MC 5

2010 Kata
2000 (dua ribu) hari kemudian =================== Selama itu pahit manis kehidupan telah Kinar lalui, Kinar sudah lulus kuliah. Dirinya kini bekerja di perusahaan elite Ibu Kota. "Lu kenapa dari tadi mukenye di tekuk gitu? Orang di luaran sana tuh pada pengen mukenye kenceng, lah ini malah di tekuk." Protes Reva. "Apaan sih?" Sahut Kinar masih lesu. "Gue perhatiin sedari pertemuan dengan Pak Azzam, kondisi lu gak dalam mode baik deh." Sambar Reva. "Sok tahu, kamu." Bantah Kinar "Aku curiga diantara kamu dan Pak Azzam pasti pernah ada sesuatu deh. Apa Pak Azzam pernah masuk ke kehidupan lu? Mantan gitu?" Flashback on ... "Kita ini sebenarnya apa, Kak?" Tanya Kinar pada Azzam. "Harus ya diperjelas?" "Iya lah, Kak. Aku cewek, aku butuh kejelasan. Biar saat ada yang tanya, ada apa di antara kita, aku bisa jawab. Kita sudah dekat selama tiga tahun terakhir, bahkan kita layaknya dua insan sedang memadu kasih. Kak Azzam bilang nyaman dekat dengan aku, begitu pula dengan aku. Cinta juga sering Kakak katakan, tapi tidak sekali pun Kakak memperjelas status aku. Pacar kah, atau apa lah." Ungkap Kinar. "Kalau ditanya aku cinta kamu, dengan tegas akan aku jawab bahwa aku sangat sangat mencintai kamu, Kinar." "Lalu?" "Tapi aku tidak bisa berkomitmen untuk kita," pernyataan apa ini? Apa Azzam hanya ingin mempermainkan perasaan Kinar saja? "Maksud Kakak?" Kinar mengerutkan kening. "Sejak dulu aku telah dijodohkan oleh Kakek ku dengan cucu temannya. Walau aku enggan, tapi aku tidak ingin membangkang kehendak sesepuh di keluarga kami." "Lalu maksud Kakak dekatin aku dan memberikan pengharapan itu apa, Kak? Aku bukan boneka yang bisa dipermainkan, aku punya hati." Air mata Kinar luruh sudah. "Aku tidak mencintainya, yang aku cintai hanya kamu." "Cinta tapi nantinya di tinggal, gitu maksudnya?" "Dengar aku, sampai kapan pun aku akan tetap mencintai kamu. Jika kamu bersedia menunggu, aku janji kita akan bersama." Bujuk Azzam. "Tidak usah mengubar janji, sepertinya aku memutuskan untuk sudahi semuanya sampai disini saja. Sekarang Kakak bisa pergi dari sini dan jangan pernah temui aku lagi. Pergi Kak, pergi!" Usir Kinar. Azzam memeluk tubuh Kinar, sekuat tenaga Kinar berontak namun tidak berhasil. Kekuatannya kalah oleh Azzam, mungkin pelukan seperti ini sering mereka lakukan dan selalu sukses membuat Kinar nyaman. Tapi kali ini berbeda, Kinar merasa sakit saat di peluk Azzam. "Pergi sekarang juga, jangan pernah sekali kali menampakkan wajah di hadapan ku lagi!" Lantang Kinar. "Aku tidak ingin pisah dengan mu, Kinar. Aku sangat mencintai kamu. Aku ingin kamu tetap di samping ku sampai kapan pun, meski nanti aku akan menikah dengan pilihan Kakek." Ucap Azzam tanpa beban. "Oh ... Kamu pikir aku cewek apaan? Aku punya hati, juga punya harga diri. Aku tidak sudi menjadi wanita simpanan, aku juga ingin bahagia. Sekarang pergi, aku bilang pergi!" Sentak Kinar. "Kalau memang ini mau kamu, okey. Aku minta maaf jika sudah menyakiti mu. Aku pamit, izinkan aku peluk kamu sebelum aku pergi!" "Silahkan pergi!" Usir Kinar lagi tanpa menyetujui permintaan Azzam. Dengan langkah berat akhirnya Azzam pun keluar dari kamar kost Kinar. Setelahnya Kinar langsung masuk kamar mandi, menyalakan shower, membiarkan tubuhnya basah. Air mata beradu dengan air shower, duduk meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Dua kali terjebak cinta menyakitkan, apa dirinya tak pantas mengenal cinta? Selalu saja dia yang di tinggalkan. Dua jam lebih Kinar masih betah berada di bawah aliran air shower, tubuhnya sudah menggigil, bahkan bibirnya sudah membiru. Bisikan malaikat baik menyadarkan Kinar, bahwa dia tidak boleh sedih seperti ini. Dia tidak boleh lemah, yakin jika memang Azzam bukan jodohnya, pasti Tuhan telah menyediakan jodoh terbaik untuknya. Perlahan Kinar bangun, melucuti semua pakaian basahnya dan berselimut handuk. Sebulan kemudian dari kejadian itu, Kinar mendapat undangan pernikahan Azzam. Kalau di tanya bagaimana perasaan Kinar saat ini pada Azzam, maka Kinar akan menjawab jujur bahwa sanya dia masih mencintai Azzam. Sebulan tanpa Azzam, Kinar sungguh tersiksa. Dan saat menerima undangan pernikahan Azzam, Kinar benar benar hancur. Jika memang Azzam sangat mencintainya, mengapa dia tidak memperjuangkan? Dengan menolak perjodohan misalnya? Pupus sudah harapan Kinar, tak apa mungkin memang Azzam bukan jodohnya. Saat hari H acara pesta pernikahan Azzam pun Kinar tidak hadir, dia memilih pulang ke Bandung. Flashback off ... "Astaga tragis bener kisah percintaan lu, Nar. Uda hubungan tanpa status, di tinggal nikah pula." Pedasnya komen mulut Reva. Bercerita masa lalunya, Kinar jadi baper. Tanpa ia sadari matanya berkaca kaca. "Kerja kerja, nanti jam dua ada meeting dengan Presdir yang baru. Dan Kinar, kamu terpilih untuk mewakilkan divisi kita. Persiapkan semuanya dengan matang, kami semua bergantung pada mu." Tegas Rizal, manager Kinar. "Yakin Kinar yang wakilin divisi kita, Zal? Kenapa gak aku saja sih? Kinar lagi kacau balau tuh pikirannya. Mending gua aja, gua juga pingin kali bertemu Presdir baru. Hihihi ... " Usul Reva centil. "Lebih kacau kamu lagi, Va. Disana lu gak bakalan jadi presentase, tapi malah lihatin Presdirnya terus." Balas Rizal, Reva memanyunkan bibir. "Oh iya, Nar. Habis makan siang kamu aku kasih bahan presentasi, kamu masih punya waktu satu jam untuk mempelajarinya." Tambah Rizal, Kinar hanya jawab dengan anggukan kepala. "Santuy aja, gua dengar dengar Presdirnya ganteng loh. Kali aja nanti lu kecantol. Iya gak?" Reva menautkan kedua alisnya ke atas ke bawah. "Ke kantin aja yuk, kalau baper gini aku bawaannya jadi pengen makan. Alias lapar, hahaha." Gelak Kinar *** Semoga saja presentasi Kinar hari ini sukse membuat bangga Presdir pada tim divisi Kinar, biasanya jika Kinar yang mewakili divisi, maka tim divisinya selalu mendapat pujian dan reward dari Presdir. Di tempat meeting, Kinar terkejut saat mengetahui bahwa Presdir barunya adalah Pras, orang yang beberapa tahun lalu menolongnya. Ah tapi mana mungkin Pras ingat dengannya, mengingat jabatan Pras terpandang dan dibanding dirinya yang hanya staff bawahan. Kinar mencoba abai layaknya menghadapi Presdir, berpura pura bahwa diantara dirinya dan Pras tidak pernah saling bertemu atau pun saling kenal. Kinar tampil seperti biasa. Mood nya saat ini sedang kacau, jadi Kinar tidak punya waktu untuk caper ke Presdir barunya tersebut seperti staff wanita di kantornya yang tampil lebih WAH dari biasanya. Meeting selesai dan Kinar pun membereskan beberapa berkas miliknya lalu melenggang keluar ruangan. Tanpa Kinar sadar, sedari tadi Pras memperhatikan Kinar. "Gimana, Pak Pras ganteng kan, Kin?" Bukan tanya kesuksesan presentasi Kinar, malah tanya Presdir Reva. "Kamu ada fotoin gak?" Sambung Denada. "Ish, bukannya nanyak isi meeting malah nanyak Presdir." Kinar geleng geleng kepala sambil memutar bola mata jengah melihat tingkah absurd teman satu tim nya. Kinar kembali menghadap monitor, beberapa point waktu meeting harus ia tulis dan di tempel dilaporkan pada Rizal. Seperti strategi kerja contohnya. Saat lagi serius seriusnya, manager Kinar tiba tiba berdiri di hadapannya. "Kinar, kamu tidak lagi berbuat kesalahan saat meeting tadi kan?" Tanya Rizal "Ke - kenapa?" Jantung Kinar berdebar, perasaan dia tidak melakukan kesalahan deh. "Barusan Pak Pras telfon minta kamu menemuinya." Teman teman satu tim Kinar langsung mendekat. "Seingat ku, aku tidak buat kesalahan apapun." Ingatan Kinar kembali ke waktu meeting, tapi benar deh, dia memang tidak melakukan kesalahan. "Kalau gitu temui dulu Pak Pras, jangan sampai dia menunggu lama. Jangan lupa juga bawa berkas yang tadi kamu presentasikan!" ucap Rizal. "Kamu juga ikut aku kan?" Tanya Kinar panik. "Big Boss nya cuma minta kamu yang kesana, jadi kamu sendiri." "Cemungut, Sayang. Kamu pasti baik baik saja." Semangat dari Reva. Tidak hanya Kinar sebenarnya yang panik, seluruh tim divisi Kinar saat ini juga lagi sport jantung. Tidak biasanya Presdir langsung memanggil staff, biasanya jika ada kesalahan yang akan di panggil pertama adalah manager atau setidaknya supervisor. Suhu tubuh Kinar mendadak menggigil, pasalnya dia baru kali ini akan menghadapi Presdir langsung. Sepanjang jalan menuju ruangan Presdir, Kinar masih memikirkan dimana letak kesalahannya. Seingatnya pada saat meeting tadi dia malah dapat pujian, tapi kenapa ini sekarang malah di panggil Presdir secara personal? 'tenang, tenang Kinar! Kamu pasti baik baik saja.' Kinar bermonolog menyemangati diri sendiri. "Mbak Kinar ya?" Sapa sekretaris Pras. "I iya, Mbak Dian." "Silahkan masuk, Pak Pras sudah menunggu." Jangan tanya bagaimana jantung Kinar saat ini, rasanya ingin keluar dari tempatnya. "Kalau boleh tahu, kenapa saya di panggil langsung kesini ya, Mbak?" "Hehehe ... Maaf Mbak, saya kurang tahu. Mungkin Pak Pras akan jelaskan di dalam. Mbak Kinar tidak usah khawatir, Pak Pras gak gigit kok." Kelakar Dian, agar Kinar tidak terlalu panik. "Saya akan di marahi kah, Mbak?" "Mending Mbak Kinar masuk aja dulu, biar gak penasaran." Kinar menggigit bibir bawahnya, sungguh saat ini ia sedang panik amat sangat. "Doakan saya baik baik saja ya, Mbak." "Pasti, sukses, Mbak!" Semangat Dian, walau dalam hati Dian tertawa. Kinar merapikan penampilannya, menarik nafas dalam dalam lantas mengeluarkan perlahan. Dari tempat duduknya Dian mengangkat kepalan tangan ke atas sambil berkata "semangat", Kinar pun mengangguk. Tok tok tok... Tiga kali mengetuk ruangan sang Prasdir, setelahnya Kinar mendapat jawaban kata "masuk" dari dalam ruangan. Kinar akhirnya memberanikan diri untuk masuk. Kinar masih berdiri di depan pintu, jantungnya dag dig dug tak beraturan. Di lihatnya sang Presdir masih asyik berkutat di depan laptopnya. Leher sang Presdir perlahan memutar ke arah keberadaan Kinar, "kenapa masih berdiri di situ? Duduk!" Perintah sang Presdir. Hampir dua tahun kerja di kantor ini, belum pernah sekalipun Kinar masuk ke ruangan Prasdir. Sungguh luar biasa ruangannya, sangat luas dan interiornya sangat mewah, di tambah dua ac. Mungkin kalau dalam keadaan santai Kinar akan merasakan dingin, Tapi sayang kali ini tubuhnya panas sampai mengeluarkan keringat. Baru saja Kinar menempelkan pantatnya di kursi depan Presdir, sudah satu pertanyaan terdengar oleh telinganya. "Saudari Kinar, anda sedang tidak berpura pura lupa dengan saya, bukan?" Tanya sang Presdir dengan tatapan intens terhadap Kinar. Sekilas Kinar menatap balik mata Presdirnya, setelahnya ia kembali menunduk. Dengan susah payah Kinar menelan salivanya, tenggorokannya tercekat saat akan menjawab. Kalau saja yang di depannya adalah sosok Pras yang dulu dia panggil Aa' mungkin dengan santai dia akan menjawab, tapi kali ini yang di depannya adalah Pras sebagai Presdir. Satu satunya pilihan hanyalah dia harus menggeleng kepalanya sebagai jawaban. Sambil menopang dagu dengan kepalan dua tangannya, Pras kembali melayangkan satu pertanyaan lagi. "Kenapa anda tidak menyapa saat melihat saya, jika memang benar anda tidak berpura pura lupa dengan saya?" Apakah saat ini Pras berpikiran bahwa Kinar sombong? Ah ... Masalahnya mereka bertemu di kantor, saat meeting pula. Apalagi dengan jabatan mereka yang jauh berbeda, tidak mungkin Kinar langsung menyapa Pras dengan sok akrab kan? Bisa bisa dia dianggap caper oleh staf lainnya. "Bisa tolong di jawab pertanyaan saya, saudari Kinar?" Rasanya sudah kayak berada di ruang pengadilan saja Kinar saat ini. Ya Tuhan, rasanya Kinar ingin menghilang detik ini juga. "Em ... Saya, saya - " belum sempat kasih penjelasan sudah main potong pembicaraan Kinar aja nih Pak Presdir. "Okey kalau tidak bisa menjawab pertanyaan saya yang ini, kita skip saja dulu. Tapi di akhir tetap harus di jawab, jadi siapkan kata kata yang pas untuk menjawabnya. Dan jangan sampai melukai perasaan saya!" Kinar auto mengerutkan kening, "sudah berapa lama gabung di kantor ini?" Lanjut Pras. "Kurang lebih hampir dua tahunan, Pak." Pras mengangguk anggukkan kepalanya. "Betah kerja di sini?" "Iya Pak, pekerjaan saya sudah sesuai dengan legal saya, sehingga saya dapat menguasainya lebih mudah." Jawab Kinar mantab, dan Pras kembali menggangguk anggukkan kepala pelan. "Saya rasa anda sudah tidak terlalu gugup seperti tadi, sekarang coba jawab pertanyaan kedua saya. Masih ingat kan? Atau perlu saya ulangi pertanyaan saya?" "Oh tidak usah Pak, saya masih ingat." "Baik, silahkan jelaskan!" "Sebelumnya saya minta maaf, Pak. Bukan maksud saya untuk pura pura tidak mengenal Bapak, namun saya pikir Bapak sudah lupa dengan saya. Dan saya juga tidak mungkin tiba tiba menyapa Bapak saat meeting kantor. Apalagi Bapak seorang Presdir baru, pertemuan kita pun sudah terbilang cukup lama, takutnya saya di bilang caper sama staf lain, Pak." Jelas Kinar panjang lebar. "Masuk akal," jawab singkat Pras. "Heh?" Apa yang dimaksud masuk akal coba? Beberapa saat hening, namun Kinar tidak mau terjebak dalam suasana mencekam seperti ini. Jadinya dia inisiatif memberikan berkas pada Pras, bukannya tadi dia diminta datang keruangan ini dengan membawa berkas yang dia presentasikan saat meeting tadi? "Saya tidak butuh berkas ini, sudah saya catat isinya tadi waktu meeting." Terus maksudnya dia panggil Kinar ke sini untuk apa dong kalau tidak butuh berkas yang Kinar bawa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN