Perhatian Pertama

1507 Kata
“Sebenarnya apa maksudmu datang kesini?! Apa kau mau menimbulkan keributan disini?! ” sentak Raka sembari menyudutkan Gania yang sudah dihempaskan ke atas kursi ruang tamu rumahnya. Laki-laki itu terlihat sedang menahan marah yang tiba-tiba muncul ke permukaan saat dirinya ingat akan sangkut pautnya kedatangan Gania ke desanya dengan kejadian genting tadi. Raka menganggap bahwa kehadiran Gania disini hanyalah sebagai umpan yang disodorkan pihak seseorang untuk mengikut campurkan kehidupan Desa Wania. Gania menggelengkan kepala sembari menyeret tubuhnya ke belakang seiring dengan penekanan tubuh Raka terhadapnya. “A-aku tidak mengerti apa yang kamu lakukan.” “Kalian sedang merencanakan sesuatu,bukan?” selidik Raka tanpa mengindahkan gerakan penolakan yang Gania berikan saat dirinya tetap menyudutkan tubuh gadis  itu ke ujung kursi. “Kau datang kesini untuk menjadi mata-mata dan menjadi kacung para b*****h itu hah?!” Suara Raka sedikit membentak tepat di depan wajah Gania membuat Gania memejamkan mata ketakutan. Dimana kakek dan neneknya? Bukannya laki-laki itu mengatakan bahwa kakek dan neneknya berada disini untuk menjemputnya pulang? “Apa yang kau katakana, sir? Kamu telah menuduhku sembarangan, aku tidak tahu apa-apa mengenai kejadian itu.” ucap Gania mencoba memberanikan diri menjawab. “Kamu tahu dampak setelah kejadian itu terjadi? Bukan hanya kita saja yang terjebak, hampirseluruh warga disini menjadi taruhannya!” “Tapi aku tidak tahu apa-apa!” sangkal Gania yang mulai berkaca-kaca karena ketakutan. “Tapi benda itu berbicara seolah-olah mengetahui apa yang sedang terjadi diantara kita.” “Kenapa kau percaya diri sekali, sir? Apa kamu merasa masih seorang remaja seperti yang mereka katakan? Bisa saja mereka adalah jurnalis yang sedang bekerja memuat berita.” dengus Gania sembari mendorong-dorong d**a Raka yang menekan tubuhnya untuk menjauh. Gania benar-benar mendengus kesal saat mendengar perkataan laki-laki di depannya. Ia tentu mengingat percakapan asing dari dalam ponselnya tengah membicarakan tentang para remaja, bagaimana mungkin laki-laki itu merasa bahwa ialah orang yang sedang mereka katakan. “Sial..” “Ekhm…” Suara deheman mengagetkan Raka yang masih mencondongkan tubuhnya dengan rapat ke tubuh mungil di depannya. Dengan spontan ia mundur menjauh dengan perasaan campur aduk antara malu sekaligus rasa marah yang masih tersisa. Sementara Gania menegakkan tubuhnya begitu melihat sosok lain berada di ruang tamu, di ambang pintu penghubung, dirinya melihat Arka yang berdiri dan menatap bingung ke arah mereka berdua, kemudian mata Gania melirik ke arah belakang Arka dimana neneknya yang tengah membawa baki berisi cangkir ikut menatap mereka berdua dengan tatapan bingung sekaligus canggungnya karena melihat kejadian yang membuatnya salah paham. Nyonya Diva yang sempat terdiam kembali berjalan menghampiri Gania dan juga Raka yang sudah berdiri mempersilahkan Nyonya Diva untuk duduk di dekat cucunya. Nyonya Diva duduk setelah menaruh baki minumannya dan melihat pergelangan kaki Gania yang terlihat membiru dan juga bengkak. “Sebentar lagi kakek datang bersama Bibi Nina yang akan membetulkan kaki kamu yang terkilir. Gania mengangguk dan tersenyum saat neneknya mengusap puncak kepalanya. Setelah itu pandangan Gania menangkap sosok kakeknya yang hendak masuk ke dalam rumahbersama seorang perempuan paruh baya. Gania pikir bahwa dialah orang yang akan membetulkan cedera di kakinya. Kembali mata Gania tertuju ke arah Raka yang berdiri tak nyaman di depannya. Gania kemudian melirik neneknya dan mengutarakan keinginannya, “Nenek, sebaiknya pemijatan kaki Gania di rumah saja, Gania merasa tidak nyaman jika disini.” ucap Gania sembari melirik Raka sesekali. “Saya permisi.” ucap Raka tiba-tiba dan pergi begitu saja ke atas tanpa menunggu balasan akan perkataannya dari orang-orang yang berada di sekitar ruang tamu. “Baiklah kalau begitu, biarkan nenek memapahmu karena pastinya kamu kesusahan untuk berjalan.” Gania mengangguk menngiyakan perkataan neneknya sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Arka yang sedari tadi menjadi  penonton berjalan mendekati Gania dan membantu gadis itu untuk berdiri. “Biar saya yang membantu Gania berjalan ke rumah, nek.” pinta Arka dengan tangan yang sudah merangkul Gania yang sudah berdiri. “Biarkan yang muda yang bertindak, kamu sudah tua, sayang.” Ujar Tuan Danu kepada Nyonya Diva yang hendak menolak tawaran Arka. Kemudian Tuan Danu menggiring Nyonya Diva untuk keluar disusul Bibi Nina dan Gania beserta Arka di belakangnya. Arka menutup pintu rumahnya terlebih dahulu sebelum ia kembali merangkul Gania dan memapahnya menuju ke rumah Tuan Danu. “Maaf merepotkan Mas Arka.” ucap Nenek Gania begitu sampai di dalam rumah. Arka yang baru saja mendudukkan Gania di kursi panjang melayangkan senyuman sekaligus gelengan sebelum berkata, “Tidak apa-apa nek, saya tidak mau nenek kerepotan membawa cucunya yang sudah besar.” Nyonya Diva tertawa dengan tangan yang menepuk-nepuk pundak Arka seolah membenarkan perkataan Arka. Sementara Gania, ia hanya mendengus pelan saat dirinya dikatai sekaligus ditertawakan oleh neneknya dan lelaki yang baru dikenalnya. “Kalau begitu saya pamit pulang dulu.” ujar Arka setelah meredakan tawanya. “Baiklah, besok pagi aku akan memasakkan masakan kesukaanmu sebagai balasan atas pertolonganmu.” Arka tersenyum lebar menandakan bahwa ia sangat senang akan perkataan wanita tua di hadapannya yang sudah dianggap sebagai neneknya sendiri. “Besok aku tidak akan menyisakan makanan di meja mu sedikitpun.”sahut Arka sebelum meninggalkan rumah Tuan Danu. Sepulangnya Arka dari rumahnya, Nyonya Diva melihat keadaan cuucnya yang mulai dipijat oleh Bibi Nina yang merupakan tetangganya sekaligus orang yang suka membuat kue untuk dipasarkan. “Tidak cukup serius, tapi akan menimbulkan rasa sakit saat aku akan membetulkannya.” ucap Bibi Nina sembari meneliti keadaan kaki Gania sebelum ia mengoleskan sebuah minyak ke kaki Gania dan memulai pemijatan.   *****   Raka yang tengah duduk di pinggiran ranjang setelah meninggalkan Gania bersama kakek dan neneknya di ruang tamu rumahnya mendengus ketika telinganya menangkap percakapan adiknya bersama Nyonya Diva. “Seharusnya aku yang diperlakukan begitu, aku yang menggendongnya dari sekolah ke rumah. Sedangkan dia, ck hanya beberapa langkah tidak berarti.” gerutunya sembari memijat-mijat bagian pundak dan lengan atasnya yang dirasa pegal. Kemudian Raka berdiri dan mengambil kaos hitam di dalam lemarinya untuk kemeja putihnya yang sudah lusuh dan masih sedikit meninggalkan bekas noda. Raka merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan mata bersiap mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah. Namun sebuah suara merambat memasuki telinganya membuat kedua matanya kembali terbuka. “Akkhhh… nenek, sakit.” “Pelan-pelan bi.” Raka kembali mendengus sebelum ia bangun dan mendudukkan diri menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Kemudian ia melirik ke atas meja di samping ranjangnya yang terdapat earphone milik Gania yang akan Raka pakai guna menyamarkan suara mengganggu itu. Namun rupanya Raka mengabaikan benda mungil itu dan kembali membaringkan diri menyusupkan seluruh tubuhnya di dalam selimutnya. Akan tetapi Raka kembali terganggu oleh suara itu membuat Raka pada akhirnya menyingkap selimutnya danberanjak dari tempat tidur untuk menyingkap gorden jendela yang langsung disambut oleh cahaya bulan purnama yang menerangi langit malam. Raka mengamati langit malam di balik jendela kamarnya sebelum ia duduk di kursi goyang yang mengarah ke luar kamarnya. Kaki panjangnya ia angkat dan disimpan di atas meja bunda yang berada tak jauh dari kursi tempatnya duduk. Mata lelaki itu kembali terpejam seiring dengan gumaman lirihnya saat pendengarannya tak henti mendengar teriak kesakitan itu. “Kenapa lemah sekali, huh? Tenanglah, jika tidak, kau tidak akan sembuh-sembuh.” Dan setelah itu Raka terlelap seiring dengan terdiamnya Gania di tengah kesakitan yang melanda kakinya. Entah kenapa dirinya seolah mendapat sebuah penenang yang entah bentuknya seperti apa hingga membuat dirinya perlahan memejamkan mata dan tertidur dengan tenang.   *****   Raka terbangun dengan kondisi tubuh yang semakin sakit. Rasa pegal di tubuhnya kini bertambah akibat dirinya yang tertidur di atas kursi. Raka meregangkan tubuhnya sebelum ia beranjak pergi menuju kamar mandi di bawah. Setelah selesai dari kamar mandi, Raka dikejutkan dengan sosok Arka yang baru saja turun dan berpapasan dengan sang kakak di anak tangga. Raka kemudian melengos pergi menaiki tangga meninggalkan Arka yang masih terdiam sembari melihat punggung kakaknya yang perlahan menaiki tangga dan menghilang di balik pintu kamarnya. Setelah pintu kamar kakaknya tertutup, Arka kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi sebelum pergi ke rumah Tuan Danu untuk sarapan disana. Terlihat wajah ceria Arka saat akan berjalan menuju ke rumah Tuan Danu, berbeda dengan Raka yang terlihat masam dan tak suka dengan reaksi berlebihan adiknya saat memasuki rumah Tuan Danu. “Mas Raka, Mas Arka, mari masuk, ayo Tuan Roey juga.” sambut Nyonya Diva di depan pintu. Ketiga lelaki itu masuk dan berjalan menuju ruang makan yang biasa mereka kunjungi setiap pagi. Mata Raka mengedar ke sudut ruangan dan terhenti sejenak saat mendengar ringisan dari sebuah ruangan dengan pintu yang tertutup. Raka membuka sedikit pintu tersebut setelah Nyonya Diva beserta dua anggota keluarganya berjalan menjauh. Di dalam sana Raka melihat Gania yang tengah berjalan sembari berpegangan kepada rak buku yang terdapat di dinding ruangan. Raka hendak berbalik meninggalkan Gania, namun manik Gania terlebih dahulu menangkap sosok Raka yang bersembunyi di balik pintu. Pada akhirnya Raka membuka pintu dengan lebar dan berdiri di ambang pintu menunggu Gania berjalan ke arahnya. Namun karena pergerakan Gania yang lambat, Raka akhirnya berjalan mendekati Gania dan menuntunnya untuk keluar kamar. “Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Raka mencoba menanyakan keadaan gadis yang terlihat masih kesakitan saat berjalan. “Sedikit linu saat berjalan.” gumam Gania sembari memperhatikan langkahnya. Sesampainya di ruang makan, seluruh mata tertuju ke arah datangnya Raka bersama Gania. Dengan sedikit kecanggungannya, Raka mencoba mendudukkan Gania di kursi biasa disusul dengan dirinya yang duduk di samping Gania. Raka menatap ke atas meja dimana piring berisi makanan tersaji di depannya, dengan terheran Raka menatap Nyonya Diva yang tersenyum melihat Raka. “Semalam Gania berkata bahwa Mas Raka juga membantu Gania untuk pulang, tidak adil jika neneknya ini hanya memasakkan masakan kesukaan hanya untuk Arka saja.” Raka terdiam kemudian kembali mengamati makanan di hadapannya sambil sesekali menatap Nyonya Diva dan Gania yang terlihat menunduk tersipu. “Terima kasih.” ucap Raka sembari tersenyum kaku dan mulai menyantap makanan yang telah lama ia sukai. Pada akhirnya Raka memakan sarapannya hingga habis tanpa menyisakan setitikpun bekas makanan.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN