"Bunda ...." Permata berlari dari pintu utama seraya memanggil ibunya. Baru saja tiba di rumah. "Jangan lari-lari, Sayang." Zean mengikuti sambil menjinjing dua kantung kertas berukuran sedang. "Bunda ...!" Permata Tidak mengindahkan teguran ayah. Langkah kaki kecilnya menyusuri rumah yang ia tinggali bersama orangtua dan juga adik baru. Binar muncul dari kamar. "Udah beli tasnya?" "Udah bunda. Bunda mau lihat? Sebentar." Belum juga ibu menjawab, Permata sudah berlari kembali menghampiri sang ayah. "Ayah, mana tas Ata? Bunda mau lihat." Anak itu mengambil tas yang disodorkan sang ayah dan kembali menghampiri ibu. "Lihat, Bunda. Ata beli warna biru muda. Bagus 'kan? Ata tadi mau beli dua sama buat Ade. Tapi gak boleh sama Ayah. Bagus gak, Bunda?" "Bagus, Sayang. Ata jadi tambah cantik

