Aku mengambil botol air minum yang Hilda bawa, dan meneguk setengahnya. Banyak bergerak seperti ini membuatku haus. Untungnya mereka datang tepat waktu.
Tetapi sayangnya, waktu istirahatku cuma sebentar. Jadi, sekarang juga aku harus menanyakan apa yang ingin ku ketahui kemarin.
“Nona Arabella, bisakah kita berbicara di sebelah sana? Bukankah di sini agak panas?” ajakku sambil menunjuk ke tepi arena yang lebih sejuk.
Dengan pipinya yang merona, Arabella mengangguk setuju.
Sebetulnya bukan untuk berteduh, melainkan agar Marchioness Sheon tidak mendengar apa yang ingin ku bicarakan dengan Arabella. Karena Marchioness Sheon juga sama seperti Andreas, dia telah bersumpah setia pada raja. Selain itu, ada juga prajurit dan calon prajurit lainnya di arena itu.
Kini kami berdua berada di pinggiran arena. Tempat kami berdiri terhalangi oleh sebuah tiang besar yang menyangga atap.
Arabella yang masih terlihat malu-malu, terus menunduk sambil tersenyum. Pipi dan telinganya terlihat begitu merona. Jika ini adalah adegan di dalam game, melihatnya seperti itu pasti Rafael akan merasa gemas dan langsung memeluknya. Itu juga mungkin yang Arabella inginkan saat ini. Tapi sayangnya, bukan hal itu yang ingin aku lakukan.
“Nona Arabella. Bolehkan saya bertanya sesuatu?”
Sembari terus menunduk malu, Arabella dengan semangat menganggukkan kepalanya.
“Mm… saya dengar Nona bertemu dengan seorang prajurit sihir yang baru pulang dari pencarian Nona Eliza. Apa benar yang dikatakan Andreas bahwa Nona melihat jejak energi sihir bayangan milik siluman pada prajurit itu?”
Mendengar pertanyaanku, Arabella nampak sedikit kecewa. Seperti dugaanku, dia pasti mengharapkan hal lain. Meski demikian, gadis yang tingginya setara dengan pundakku itu tetap menjawab.
“Benar, Yang Mulia.”
“Apa Nona bisa mengira-ngira sebesar apa jejak yang Nona lihat pada prajurit itu? Dan seperti apa bentuknya?”
Dengan melihat ukuran dan bentuk dari sebuah energi sihir atau mana, kita bisa melihat juga seberapa besar kekuatan orang yang menaruh jejak itu. Aku harap hanya sedikit yang Arabella lihat. Karena, kalau sekarang aku tidak yakin bisa langsung melawan para siluman yang baru bangkit itu.
“Sebetulnya saya tidak yakin seperti apa bentuknya, karena energi sihir itu tertanam di dalam tubuh prajurit itu, Yang Mulia. Tetapi, saya yakin energinya cukup besar. Selain itu, kemarin saat saya bermain bersama Schew, saya juga bertemu dengan prajurit sihir lainnya. Dan orang itu juga memiliki jejak yang sama.” jelasnya.
Jika memang benar perkataan Arabella, ada dua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Yang pertama, pemberi jejak yang menghipnotis para prajurit adalah seorang ahli sihir yang kuat dari bangsa siluman. Bisa jadi dia sederajat dengan Icana atau mungkin lebih. Yang kedua, ada banyak penyihir dari bangsa siluman yang menghipnotips para prajurit itu. Jadi, mungkin kekuatan siluman yang mulai bangkit menyebar secara merata.
Mau kemungkinan mana pun semuanya terdengar mengerikan bagiku. Karena, semua itu menandakan bahwa kebangkitan raja siluman sudah semakin dekat.
“Tunggu, tadi Nona bilang bahwa Schew juga bersama Anda saat tanpa sengaja bertemu prajurit sihir itu?” aku sedikit panik.
“Benar, Yang Mulia.”
“Apa ada keanehan atau sesuatu yang berubah dengannya begitu mereka bertemu? Apa dia tidak mengamuk?”
Arabella terkekeh sambil menutup mulutnya.
“Kukuku… ternyata Yang Mulia begitu khawatir pada Schew. Tenang saja, dia baik-baik saja. Lagi pula dia bukan darah siluman murni, kan? Saya yakin dia akan baik-baik saja meskipun ada sihir bayangan milik siluman di dekatnya.”
Mendengar itu aku jadi cukup lega. Bagaimana pun dia adalah mantan bawahan raja siluman dan salah satu yang memiliki kekuatan sihir tinggi.
“Oh, iya. Apa Nona juga memberitahukan ini pada Baginda Raja?”
“Untuk saat ini sih, belum. Apa perlu saya laporkan pada beliau?”
“Tidak perlu. Justru sebaiknya Nona menjaga informasi ini rapat-rapat.”
Jujur aku sudah tidak percaya pada ayah kandung Rafael itu. Aku merasa tidak sebaiknya menyerahkan semua informasi ini kepadanya.
“Hehehe…” Arabella tertawa kecil.
“Saya senang, akhirnya Yang Mulia mau menyentuh saya lagi.” ujarnya.
Begitu dia mengatakannya, aku baru menyadari bahwa saat ini tanganku ada di pucuk kepala gadis itu dan menepuknya lembut. Ini gara-gara kebiasaanku menepuk-nepuk kepala Jihan. Dan ukuran tubuhnya pun sama dengan Jihan. Jadi, pasti tanpa sadar aku melakukannya. Lalu, aku pun menarik kembali tangan itu.
“Hm… saya mau kembali berlatih. Sebaiknya Nona pulang dulu saja. Saya pasti akan lama.” ujarku yang kemudian langsung meninggalkan Arabella.
Arabella tidak menghiraukan permintaanku dan tetap berada di sekitar arena. Aku tidak begitu peduli dia akan pulang atau tidak sebenarnya. Kalau dia tetap mau di arena juga tidak masalah, asalkan dia tidak berisik dan mengganggu sudah cukup.
Latihan ilmu bela diri bersama Nyonya Sheon kembali dimulai. Dia yang sudah melihat kemampuanku bertarung dengan tangan kosong, tetap memintaku untuk berlatih pedang. Aku pikir juga tidak ada salahnya. Pasti ilmu pedang itu juga suatu saat akan berguna. Untuk menghunus jantung raja siluman misalnya.
Seperti tadi, wanita yang mendapatkan gelar Marchioness dari ayahnya itu melatihku dengan begitu tegas. Meskipun kebanyakan yang diperintahkannya berbunyi “maju!”, “serang!”, “tusuk!”, dan “lompat!”, karena dia juga mencontohkannya, aku cukup paham.
“Hm? Kenapa penjaga pintu arena berlari ke mari?” gumam Nyonya Sheon.
Kami berdua berdiri dari kuda-kuda kami. Melihat Nyonya Sheon yang begitu serius melihat penjaga pintu arena yang menghampiri kami, aku juga ikut menengok melihatnya.
Penjaga berbaju zirah itu begitu panik dan tergesa-gesa. Jarak dari pintu arena menuju tempat kami cukup jauh, pasti dia merasa lelah berlari ke sini. Lalu, ada satu hal lagi yang ku perhatikan darinya. Dari balik helm-nya, darah segar mengucur perlahan.
Aku yang merasa khawatir segera berlari mendekatinya. Tetapi belum juga aku sampai, penjaga itu terjatuh ke tanah.
Para prajurit lain yang melihatnya juga ikut mendekat padanya. Beberapa orang lain berinisiatif membawa tandu untuk membawa penjaga itu.
“Yang Mulia… lari…” ujarnya sayup-sayup ku dengar.
“Ada apa ini?” Marchioness Sheo yang ikut mendekat bertanya.
Kudekatkan telingaku ke mulut penjaga itu untuk mendengarkan apa yang ingin dia katakan.
“Yang Mulia saya saja yang…” Nyonya Sheon berusaha mencegah, karena tidak seharusnya ini dilakukan seorang putera mahkota.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Biar saya saja.” responku.
Aku lanjut mendengarkan penjaga itu berbicara.
“Ada… ada anjing raksasa… Yang Mulia, lari lah!”
Dahiku berkerut karena perkataannya. Anjing raksasa? Apa maksudnya…
‘DHUAAAAKKKKK!!!’
Suara keras seperti bangunan runtuh terdengar. Dari arah sumber suara, orang-orang mulai berlarian dan berteriak minta tolong.
“ANJING SILUMAN MENGAMUK!!” seru orang-orang itu bersahutan.
“DRRUUUAAKH!!”
Suara reruntuhan itu kembali terdengar. Kali ini diiringi dengan hentakan keras ke tanah dan suara lolongan anjing.
“AAAAUUUUUUUUUUUU!”
Arabella yang ketakutan pun bersembunyi di belakangku dan menarik bajuku.
“Itu… bukan Schew kan?” lirihnya.