(Flashback 1 Jam yang lalu.)
Darren yang tengah menonton TV di ruang keluarga itu mengerutkan alis saat mendengar suara mobil dari depan rumahnya. Ia langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah ruang tamu, membuka sedikit gorden dan mengintip siapa yang datang.
"Lahh ... tumben jam segini udah di anterin pulang," ucap Darren.
"Siapa?" tanya Nadisya tiba-tiba.
"Allahuakbar," ucap Darren berdiri tegak memegang d**a kaget. Ia menoleh dan menatap Sang Istri.
"Ngerasa punya dosa banget ya kamu, di tanya begitu aja kaget," ucap Nadisya.
"Dosa apa? Orang aku kaget karena kamu tiba-tiba dateng, minimal salam dulu kek, ini main dateng aja," jawab Darren.
"Ini di rumah, ya masa aku salam," ucap Nadisya.
"Haisshh ... udah sana! Ganggu orang aja," ucap Darren.
"Ngintip siapa sih? Kepo amat sama urusan orang," ucap Nadisya melangkah mendekati jendela dan membuka gorden, melihat siapa yang Suaminya intip. "Lahh ... mereka udah pulang?"
"Mereka ada di depan, itu artinya mereka udah pulang," sahut Darren.
Nadisya langsung menatap Suaminya, ia memicingkan mata dan mendelik sinis. "Malam ini tidur di sofa ya, Yaang?"
Darren langsung menelan ludah. "Enggak Sayang, aku cuma bercanda," ucap Darren merangkul pundak Sang Istri dan menariknya perlahan hingga kepala Sang Istri bersandar di dadanya. "Kok kamu baperan banget sih? Gitu doang marah, sensitif banget. Jangan-jangan kamu lagi isi lagi," ucap Darren.
"Astagfirullah," ucap Nadisya melepas tangan Suaminya dan berdiri tegak. "Jaga ya itu mulut, isi ... isi! Umur aku udah empat puluh lebih, masa iya hamil! Amit-amit!" ucap Nadisya seraya mengelus perutnya.
"Apa yang salah? Ada lakinya ini," jawab Darren.
"Kamu tuh beneran kagak ada akhlak ya!" ucap Nadisya. "Ya yang bener aja, Yaang! Anak kamu yang paling gede udah mau masuk universitas! Masa punya adek lagi!"
"Lah terus kenapa kalau punya adek lagi?" tanya Darren. "Orang lain yang umurnya lima puluhan aja ada kok yang hamil dan punya anak lagi."
"Sekali lagi ngomong kek gitu aku geplak ya mulut kamu, nanti malem gak usah tidur di kamar!" ucap Nadisya seraya mengarahkan telapak tangannya ke atas.
Darren sontak langsung mengatupkan bibir.
Nadisya masih memicingkan mata, menatap Suaminya dengan tatapan tajam.
"Enggak-enggak, Sayang. Engga!" ucap Darren.
Nadisya lalu kembali membuka gorden lagi dan mengintip.
"Uwuuu ... so sweet-nya mereka. Mudah-mudahan nanti mereka beneran pacaran, terus mereka beneran jodoh! Aamiin," ucap Nadisya saat melihat Syaren yang sedang memegang gemas pipi Rafael.
"Astagfirullah," ucap Darren.
"Kenapa istigfar? Apa yang salah sama ucapan aku?" tanya Nadisya dengan nada yang sedikit sinis.
"Hmm? Enggak Sayang, enggak," jawab Darren tersenyum ragu. "Galak amat perasaan."
Nadisya mengerucutkan bibir lalu kembali mengintip lagi. Darren juga ikut mengintip penasaran.
"Tuh liat, bukan Rafael yang bucin, tapi anak kamu," ucap Nadisya saat melihat Syaren yang mengarahkan telapak tangannya meminta Rafael yang sudah berdiri di depan pintu pagar untuk kembali mendekati dan menggandeng tangannya.
"Kek lansia aja gandengan tangan segala," komentar Darren.
"Komentar lagi beneran tidur di luar ya, Yaang."
"Ini kan rumah aku, masih atas nama aku. Masa aku tidur di luar," ucap Darren.
"Aahh ... secara tidak langsung kamu mengatakan kalau harusnya aku yang pergi dari rumah?" tanya Nadisya. "Oke ... gak masalah!"
"Hmmm ... enggak-enggak, Sayang. Bukan gitu maksud aku," ucap Darren melingkarkan tangannya di pinggang Nadisya memeluk Sang istri dari arah samping dan menaruh dagunya di bahu Nadisya.
"Ckk! Lepas! Aku mau samperin anak aku!" ucap Nadisya.
"Tapi gak akan pergi kan ya?"
"Akan aku pikirkan!" jawab Nadisya melepas tangan Sang Suami di pinggangnya dan berjalan ke arah pintu. "Lagi pula aku mau pergi kemana? Gak punya tujuan!" gumam Nadisya.
Darren ikut berjalan mengikuti Sang Istri yang berjalan ke arah pintu.
"Biar aku aja yang buka," ucap Darren tersenyum memegang gagang pintu.
"Ya udah, buka."
Darren menarik gagang pintu rumahnya. Dua orang anak remaja sudah berdiri di depan pintu.
"Mama? Papa?" panggil Syaren.
"Udah pulang? Kok cepet banget mainnya, padahal belum gelap loh, masih terang begini," ucap Nadisya pada Syaren dan Rafael.
Flashback End.
***
Rafael berjalan ke arah pintu rumahnya dengan senyum yang terus terukir di bibirnya, ia terus memegang pipi yang tadi Syaren kecup.
Masih sangat terasa kalau tadi kekasihnya itu mengecup pipinya dengan sangat lembut.
Klak
Rafael membuka pintu dan berjalan ke arah ruang keluarga, terlihat Sang Ayah, Ibu dan Kakak perempuannya berada di ruang keluarga tengah menonton TV bersama.
Tap tap tap
Rafael berjalan mendekati mereka dan,
Cup cup cup
Rafael yang berdiri di belakang sofa itu mengecup pipi Sang ibu, ayahnya lalu terakhir kakak perempuannya dari arah belakang.
"Hiiihhh ... apa sih?" tanya Sang kakak seraya memegang pipinya yang Rafael kecup.
"Kak Shelia cantik banget hari ini. Sumpah!" ucap Rafael.
"Stress ya kamu?" tanya Arshelia.
"Hmmm ... bisa jadi," jawab Rafael tersenyum.
Diandra dan Rafli, ibu dan ayah Rafael serta Arshelia itu saling beradu pandang. "Anak kamu kenapa?" tanya Diandra.
Rafli menaikkan kedua bahunya tak tahu.
"Rafa gak pa-pa kok, Maa ... Paa ...." jawab Rafael.
"Kurang obat kali, Maa," ucap Arshelia.
"Lebih tepatnya kelebihan vitamin, Kak." jawab Rafael tersenyum dengan sangat manis pada ayah, ibu dan kakaknya itu.
"Ihh ... serem! Shelia mau ke kamar aja!" jawab Arshelia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya.
"Rafael? Kenapa?" tanya Diandra.
"Enggak gak ada apa-apa," jawab Rafael masih tersenyum pada Sang Ibu.
"Yakin?" tanya Diandra.
"Iya ... yakin! Hmm ... Rafael mau ke kamar ya? Mau mandi," ucap Rafael tersenyum dan berbalik berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Tuh anak kenapa ya?" tanya Diandra.
"Kamu gak paham?" tanya Rafli. "Aku aja sekarang paham dia kenapa, masa kamu enggak."
"Gak paham apanya?" Diandra balik bertanya.
"Dia habis dari mana dan sama siapa?" tanya Rafli lagi.
"Jalan kan sama Syaren, tadi pagi izin sama aku begitu," jawab Diandra.
"Nah itu jawabannya," ucap Rafli.
Diandra mengerutkan alis masih tak mengerti. "Maksudnya?" tanya Diandra.
"Kamu tuh gak peka, gak pernah muda apa gimana sih?" tanya Rafli. "Masa gitu aja gak paham."
"Hmm?"
"Dia abis jalan sama Syaren seharian ini, terus pulang kek orang gak waras kesenangan, itu artinya ada sesuatu di antara mereka. Bisa aja kan anak kamu itu nembak Si Syaren dan ternyata cintanya di terima. Iya kan?"
"Haaa ...." Diandra menutup mulutnya kaget. "Iya ya? Kok aku gak kepikiran kesana," ucap Diandra.
"Kamu Ibunya, ya masa gak paham. Aneh!"
"Aku sama Nadisya beneran besanan dong kalau gitu? Ckk! Gak sia-sia juga ngedeketin mereka dari kecil," ucap Diandra menatap Suaminya dengan tatapan bahagia.
"Jangan seneng dulu. Si Darren belum tentu setuju," ucap Rafli lalu menatap lurus lagi ke arah TV.
"Darren kan takut sama Nadisya, bisa di atur itu mah. Yang penting kan anak-anaknya aja dulu," ucap Diandra.
"Terserah kalian, untuk masalah hati aku gak akan pernah ikut campur. Dengan siapapun Rafael atau Arshelia nantinya, selagi pasangan mereka itu baik, sifat dan akhlaknya oke, bikin nyaman dan selalu bikin bahagia anak-anak aku. Aku bakalan restuin mereka."
"Hmmm … so sweet-nya," ucap Diandra menyelipkan tangannya di siku lengan Sang Suami dan menyandarkan kepalanya di lengan Sang Suami. "Cinta gak sama aku?" tanya Diandra.
"Kalau gak cinta, Rafael gak akan lahir! Kalau gak cinta, ini pernikahan gak akan awet selama ini," jawab Rafael.
Cup
Satu kecupan Diandra daratkan di atas pipi Suaminya. "Saranghae …."
"Korban drakor!"
"Neol neomunado saranghae," ucap Diandra lagi. (Aku sangat mencintaimu.)
Rafli mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Diandra, ia memegang gemas kedua pipi Diandra hingga mengerucut.
Cup
Satu kecupan ia daratkan di atas hidung Diandra. "Nado Saranghae!" jawab Rafli. (Aku juga mencintaimu.)
Bersambung