Klak
Syaren menutup pintu kamar mandi setelah selesai membasuh wajahnya dengan air, ia lalu berjalan ke arah meja rias, mengambil masker di atas meja dan langsung memakainya.
"Pake masker dulu biar glowing biar nanti Si Rafael makin kesem-sem sama aku, kalau nanti aku makin cantik," gumam Syaren seraya memasangkan masker itu di wajahnya. Ia lalu berjalan ke arah ranjang dan terbaring di sana.
Syaren terbaring santai di atas ranjang, kaki kanan yang berada di atas kiri dan kedua tangan yang terlipat di atas perut.
"Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan Syaren," ucap Syaren pelan. "Berasa ratu banget aku," ucap Syaren lagi lalu memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari arah pintu kaca yang mengarah ke balkon kamarnya. Syaren sontak langsung membuka mata dan menoleh ke arah kanan. Ia terdiam sebentar menunggu suara ketukan itu lagi. Memastikan kalau ia benar mendengar suara ketukan itu atau tidak.
"Perasaan aja kali ya? Gak ada lagi suaranya," ucap Syaren kembali menatap lurus dan memejamkan mata lagi.
Tok tok tok
Syaren sontak langsung menoleh lagi ke arah pintu kaca yang mengarah ke arah balkon kamarnya lagi.
Sssttt
"Sasyaaa … Sasyaaa …."
"Ehh … itu suara …?" Syaren beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kaca balkon. Ia lalu membuka gorden yang menutup pintu kaca itu.
"Astagfirullah," ucap Seorang Pria di balik pintu terlihat kaget saat melihat Syaren.
"Allahuakbar," Tak kalah kaget dengan Pria di balik pintu, Syaren juga mundur beberapa langkah saat melihat Pria itu. "Raraf?" panggil Syaren. Ia lalu memutar kunci ke arah kanan membuka pintu, ia menggeser pintu kaca itu dan menatap Rafael.
Pffttt … Hahaha.
Syaren memicingkan mata saat Rafael yang malah menertawakannya.
"Kamu pake apa?" tanya Rafael menyentuh masker di wajah yang Syaren kenakan.
"Hiihh …." Syaren menjauhkan wajahnya dari tangan Rafael yang menyentuh masker yang ia pakai. "Kamu ngapain ke sini malem-malem?" tanya Syaren.
"Menurut kamu? Aku ngapain?" tanya Rafael menerobos masuk ke dalam kamar Sang Kekasih. Ia berjalan ke arah meja belajar Syaren di sudut ruangan samping jendela kamar.
Rafael tersenyum saat melihat bingkai foto dirinya dan Syaren di sana. Mereka berfoto dengan senyum yang terlihat sangat manis dan terlihat bahagia.
"Di tanya malah balik nanya," ucap Syaren menutup pintu kaca balkon, ia lalu melepas masker di wajahnya dan berjalan mendekati Rafael. Syaren membuang masker itu ke dalam tong sampah di samping meja belajar.
"Aku kangen tau sama kamu," ucap Rafael tersenyum dengan sangat manis menatap kekasihnya.
Syaren mengatupkan bibir menahan senyum. "Tadi kan habis video call-an," jawab Syaren berdiri di samping kursi di mana Rafael terduduk, ia juga menaruh tangan kanannya di atas punggung kursi yang Rafael duduki.
"Rasa rindunya bisa lebih lepas kalau liat wajah kamu," jawab Rafael menanggahkan kepala menatap Syaren.
"Lebay! Aku bukan tipe perempuan yang luluh kalau di gombalin ya!" ucap Syaren.
"Aku gak ngegombal, emang nyatanya begitu. Tadi aku udah mau tidur, cuma karena Kebayang wajah kamu terus dan gak nahan jadi ya udah … aku samperin aja sekalian," ucap Rafael.
"Mama sama Papa kamu gak nanya kamu keluar jam segini?" tanya Syaren.
"Ya pake jurus jitu dong," ucap Rafael.
"Mau ke rumah Galih karena mau pinjem buku?" tanya Syaren.
Rafael menggelengkan kepalanya cepat.
"Terus?" tanya Syaren lagi.
"Pake alasan itu lagi malah bikin mereka curiga, lagian kita udah gak pernah telat dateng ke sekolah lagi, udah gak pernah ketinggalan pelajaran lagi. Jadi mereka pasti bakalan curiga. Aku pake alesan lain, aku bilang sama yang ada di rumah kalau aku mau pinjem novel horor terjemahan sama Rendi." jelas Rafael.
"Hmmm …," Syaren mengangguk pelan. "Terus? Mereka percaya?" tanya Syaren.
"Si Shelia doang yang curiga, Mama sama Papa aku awalnya manggut-manggut aja percaya sama alesan aku. Ehh … Kakak aku malah nyeletuk, mau ke rumah Rendi atau mau ke rumah pujaan hati? Terus ya aku refleks dong jawab, 'Siapa yang mau nemuin Syaren? Orang tiap hari juga ketemu,' jadi … yaa … Mama sama Papa aku keknya mulai curiga," ucap Rafael.
"Lagian kenapa pake acara keceplosan segala coba," ucap Syaren.
"Ya namanya juga keceplosan, mana bisa di rem," jawab Rafael.
Syaren melangkah satu langkah lalu naik dan terduduk di atas meja. "Raf? Kalau misalnya orang tua kita tau, kalau kita menjalin hubungan gimana?" tanya Syaren.
"Jangan dulu deh ya? Sebisa mungkin kita tutupi dulu dari keluarga kita masing-masing. Bukannya aku gak mau. Ya aku mah sih mau-mau aja, apalagi Mama aku kayaknya merestui juga. Cuma masalahnya …."
"Masalahnya apa?" tanya Syaren.
"Takutnya kalau nilai kita turun atau semua yang berhubungan dengan pendidikan rada bermasalah, orang tua kita malah jadi menghubung-hubungkan. Kalau kita di suruh putus gimana? Terus yang udah pasti, Papa kamu pasti bakalan makin galak sama aku," ucap Rafael.
"Iya sih, bener juga apa kata kamu, Papa aku pasti akan semakin sensitif dan makin bikin kesel kalau tau kita pacaran," ucap Syaren.
"Hmm, ya udah … sampe lulus SMA kita kayak begini aja dulu, backstreet kayak begini seru juga kok. Nanti pas kita kuliah, baru kita kasih tau orang tua kita kalau kita pacaran," ucap Rafael.
Syaren tersenyum dan mengangguk pelan mengiyakan.
"BTW … kamu cantik pake rok begitu," ucap Rafael tersenyum.
Syaren sontak langsung melihat ke arah rok yang dikenakannya. "Aku mah pake apa aja juga cantik," ucap Syaren.
"Baru hari ini loh aku liat kamu pake rok lagi, terakhir kali mungkin waktu kita masih SD, pas masuk SMP kan kamu udah gak pernah pake rok," ucap Rafael. "Aku sampe mikir, kenapa coba aku bisa suka sama perempuan kayak kamu, gak ada feminim-feminimnya sama sekali."
"Dihh … di rumah, tiap hari aku pake rok ya! Enak aja!" ucap Syaren.
Rafael tersenyum. "Biasa aja kali ngomongnya, gak usah ngegas. Tapi bagus sih," ucap Rafael.
"Maksudnya bagus?"
"Ya bagus, aku suka gaya kamu yang sedikit tomboy. Sebisa mungkin kalau sedang tidak bersama dengan aku, jangan pake rok ya! Aku gak mau kamu jadi pusat perhatian orang karena kamu terlalu cantik! Pake celana jeans aja kalau keluar rumah tanpa aku," ucap Rafael.
"Dihh … ngatur," ucap Syaren.
"Bukan ngatur, tapi ini buat kamu juga. Kalau kamu di gangguin orang gimana?"
"Aku kan bisa bela diri!" jawab Syaren cepat.
"Bela diri masih dasar juga bangga!" ucap Rafael.
"Namanya juga masih belajar, ya proses lah!" ucap Syaren mendelik sinis.
Pfftt
Rafael tertawa pelan. "Oke-oke," jawab Rafael. "Kalau kamu sering pake baju begini, berarti baju kamu yang modelannya kayak begitu banyak ya?" tanya Rafael.
"Hmm … lumayan sih," jawab Syaren.
"Aku mau liat dong modelnya kaya gimana aja," ucap Rafael bangun dari duduknya dan berjalan ke arah lemari yang berada beberapa langkah di belakang meja belajar.
"Apaan? Jangan macem-macem ya, Raf! Privacy!" ucap Syaren beranjak turun dari meja dan berjalan mengejar Rafael.
Syaren berdiri di depan lemari dan merentangkan kedua tangannya.
"Cuma liat doang, masa gak boleh," ucap Rafael.
"Ya gak boleh lah, ini di dalem lemari isinya bukan cuma baju doang ya! Tapi ada benda-benda keramat yang lain juga," ucap Syaren.
Rafael mengerutkan alis tak mengerti. "Benda keramat? Benda keramat apaan?" tanya Rafael.
Syaren menatap langit-langit berpikir bagaimana cara ia mengatakannya pada Rafael. Tak mungkin kan kalau ia mengatakan dengan jelas kalau benda keramat itu adalah pakaian dalam miliknya. "Ya ada lah pokoknya! Benda keramat pribadi punya perempuan! Laki-laki gak boleh liat!" ucap Syaren.
Rafael menatap Syaren dengan sangat serius."Aku kok malah curiga sama kamu ya?" ucap Rafael.
"Curiga apa?" tanya Syaren masih berusaha menutupi lemari agar Rafael tak membukanya.
"Kamu simpen foto laki-laki ya di dalem lemari?" tanya Rafael.
"Apaan? Enggak!" jawab Syaren.
"Kalau enggak ya udah … awas, aku mau liat," ucap Rafael.
"Gak boleh!" jawab Syaren cepat.
"Kenapa gak boleh?" tanya Rafael lagi.
"Aku bilang ada benda keramat dan kamu gak boleh liat!" jawab Syaren.
"Kamu yang kayak gini malah buat aku semakin curiga," ucap Rafael.
"Curiga apa? Gak ada foto laki-laki di dalem lemari," jawab Syaren.
"Kalau gitu awas!" ucap Rafael berusaha menjauhkan tubuh Syaren dari pintu lemari. Namun, dengan sekuat tenaga Syaren tetap berdiri di tempat agar Rafael tak membuka pintu lemarinya.
"Raf … jangan macem-macem ya! Jangan berisik juga! Nanti ada yang denger!" ucap Syaren semakin merapatkan tubuhnya ke pintu lemari agar Rafael tak bisa membukanya.
"Aku cuma mau liat sebentar," ucap Rafael masih berusaha menarik tubuh Syaren.
"Aku gak mau!" ucap Syaren memegang tubuh Rafael dan mendorongnya hingga Rafael berjalan mundur beberapa langkah dan akhirnya mereka terjatuh di atas ranjang.
Degh!
Syaren menelan ludah saat dengan tak sengaja ia terjatuh tepat berada di atas tubuh Rafael yang terbaring di atas ranjang. Mereka saling beradu pandang dalam hening.
Tap tap tap
"Kaaak? Kak Syareeen …."
Syaren sontak langsung berdiri tegak saat mendengar suara langkah kaki dan seseorang memanggil namanya. "Kamu ngumpet!" ucap Syaren seraya mendorong tubuh Rafael hingga terjatuh dari atas ranjang ke lantai.
"Aa-argghh …." rintih Rafael.
"Maaf, maaf," ucap Syaren.
Ceklek
Brak!
"Kak Syaren?"
Syaren sontak langsung memutar tubuh berbalik melihat ke arah pintu.
Bersambung