Falling in love

1281 Kata
Syaren tersenyum dengan sangat manis menatap ke arah ayah dan ibunya yang tengah terduduk di ruang keluarga sedang menonton TV. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Darren pada putri sulungnya itu. "Senyum kan ibadah, masa gak boleh senyum," jawab Syaren yang kini tengah berdiri di samping sofa dimana Darren dan Nadisya terduduk. "Ya emang senyum itu ibadah, gak ada yang salah, semua oke oke aja! Tapi kalau dalam batas yang normal dan wajar!" ucap Darren. "Lahh ... Syaren normal kok, masih sehat dan waras juga!" jawab Syaren. "Enggak! Senyum kamu gak normal!" ucap Darren. "Apa yang si Rafael lakuin? Kalian ngapain aja?" tanya Darren lagi. "Apa? Syaren sama dia gak ngapa-ngapain," jawab Syaren. "Dia nyatain cinta sama kamu?" tanya Nadisya. "Hm? Mmmhhh ...." Syaren bingung harus menjawab apa. Ia merasa belum saatnya ia berkata jujur pada orang tuanya kalau ia dan Rafael memang sudah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. "Beneran?" tanya Darren. "Terus kamu jawab apa? Diterima? Enggak kan? Kamu nolak kan?" tanya Darren lagi. "Diihh ... apaan sih? Kalian kepo!" jawab Syaren. Nadisya bangun dari duduknya dan mendekati Syaren. Ia menyelipkan tangannya di siku lengan Syaren memeluknya. "Beneran nyatain cinta?" tanya Nadisya seraya tersenyum dengan sangat manis menatap putri sulungnya itu. "Apaan sih? Kata siapa?" tanya Syaren. "Mama baca mimik wajah kamu dan terlihat dengan jelas kalau kamu sama Rafael itu ... mmmhh ...." Nadisya menaik-turunkan alisnya menatap Sang Putri. Sedang Darren, ia terus melihat dengan seksama wajah putri sulungnya itu menunggu jawaban. "Apa?" tanya Syaren pura-pura tak mengerti. "Kalau iya juga gak pa-pa kok, Sayang. Mama restuin, gak akan di larang-larang. Asalkaaan ... kalian pacaran dalam batas yang wajar, jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh dan kalian tetep harus fokus sama ujian kalian. Bentar lagi kan udah mau masuk universitas, pendidikan tetep nomor satu," ucap Nadisya. Syaren yang mendengar sontak langsung tersenyum dengan sangat manis, ia melepas tangan sang ibu di lengannya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Sang Ibu, memeluk Nadisya dengan sangat erat. "Syaren sayaaaang banget sama Mama," ucap Syaren. Cup Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi Sang Ibu. "Mama juga Sayang sama kamu," ucap Nadisya seraya membelai rambut putri sulungnya itu. Cup Satu kecupan Nadisya daratkan juga di atas pucuk kepala Syaren. "Kamu tuh Ibunya bukan sih?" tanya Darren, "Masa anaknya pacaran di biarin gitu aja," ucap Darren. "Ya kenapa? Selagi dalam batas yang wajar dan gak macem-macem ya biarin aja. Lagian aku yakin mereka pasti tau batasan kok," ucap Nadisya. "Aku pernah muda ya! Saat seusia Syaren aku juga pacaran!" "Iya sama bapaknya si Rafael," jawab Darren. Nadisya dan Syaren sontak langsung beradu pandang. "Hehe ... Papa kamu emang ... mmhh ...." Nadisya bingung harus mengucapkan apa. Ia lalu menatap Darren dan memicingkan mata mendelik sinis. "Kamu juga dulu pacaran ya!" ucap Nadisya. "Lahh aku ganteng, ya bebaslah!" jawab Darren. "Pe-de!" jawab Nadisya. Syaren melepas pelukannya dan berdiri tegak. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. "Ma? Syaren ke atas dulu ya? Mau mandi terus rebahan, kaki Syaren rada pegel jalan-jalan terus dari tadi." "Iya, Sayang." jawab Nadisya seraya mengelus pipi Syaren lalu kembali berjalan ke arah sofa mendekati Suaminya. Syaren lalu berjalan ke arah tangga, ia menoleh ke arah sofa di mana ayah dan ibunya terduduk, terlihat mereka tengah berdebat. Syaren menggelengkan kepala lalu kembali berjalan lagi ke arah tangga. Tap tap tap Syaren kembali tersenyum lagi saat kembali teringat apa yang ia lakukan pada Rafael tadi. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Alfa tiba-tiba saat Syaren hendak menaiki anak tangga. "Hm?" Syaren menoleh ke arah Sang Paman yang baru saja keluar dari arah dapur tengah berjalan seraya memeluk kaleng biskuit berukuran medium. "Kenapa senyum-senyum?" tanya Alfa lagi seraya menggigit biskuit berwarna coklat di tangan kanannya. "Siapa yang senyum-senyum? Biasa aja perasaan," jawab Syaren. "Uncle gak buta ya! Uncle liat kok, kamu jalan sambil senyum-senyum," ucap Alfa seraya mengunyah biskuit di dalam mulutnya. "Kepo!" jawab Syaren, "Ada baiknya Uncle makan sambil duduk, karena makan itu gak boleh sambil berdiri! Untuk pertanyaan kenapa Syaren senyum-senyum. Uncle gak perlu tau, cukup hati Syaren dan Tuhan yang tau." jawab Syaren seraya tersenyum dengan sangat manis pada Sang Paman. "Syaren kamar dulu ya? Bye-bye ...." Cup Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi Alfa hingga Pamannya itu mengerutkan alis. "Gak waras nih anak." ucap Alfa setelah Syaren mengecupnya. Ia lalu kembali berjalan lagi melewati Syaren, melangkahkan kaki ke arah sofa ruang keluarga seraya memakan biskuit yang baru saja ia ambil di dalam kaleng. Sedangkan Syaren, ia mengerucutkan bibir setelah mendengar ucapan Sang Paman. "Orang aku waras! Kenapa mereka bilang aku gak waras? Dasar aneh!" ucap Syaren berjalan menaiki anak tangga dan melangkahkan kaki ke arah kamarnya. Ceklek. Tap tap tap Huuuhh Syaren menghembuskan nafasnya kasar setelah menghempaskan tubuhnya di atas kasur. "Kalau cinta ternyata seindah ini, kenapa gak dari dulu aja coba aku nyatain lebih dulu sama dia?" ucap Syaren dengan pandangan menatap lurus ke langit-langit kamarnya. Beberapa menit kemudian. "Mandi dulu deh, tadi dia bilang mau VC kan? Biar keliatan cantik dan gak kucel! Biar dia juga makin sayang dan cinta sama aku!" ucap Syaren, ia lalu bangun dari baringannya dan berjalan ke arah kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya. 15 Menit kemudian. Ceklek Syaren keluar dari kamar mandi masih menggunakan handuk kimono berwarna ungu dan kepala yang terbelit handuk berwarna putih, ia lalu berjalan ke arah meja rias dan menatap diri dalam cermin. "Ckk! Cantik banget anaknya Darren sama Nadisya ini, Pacarnya Rafael juga!" ucap Syaren tersenyum dengan sangat manis pada cermin di hadapannya itu, ia mengambil serum vitamin C di atas meja dan memakaikannya di wajah. Syaren memejamkan mata seraya menepuk pelan pipinya. Setelah selesai, Syaren lalu berjalan ke arah lemari dan mengambil dress pendek selutut dengan lengan pendek berwarna merah muda dan langsung memakainya. Lalu setelah memakai baju, Syaren melepas handuk di kepalanya dan mengambil sisir di atas meja. *You are the cause of my euphoriaaa … ye-yeah ye-yeah ye-yeah* Syaren langsung berlari ke arah handphone yang ia taruh di atas ranjang saat mendengar suara lagu Euphoria yang di nyanyikan oleh Jeon Jungkook yang ia jadikan sebagai ringtone handphonenya. "Haaaaa ... beneran dia," ucap Syaren saat membaca nama di layar handphonenya. "Duhh ... mana belum sisir rambut lagi," ucap Syaren lagi, ia lalu berlari lagi ke arah meja riasnya dan mengambil sisir. Menyisir cepat rambutnya agar terlihat rapi, lalu setelah itu ia mengambil lip balm aroma lemon di atas meja dan langsung memakaikannya di bibir. Syaren lalu mengambil handphonenya lagi, hendak menggeser panel hijau ke atas namun ternyata panggilan video call-nya sudah lebih dulu di matikan. "Yaaahh ... mati! Ckk!" Syaren mengerucutkan bibirnya kesal. "Apa telpon balik aja ya? Hihh ... malu lah! Aku kan perempuan! Kudu jaga image dan kudu jual mahal juga dong!" ucap Syaren. 10 menit kemudian. Tuk … tuk … tuk …. Syaren mengetuk meja rias menunggu Rafael kembali menghubunginya lagi tapi tak ada panggilan masuk kembali, ia mengetuk meja rias dengan jari telunjuk dan mata yang memicing melihat diri dalam cermin. Sesekali ia melihat ke arah layar handphone, sangat berharap Rafael kembali menghubungi lagi tapi tak ada juga. "Ini orang kemana coba, ya masa aku hubungin dia lebih dulu," gumam Syaren. Ffiuuhhh Syaren meniup rambut poninya mulai kesal. Beberapa menit kemudian. *You are the cause of my euphoriaaa* Syaren terduduk tegak, ia menatap layar handphonenya lagi saat mendengar handphonenya kembali berbunyi. Raraf Nama yang Syaren baca di layar handphonenya lengkap dengan emoticon love itu. Huuuhhh Syaren menghembuskan nafas berusaha menenangkan diri. "Ckk! Ahh! Kelamaan! Nanti keburu di matiin lagi sama dia!" ucap Syaren mengambil handphone, mengarahkannya seperti hendak selfie. Syaren merapikan poni sebentar dan langsung menggeser panel hijau di layar handphonenya itu ke atas. "Haii ...." ucap Rafael seraya melambaikan tangan. Syaren tersenyum dan balas melambaikan tangan juga. "Haii …." jawab Syaren tersenyum manis. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN