***
Jihan mematut diri di depan cermin. Balutan Gamis berwarna broken white, dengan model brukat dan aksen mutiara putih di bagian d***, menambah kesan anggun dan cantik seorang gadis muda yang sebentar lagi akan di pinang oleh seorang laki-laki.
Tak lupa dipadukan dengan sebuah pasmina dengan warna yang senada. Jihan tampak gugup menanti kedatangan laki-laki bernama Arka itu.
"Maa syaa allah, anak Ibu cantik sekali. " Maryam terus memperhatikan penampilan Anak Gadisnya yang masih mematut di depan cermin.
Jihanpun lantas tersenyum, dan memandang Sang Ibu dari pantulan cermin dri hadapannya.
" Sebentar, lipstik kamu sepertinya terlihat pucak, Nak. "
" Lipstik Jihan memang seperti ini Bu. Warna nude. " terang Jihan sambil menunjuk-nunjuk bibir dengan ibu jarinya.
"Apa itu nude? " tanya Sang Ibu penasaran.
" Nude itu warna bibir, Bu. "
" Oh.. apa kamu tidak punya lipstik dengan warna yang lebih cerah? "
Jihan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
" Tunggu sebentar. "
Sang lbu lantas melangkah cepat keluar kamar. Tak lama kemudian, Maryam kembali dengan membawa sebuah lipstik miliknya lalu menyodorkan pada putrinya, " Nih, pakai lipstik Ibu supaya bibir kamu tidak terlihat seperti orang yang kurang cairan. "
" Haahhh...!! "mulut Jihan sedikit melongo melihat lipstik milik Sang Ibu yang berwarna merah cabai itu.
" Haahh.. hohhh.. Haahhh... hooooo. Cepat pakai itu lipstiknya, Ibu mau ke toilet sebentar " Maryam menaruh paksa lipstik itu pada genggaman tangan putrinya kemudian berlari kecil menuju bilik toilet yang berada di kamar putrinya.
Seorang Jihan suruh pakai lipstik warna ngejreng begini. Ooh, No!!
Jihan langsung meletakkannya dengan kasar lipstik itu di meja riasnya. Beberapa menit kemudian Maryam keluar dari toilet. Melihat bibir anak gadisnya masih pucat, ia lantas mengambil lipstik miliknya lalu mengolesnya dengan paksa ke bibir putrinya.
" Iihhh Ibu, Jihan nggak mau pakai lipstik ini. Warnanya seperti emak-emak Bu. " Jihan berusaha menghindar dari Sang Ibu.
" Untuk kali aja ini. Udah sini cepetan, kalau kamu nggak mau oles. Biar Ibu yang olesin lipstiknya. Sini cepat, Nak! " Maryam pun nampak kesal melihat anak gadisnya yang menghindar darinya.
" Ya udah sini Jihan pakai sendiri aja! " Jihan mengambil alih lipstik dari tangan Sang Ibu lalu mengolesya dengan tipis di bibirnya.
" Nah gitu dong, tambahin sedikit lagi. " protes Sang Ibu. Kali ini Jihan pun menurut, " Tuh udah, puas Ibu sekarang? " Jihan melirik Sang Ibu dengan wajah kesal.
Breemmmm...bremmmmm!!!
Terdengar suara mesin mobil dimatikan dari lantai bawah. Seketika Mereka terdiam sesaat dan sorot mata keduanya beradu.
" Cepat turun, Nak Arkaa dan keluarganya sudah datang. "
Secara bersamaan Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Hamid sudah sudah berdiri di ambang pintu kamar.
" Buu.. perasaan Jihan kok mendadak nggak enak gini. " bisik Jihan dekat telinga Sang Ibu.
" Itu namanya Kamu nervous. Coba kamu tarik nafas lalu hembuskan pelan-pelan. "
Tanpa pikir panjang Jihan langsung menuruti perintah Ibunya.
" Sudah Siap, Nak ? Ayo kita turun. " titah Sang Ibu sembari menggandeng lengan putrinya.
Jihan hanya menganggukkan kepala dan mensejajarkan langkahnya dengan Sang Ibu. Sampai di ruang tamu, Sang Ayah terlihat sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang Jihan perkirakan Beliau adalah Ayah dari seorang laki-laki bernama Arka.
Disusul oleh seorang perempuan paruh baya yang berdampingan dengan seorang laki-laki muda yang berpenampilan ala seorang ustadz. Celana formal hitam, kemeja turkey yang berwarna senada dengan dirinya, serta kopyah hitam polos.
Astagaaa!! Bisa-bisanya warna baju yang dia pakai sama seperti punyaku. Kenapa bisa kebetulan begini siihh!!!
Jihan terus bermonolog dalam hati sembari mencuri pandang ke arah laki-laki itu. Jihan belum begitu jelas melihat raut wajahnya karena terhalang oleh punggung Sang Ayah.
Namun Jihan terus mencari celah untuk melihat raut wajah laki-laki yang berdiri di hadapannya, Namun secara tiba-tiba pandangan Mereka bertemu sepersekian detik dan membuat keduanya menjadi salah tingkah.
Allahu robbi, malah pandang-pandangan. batin Jihan dalam hati.
" Silahkan duduk Pak Arsyad, Bu Fatimah. Ayo Nak Arka silahkan duduk. " Hamid membuka lebar tangannya dan mempersilahkan keluarga calon besannya untuk duduk di sebuah kursi sofa panjang berwarna hitam.
Ketika Maryam hendak melangkah dan mengambil posisi duduk di samping suaminya, hampir saja bertubrukan dengan Anak gadisnya karena mengambil posisi yang berlawanan arah.
Sontak semua yang berada di ruang tamu terkekeh pelan.
" Mohon maaf, Anak Kami ini memang pemalunya luar biasa, jadi sedikit nervous. " sambung Hamid diikuti gelak tawa lirih.
"Tidak apa-apa Pak. Namanya juga anak muda. Apalagi dalam situasi seperti ini. Pasti nervous nya tingkat tinggi, betul kan Arka? " Arsyad menanggapi ucapan Hamid sambil menyikut lengan putranya yang sedari tadi tampak canggung karena posisinya saling berhadapan dengan Putri Hamid.
Mendengar jawaban Arsyad, sontak semuanya ikut terkekeh lirih, terkecuali Jihan dan Arka, Mereka tampak gugup terlihat dari posisi duduk Mereka yang terlihat tidak tenang.
Bersambung...