- THE DANGER IS GETTING CLOSER 3rd Part -

1155 Kata
“Jihan!” seruku saat menyadari siapa yang berbicara tadi. Gaya berpakaian dan tatanan rambutnya memang tidak seperti Jihan yang seenaknya. Tetapi, wajah dan suara itu jelas sekali mirip dengan adikku. “Apa? Mau protes?” sinisnya. Bahkan wajah nyinyirnya sama dengan Jihan. “Puteri Jean, jaga bicaramu!” hardik wanita paruh baya tadi. Gadis yang dia panggil Jean itu membungkam. Untuk menahan rasa kesalnya, dia menggigit keras bibir atasnya. Caranya menahan amarah pun sama dengan Jihan. Apa mungkin dia… Wajahku saja sama sekali tidak berubah saat datang di dunia ini. Jadi, mungkin saja dia benar-benar Jihan adikku. Tetapi, wanita yang seperti ratu tadi memanggilnya dengan sebutan Puteri Jean. “Maafkan adikmu. Hari ini seharusnya dia ada pesta minum teh, tapi tidak jadi. Duduklah dulu, lalu lanjutkan ceritamu, Ananda.” saran sang ratu. Aku menurutinya, “Baiklah.” Seperti halnya Jihan, ternyata Jean adalah adik Rafael. Tetapi, aku tidak ingat gadis ini ada di game. Jangan-jangan ada event yang terlewat. Pikirku, sudahlah. Hal ini tidak terlalu penting sekarang. Kami berlima, aku, raja, ratu, Hilda, dan perempuan yang mirip adikku pun duduk di kursi yang ditata melingkar dengan meja di tengahnya. Para bangsawan lain juga mendekat dan berdiri di sekitarnya. Baru kemudian, aku melanjutkan ceritaku. “Sebelumnya Ananda ingin meminta maaf lebih dulu kepada Baginda Raja jika yang Ananda katakan terlalu lancang pada Baginda.” Sang Raja merespon, “Aku izinkan kali ini. Cepat katakan!” Terlebih dahulu aku menghirup napas dalam-dalam , lalu mengeluarkannya. “Ini ada hubungannya dengan para prajurit sihir yang baru pulang. Nona Arabella memiliki bakat sihir cahaya. Karena itu, dia bisa mendeteksi keberadaan sihir bayangan milik bangsa siluman. Saya menduga hipnotis dari sihir bayangan yang mereka bawa adalah penyebabnya.” aku menjelaskan. Mendengar istilah sihir bayangan, orang-orang mulai mericau lagi. Bagaimana pun sihir bayangan, terutama dari bangsa siluman termasuk sihir yang langka. Apa lagi, sejak raja siluman disegel, semua pemilik sihir bayangan hampir tidak lagi terdengar dan banyak isu mengatakan bahwa mereka kehilangan kekuatan sihirnya. “Tentunya, semua orang di tempat ini tahu kenapa ‘sihir bayangan’ disebut dengan ‘sihir bayangan’.” Profesor Myer menanggapi penjelasanku, “Karena bayangan baru akan muncul jika ada sinar. Wilayah para siluman adalah hutan belantara yang dipenuhi banyak bayangan pohon yang tinggi, jadi sihir bayangan tidak akan berfungsi di sana.” “Benar. Prof. Myer telah menjelaskannya di kelas kemarin pada saya. Karena itu, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa efek sihir itu muncul setelah keluar dari hutan.” Penyihir tingkat tinggi itu mengangguk membenarkan. “Tapi, kenapa Tuan Brugman bisa lepas kontrol seperti itu?” tanya Sang Ratu. Tadi aku memang meminta Arabella untuk tidak mengatakan apa pun tentang ini. Tetapi, karena situasinya semakin gawat, tentunya aku perlu menjelaskan pada semua orang. Dan karena situasi ini pula, seharusnya raja bisa membuka matanya lebar-lebar dan menyadari bahwa dia terlalu naif dan percaya diri. “Kemarin sore, tanpa sengaja Nona Arabella dan Tuan Brugman bertemu dengan salah satu dari mereka.” “Jadi, maksud Ananda, jika prajurit itu tidak dipulangkan lebih dahulu, kejadian ini akan tertunda?” “Benar, Baginda. Ini juga salah Ananda yang lalai membiarkan Tuan Brugman berada di luar ruangan dan bertemu dengan salah satu di antara mereka. Karena itu, saat ini Tuan Brugman sedang berada di bawah kontrol sihir bayangan. Bisa jadi itu juga tujuan yang sebenarnya dari orang yang memasang hipnotis pada prajurit kita. Agar siluman di kerajaan kita juga mendapat pengaruhnya dan memberontak.” “Dia hanya setengah siluman. Kenapa bisa terpengaruh? Palingan cuma ingin berbuat jahat saja kan dia?” tuduh Jean. Karena tuduhannya ini, aku jadi yakin bahwa dia bukan Jihan adikku. Jika dia adalah Jihan, pasti dia tahu siapa borzoi hitam itu sebenarnya. “Bukankah kalian tahu bahwa Tuan Brugman adalah prajurit bayaran terkuat di kerajaan kita? Sihirnya cukup tinggi juga dan tidak pernah kalah melawan binatang sihir buas manapun. Saya rasa itu alasannya.” Sengaja ku tutupi identitas Schwarlk yang sebenarnya. Aku tidak ingin ada tuduhan lain untuknya. Karena, kenyataannya dia benar-benar sudah tidak peduli dengan kebangkitan siluman setelah dibutakan oleh cintanya pada Arabella. Prof. Myer kemudian maju dan meminta izin, “Baginda, perkenankan saya untuk pergi ke arena. Saya sendiri lah yang akan menghadapinya. Kalau perlu, saya akan mengerahkan menara sihir selatan untuk membantu.” Sang Raja menghela napasnya, kemudian menyetujui, “Baiklah. Hanya ini satu-satunya yang bisa kita lakukan selain menunggu.” Setelah memberi salam, Prof. Myer melangkahkan kakinya menuju lingkaran sihir tadi. Lalu, dengan mantera yang sedikit berbeda dia pun berteleportasi. Dengan perginya Prof. Myer, pembicaraan ini pun selesai. Para bangsawan yang tadinya berkumpul, kini menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Ada pun Baginda Raja, Ratu, dan Jean masih duduk di kursi yang sama. Sementara itu, aku memilih untuk pergi ke toilet. Karena terlalu banyak berlari, membuatku tidak kuat menahan urine di kandung kemih. Saat keluar dari bilik toilet, tahu-tahu Hilda sudah menunggu dan mencegatku di depan. “Kenapa Yang Mulia tidak berada di arena dan malah kabur?” tanyanya. Ternyata di dunia ini ada yang lebih parah dariku dalam hal basa-basi. Pelayan pribadiku ini malah sama sekali tidak berbasa-basi. “Ya… karena, saya gak sanggup menghadapi monster itu.” jawabku. “Tetapi…” Aku memotong perkatan Hilda, “Karena biasanya saya akan berbuat seperti itu? Kamu hafal sekali pergerakan saya sampai-sampai selalu tahu apa yang sedang dan akan saya lakukan.” Pundak Hilda berkedut kaget lalu membuang muka. Dia pasti tidak menyangka aku tahu semua itu. “Apa maksud Yang Mulia?” gadis itu mencoba menyangkal. Ku dekatkan wajahku pada wajahnya dan ku pegang dagunya agar mata kami bisa bertatapan. “Aku tahu semuanya. Bahwa kamu yang memberi tahu Nona Arabella semua informasi tentangku. Karena itu, sekarang dia menjadi kekasihku.” Ku jauhkan kembali wajahku darinya. “Selama ini kamu membuat seolah-olah aku dan Nona Arabella dipertemukan oleh takdir. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.” “Yang Mulia bercanda? Bagaimana mungkin saya…” “Kedatangan Arabella ke arena latihan sudah bisa menjadi bukti. Karena, hanya beberapa orang saja yang tahu di mana aku berada. Dan bukankah tadi kalian datang bersamaan?” “Ta… tadi kami hanya kebetulan bertemu.” Entah berapa lama lagi dia akan mengelak. Menyerah saja kenapa, sih? Toh tidak rugi juga. Kalau begini, terpaksa aku juga akan ikut berbohong padanya. “Kamu pikir saya tidak memasang mata-mata di sekitar Nona Arabella? Dia kekasih saya, sudah sewajarnya bukan? Dan mata-mata saya bilang kamu memberi tahu keberadaan saya hari ini.” Hilda menarik napasnya, lalu mundur beberapa langkah. Dengan matanya yang dia hindarkan dari tatapanku dia terus bergumam, “Ini aneh sekali. Pangeran Rafael seharusnya tidak pernah memasang mata-mata di sekitar Arabella. Memang ada seorang prajurit yang mengikutinya, tetapi saat bertemu denganku dia selalu sendirian. Jadi…” Sayup-sayup aku bisa mendengar gumamannya. Meskipun begitu, aku tidak terlalu fokus. Sehingga tidak bisa mendengarkan sepenuhnya apa yang dia ucapkan. Tetapi, dalam beberapa gumamannya itu aku mendengar sebuah kalimat yang cukup ganjil dari mulutnya. “Ini tidak sama seperti di game.” ucapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN