150. Merajuknya Permata

1103 Kata

"Bunda!" Binat menolehkan kemudian tersenyum. "Cantiknya Tasya pakai seragam," pujinya saat melihat sang keponakan menghampiri. "Iya dong, Bunda," sahut Natasya dengan bangga. "Ata mana?" tanya Binar karena belum melihat keberadaan putrinya. Natasya menoleh ke belakang. "Itu, Ata!' tunjuknya kemudian. Binar yakin putrinya marah kerena ia tidak menjemput. Biasanya jika pulang dari manapun, Permata selalu antusias mendatanginya dan langsung bercerita tentang apa yang dia alami di luar rumah. Binar menunggu di depan pintu sembari tersenyum meski sudah tampak anaknya marah. Jangankan balas tersenyum, menatapnya saja tidak. "Halo, Teh Mira, Aa sama Atan," siapanya kemudian. "Halo, Bunda." Anak-anak itu menghampiri dan mencium punggung tangan bunda mereka, berganti. Tiba giliran Permata,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN