Syaren dan masuk ke dalam lemari, ia duduk meringkuk di dalam lemari, menutup tubuhnya dengan baju-baju yang menggantung. "Akhirnya ...." gumam Syaren. "Hm? Apa? Akhirnya apa?" tanya Aileen. "Engh? Enggak gak pa-pa," jawab Syaren. "Ini ... akhirnya kakak nemu jalan gimana caranya ngerjain PR kamu, rada susah emang," ucap Syaren. "Oohh … Ya udah … gimana? Jelasin juga caranya gimana biar aku paham." Syaren tersenyum ragu, ia memejamkan mata dan menghembuskan nafas sedikit lega. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN