Chapter 1

1091 Kata
Selamat membaca Ganesa memesan dua cup kopi sembari menunggu kedatangan kekasihnya yang masih belum berangkat ke kantor. Tidak lama menunggu, akhirnya kopi yang dipesan Ganesa sudah siap. Dia kemudian pergi dan tidak sengaja berpapasan dengan Jayden yang baru saja tiba di kantor. Namun Jayden tidak sendiri, dia memasuki kantor bersama dengan seorang wanita yang tidak lain adalah karyawan baru yang baru dua Minggu bekerja di perusahaan tersebut. Ganesa menatap lurus ke arah Jayden dan wanita tersebut ketika merasakan suasana di antara mereka berdua terasa berbeda. Di mana mereka terlihat lebih akrab dan dekat dari biasanya. "Kalian berdua berangkat bersama?" tanyanya tenang. "Iya," jawab Jayden singkat tanpa basa-basi. "Oh," sahut Ganesa tidak bertanya lebih dalam karena tidak ingin memperkeruh suasana. Meskipun sebenarnya ia heran kenapa bisa Jayden justru berangkat kerja bersama dengan Sheila, bukan dengannya yang jelas adalah kekasihnya. "Aku baru saja beli kopi buat kamu," ujar Ganesa ringan sembari memberikan satu cup kopi hangat kepada Jayden. Alih-alih menerimanya, Jayden justru hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap ke arah Ganesa. "Kita putus saja," pungkasnya datar. Ganesa mengernyitkan dahi heran. Pasalnya hubungan di antara dirinya dan Jayden baik-baik saja, dan tidak ada masalah apa pun. Bahkan selama hampir satu tahun menjalin hubungan, ia dan Jayden hanya berdebat kecil dan tidak pernah sampai bertengkar hebat. "Ha? Kenapa tiba-tiba?" "Aku bosan," ungkap Jayden dingin. Lalu menoleh ke arah wanita yang berada di sampingnya. "Dan aku juga sudah menemukan perempuan lain yang benar-benar aku cintai," tuturnya tersenyum lebar ke arah Sheila. Begitupula dengan Sheila yang membalas senyuman Jayden dengan lembut. "Jujur saja, sebenarnya selama ini aku nggak serius menjalin hubungan dengan kamu. Jangan sakit hati, tapi memang aku hanya iseng," jelas Jayden sarkas. Ganesa hanya diam sembari melirik ke arah tangan wanita itu yang kini sudah berada di lengan Jayden dan menggandeng dengan mesra. Ganesa menghela napas pelan. "Baiklah," ujarnya tenang. Jayden menaikkan alis sebelah heran ketika melihat reaksi Ganesa yang terlihat biasa saja dan tidak mencoba membujuknya untuk tidak mengakhiri hubungan, atau pun memohon-mohon seperti wanita lain yang tidak rela berpisah dengannya. Karena ia memiliki posisi penting di perusahaan sebagai manager, sekaligus keponakan dari CEO. Jadi tidak heran jika banyak wanita yang mengejar cintanya dan ingin menjadi kekasihnya. Tetapi Ganesa? Tidak bisa dipungkiri jika Jayden sedikit merasa kesal dengan respon Ganesa yang tidak menunjukkan rasa cemburu sama sekali ketika melihat dirinya bersama dengan wanita lain. Sejujurnya itu sangat melukai harga dirinya. Namun meski begitu, Jayden tetap bersikap arogan dan mengangkat kepala ke atas dengan angkuh. "Baguslah kalau kamu sadar diri dan nggak membuat masalah," pungkas Jayden datar. "Mulai sekarang jangan muncul lagi di hadapan aku. Dan anggap saja kita nggak saling mengenal satu sama lain," sambungnya sarkas dan berlalu pergi meninggalkan Ganesa yang hanya terdiam di tempatnya saat ini berdiri. Ganesa tersenyum sinis. Bukankah itu kalimat yang seharusnya ia ucapkan? "Hei!" seru Ganesa dari belakang ketika Jayden dan Sheila melangkah pergi. Mereka berdua sama-sama menoleh ke belakang. "Kopinya ketinggalan!" Jayden dan Sheila tersentak kaget ketika Ganesa tiba-tiba melempar kopi tersebut ke arah mereka. "Dasar sampah!" maki Ganesa kesal dan berlalu pergi meninggalkan dua orang tersebut yang kini menjadi kotor karena ulah Ganesa. "Ganes!!" pekik Jayden dengan nada suara tinggi. Jayden terus mengumpati Ganesa dan mengoceh tidak jelas. Sedangkan Ganesa terus berjalan pergi dan tidak menggubris sumpah serapah yang Jayden ucapkan. Beberapa saat yang lalu setelah kejadian tersebut, Ganesa dipanggil ke ruangan CEO. Di sana juga sudah ada Jayden dan Sheila yang memasang raut wajah tidak bersahabat dan menatap tidak suka ke arah Ganesa yang baru saja datang. "Permisi," tutur Ganesa sopan dan menunduk hormat ke arah CEO. "Silahkan duduk," ujar Argo mempersilahkan. Ganesa mengangguk dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Jayden dan Sheila yang masih memakai pakaian kotor bekas air kopi tersebut. "Saya mendapat keluhan tentang kamu. Apa benar kamu yang membuat mereka seperti itu?" tanya Argo ringan sembari melirik ke arah Jayden dan Sheila. "Benar, Pak," jawab Ganesa tenang. Ganesa sama sekali tidak terlihat cemas dan khawatir, meskipun dia sudah mencari penyakit dengan melempar kopi ke arah keponakan CEO. "Saya sudah mendengar penjelasan dari mereka berdua. Jadi sekarang saya ingin mendengar yang versi kamu bagaimana. Karena saya yakin kamu pasti memiliki alasan kenapa melakukan hal itu." "Tidak ada alasan, Pak. Saya memang ingin melakukannya. Tapi mereka masih beruntung, karena saya tidak melempar wajah mereka dengan kopi panas," pungkas Ganesa tanpa dosa sembari menatap dingin ke arah Jayden dan Sheila. "Saya mengaku salah karena sudah membuat masalah dan tidak bisa memisahkan antara masalah pribadi dan pekerjaan. Karena itu, saya akan berhenti bekerja di perusahaan ini," sambungnya tenang. "Itu hanya masalah kecil, jadi tidak perlu diperbesar. Kamu juga tidak perlu sampai harus keluar dari perusahaan. Lagipula kamu sudah cukup lama bekerja di sini. Dan saya juga tau betul bagaimana cara kerja kamu. Kamu sangat berkompeten dan bertanggung jawab sebagai ketua departemen pemasaran. Jadi pikirkan ini dengan baik-baik, dan jangan mengambil keputusan di saat kamu sedang emosi," bujuk Argo. "Maaf sebelumnya, Pak. Tapi keputusan saya sudah bulat. Saya akan resign dari perusahaan ini," pungkas Ganesa lugas. "Hanya karena seorang laki-laki, kamu tidak perlu sampai mengorbankan pekerjaan kamu," kata Argo. "Apa kamu lupa dengan usaha dan kerja keras yang sudah kamu lakukan untuk sampai di posisi ini?" imbuhnya. "Saya ingat, dan yang tidak akan pernah melupakan itu. Tapi jujur saja, setelah kejadian ini saya tidak bisa lagi bersikap profesional. Saya tidak mungkin bisa bekerja di satu perusahaan yang sama dengan laki-laki yang sudah mengkhianati saya," ungkap Ganesa. "Karena saya tau Anda tidak mungkin memecat dia, jadi lebih baik saya saja yang mengundurkan diri," imbuhnya. "Begini saja, saya akan menaikkan gaji kamu. Tapi kamu lupakan masalah kamu dengan dua orang itu, dan tetap bekerja di sini," ujar Argo tenang. "Lagipula Jayden pasti hanya main-main dengan wanita itu. Jadi kamu tidak perlu menanggapinya dengan serius. Namanya juga laki-laki, maklumin saja," sambungnya Ganesa tersenyum sinis. Maklumin?! Dasar sinting! "Lebih baik Anda mencari pengganti saya saja. Atau tidak, Anda bisa mempromosikan pacar Jayden untuk menjadi ketua tim. Saya rasa, dia memiliki kemampuan untuk menggantikan posisi saya. Secara dia juga telah berhasil menggeser posisi saya di hati Jayden," sindir Ganesa sarkas. Argo terdiam mendengar ucapan Ganesha. "Tidak mudah mencari seseorang yang mau bertanggung jawab dengan pekerjaannya," ungkap Argo seakan tidak berniat menaikkan jabatan Sheila menjadi ketua tim. Ganesa mengangguk. "Anda sendiri masih membutuhkan saya, tapi Anda justru membela keponakan Anda dan menormalkan perselingkuhan. Saya benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir orang-orang seperti itu," tukasnya seketika membuat Argo terdiam. Tanpa sadar, pria itu juga merasa tersindir dengan ucapan Ganesa. Karena dia sendiri sebenarnya juga tukang selingkuh dan sudah berkali-kali mengkhianati istrinya. TBC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN