149. Para Bocil Random

1202 Kata

"Ayo, Ata sama Tasya duduk di sana. Sebentar lagi kita mulai belajar. Bunda nanti tunggu di luar," ujar Arumi. "Ayo!'' Natasya menuntun tangan sepupunya yang masih tampak malu-malu. Permata tidak menolak saat ia ditarik pergi menuju meja yang masih kosong. Sesaat menoleh pada ibunya. Binar tersenyum seraya melambaikan tangan. Memberi semangat pada putrinya. Setelah itu keluar dari kelas bersama ibu-ibu yang lain. Dan keadaan kelas pun seketika gaduh saat ada anak yang menangis karena ditinggal ibu. Anak lain pum ada yang ikut berteriak memanggil ibunya. Permata menolah pada anak yang tengah menangis dan ditenangkan oleh guru. Lalu melihat ke arah jendela. Merasa tenang karena ibunya masih ada di sana. "Ata mah enggak nangis, ya? Kan bundanya ada di sana," ujar Permata pada sang kakak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN