Malam ini keduanya jadi menginap di kediaman orang tua Pras, Kinar melihat jam yang terpajan di dinding kamar yang masih menunjukkan pukul sebelas tiga puluh. Kinar masih berguling guling di atar kasur, matanya sulit untuk terpejam. Krukuk … kruk … kruk … Kurang lebih begitulah suara perut Kinar. Kinar sangat lapar, Kinar merutuki dirinya yang tumben tumbenan dia lapar jam segini. Padahal biasanya meski tidak makan semalaman dia kuat. Akhirnya Kinar memberanikan diri untuk membangunkan sang suami. “Bee, bangun, Bee.” “Iya, Sayang, kenapa? Apanya yang sakit.” Pras panik dan langsung memeriksa keadaan Kinar. “aku gak apa apa, tapi aku lapar.” Pras kemudian bernapas lega dan tersenyum kepada Kinar. “tunggu disini ya, aku ke dapur dulu cari makanan.” Kinar pun mengangguk dan sebelum turu

