- THE DANGER IS GETTING CLOSER 2nd Part -

1211 Kata
Selama hidup di dunia, aku selalu meyakini bahwa segala hal harus dilakukan dengan sabar. Kita harus menikmati prosesnya dari hal kecil di awal hingga semakin besar sampai akhir. Namun, begitu masuk di dunia ini agaknya aku harus membuang keyakinan itu. Karena belum sampai 3 hari penuh aku di dunia ini, sudah dihadapkan dengan masalah besar. “Itu bukan Schew, kan?” tangan Arabella yang menggenggam hem lengan bajuku bergetar. Sama sepertiku, dia pasti merasa takut dan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Borzoi hitam jelmaan Schwarlk yang dari awal sudah dikatakan besar, menjadi semakin besar dan terlihat kejam. Dari mulutnya, mencuat gigi taring sebesar tanduk. Bola mata hijaunya kini berubah merah. Lalu, bau anyir darah tercium samar meskipun jarak kami masih cukup jauh. Wujud borzoi hitam yang menyeramkan itu pernah kulihat sebelumnya. Dalam game komputer yang Jihan mainkan tentunya. Ini adalah salah satu event yang muncul pada rute Schwarlk. Tetapi dari time line cerita, bukankah seharusnya event ini terjadi saat Arabella masih di sekolah sihir? Karena, ini adalah event yang menentukan keberhasilan Arabella mendapatkan hati Schwarlk seutuhnya di bagian awal. Aku ingat betul, seharusnya ada aku, Andreas, dan seorang target lagi yang menghadapinya bersama-sama. Tetapi, pada akhirnya Arabella lah yang memurnikan Schwarlk, sehingga dia tidak berontak lagi. “Yang Mulia, Nona Arabella, sebaiknya kalian berdua pergi ke tempat yang lebih aman dulu. Di sini biar saya yang hadapi.” Andreas tiba-tiba muncul dengan secepat kilat. Sepertinya dia berlari ke sini dengan sihir penambah kecepatan di kakinya. “Saya juga akan bertahan di sini. Serahkan semuanya pada kami.” timpal Marchioness Sheon. Mereka berdua berdiri di depanku dengan posisi melindungi. Sementara, borzoi raksasa itu semakin mendekat pada kami. “Larilah, Yang Mulia!” seru Andreas. Pada dasarnya aku juga merasa belum mampu menghadapi monster sebesar itu. Jadi, aku pun mengikuti perintah Andreas untuk mundur. “Kuserahkan pada kalian.” kataku sebelum melangkah mundur. Dalam langkah ke 7 aku kembali berbalik, lalu berteriak, “Hadapi semampunya saja! Awas kalian kalau mati!!” Setelah itu, aku segera lari dari tempat itu tanpa mempedulikan Arabella yang melihatku dengan tatapan tidak percaya. Rafael yang asli tidak akan melakukan hal yang sama denganku. Dia adalah cerminan nyata seorang pangeran dari negeri dongeng. Dia sangat pemberani dan setia kawan. Jadi, dia pasti akan lebih memilih tetap tinggal dan menghadapi borzoi itu bersama Andreas dan Nyonya Sheon. Selain aku, Hilda juga ikut berlari menghindar. Sedangkan, Arabella tetap berada di tempat tadi. Sungguh dia gadis yang sangat gegabah. Mentang-mentang dia memiliki sihir cahaya, apa dia pikir bisa mengalahkan Schwarlk saat ini? Padahal sihir cahayanya belum bangkit sepenuhnya. Tujuan lariku saat ini adalah portal teleportasi yang ada di beberapa titik arena latihan ini. Sayangnya, aku tidak tahu di mana titik itu berada. Karena itu, aku sengaja memperlambat lariku agar Hilda bisa berlari di depanku. Begitu Hilda mendahuluiku, aku segera mengikutinya. Karena dia cukup lama di istana ini, seharusnya dia tahu di mana titik teleportasinya. Hilda kemudian berhenti di depan kerumunan. Postur tubuh mereka belum terlalu kekar seperti seniornya, mungkin mereka calon prajurit baru. Mereka masih terlalu muda dan kekuatan mereka belum terlalu layak, jika mereka tetap di sini hanya akan jadi pengganggu. “Hosh… hosh…” Mendengar napasku tersengal-sengal, Hilda menengok. Dia begitu kaget saat tahu aku ada di belakangnya. “Yang Mulia! Kenapa Anda di sini?” sentaknya. Setelah napasku lebih teratur, aku menyahut, “Aku juga ingin lari. Memangnya kamu saja yang boleh?” “Huh… bukan begitu maksud saya. Yang Mulia punya tempat teleportasi sendiri, bukan di sini.” jelasnya. “Oh…” bibirku membulat. Seolah tahu bahwa aku tidak tahu di mana tempat teleportasi yang dimaksud, Hilda menarikku untuk ke sana. Berbeda dengan tempat tadi, di portal ini tidak ada siapa pun. Desainnya juga lebih mewah. Saking mewahnya, aku sampai bertanya-tanya, apakah ini benar-benar portal emergency. Tanpa menunggu lagi, aku segera berdiri di atas lingkaran sihir teleportasi bersama Hilda. “Karena saya lelah, mohon diizinkan untuk ikut dengan Anda di sini.” izin Hilda. “Oh, silakan.” sahutku. Jadilah kami berdua berdiri di sana. Beberapa detik berlalu, tetapi lingkaran sihir ini tak juga aktif. Apa jangan-jangan rusak? k*****a tulisan yang terpatri di lingkaran portal itu sambil berjongkok agar lebih kelihatan. Tetapi berdasarkan ingatan Rafael di kepalaku yang terbatas ini, sama sekali tidak ada yang salah di sana. Melihatku yang kebingungan, Hilda bertanya, “Yang Mulia tidak merapal mantera?” YA GUSTI!!! Ternyata harus pakai mantera! Aku pun menegakkan badanku. “Kamu saja yang rapalkan.” perintahku. Hilda mendengus lirih. “Portal ini khusus untuk petinggi kerajaan, jadi ada semacam security pass… maksud saya pemeriksaan keamanan khususnya. Hanya orang setingkat menteri yang diizinkan memakai. Bagaimana bisa saya merapalkannya?” tolak Hilda. Merepotkan sekali portalnya. “Kalau begitu, coba diktekan. Nanti saya tiru.” kalau sudah begini, terpaksa aku harus mengaku kalau aku tidak tahu apa materanya. “Jangan bilang kalau Yang Mulia tidak…” “Sudah, cepat diktekan saja!” paksaku. Sekali lagi pelayan pribadiku itu mendengus. Kali ini dia melakukannya secara terang-terangan. “Wahai Sang Alam…” ucapnya. Aku yang tidak begitu mengerti, mengedipkan mataku beberapa kali. “Yang Mulia, mohon tirukan kalimat tadi.” katanya mencoba sabar. “Wa… wahai Sang Alam…” ulangku. “Nama saya adalah Rafael T’ Danique.” “Bukannya itu namaku?” karena pertanyaan konyolku itu, aku jadi mendapatkan pelototan dari Hilda. “Oke. Oke.” “Nama saya adalah Rafael T’ Danique.” lanjutku. “Bawalah saya ke tempat portal ini menuju.” “Syddhuali hojoha il kovoya namal.” Saat bahasa sihir itu kurapalkan, energi sihirku mulai terserap. Dan energi itu semakin tersedot di lanjutan mantera itu. “Lagat yuo jurog hojoha il alikah parad ALERS!” Suara gemuruh yang disebabkan oleh Schwarlk yang mengamuk mulai mendekat, tetapi pada saat itu juga lingkaran sihir di bawah kami tiba-tiba bersinar begitu terang. Saking silaunya, aku menutup mataku rapat-rapat. Merasa cahaya itu telah meredup, aku pun membuka mataku perlahan. Kini pemandangan di depan mataku telah berubah. Entah di mana saat ini aku berada, yang jelas di sini juga ada raja, Prof. Myer, Marquis Gada, dan para pejabat dan bangsawan lain yang tidak ku kenal. “Puteraku, syukurlah kau selamat.” seorang wanita paruh baya memelukku begitu aku keluar dari lingkaran sihir. Di kepalanya terpasang sebuah tiara yang cukup besar yang menandakan bahwa dia adalah seorang ratu. “Ibunda sangat khawatir saat tahu bahwa Putera Mahkota sedang berada di dekat kemunculan monster itu. Apa Putera Mahkota baik-baik saja?” wanita itu terlihat begitu mengkhawatirkanku. Matanya begitu sembab. Mungkin dia baru saja menangis. “Ananda.” panggil sang raja. “Hormat Ananda pada baginda raja.” Aku baru mau menundukkan badanku, tetapi raja menahannya. “Sudahlah. Ananda ceritakan dulu saja apa yang terjadi di sana.” katanya. “Tuan Brugman mengamuk. Dan saat ini Nyonya Sheon, Andreas, dan prajurit lainnya sedang menghadapinya.” Semua orang di tempat itu nampak panik. Beberapa menggumamkan berbagai hal menanggapinya. “Jadi, monster itu adalah Schwarlk Brugman! Tapi, kenapa tiba-tiba?” “Sudah ku duga ada yang tidak beres dengan siluman itu.” “Dari awal aku juga tidak percaya padanya.” “Kenapa siluman itu bisa ada di istana? Bukankah dia hanya seorang prajurit bayaran?” Dan yang paling lantang adalah, “Ini semua karena kakanda membawa binatang liar itu ke sini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN