Chapter 2

1714 Kata
Selamat membaca "Arghhh!" pekik Ganesa kesal sembari menggebrak meja penuh emosi ketika mengingat kembali kejadian di kantor pagi tadi. Ia menyesali keputusannya yang justru memilih untuk resign dari perusahaan hanya karena tidak ingin bekerja di tempat yang sama dengan Jayden. Saat itu ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi dan sedang dikuasai oleh amarah. Jadi ia tidak bisa berpikir dengan jernih dan asal memutuskan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Sedangkan ia sudah tidak memiliki muka lagi di depan CEO jika ingin menarik kembali ucapannya setelah perkataannya pagi tadi yang begitu yakin ingin keluar dari perusahaan seakan tidak membutuhkan pekerjaan itu. Seharusnya saat itu ia diam saja dan tidak perlu banyak tingkah sok berlagak keren di depan semua orang. Sekarang gara-gara sikap bar-barnya itu ia menjadi kesusahan sendiri. Karena harus rela kehilangan pekerjaan di saat ia sudah mendapatkan posisi yang bagus. "Husss! Jangan berisik! Dilihatin orang-orang, Bego!" pekik Sada berbisik sembari melotot tajam ke arah Ganesa yang kini sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang juga berada di cafe tersebut. "Ahhh! Bodoh!" Ganesa memukul dahi dan terus merutuki dirinya sendiri. "Udahlah, mau nyesel sekarang juga udah terlambat. Lagian lo juga ngapain pakai acara resign segala, hah? Udah tau sekarang cari kerjaan susah. Eh, lo malah seenaknya keluar dari kerjaan. Padahal lo di sana juga udah dapet posisi yang lumayan," oceh Sada pancang lebar. "Ya mau gimana lagi? Udah terlanjur juga," sahut Ganesa pasrah. "Makanya nggak usah kebanyakan gaya! Sekarang lo sendiri kan yang kalang kabut," cetus Sada ketus. "Lo juga aneh jadi orang. Bukannya setres karena habis diputusin pacar, tapi malah setres gara-gara jadi pengangguran," sambungnya tidak habis pikir. Ganesa membuang napas kasar. "Di tempat kerja lo ada lowongan nggak? Nggak bisa gue kalau nganggur begini." "Nggak ada, udah penuh. Nanti coba gue tanya-tanya ke teman gue yang lain. Kali aja di tempat mereka lagi nyari karyawan baru," sahut Sada ringan. "Iya, tolong, deh. Gue bener-bener butuh soalnya buat bayar biaya adik gue yang masih kuliah. Apalagi gue juga masih harus ngirim uang buat ayah dan bunda di Bogor. Makanya gue harus tetap kerja buat ngurangin beban mereka. Apalagi mereka juga cuma buruh pabrik biasa." "Mereka aja udah susah payah kerja keras buat sekolahin anaknya tinggi-tinggi, masa iya anaknya malah jadi pengangguran. Kan nggak lucu," sambungnya. "Oh iya! Gue baru ingat sekarang. Teman gue pernah bilang katanya bos dia lagi cari asisten pribadi. Gajinya juga nggak main-main," ungkap Sada antusias. "Tapi kerjanya di Meksiko. Kalau lo minat, gue nanti bisa kontak dia," sambungnya. "Buset, jauh banget. Emang nggak ada kerjaan yang dekat-dekat aja? Nggak apa-apa kalau misalnya jauh dari tempat kosan, tapi seenggaknya masih di sekitar Jakarta aja." "Lo kan tau sendiri sekarang susah cari kerjaan kalau nggak punya orang dalam," balas Sada. "Emangnya berapa gajinya di sana?" tanya Ganesa penasaran. Sada memberitahu gaji yang akan Ganesa dapatkan jika bekerja sebagai asisten pribadi di salah satu perusahaan di Meksiko. Mata Ganesa membulat sempurna. "Wah! Kalau segitu gue mau lah." Sada memasang raut wajah datar ketika melihat reaksi Ganesa yang heboh dan cepat tanggap jika sudah menyangkut hal tentang uang. Bahkan matanya seketika berubah hijau setiap kali membahas uang. Tidak bisa dipungkiri jika Ganesa adalah tipe orang yang bisa dibilang mata duitan dan lemah dengan uang. "Tapi lo di sana dikontrak selama tiga tahun. Emangnya lo nggak apa-apa selama itu nggak bisa pulang dan ketemu orang tua lo?" tanya Sada memastikan. "Nggak apa-apa lah, seenggaknya gue masih bisa saling berkomunikasi sama keluarga gue. Daripada gue jadi pengangguran dan nyusahin mereka. Ya mending gue kerja di tempat jauh sekalian yang gajinya besar. Lumayan bisa bantu keluarga di kampung," sahut Ganesa ringan. "Tapi gue nggak yakin orang tua lo bakal kasih ijin lo kerja di luar negeri," balas Sada. "Kalau itu lo nggak perlu khawatir. Gue udah terlalu besar untuk dikekang pergi kerja jauh. Lagian mereka juga bukan orang tua yang keras, jadi mereka pasti ngerti dan dukung apa pun keputusan gue." "Lo beneran udah yakin? Meksiko jauh, loh," tanya Sada memastikan. "Nggak apa-apa lah, sekali-kali kerja di luar negeri. Anggap aja liburan, sekalian cuci mata. Apalagi di sana juga banyak cogan, kan? Siapa tau ada bule yang nyantol sama gue," gurau Ganesa tertawa. Sada menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. "Lo barusan diputusin pacar kok masih bisa ketawa-ketiwi? Malah biasa aja, nggak kayak orang yang lagi patah hati," tanyanya heran. "Lah, terus gue mesti gimana? Nangis? Ya kali batu krikil ditangisin," celetuk Ganesa tanpa dosa. Kini giliran Sada yang tertawa karena mendengar ucapan Ganesa yang justru terlihat acuh, dan tidak menyesal sama sekali meski telah kehilangan pria tampan yang menjadi idaman banyak wanita. "Ya bener juga, sih. Lo nggak rugi kehilangan cowok pakboi kayak dia. Justru lo beruntung ditunjukin sifat asli dia sebelum lo melangkah lebih jauh," pungkas Sada setuju dan mengajak Ganesa tos untuk merayakan hari berakhirnya hubungan Ganesa dengan pria kadal itu. Beberapa hari kemudian, Sada telah mengabari temannya yang bekerja di Meksiko jika Ganesa bersedia bekerja di sana. Dan Oskar pun yang mendapatkan kabar baik dari Sada tersebut berniat untuk menjemput Ganesa ke Indonesia. Sebelum berangkat, Ganesa benar-benar mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin. Berulang kali dia mengecek kembali barang-barang bawaannya agar tidak ada satu pun yang ketinggalan. Bahkan dia sampai melatih fisiknya beberapa hari yang lalu agar tetap sehat sebelum berangkat ke negara orang lain. Meskipun awalnya Ganesa sempat mendapatkan penolakan dari kedua orang tuanya, tetapi akhirnya dia berhasil membujuk mereka agar mengizinkan dia untuk bekerja di Meksiko. Dengan syarat dia harus tetap berkomunikasi dengan keluarganya secara rutin agar tidak membuat mereka yang berada di kampung khawatir. "Gue titip teman gue, ya?" ujar Sada kepada Oskar ketika masih berada di bandara mengantar Ganesa. "Jangan khawatir," sahut Oskar. Kemudian Sada memeluk Genesa untuk yang terakhir kali sebelum melepas sahabatnya itu pergi selama tiga tahun lamanya. "Lo wajib harus kasih gue kabar kalau udah sampai sana, nggak ada alasan," pungkas Sada tegas. Ganesa memutar bola mata malas sembari menghela napas ketika Sada terus mengatakan hal itu berulang kali. "Ya ya ya." "Jaga diri lo baik-baik," ujar Sada terlihat berat hati melepas kepergian Ganesa. "Siap, Bunda," jawab Ganesa. "Ah, kampret! Udah sana lo pergi. Gak usah balik lagi," cetus Sada sebal ketika Ganesa justru mengajaknya bercanda di saat ia sedang serius. "Jangan nangis kalau gue tinggal," goda Ganesa. "Udah sana pergi lo!" usir Sada ketus. "Lah emang ini mau pergi. Dari tadi kan dirimu yang nahan diriku, makanya ini nggak jadi berangkat-berangkat," bela Ganesa dengan gaya bicara yang dramatis. Sada berdecak kesal. "Hussss, pergi! Pergi!" Ganesa dan Oskar pun akhirnya melangkah pergi ketika pesawat mereka sebentar lagi akan berangkat. Tatapan Sada berubah sayu. "Gue pasti bakal kangen banget sama lo." "Baik-baik lo di sana ya, Nes. Sampai bertemu di sini tiga tahun lagi," gumamnya sembari melihat punggung sahabatnya yang kian menjauh. ***** Ganesa merasa gembira dan antusias setelah tiba di mansion bosnya yang luas dan megah. Di sepanjang perjalanan dia terlihat sumringah dan berseri-seri karena akan tinggal di tempat semewah itu. Bahkan dia terlihat bersemangat dan tidak sabar bertemu dengan bosnya yang katanya adalah seorang pria dengan ketampanan di luar nalar. Dia berniat mencuci mata dan melepas penat dengan melihat wajah pria itu. Berharap rasa lelah setelah menempuh perjalanan panjang akan terbayar lunas. Namun imajinasinya hancur seketika saat dia bertemu dengan pria itu. Apa-apaan ini?! Ganesa ternganga lebar sembari menatap jijik ke arah seorang laki-laki yang tengah duduk di di tepi ranjang sembari memakai baju tidur kimono panjang berwarna hitam yang dibiarkan terbuka hingga memperlihatkan d**a kekar serta bagian bawah yang kini tengah dihisap oleh seorang wanita. Apa pantas menyuruh orang lain masuk ke dalam di saat dia sedang melakukan hal menjijikan seperti itu? Apa dia tidak memiliki rasa malu saat mempertontonkan itu pada orang lain? Padahal Ganesa sudah membayangkan jika bosnya adalah seorang pria yang berwibawa dan memiliki martabat tinggi. Tapi ternyata... Sepertinya ekspektasinya terlalu tinggi. Anying! Ganesa benar-benar tidak bisa membayangkan jika harus bersama dengan pria seperti itu selama tiga tahun. Pria itu sudah memberikan kesan buruk di pertemuan yang pertama hingga membuat Ganesa berasumsi jika bosnya bukanlah orang baik-baik. "Pura-pura nggak lihat aja," bisik Oskar yang mengerti tatapan terkejut Ganesa. Ganesa memicingkan mata ke arah Oskar. Sekarang ia mengerti kenapa Oskar tidak memberitahu informasi apa pun tentang bosnya, selain nama pria itu yang indah dan wajah tampan yang nyaris sempurna. Oskar pasti sudah menduga jika ia akan menolak bekerja di Meksiko jika mengetahui ia akan bekerja dengan orang seperti itu. Kampret nih orang! Batin Ganesa kesal sembari menatap Oskar dengan tatapan tidak bersahabat. Pria itu melirik sekilas ke arah Ganesa. Lalu menyuruh wanita yang masih menjilat miliknya itu untuk pergi. "Sudah cukup. Kau bisa pergi sekarang," pungkas pria itu datar tanpa ekspresi. Wanita itu pun menurut dan tidak berani membantah. Dia pergi dan keluar dari kamar pria tersebut setelah mendapatkan uang. Kemudian pria itu beranjak dari tempat tidur sembari menutup baju kimono yang memperlihatkan tubuhnya. "Jadi kau yang akan menjadi asisten pribadiku?" tukas pria itu berjalan mendekat sembari menatap Ganesa dari ujung kaki sampai atas kepala. Ganesa menjawab dengan memakai bahasa Inggris. "Benar, Presdir," sahutnya sedikit merasa tidak nyaman dengan tatapan bosnya yang intens. "Ini lamaran kerja milik Ganesa, Presdir," ujar Oskar sembari memberikan sebuah amplop coklat kepada Valder. Valder menerima amplop coklat tersebut, dan membukanya untuk melihat biodata Ganesa. Perhatiannya langsung tertuju ke sebuah tulisan panjang yang tertera di kertas 'Ganesa Sakka Ranutara Karang'. Valder menaikkan alis sebelah, lalu beralih menatap ke arah wanita itu. "Usiamu dua puluh tujuh tahun?" Ganesa mengernyitkan dahi bingung ketika melihat ekspresi wajah Valder yang seakan tidak percaya. "Iya, Presdir," sahut Ganesa. "Wajahmu terlihat lebih tua dibandingkan usiamu yang termasuk masih muda," tukas Valder datar tanpa eskpresi dan melihat kembali kertas yang berada di tangannya. Air muka Ganesa nyaris hancur ketika mendengar ucapan Valder yang benar-benar tidak sopan, karena telah mengkritik pada hari pertemuannya yang pertama. Dia bahkan hampir mengumpati Valder jika tidak segera menutup mulutnya. Ganesa menatap Valder dengan tatapan tidak habis pikir. Dia benar-benar tidak menyangka jika Valder masih tetap bisa bersikap tenang meski sudah bertindak kurang ajar terhadapnya. Setelah selesai melihat dan membaca dengan teliti, Valder kembali memasukkan kertas tersebut ke dalam amplop coklat. "Mulai besok Oskar akan mengajarimu dan memberitahu tentang jadwal kerjaku. Sekarang kau bisa pergi beristirahat di kamarmu," pungkas Valder lugas. Ganesa mengangguk. Lalu keluar dari kamar Valder bersama dengan Oskar. Kemudian Oskar membawa Ganesa ke kamar yang akan ditempatinya. Apes banget hidup gue! TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN