" Untuk mempersingkat waktu, bagaimana jika langsung dimulai saja acaranya? " tanya Hamid sambil membenahi letak kacamatanya.
" Boleh, silahkan langsung dimulai saja acaranya Pak Hamid. " jawab Arsyad.
" Baiklah kalau begitu. Bismillahirrohmanirrohim, Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh.. "
Semua orang yang berada di ruang tamu menjawab salam Hamid secara bersamaan.
" Terimakasih Kami haturkan untuk keluarga Nak Arka yang telah sudi menyambangi gubuk reot Kami. Terimakasih sekali lagi untuk Pak Arsyad, Bu Fatimah dan juga Nak Arka, yang sudah datang jauh-jauh dari dusun sebelah demi mempererat tali silaturrahim dengan Kami. Perlu perkenalan diri dulu tidak ya ? Mungkin Pak Arsyad sudah lebih dulu mengenal Saya, karena Kami satu Universitas. Tapi untuk Bu Fatimah dan Nak Arka, sepertinya Saya baru bertatap muka untuk pertama kalinya, betul begitu? " pandangan Hamid beralih pada Fatimah dan Juga Arka.
Mereka hanya mengangguk pelan lalu tersenyum simpul.
" Silahkan, Pak Hamid. Perkenalan diri dulu juga boleh. "jawab Arsyad terkekeh lirih.
Hamid pun ikut terkekeh pelan, " Baiklah kalau begitu Pak. Pertama-tama Saya akan perkenalkan diri Saya dulu, nama Saya Hamid Bilal Al Furqon, sedangkan yang diujung sana adalah istri Saya, yang bernama Maryam Az Zahra. Dan gadis yang berada di samping Saya ini adalah Putri semata wayang Kami yang bernama Jihan Al Mahira. "
" Kami memang melarang keras Putri Kami untuk berpacaran, karena pergaulan zaman sekarang itu sudah berbeda ya Pak Arsyad dan Bu Fatimah. Sudah Bukan zaman kita lagi. Apalagi Jihan adalah Putri semata wayang Kami, jadi Kami sebagai orang tua harus benar-benar menjaganya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. "
" Kiranya cukup sekian sambutan dari Kami, terimakasih, Saya tutup, wassalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh. "
Semuanya menjawab salam Hamid dengan serempak. Setelahnya Arsyad pun memberi sambutan serta menyampaikan maksud dan tujuannya pada keluarga Hamid.
" Begini Pak Hamid dan Bu Maryam. Maksud dan tujuan Kami datang kesini adalah demi memenuhi keinginan Putra Kami, Arka, untuk melamar Nak Jihan, putri Pak Hamid. "
" Alhamdulillah sekali. Terus terang saja, malam ini adalah sebuah moment dimana Putri Kami dilamar oleh seorang laki-laki untuk pertama kalinya. Sungguh suatu kehormatan terbesar bagI Kami. Dan untuk jawabannya Kita langsung tanya saja pada yang bersangkutan. " Hamid langsung beralih pandangan pada Putrinya yang masih menunduk.
Mendadak, semua sorot mata tertuju pada gadis berbalut gamis
Ya Allah, kenapa Ayah pakai acara nanya lagi sama aku sih? Padahal kemarin kan aku sudah beri jawaban pada Ayah.
" Mmm... "
Astagaaa! kenapa lidahku mendadak jadi kelu begini? Untuk mengucap satu katu saja aku tak sanggup. Ya Allah tolong Hamba!
Melihat anak gadisnya tampak kikuk, Sang Ayah pun berusaha meledeknya.
" Apa Kau sedang sakit gigi, Nak?! " tanya Sang Ayah dengan serius.
Spontan Jihanpun menutup mulut menahan tawa karena mendengar ucapan Sang Ayah.
Allahu robbi! Bisa-bisanya, dalam keadaan genting begini Ayah malah meledekku di depan keluarga Arka. Tak tahukan bagaimana perasaan Anak Gadismu ini.
Semua yang berada di ruang tamu sontak menahan tawa, begitu juga dengan laki-laki bermata sipit itu. Ia tampak mengusap-usap dagunya sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Ayo, Jihan. Berusahalah, kamu pasti bisa!
" Bismillahirrohmanirohim, Saya terima lamaran Mas Arka. " Ucap jihan dengan malu-malu.
Semuanya sontak mengucap, " Alhamdulillah.. "
" Terimakasih, Nak Jihan. " ucap Arsyad sembari tersenyum.
"Sama-sama Pak Arsyad. " jawab Jihan lembut. Kali ini Jihan berusaha mengangkat wajahnya dan menatap Calon Mertuanya.
" Iyessss!! " Arka tak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya, karena sudah lama Arka memang menaruh hati pada Gadis Cantik putri Pak Hamid.
Merasa tingkahnya diperhatikan oleh Gadis Cantik dihadapannya. Arka menjadi salah tingkah. Hingga merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak dan berusaha memasang tampang gagah.
Diiicchhhh!! males benget deh! mentang-mentang lamarannya aku terima, bisa-bisa dia pasang wajah sok cool begitu. Padahal dari tadi wajahnya seperti orang ingin buang hajat.
Arka langsung mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berisi cincin emas itu pada Sang Ibu.
" Kemari Nak, biar Ibu yang memakaikan cincinnya di jari manismu. " Fatimah menyuruh calon menantunya itu mendekat ke arahnya.
Dengan segera, Fatimah langsung menyematkan cincin itu di jari mungil calon menantunya.
"Alhamdulillah, kok cincinnya pas sekali ya? Tidak kebesaran ataupun kekecilan. Ilmu kira-kira Arka sepertinya patut diacungi jempol. " sahut Fatimah diikuti gelak tawa lirih.
Semua yang Mendengar pun ikut tertawa, begitu juga dengan Jihan dan Arka, yang masih saling curi-curi pandang.
" Sepertinya Mereka berdua memang cocok,, coba lihat, bajunya saja couple. Sama-sama warna putih. Terlihat serasi sekali mereka " ledek Arsyad sambil terkekeh.
" Oh iya ya, saya malah baru ngeh loh Pak Hamid. Biarpun Mereka belum saling kenal, namun Mereka sepertinya sudah satu hati dan satu jiwa. " Hamid pun ikut-ikutan meledek.
Suasana di ruang tamu pun mendadak riuh, diikuti gelak tawa Maryam dan juga Fatimah, tak terkecuali dengan Jihan dan Arka. Yang masih saling diam namun curi-curi pandang.
What!!! Syah hilang apa ? satu hati? satu jiwa?sama laki-laki ini? OMG!!
" Silahkan Pak Arsyad, Bu Fatimah, dinikmati hidangan ala kadarnya ini. Silahkan Nak, Arka. " Hamid mempersilahkan Calon Besannya untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
" Terimakasih, Pak! " ucap Arsyad.
Ada kue kering, kue basah dan juga buah-buahan. Di sudut ruang tamu juga sudah tersedia meja prasmanan. Berbagai hidangan makan malam dan berbagai lauk pauk sudah tersaji di atas sana.
Maryam sengaja menggunakan jasa catering untuk acara lamaran ini, supaya tidak terlalu menguras tenaga untuk berbenah.
" Untuk hidangan makan malamnya ada di meja sebelah sana. Mariii... " Hamid melebarkan salah satu telapak tangannya, dan mempersilahkan Calon besannya untuk menikmati makan malam.
Ketika Hamid hendak melangkah, ia melihat Arka sedang menoleh kesana kemari seperti mencari sesuatu.
" Ada apa Nak, Arka? " tanya Hamid tiba-tiba.
" Oughh, saya sedang mencari air mineral Pak Hamid. " mata Arka terus menelisik satu persatu hidangan di atas meja, namun ia hanya mendapatkan sebuah gelas berisi teh.
Hamid lantas memberi kode pada istrinya.
" Maaf, Nak Hamid. Saya lupa tidak menyiapkan air mineral. Padahal sudah saya siapkan di meja belakang. " sambung Maryam dengan canggung karena merasa tidak enak pada laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi calon menantunya.
" Tidak perlu minta maaf, tidak apa-apa, Bu Fatimah. Kebetulan saya memang lebih menyukai air mineral dibanding jenis minuman lainnya. " ucap Arka sembari melirik ke arah gadis manis yang duduk di samping Maryam.
Menyadari laki-laki berkopyah itu mencuri pandang padanya, Jihan langsung membuang wajahnya ke arah samping.
" Jihan, tolong ambilkan air mineral untuk Nak Arka di belakang sana. " Maryam memberi kode pada anak gadisnya untuk segera beranjak dari duduknya.
" Baik Bu. Tunggu sebentar Mas Arka."
Jihan bangkit dari duduknya dan melangkah malas menuju dapur, ditengah perjalanan menuju dapur, ia sempat menoleh ke belakang. Pandangan Arka masih belum bisa lepas dari Gadis cantik nan Ayu itu.Dari kejauhan Ia pun melempar senyum, lebih tepatnya senyum pepsodent.
Diiichhh!! Masih ngeliatan terus! katanya Guru Ngaji, tapi kok pandangannya seperti orang m***m!
Setelah sampai di dapur, mata Jihan fokus mencari-cari sesuatu. Ternyata air mineral itu ada diatas meja makan. Dengan segara ia mengambil 10 botol air mineral dan menaruhnya di atas baki.
Jihan melangkah pelan mengampiri Arka, lalu menata botol air mineral yang ia bawa ke atas meja ruang tamu. " Silahkan diminum Mas Arka. " Jihan kembali duduk di samping Sang Ibu.
" Terimakasih. " jawab Arka dengan pandangan yang tak bisa lepas dari gadis manis yang baru saja mengambilkan air mineral untuknya.
Astagaaa!!sebegitunya liatin aku sampai nggak kedip. Apa nggak pedes tuh bola mata?
Jihan dengan sengaja berdehem pelan, benar saja, Arka langsung salah tingkah dan mengedipkan matanya. Tangan ia terulur untuk mengambil satu botol air mineral di hadapannya. Dengan segera membuka segelnya, lalu meminumnya dengan mengucap basmallah.
" Nak, Ibu mau menemani Bu Fatimah sebentar. Kamu temani Nak Arka ngobrol disini ya. " Maryam segera bangkit dari duduknya dan meninggalkan Mereka berdua yang saling terduduk diam atas sofa ruang tamu.
" Tapi Buuuuuu... ! " panggilan Jihan rupanya tak dihiraukan oleh Sang Ibu.
Arka terlihat senyum penuh kemenangan.
Bersambung...