Terimakasih untuk Hari ini

1200 Kata
"Makasih ya, Pak." ucap Rafael sedikit membungkuk pada supir taksi setelah memberikan uang ongkos. "Sama-sama, Dek." jawabnya tersenyum ramah sedikit membungkuk juga menatap Rafael. Rafael berdiri tegak dengan bibir yang sedikit mengeriting saat sopir taksi itu memanggilnya dengan panggilan Adik. Pfftt Syaren yang mendengar juga sontak langsung tertawa pelan. "Masa udah gede begini masih di panggil Adek!" ucap Rafael setelah mobil taksi itu melaju. "Kamu emang keliatan masih bocah!" ucap Syaren seraya mengacak-acak pucuk rambut Rafael. "Haishh ...." Rafael mendelik sinis menatap Syaren, ia merapikan rambutnya yang berantakan. "Aku udah dewasa ya!" "Dewasa dari mananya hm?" tanya Syaren. "Ke toilet sekolah aja masih minta anterin aku." "Ya ... yaa ... itu beda lagi!" jawab Rafael. "Beda dari mananya hm?" Syaren bertanya lagi. "Yaa ... kan kamu tau sendiri kalau toilet laki-laki yang di sekolah itu katanya angker, ya aku parno lah! Kamu juga kan tau sendiri kalau aku orangnya penakut, kalau ada kamu kan enak, kalau ada apa-apa aku tinggal teriak," jawab Rafael. "Tapi aku malu tau! Banyak laki-laki yang sering liatin aku kalau aku nunggu di depan toilet, di kira aku mau ngintip apa!" ucap Rafael. "Ya udah ... nikmatin aja!" jawab Rafael. Syaren sontak langsung mengerutkan alis. "Apaan? Nikmati apanya?" tanya Syaren. "Jadi pusat perhatian! Terus kamu maunya apa hm?" Rafael balik bertanya. "Yaa kirain nikmati apaaaaa gitu," ucap Syaren menahan senyum. Takk! "Mes*m!" ucap Rafael setelah menjitak kepala Syaren. "Aa-aauww ...." rintih Syaren memegang kepalanya. "Salah sendiri," ucap Rafael. "Lagian kamu itu laki-laki, ngapain takut sama yang begituan hm? Terus kamu juga bisa bela diri kan? Ya walau masih tahap dasar tapi seenggaknya kan bisa," ucap Syaren. Rafael sontak langsung memicingkan mata dan mendelik sinis, menatap Syaren dengan tatapan tajam. "Kamu dapet rangking dua di sekolah dapet nyontek ya?" tanya Rafael dengan nada sinis. "Enak aja! Aku belajar ya!" jawab Rafael. "Terus kenapa otak kamu tidak di pergunakan dengan baik hah?" tanya Rafael. "Kamu mikir dong, hubungannya bela diri sama hantu apa? Emang hantu bisa aku tendang? Di lewatin aja tembus ya gimana bisa aku tendang!" Pfffttt Syaren tertawa pelan. Melihat wajah Rafael yang sedang kesal malah terlihat sangat menggemaskan. "Utututu ... gemessshh banget," ucap Syaren seraya memegang kedua pipi Rafael hingga bibir kekasihnya itu mengerucut. "Pfftt ... Ya Allah ... kyeopta." (lucu) Rafael masih memicingkan mata hingga wajahnya itu terlihat sangat menggemaskan. Ia lalu melepas tangan Syaren di pipinya. "Udah ... masuk sana!" "Gak mau masuk dulu?" tanya Syaren. "Enggak deh, aku langsung pulang aja, gak enak sama papa kamu," ucap Rafael. "Kalau mau langsung pulang terus kenapa tadi gak anterin aku aja sampe depan rumah terus kamu langsung jalan sama taksi yang tadi, biar ongkosnya gak double," ucap Syaren. "Iya ya? Kok aku gak kepikiran kesitu," jawab Rafael. "Dasar!" ucap Syaren. "Ya udah ... karena sudah terlanjur, kamu masuk dulu aja. Tadi kamu nemuin orangtua aku untuk izin bawa aku pergi. Nah, sekarang kamu temuin lagi orangtua aku dan bilang kalau anaknya baik-baik saja dan di antarkan dengan selamat sampai ke rumah, biar keliatan gentle, masa nganterin cewe pulang cuma sampe depan rumah." "Ya udah, ayo." jawab Rafael berjalan melangkahkan kaki ke arah pagar dan mendorong pagar besi yang tinggi itu ke dalam. "Ckk!" Syaren berdecak kesal saat Rafael malah lebih dulu berjalan tanpa menggandeng tangannya. "Raraaaaaff ...." teriak Syaren. Rafael sontak langsung menoleh menatap Syaren. "Apa?" Syaren mengarahkan telapak tangannya meminta Rafael untuk menggandengnya. "Gandeng ...." ucap Syaren dengan bibir yang sedikit mengerucut. "Astagfirullah ... kamu masih sehat, bukan nenek-nenek," ucap Rafael. "Ya ampun, romantis dikit kenapa jadi pacar, katanya mau jadi suami aku nanti, kalau masih pacaran aja begini apalagi kalau udah nikah!" Huuhhh Rafael menghembuskan nafasnya kasar, ia lalu berjalan mendekati Syaren dan menggenggam tangan kekasihnya itu. "Nahh ... gitu dong," ucap Syaren. Rafael hanya menggelengkan kepala. Tap tap tap Mereka berjalan masuk ke dalam rumah Syaren dan melangkahkan kaki mendekati pintu. Belum sempat Syaren mendorong pintu besar berwarna putih itu namun ternyata sudah lebih dulu terbuka. Seorang pria dan wanita dewasa berdiri di hadapan mereka. "Mama? Papa?" panggil Syaren. "Udah pulang? Kok cepet banget mainnya, padahal belum gelap loh, masih terang begini," ucap Nadisya. Darren yang berdiri di samping istrinya itu sontak langsung menyenggol lengan Sang Istri. "Apa sih?" bisik Nadisya. Rafael menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal dengan tangan kirinya karena tangan kanannya masih menggenggam tangan Syaren bergandengan. Ia tersenyum ragu melihat Ayah dari kekasihnya itu. "Hmmm ... Rafa kan tadi izinnya sampe sore, jadi Rafa tepatin janji Rafa sama Uncle, sama Ateu Disya juga. Rafa anterin Syaren sebelum gelap," ucap Rafael. "Hmm …." jawab Darren, matanya lalu dengan tak sengaja melihat ke arah tangan Putrinya yang ternyata masih saling bergandengan. "Kalian lagi gak mau nyebrang jalan kan? Ngapain gandengan tangan segala?" tanyanya dengan nada sinis dan mata yang sedikit memicing. Syaren dan Rafael sontak langsung melihat ke arah tangan mereka yang masih bergandengan. Mereka sontak langsung melepasnya. "Ya biarin aja kenapa sih? Itu artinya Rafael beneran ngejQaga anak kamu," ucap Nadisya. "Tau nih Papa! Usil banget jadi orang. ya terserah kita lah!" ucap Syaren. "Cih!" Darren mendecih. "Udah sore! Kamu pulang, belajar! Besok sekolah kan?" "Ini juga udah mau pulang kok Uncle," jawab Rafael. "Ya udah, pulang." ucap Darren lagi. Rafael lalu mengarahkan tangan kanannya pada Ayah dari sahabat sekaligus kekasihnya itu untuk bersalaman. "Paa?" Syaren mengingatkan. "Ckk!" Darren mengarahkan telapak tangannya pada Rafael dengan pandangan menatap ke arah lain. Rafael lalu mengecup punggung tangan Darren, lalu setelah itu ia mengarahkan telapak tangannya pada Nadisya dan di balas hangat. "Rafa pulang dulu Uncle, Ateu ...." "Hati-hati ...." ucap Nadisya. "Iya ...." jawab Rafael tersenyum ramah. "Mama sama Papa masuk dulu gih, ada yang mau Syaren obrolin dulu sama Rafael," ucap Syaren. "Kalau mau ngobrol ya ngobrol aja. Kenapa nyuruh masuk segala?" tanya Darren. "Papa tau privacy kan?" tanya Syaren. "Haisshh ...." "Udah ... ayo! Kepo amat sama urusan anaknya!" ucap Nadisya memutar tubuh Sang Suami dan mendorongnya. "Mau ngomong apa?" tanya Rafael setelah orangtua dari kekasihnya itu masuk ke dalam rumah. "Enggak ada, cuma mau bilang terima kasih untuk hari ini. Aku amat sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua kayak hari ini sama kamu," ucap Syaren. "Iya sama-sama," ucap Rafael menepuk pelan pucuk kepala Syaren. "Sekarang kamu masuk, mandi, makan, terus istirahat," ucap Rafael. Syaren tersenyum dan mengangguk. "Ya udah ... aku pulang ya? Byee ...."Rafael berbalik hendak melangkah. "Tunggu sebentar," ucap Syaren hingga membuat Rafael tak jadi melangkah. "Kenapa?" tanya Rafael. "Kalau udah sampe rumah, telfon aku," ucap Syaren. Rafael tersenyum dan mengangguk. "Iya, nanti aku VC kamu," ucap Rafael. "Aku balik ya? Daahh ...." "Tunggu ...." "Apa lagi?" tanya Rafael menatap Syaren. Syaren mendekati Rafael dan, Cup. Satu kecupan Syaren daratkan di atas pipi kanan Rafael hingga membuat mata Rafael membulat sempurna terbelalak kaget, ia memegang pipi kanannya dan menatap Syaren. "Kamu?" Syaren mengatupkan bibir menahan senyum tersipu malu. "Aku masuk! See you." Klak Syaren masuk ke dalam rumahnya dan langsung menutup pintu rumahnya. Sedangkan Rafael, ia menelan ludah dengan tangan yang masih memegang pipi, pipinya bahkan sudah merah merona tersipu malu dan masih kaget. Beberapa detik kemudian, Rafael tersenyum dengan sangat manis, ia berbalik dan berjalan ke arah pagar seraya memegang pipinya. "Dia memang pintar bikin orang kena serangan jantung! Jantung gua kagak aman ini!" Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN