153. Membujuk

1103 Kata

"Iya ih, Bunda. Tua dari mana?" Zean ikut menimpali dan membuat sang istri melotot ke arahnya. Menyadari hal itu, ia mengalihkan tatapan pada putri sulung. "Yuk, Teteh. Kita masuk aja. Kasian loh itu Adenya kedinginan." "Enggak. Ade gak kedinginan. Ade pakai jaket." "Iya. Tapi banyak nyamuk," sahut Zean yang melihat sang anak mengusap pipi sendiri. Sepertinya terganggu dengan binatang kecil kamu suka menggigit tersebut. "Kasihan Ade kalau digigit nyamuk. Dia kan belum bisa bicara. Nanti Adenya nangis." "Iya. Ade belum bisa bicara. Tapi kata bunda tadi Ade bilang mau main sama teteh." Binar kembali melotot pada sang suami. Kesal sekali. Permata sudah mulai lupa tadi, malah diingatkan kembali. Sudah begitu bukannya membantu menjawab, justru ikut menyerang. Sungguh menyebalkan pria itu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN