Pip_
Rafael menutup sambungan video call-nya. Ia lalu berbaring tengkurap di atas ranjang, menenggelamkan wajahnya ke atas bantal.
Huuhhhh
Rafael lalu berbaring terlentang dan menatap langit-langit, ia menghembuskan nafasnya kasar setelah merasa sesak karena menenggelamkan wajahnya ke atas bantal tadi, ia menatap langit-langit kamarnya seraya tersenyum. Mengingat wajah sang kekasih yang terus terlintas di pikirannya.
"Kalau begini rasanya jatuh cinta, kenapa gak dari dulu aja ya aku nyatain cinta sama dia? Ckk! Terkadang gengsi membuat semua orang merasakan penyesalan! Tapi ... untung saja aku belum terlambat!" ucap Rafael. Ia lalu melihat jam yang menempel di dinding kamarnya, jarum pendek hampir mengarah ke angka 8 sedang yang panjang ke angka 10. "Dahlah! Dari pada ngomong sendirian, mending aku tidur! Biar cepet besok dan ketemu dia lagi!"
Rafael berbaring menyamping ke arah kanan dan memeluk bantal guling, memejamkan mata untuk tertidur.
Beberapa menit kemudian.
Rafael memutar tubuh kembali berbaring terlentang dan menatap langit-langit kamarnya lagi, memejamkan mata malah semakin membuatnya teringat Syaren dan mengingat kejadian saat Syaren mengecup pipinya tadi sore.
"Ckk! Gak bisa tidur! Kangen!" gumam Rafael, ia lalu kembali melihat jam di dinding kamarnya lagi. Jarum pendek sudah menunjuk ke angka 8 dan yang panjang menunjuk ke angka 2.
Rafael bangun dari baringannya dan duduk bersila di atas ranjang, ia menggigit bibir bawahnya berpikir. "Haruskah?" gumam Rafael. "Sebentar doang mah gak akan masalah kali ya? Hmm … iya gak akan!" gumam Rafael lagi, ia lalu beranjak turun dari ranjang dan berjalan ke arah meja belajarnya, mengambil jaket berwarna abu-abu yang ia taruh di atas kursi dan langsung memakainya.
Tap tap tap
Klak
Rafael menutup pintu kamarnya setelah keluar dari kamar, ia lalu berjalan menuruni anak tangga dan melangkahkan kaki ke arah pintu utama hendak keluar.
"Mau kemana?" tanya Diandra tiba-tiba yang tengah terduduk di atas karpet ruang keluarga di temani Arshelia.
Rafael yang baru saja melewati ruang keluarga itu sontak langsung menoleh ke arah Sang Ibu dan Kakak perempuannya.
"Hm?"
"Mau kemana?" tanya Diandra lagi.
"Mau ... mmmhh …," Rafael menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal berpikir mencari alasan, "itu … Rafa mau ke rumah Rendi, mau pinjem novel horror terjemahan," ucap Rafael berbohong.
"Ini udah malem loh, kenapa gak besok aja? Kan gak enak bertamu ke rumah orang jam segini, ganggu orang malem-malem begini," ucap Diandra.
"Udah kontekan kok sama Rendi dan dia gak masalah," jawab Rafael.
"Mau Papa anterin?" tanya Rafli tiba-tiba dari arah dapur seraya membawa gelas berisi kopi.
"Hm?" Rafael sontak langsung menoleh menatap Sang Ayah. "Enggak, gak usah. Rafa pake sepeda aja, lagian Papa lagi ngopi kan? Masa Rafa ganggu."
"Ya udah, kakak aja yang anter, gimana? Kakak udah punya SIM kok, baru jadi kemarin lusa," sahut Arshelia.
"Enggak, gak usah. Rafa bisa sendiri, gak usah di anterin. Lagian Kak Shelia lagi nonton kan? Fokus aja, nanti ketinggalan loh sinetronnya," ucap Rafael.
"Gak masalah, Kakak juga gak terlalu suka sinetron. Ini nonton karena nemenin Mama doang, jadi Kakak oke-oke aja kok kalau nganterin kamu," jawab Arshelia.
"Ihh ... enggak! Emang Rafa bocah apa. Gak usah, Rafa naik sepeda aja. Lagian gak akan lama kok," ucap Rafael lagi.
"Hmmm ... oke!" jawab Arshelia mengangguk.
"Ya udah, Rafa pergi dulu. Assalamualaikum," salam Rafael berbalik dan kembali melangkahkan kaki lagi.
Tap tap tap
"Rafa?" panggil Arshelia.
Rafael yang baru saja melangkah beberapa langkah itu sontak langsung menoleh lagi melihat ke arah Sang Kakak. "Apa?" tanya Rafael.
"Yakin mau ambil novel di rumah temen?" tanya Arshelia.
"Iyalah!" jawab Rafael.
"Bukan mau nemuin pujaan hati?" tanya Arshelia lagi.
Degh!
Rafael langsung menelan ludah. Sedang Diandra dan Rafli saling beradu pandang.
"Pu-pujaan hati apa? Jan ngadi-ngadi ya, Kak!" ucap Rafael.
"Ngadi-ngadi apa? Orang cuma nanya juga. Kenapa mesti gugup?" tanya Arshelia. "Lagian kenapa gak pake ojek online aja? Kan lebih simple! Gak harus keluar rumah segala, malem-malem begini lagi."
"Sayang di ongkos! Selagi bisa di ambil sendiri kenapa harus pake ojol? Rafa bukan Kakak ya yang kaum rebahan!" ucap Rafael.
"Haishh ...." Arshelia langsung mendelik sinis menatap adik semata wayangnya itu dengan tatapan tajam.
"Lagian siapa juga yang mau nemuin Syaren, tiap hari juga ketemu di sekolah!" ucap Rafael lagi.
"Diihh ... emang Kakak ada sebut nama Syaren? Perasaan enggak deh!" ucap Arshelia, "Tunggu-tunggu! Jangan-jangan, pujaan hati kamu itu Syaren? Kamu sama dia pacaran?" tanya Arshelia.
Degh!
Rafael semakin menelan ludah. Sedang Diandra dan Rafli kembali saling beradu pandang lagi.
"Rafael? Beneran?" tanya Diandra. "Kamu sama Syaren udah ...."
"Apa sih? Udah ah! Kalian kepo!" ucap Rafael. "Keburu malem, Rafa pergi dulu sebentar," ucap Rafael kembali melangkahkan lagi kakinya ke arah pintu utama.
"BENERAN JUGA GAK PA-PA KOK SAYANG, MAMA RESTUIN," teriak Diandra.
Rafael membuka pintu dan langsung menutupnya pelan. Ia mengatupkan bibir menahan senyum saat mendengar teriakan Sang Ibu. Rafael lalu berjalan ke arah sepeda yang terparkir di halaman samping teras rumahnya, ia memutar balik sepeda itu dan membawanya ke arah pintu pagar.
Setelah keluar dari pintu pagar rumahnya, ia lalu langsung naik ke atas sepedanya, mulai menggoes sepedanya hendak ke rumah Sang Kekasih.
20 menit kemudian.
Rafael menghentikan laju sepedanya saat sudah berada di depan pintu pagar rumah Syaren, ia lalu menyembunyikan sepedanya itu di antara pepohonan kecil di samping pintu pagar. Sengaja menaruhnya di sana agar tak ada orang yang melihat keberadaanya.
Rafael lalu menanggahkan kepala berniat untuk memanjat pagar tembok rumah Syaren. Karena tak mungkin kan ia masuk dan bertamu semalam ini ke rumah Syaren. Orang tua Syaren, lebih tepatnya ayah Syaren, pasti akan semakin tidak menyukainya nanti.
Setelah berhasil memanjat pagar tembok rumah Syaren yang tingginya hanya sekitar satu meter setengah itu, Rafael lalu berjalan mengendap-ngendap ke arah yang mengarah ke balkon kamar Syaren.
Seperti biasa saat ia sering sekali datang untuk menemui Syaren dengan tiba-tiba di malam hari, ia mencari tangga yang biasa ia pakai untuk naik ke atas kamar Syaren.
Rafael menoleh ke arah kanannya, ia tersenyum saat tangga yang biasa ia pakai untuk naik ke atas masih berada di tempatnya. Ia lalu berjalan ke arah tangga itu dan membawanya mendekat ke arah balkon kamar Syaren.
"Bismillah," ucap Rafael menanggahkan kepalanya melihat ke arah balkon dan dengan sangat hati-hati ia arahkan tangga itu menuju kamar Syaren.
Perlahan tapi pasti. Saat di rasa tangga itu sudah bersandar dengan sangat benar dan aman, Rafael menaiki anak tangga dengan sangat pelan hingga akhirnya ia berhasil naik ke atas balkon dan menginjakkan kakinya di lantai atas balkon kamar Syaren.
"Huh! Akhirnya," gumam Rafael.
Tok tok tok
Rafael mengetuk pintu kaca kamar kekasihnya itu.
"Sya? Sasya?" bisik Rafael seraya mengetuk pintu kamar Syaren dengan sangat pelan. Sesekali ia melihat ke segala arah, terutama ke balkon di samping kamar Syaren yang ia yakini kalau itu adalah kamar ibu dan ayah Syaren.
Tok tok tok
"Sasya? Bukaaa ... ini aku, Raraf." ucap Rafael berbisik. "Sasyaaaa ...."
Sreettt
"Astagfirullah," ucap Rafael mundur beberapa langkah hingga mentok ke pagar balkon saat seseorang membuka gorden dan melihat ke arahnya.
Bersambung