"Kenapa minumnya harus kayak begini?" tanya Rafael menatap Syaren dengan kedua siku tangan yang menyentuh meja dan tangan memegang pipi.
Degh
Syaren menelan ludah, ini kali pertama matanya berhadapan dengan mata Rafael dengan jarak yang begitu sangat dekat, matanya bahkan tak berkedip saat menatap mata Rafael, sedotan di bibirnya masih menempel namun air di dalamnya tak ia minum, detak jantungnya memompa dengan sangat hebat.
"Kenapa?" tanya Rafael seraya menaikkan alis.
Syaren langsung terduduk tegak. "Apa? Ya terserah aku lah mau gimana cara aku minum, kenapa kamu yang ribet? Yang minum-minum aku! Kenapa kamu yang komentar?" tanya Syaren.
Rafael terduduk tegak, ia mengambil cup minuman itu dan menyedotnya lalu menaruhnya lagi. "Ya gak pa-pa, orang aku cuma nanya doang, kenapa harus gitu minumnya? Emang salah?" tanya Rafael.
"Ya ... ya ... gak tau!" jawab Syaren.
"Jawabnya biasa aja kali, kok ngegas?"
"Siapa yang ngegas? Biasa aja perasaan," jawab Syaren.
"Hmmm ...." Rafael mengambil kentang goreng dan memakannya juga.
Syaren memalingkan wajahnya ke arah lain dan tersenyum miris. "Huuhhh ... jantungku berdetak lebih cepat bodoh! Kenapa dia terlihat sangat tampan saat di lihat dari jarak dekat? Kan makin gak tahan!" gumam Syaren.
Rafael memiringkan kepala melihat Syaren, ia sedikit membungkuk penasaran dengan apa yang Syaren gumamkan.
"Aku memang tampan, Sya." ucap Rafael.
Syaren sontak langsung menoleh menatap Rafael dan mengerutkan alis. "Apa?"
"Aku memang tampan," jawab Rafael seraya menaik-turunkan alisnya dan melahap lagi kentang goreng di tangannya.
"Dihh ... pe-de banget!"
"Bukan pe-de, tapi kenyataan!" jawab Rafael, ia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kursi yang Syaren duduki.
Rafael lalu duduk di samping Syaren, ia melingkarkan tangannya di pinggang Syaren, memeluk Syaren dari arah samping dan menaruh dagunya di atas bahu Syaren.
"Ngapain? Lepas gak? Malu tau!" ucap Syaren.
"Kenapa sih? Biarin aja kenapa! Orang juga kaya begini tuh," Rafael melirik ke arah samping kirinya.
Syaren langsung melihat ke arah kiri dan benar saja, terlihat pasangan muda tengah saling berpelukan seraya mengobrol dengan teman-teman lainnya.
"Lagian di sini gak ada papa kamu, kapan lagi bisa kaya gini coba," ucap Rafael.
Syaren menoleh menatap Rafael hingga jarak mereka saling berdekatan. "Kamu gak geli?" tanya Syaren.
"Geli? Geli kenapa?" tanya Rafael.
"Dari kecil kita sama-sama loh, TK, SD, SMP, sampe sekarang, ibarat kita udah kaya kakak adek, terus sekarang kita menjalin hubungan kaya gini, kamu gak ngerasa gimana gitu?" tanya Syaren.
"Justru karena kebersamaan itu, aku mulai ada rasa sama kamu! Sejak saat SMP, saat aku tahu apa itu rasa cinta, aku sudah tidak pernah menganggap kamu teman atau sahabat. Aku melihat kamu sebagai seorang wanita! Melihatmu seperti seorang pria yang tertarik pada seorang wanita, rasa aku sama kamu bukan hanya sekedar cinta, tapi juga sayang," ucap Rafael.
"Hm?" Syaren mengerutkan alis.
"Cinta itu bisa berubah benci saat pasangan kita membuat kesalahan yang fatal dan membuat kecewa, tapi kalau sayang? Enggak! Sayang itu gak akan mudah terkikis dan berubah sekalipun pasangan kita membuat kesalahan yang sangat fatal dan membuat kita kecewa." jelas Rafael lagi, ia meraih telapak tangan kiri Syaren dan menggenggamnya.
"Bener juga ya apa kata kamu," ucap Syaren mengelus pipi Rafael.
"Sekarang kita kemana? Mau pulang?" tanya Rafael.
"Pulang? Baru juga jam segini, aku masih mau sama kamu," ucap Syaren.
"Tapi bentar lagi sore, aku kan janji bawa pulang kamu sebelum maghrib," ucap Rafael. "Udah ... kita pulang sekarang, mana handphone aku?"
"Raf? Ayolah, biasa kita pulang juga malem kan? Nanti kita alesan macet aja," ucap Syaren.
Rafael terduduk tegak. "Enggak! Kalau macet beneran gimana?" tanya Rafael.
"Ihh!"
"Aku mau pesen dulu taksi. Udah ... mana sini handphone aku," ucap Rafael. "Sambil nunggu kita bisa sambil jalan-jalan di depan. Cepetan!"
"Ckk!" Syaren berdecak kesal dan menyipitkan mata, ia lalu merogoh tas kecilnya dan mengambil handphone Rafael di dalam sana. "Nihh ...."
"Biasa aja bibirnya," ucap Rafael mendorong bibir Syaren yang mengerucut.
"Hiih!" protes Syaren memegang bibirnya.
Pfftt
Rafael tertawa pelan lalu mengotak-atik handphonenya, sedang Syaren memutar kedua bola mata kesal.
"Udah belum?" tanya Syaren dengan nada ketus.
"Sabar kenapa, baru juga buka HP," jawab Rafael.
"Lama!" jawab Syaren bangun dari duduknya, ia mengambil kentang goreng dan minuman cup di atas meja lalu berjalan pergi.
"Dasar cewek!" gumam Rafael ikut bangun dari duduknya dan berjalan cepat mengejar Syaren.
Mereka berjalan berdampingan, Syaren berjalan seraya mengunyah kentang goreng, sedang Rafael berjalan dengan mata yang fokus menatap handphone.
"Kalau jalan tuh liat ke depan! Bukan nunduk," ucap Rafael.
Rafael mematikan handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku celana, ia lalu merangkul pundak Syaren dan menariknya pelan ke arahnya hingga kepala Syaren bersandar di dadanya.
"Apa? Kamu ngomong apa barusan hm?" tanya Rafael.
"Adu-du-duhh ... Raraaaaf! Ih! Lepasin!" ucap Syaren saat Rafael menariknya, beberapa kentang goreng di tangannya bahkan berjatuhan.
Rafael melepas tangannya di pundak Syaren, ia lalu mengambil minuman cup di tangan kanan Syaren, lalu setelah itu ia menggenggam tangan kanan Syaren.
"Kamu tuh aneh," ucap Rafael.
Syaren sontak langsung menoleh menatap Rafael. "Aneh? Maksudnya?" tanya Syaren
"Ya aneh, orang kita tiap hari juga ketemu. Weekend juga masih sering ketemu, tapi jalan kaya begini pas mau pulang masa kamu gak mau. Di bilang kangen, ya masa kangen? Waktu sehari itu kita jalanin lebih banyak berdua loh di banding sama keluarga, ketemu pagi dan sama-sama sampe sore bahkan kadang sampe malem. Pulang langsung mandi, makan, terus kita chat-an sampe ngantuk dan tidur, besoknya ketemu lagi, komunikasi sama keluarga aja bisa di itung menit loh, kita lebih banyak menghabiskan waktu berdua, masa kamu di ajak pulang kaya begini masih ngambek aja," ucap Syaren.
"Dasar laki-laki gak peka!" gumam Syaren.
"Apa?" tanya Rafael.
"Hm? Enggak! Gak pa-pa," jawab Syaren tersenyum paksa.
"Gak usah ngambek, setelah sampe rumah, kita bisa video call-an," ucap Rafael.
"Hmmm ...." jawab Syaren.
***
Syaren dan Rafael sudah berada di dalam mobil hendak pulang.
Syaren memegang handphone dengan tangan kanannya, sedang tangan kirinya di genggam Rafael.
Rafael menoleh melihat Syaren yang tetap fokus pada handphonenya, membuatnya kesal karena kekasihnya itu sejak tadi hanya fokus pada handphone. Ia lalu memainkan telapak tangan Syaren, tangan yang sejak tadi ia genggam itu ia lepas dan membuka telapak tangan Syaren, menulis kata demi kata dengan jari telunjuknya.
"I ... l ... o ... v ... e ... y ... o ... u ...." Rafael menggerakkan jari telunjuknya di telapak tangan Syaren.
Syaren yang sejak tadi fokus pada handphonenya itu sontak langsung tersenyum saat menyadari apa yang Rafael tulis di telapak tangannya.
"Ngapain?" tanya Syaren pada Rafael yang masih asik memainkan telapak tangannya.
Rafael langsung menoleh menatap Syaren. "Hm? Apa?" tanya Rafael.
"Kamu ngapain?" tanya Syaren lagi seraya tersenyum.
"Ya kamu fokus main HP, ya aku iseng aja," jawab Rafael.
"Gak ada kerjaan!" jawab Syaren.
"Emang!" sahut Rafael.
Syaren lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rafael, ia juga memegang tangan Rafael dan membuka telapak tangan Rafael juga, melakukan apa yang Rafael lakukan tadi.
Love You More
Rafael tersenyum melihat Syaren membalas apa yang tadi ia tulis di telapak tangan Syaren, ia lalu menggenggam tangan Syaren lagi dan mengecupnya.
Bersambung