Pagi Di Desa Wania

2603 Kata
Gania terbangun dari tidurnya saat telinganya mendengar teriakan histeris dari lantai bawah sana. Dengan cepat Gania beranjak dari kasur dan turun dengan tergesa mengabaikan kedua penyangga pakaian overall-nya terpontang panting akibat gerakan tubuhnya yang berjalan cepat. Gadis itu terlihat sangat khawatir dengan akan terjadi suatu hal yang mengakibatkan jeritan neneknya terdengar. Saat ia memijakkan kaki di tangga terkahir, Gania langsung terseret oleh sepasang tangan keriput yang langsung merengkuh Gania dengan erat membuat Gania secara spontan memekik keras dan sedikit kesulitan nafas. "Cucuku… kenapa semalam tidak membangunkan nenek huh? Kamu membuat nenek kalah dari kakekmu. Kamu harusnya bangunkan nenek yang sangat rindu cucu nenek yang satu ini. Pokoknya kamu harus dihukum, kamu harus menginap lebih lama dari ayah ibumu. Nenek tidak mau tahu!" Nyonya Diva, nenek Gania yang sudah berumur tua itu terus merengek seperti anak kecil kepada cucunya yang tertawa terbahak bahak melihat tingkah neneknya yang menurutnya tidak ada perubahan sama sekali. Gania pun membiarkan neneknya yang masih ingin memeluknya dan membawa neneknya untuk duduk di kursi panjang dekat tangga. Setelah itu Nenek Diva bisa melepaskan pelukannya dan menatap Gania dengan senyum yang terlihat anggun, berbeda sekali dengan perkataan sekaligus teriakannya yang memekakkan telinga Gania. Diusapnya sisi wajah Gania seraya menyembunyikan helaian rambut yang mengahalangi wajah ayu cucunya dengan sayang. "Kamu sudah besar, nenek tidak bisa melihat perkembangan dirimu selama itu. Padahal nenek juga ingin melihat dan merasakannya." gumam Nenek Diva dengan raut wajah sedihnya. Gania pun mengambil kedua tangan neneknya dan menggenggamnya di atas pangkuannya. "Tapi sekarang nenek bisa melihat dan merasakannya karena sekarang Nia akan tinggal disini bersama kakek dan nenek." terang Gania dengan nada ceria, berharap menghalau kesedihan yang dirasakan neneknya. "Benarkah?" sahut Kakek Danu yang tiba tiba muncul dari ruang belakang dan langsung duduk di sisi Gania yang kini sudah di apit rapat oleh kakek dan neneknya. Kakek dan neneknya memandang penuh harap kepada cucunya yang memandang mereka berdua secara bergantian. Gania mengangguk meyakinkan membuat kakek dan neneknya itu menjerit dan tertawa kesenangan. Dirinya di peluk oleh kedua pasangan berumur lanjut itu dengan sama eratnya membuat Gania sangat sesak akan kasih sayang keduanya. "Baiklah, kalau begitu hari ini kakek akan memancing banyak ikan hari ini dan akan membagikannya kepada tetangga karena cucu kakek akhirnya mau tinggal di gubuk tuanya ini. Kamu mau ikut mancing?" Kakek Danu mengajak Gania untuk pergi memancing di kolam ikan yang letaknya lumayan jauh dari rumah. "Tidak boleh! Para perempuan sebaiknya menunggu di rumah dan menyiapkan sajian untuk para lelaki. Jadi ajak saja menantumu itu." Nenek Diva dengan segera melarang Gania yang akan meng-iyakan ajakan kakeknya itu. "Baiklah kakek beri kelonggaran dulu karena kamu baru saja sampai tadi pagi dan tidak mau kamu kelelahan. Jadi kakek akan paksa ayah kamu saja agar ikut memancing di kolam nanti." Kakek Danu mengalah, ia lebih memilih mengajak menantunya dan membiarkan cucu kesayangannya untuk beristirahat lebih lama di dalam rumah. "Du, nanti ikut ayah mancing di kolam. Awas saja kalau kamu menolak, ayah tidak akan mengizinkan Amamra untuk ikut kembali ke kota." Kakek Danu berteriak dan memberi sedikit ancaman kepada Ayah Gania yang sedang di depan rumah tengah mengeluarkan barang bawaan Gania di dalam bagasi mobil. Gania tertawa dan ikut berdiri bersama kakek dan neneknya yang akan menghampiri ayah Gania di luar untuk membawa koper milik Gania ke dalam kamarnya. Kini Gania kembali sendirian di dalam kamarnya setelah seluruh koper yang tersimpan tidak rapi di lantai kayu kamar. Dirinya meminta kakek dan neneknya untuk menunggu di bawah sebelum mereka melaksanakan sarapan pagi yang belum pernah tercipta kembali semenjak Gania beranjak besar. Gania membuka koper pakaiannya dan mengambil peralatan mandi beserta pakaian bersih dan memutuskan untuk mandi pagi meskipun udara dingin khas pedesaan masih sangat terasa. Selesai mandi, Gania membuka gorden dan pintu balkonnya, bersamaan dengan bayangan sosok yang kembali muncul di tempat sama, namun menghilang saat Gania menginjak lantai kayu balkonnya tanpa sempat menyadari kehadiran sosok misterius itu. Gania kini sudah berpakaian rapi dengan overall yang menyangkut di tubuhnya dengan kaos putih berlengan panjang sebagai pelengkap. Nyatanya ia sangat menyukai pakaian seperti itu karena terlihat lucu dan nyaman dipakai. Hampir setiap hari Gania memakai pakaian model seperti itu dengan motif dan gaya yang berbeda. Gania bersidekap memandang rumah yang jelas jelas menghalangi pandangannya kepada bukit Abeba. Bibirnya mengerucut sesekali mencebik kesal, rasanya ingin sekali menggeser rumah itu agar ia bisa menikmati pemandangan indah yang tidak ada di tempat lain kecuali di Desa Wania. Semilir angin Gania rasakan di pori pori kulit kepala yang masih tertutupi handuk melilit dengan rambut basahnya sehabis keramas. Gania memejamkan mata sesaat, kemudian terbuka kembali saat dirinya merasakan ada sesuatu yang tengah memperhatikannya. Mata Gania mengedar memeriksa keadaan sekitar dan ia menemukan kakeknya di depan rumah sedang berbicara dengan dua orang laki laki berbeda usia. Gania melambaikan tangan dan tersenyum saat kakeknya menyadari ada Gania di atas balkon sana dan memberinya lambaian tangan serta menyuruhnya agar turun menghampirinya. Gania pun menghilang dari atas balkon sana dan kembali memasuki kamar serta menyisir rambutnya yang panjang dan lurus itu dengan cepat. Dengan tergesa Gania turun dari tangga dan mengabaikan perkataan neneknya yang kebetulan sedang berada di dekat tangga rumah agar Gania berjalan hati hati. Di depan teras sana, kakeknya tengah duduk di kursi kayu bersama kedua laki laki tadi. Gania menghampiri kakeknya ragu, namun segera melangkah dengan mantap saat kakeknya menyuruh ia agar cepat menghampirinya. "Jadi ini cucu kamu yang mau masuk sekolah di Elvandora?" tanya lelaki tua yang bernama Tuan Royen setelah Gania menyalaminya dengan sopan. Gania hanya tersenyum ramah dan berganti ke arah lelaki di sebelahnya yang terlihat lebih muda dari lelaki tadi untuk ia salami juga. Gania kemudian menyalaminya tanpa melihat wajah lelaki itu karena ia sibuk menunduk sedari tadi. Begitu tangan mereka bersentuhan, Gania tiba tiba cegukan dan langsung melepaskan tautan tangan tersebut secara refleks. "Maaf," Gania tersenyum meminta maaf dengan cegukan yang masih terasa, Gania hendak pergi dari teras sana dan kembali ke dalam rumah. Namun kakeknya menggerutu dan mengingatkan bahwa ia seharusnya tidak mandi terlalu pagi karena akan membuat tubuhnya sangat kedinginan, membuat Gania menghentikan langkahnya dan tersenyum meminta pemakluman dari kakeknya. "Seharusnya kamu mandi pukul 9 atau 10 lebih, kalau masih pukul 7 kamu bisa flu dan masuk angin nanti karena kamu belum bisa beradaptasi dengan suhu dingin di desa ini. Apalagi kamu keramas seperti itu. Untuk besok dan seterusnya kamu lebih baik mencuci muka saja dahulu, kamu mandi bisa belakangan." Gania mengangguk masih berdiri di depan kakeknya yang terhalang meja kayu. Lalu Gania melihat ada tangan yang menyodorkan secangkir minuman teh hangat di depannya, masih utuh dan belum diminum sedikitpun oleh sang pemilik. Dilihatnya sebuah tato yang tidak jelas Gania lihat terdapat di pergelangan tangan kanan itu, tepatnya di bagian sebelah kanan urat nadinya. Gania menoleh dan mendapati lelaki muda itu tersenyum simpul seraya menyodorkan lebih dekat lagi cangkir keramik itu ke hadapannya. Gania mengambil cangkir itu dengan ragu dan memilih ikut duduk di samping lelaki itu untuk meminum teh yang tercium sangat wangi membuatnya tak tahan ingin mengendus bau dan menyeruputnya perlahan. "Nia, itu buat Mas Arka, kamu bisa membuatnya sendiri di dapur." sergah Kakek Danu yang dirasa telat karena Gania sudah terlebih dahulu mencicipi teh yang masih hangat tersebut. Gania menatap kakeknya merasa bersalah, lalu ia menatap lelaki yang bernama Arka itu dan bergumam meminta maaf. Arka hanya terkekeh memaklumi. "Sepertinya cegukan kamu sudah hilang." Gania tersenyum malu sendiri. Faktanya memang cegukannya sudah hilang karena rasa hangat dari teh yang mengalir di tenggorokannya. Gania lalu beranjak dan berkata bahwa ia akan membuatkan teh yang lain untuk mengganti teh yang sebelumnya telah ia minum. "Kalau begitu Nia akan membuatkan lagi untuk mas ..?" ucapan Gania terhenti karena ia lupa akan nama lelaki itu. "Arka." jawab lelaki itu dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya ketika berucap. Gania mengangguk dan membawa gelas di tangannya ke dalam rumah. Di perjalanan, Gania sibuk menggerutu dan bertanya kepada dirinya sendiri kenapa bisa bersikap tidak sopan dihadapan orang lain. Di dapur, Gania menemukan ibunya bersama neneknya sedang berbincang di meja makan sembari memotong beberapa sayuran hijau untuk dimasak sebagai sarapan. Gania menyapa keduanya dan bertanya dimana letak teh bersama gula. Gania langsung menyiapkan satu gelas cangkir keramik lain dan menuangkan teh yang ternyata sudah disiapkan di dalam teko yang masih mengeluarkan uap panas, membuat Gania harus berhati hati saat menuangkan tehnya . Gania mengambil wadah kayu yang berisi gula pasir bersamaan dengan neneknya yang berdiri di sampingnya tengah menyimpan wadah berisi sayuran hijau yang telah dipotong potong tadi. "Kamu jangan kasih gula, Mas Raka tidak suka dengan yang manis manis." ujar neneknya memberitahu. Gania mengernyitkan dahi bingung. 'Tapi kenapa teh yang tadi rasanya manis?' pikir Gania saat tadi merasakan rasa teh yang manis tadi, juga neneknya mengatakan nama lelaki lain. Namun Gania tidak berpikir panjang dan menganggap nama yang neneknya sebutkan adalah nama panggilan untuk laki laki dewasa di depan tadi. Ia pun berjalan membawa teh tersebut menggunakan baki ukir dari kayu yang terlihat cantik dan mengkilap. Gania memandang bingung kala orang yang berada di teras bertambah satu orang dimana ada sosok lelaki yang ikut duduk berkumpul bersama kakeknya. Jika diterka, sepertinya usia dia lebih tua dari Mas Arka yang tengah duduk di samping laki laki baru itu. Gania akhirnya menyimpan cangkir teh itu dan tersenyum bingung melihat lelaki baru itu. "Silahkan mas, yang tadi sepertinya salah. Kali ini tidak pakai gula kok." ucap Gania mencoba seramah mungkin kepada Arka. Namun berbanding terbalik dengan Arka yang kini mengernyitkan dahi bingung. "Haduh, cucu kakek ini. Mas Arka biasanya minum teh pakai gula. Kalau teh tawar biasanya diminum oleh Mas Raka. Memangnya nenek kamu tidak memberitahu kamu?" sela Kakek Danu dengan gemas karena menyadari bahwa Gania melakukan kesalahan lagi. Gania memandang bingung kakeknya. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan meminta maaf sekali lagi atas kesalahannya. "Tapi kata nenek.. ehm yasudah ini buat Mas .. Raka? Saya akan membuatkan lagi teh untuk Mas Arka." ucap Gania yang telah mengerti dan salah megartikan perkataan neneknya tadi. Arkan tersenyum memaklumi dan melarang Gania untuk membuatkannya teh lagi. "Tidak usah, sebentar lagi saya mau pergi ke kebun." Gania mengangguk patuh dan hendak pergi ke dalam lagi. Namun kakeknya melarang hal itu dan meminta Gania untuk ikut duduk membicarakan tentang sekolah barunya. Gania mengangguk tapi bingung kala tidak ada lagi tempat untuk dirinya duduk. Apa ia harus duduk di lantai di sebelah kakeknya? Namun setelah itu terlihat Arka yang berdiri dan berpamitan untuk pergi ke kebun menjalankan tugasnya. "Sudah waktunya berkebun, saya berpamitan dulu." pamit Arka kepada Kakek Danu dan Tuan Roey yang merupakan ayahnya, juga Raka yang diangguki santun oleh Arka sebagai adik. Gania tersenyum senang kemudian duduk di tempat bekas Arka setelah Arka menghilang dari halaman rumah kakeknya. Saat ia melewati Raka di depannya, Gania bergidik sedikit ketakutan menyadari tatapan tajam yang ditunjukkan kepadanya hingga ia duduk di sebelah lelaki itu. Raka mengambil cangkir di hadapannya itu dan menghirup aroma dari teh sebelum ia menyesapnya perlahan dengan mata tertutup, terlihat sangat menikmati. Gania yang sudah terduduk, diam diam memperhatikan wajah tegas itu membuat kakeknya berdehem sedikit keras dan berhasil menyadarkan Gania dari keterpesonaannya. Raka menyimpan kembali cangkir teh tersebut di atas meja dan memandang Kakek Danu bertanya. Namun Kakek Danu beserta Tuan Royen hanya tertawa tanpa mau menjelaskan. Gania tersenyum kikuk dan meminta segera kepada kakeknya agar ia membahas masalah tentang sekolahnya. 'Pasti pahit sekali.' Pikir Gania mengenai rasa teh tersebut. Karena saat dia minum teh yang sudah memakai gula pun, rasa pahit masih terasa di lidahnya, walaupun tidak terlalu kuat rasanya. Gania sedikit terkejut saat Raka tiba tiba menyunggingkan sudut bibir kanannya seolah ia merespon perkataan dalam hatinya barusan. Namun Gania segera menepis segala pemikirannya dan ikut berbincang membahas masalah sekolah barunya. "Nanti, mungkin kamu akan kesusahan beradaptasi dengan pelajaran disini, karena tentunya sangat berbeda dari sistem pelajaran di kota. Meskipun ada pelajaran inti yang sama, seperti Matematika dan ilmu pengetahuan alam." "Senin besok kamu sudah bisa masuk sekolah. Kamu tidak perlu memakai seragam khusus di hari hari biasa kecuali hari sabtu. Nanti Raka bisa memberitahu lebih lengkapnya saat di sekolah." Tuan Roey menjelaskan perihal sekolah yang akan di masuki Gania senin depan. "Saya.. bisa langsung sekolah?" tanya Gania heran kepada Tuan Roey. Pasalnya ia pun belum mempersiapkan dan menyerahkan formulir perpindahan sekolahnya ke pihak sekolah Elvandora itu. Bahkan, ia belum tahu dimana letak sekolah itu. "Kebetulan Raka merupakan salah satu pengurus sekolah disini." jawab Tuan Roey santai seraya mengambil cangkir teh miliknya. Gania setengah mengangguk dan menatap sekilas Raka yang duduk di sebelahnya. Gania kembali bergidik ketika melihat Raka mendelik tajam ke arahnya entah karena alasan apa. 'Sepertinya mata dia juling?' Gania tersentak kaget saat Raka tiba tiba berdehem mengagetkan batinnya yang sedang menerka nerka. "Sepertinya pembahasan sekolah sudah selesai, Nia ke dalam dulu. Kalian lanjutkan saja." Gania mengalihkan pandangan dan meminta izin kepada kakeknya untuk pergi ke dalam rumah. Ia sudah tidak nyaman dengan situasi seperti ini. "Sebaiknya kita sarapan terlebih dahulu. Setelahnya kita bisa mancing bersama di kolam." Kakek Danu memutuskan mengajak Gania beserta Tuan Roey dan Raka untuk ikut sarapan di dalam sebelum mereka kembali melaksanakan kegiatan selanjutnya. Tanpa penolakan apapun mereka mengikuti Kakek Danu menuju dapur membuat Gania mendesah pelan karena laki laki itu ikut bersamanya. Di meja makan sudah ada nenek dan kedua orang tua Gania menunggu mereka duduk di kursi yang disediakan yang cukup menampung mereka semua. Gania mengambil kursi di samping ibunya dan diikuti oleh Raka yang duduk di sampingnya pula. Sedikit terkejut Gania rasakan saat Raka dengan kasar menghempaskan dirinya sendiri di kursi yang menimbulkan suara berdecit sedikit keras. Lagi lagi lelaki itu membuat Gania terkejut untuk kesekian kalinya. Raka menganggukkan kepala kaku meminta maaf atas keributan yang diperbuatnya dan di balas dengan gurauan dari Nenek Gania. "Sepertinya Mas Raka sedikit canggung duduk dekat Nia ya?" Semua orang tertawa mendengar gurauan itu, berbeda hal nya dengan Gania dan Raka sendiri. Gania malah merasa lebih takut dan bergidik ngeri melihat Raka hanya memasang raut wajah kaku meskipun sedikit terhalang karena posisi wajahnya yang menunduk sedikit. Gania mencoba sedikit tenang dan mulai mengambil menu sarapan ke dalam piringnya. Dan akhirnya mereka pun menyantap sarapannya dengan hening diiringi dentingan alat makan milik masing masing. Gania merasa keheningan itu terasa mencekam, pagi yang cerah dari sinar matahari yang menembus celah jendela itu terasa begitu suram melebihi malam perjalanan tadi. Entah kenapa Gania merasa bahwa Raka terus menerus menatapnya meskipun tidak secara terang terangan dan Gania tidak bisa memastikan karena takut ketahuan lagi. 'Sebenarnya dia itu kenapa? Apa keberadaanku mengganggunya?' Batin Gania bertanya tanya di sela suapannya. Suara denting sendok dan garpu yang disimpan di atas piring terdengar menggema di atas meja makan membuat seluruh mata memandang ke arah asal suara itu. Raka berdehem sebelum berdiri dan meminta izin untuk pulang karena ia telah menyelesaikan sarapannya. "Ya, saya kira cukup, terima kasih atas sarapannya. Saya akan pulang ke rumah." Suara bariton itu menggema di dekat telinga Gania membuat mulutnya kaku sehingga sulit mengunyah makanan yang tengah berada di mulutnya. Raka menghilang keluar dari dapur membuat Gania secara tak sadar menghembuskan nafas leganya. Kini ia bisa mengunyah makanannya lagi dengan tenang. Tuan Roey yang merupakan ayah dari Raka hanya menggeleng geleng kepala melihat sikap anaknya yang sangatlah tidak sopan di hadapan keluarga Tuan Danu. "Anak itu, masih saja tidak berubah. Berbeda sekali dengan adiknya." gumam Tuan Roey yang tidak bisa menyembunyikan raut sedihnya. "Adik?" tanya Gania spontan. Gania menatap Tuan Roey yang hanya tersenyum seraya meminum air putih di depannya. "Mas Arka, dia adiknya Mas Raka." jelas Kakek Danu yang hanya dibalas Gania dengan ber-oh ria. Gania pikir, memang sikap Arka terlihat lebih baik dan ramah dibandingkan dengan Raka yang pertama kali sudah melihat, Gania memutuskan bahwa Raka adalah laki laki yang kejam dan menyeramkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN