bc

Jodohku Seleb

book_age18+
94
IKUTI
1K
BACA
possessive
student
drama
sweet
bxg
humorous
city
love at the first sight
actor
like
intro-logo
Uraian

Seorang gadis desa sederhana Nindya Alfara berumur 20 tahun yang tidak suka menonton televisi dan tidak tahu menahu soal artis bertemu dengan seorang selebriti terkenal saat dia menempuh pendidikan di luar kota.

Sebenarnya dia sangat takut dan tidak ingin berpisah dengan kedua orang tuanya merantau, tapi demi pendidikan yang mapan, dia harus rela keluar kota dan bertemu dengan seorang lelaki tampan terkenal itu.

"Hah, dia artis terkenal? Hahaha aku tidak tahu," gumam Nindya heran.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Pasar pagi hari penuh keramaian di desa itu. Nampaknya seorang wanita berbadan tinggi sedang agak berisi, kulitnya putih, ribut sendiri sembari membawa sayur mayur sangat banyak di kanan kirinya. "Misi-misiii!" Teriaknya tanpa beban. Dia terlihat semangat. Saat sampai di parkiran dia berhenti sejenak, membuang nafas nya ter engah dan membetulkan topinya, ditaruhnya sayur mayur itu di tanah, lalu ia melanjutkannya dan menaruh sayur mayur itu ke motor, terlihat sangat penuh sekarang depan motornya, dia sempat bingung apakah dia masih bisa naik motor itu sekarang. "Aduhh gimana ini ya? Ahh bodo amat bisa aja!" Gerutu nya, ia mencoba untuk memaksa saja dan ternyata bisa walau terlihat sangat susah. Brmm... Dia berbelok pelan, lalu menggas motornya. Orang-orang disekitarnya menghindar terkaget-kaget agar tak tertabrak dirinya. Memang sangat bobrok sekali wanita itu seakan dia tak memperdulikan dirinya sendiri bisa jatuh mengendarai motor. . Tak berapa lama ia sampai ke rumahnya, terlihat sangat sederhana terbuat dari kayu di cat putih serta jendela berwarna coklat, asri pesona pedesaan yang tentram. "Emaakkk! Nih sayurannya taroh dimanaa," teriaknya sembari menyandarkan motornya pelan. "Aduhh ganteng bangett andai teh aku punya mantu kayak dia" gumam emaknya yang tak perduli dengan teriakan putrinya tadi, karena beliau sedang asyik menonton televisi karena memang emaknya suka menonton televisi. "Aduhh! EMAAKK?! BERAT NIHH TOLONG..." teriaknya lebih kencang sembari mengeluh. Emaknya pun kaget dan baru tersadar "Eehh ya ampuun anakku Nindyaa! Maaf toh emak nggak denger tadii,"sahut emaknya sembari beranjak menuju Nindya, ya dia bernama Nindya Alfara. Orang tua berbadan pendek kurus itu pun keluar langsung menyambut sayur mayurnya agar Nindya tak keberatan lagi. Mata sipitnya dikernyitkannya, bibir nya yang agak lebih tebal dibawah itupun manyun tanda ngambek kepada emaknya karena emaknya memang kebiasaan selalu lupa dunia kalau sedang menonton tv, apalagi tentang sinetron beromansa cinta dan gosip. "Haduhh kebiasaan deh punya emak, kalau nonton tv nggak ingat lagi sama anak dan lain-lain," keluhnya kesal sembari menurunkan sayuran itu ke teras rumah. "Euhh, emak teh lagi asik nonton sii Sayudhaa, ganteng bangett semoga teh kamu dapat jodoh kayak dia hahaha," Emaknya cengengesan heboh menepak wajah anaknya dengan sayur bayam. "Ihh!! Emak apa-apaan sih ngarang mulu udahh ah," ucapnya merengek kesal sembari menjauh dari emaknya. Emaknya masih saja tertawa. Emaknya memang berjualan sayuran setiap pagi, jadi apabila pagi hari orang-orang yang malas pergi ke pasar bisa datang saja ke rumah mereka untuk membeli sayur agar tak terlalu jauh untuk pergi ke pasar. Mereka juga mengambil sayurannya ke agen nya langsung jadi juga bisa saja untuk dijual kembali. Nindya masuk ke rumahnya kelelahan, namun dia terhenti saat tv di ruang tamunya itu masih benyala, terlihat seorang lelaki yang di idolakannya emaknya tadi masih berada di tv itu, sepertinya dia sedang di wawancara. "Huhh emak kebiasaan.." Tapp Dia mematikan tv itu segera, dia tidak perduli dengan acara tv itu. Nindya memang tidak suka menonton tv, bagi nya tv adalah hal yang membosankan. Dia lebih suka handphone nya, karena zaman sekarang memang anak-anak muda lebih memilih handphone karena fitur-fitur nya memang lebih asyik di banding tv, apalagi sekarang kebanyakan acara yang tidak jelas, maka dari itu Nindya sangat tidak menyukai tv. . Saat dia selesai mandi, dia memeriksa handphone nya. Terlihat sepertinya ia sedang membaca chat seseorang. Hay Nindya, kamu sibuk nggak? Kita ketemuan yuk, Isi chat an itu dari orang yang bernama Danish. "Duh apa-apaan nih Danish, suka banget ngajak gue ketemuan, nggak tau apa gue itu males. Ngenganggu tau nggak, aah," gerutunya. Dia pun membalas pesan itu sopan. Maaf ya Nish, kayaknya gue lagi nggak bisa buat ketemuan. Soalnya tadi bantuin emaknya gue ngambil sayur ke pasar. Jadi capek banget deh sekarang. Balasnya. Danish adalah pemuda desa anak RT tempat Nindya tinggal yang memang naksir dengan Nindya. Namun, Nindya masih belum ingin mempunyai hubungan karena baginya jalannya masih panjang, lagipula umurnya juga baru 20 tahun. Danish terlihat lesu saat menengok handphone melihat balasan Nindya, namun apa boleh buat. Ia pun mencoba menerima itu lalu bilang ke dirinya untuk mencoba nya lagi nanti. . "Bohh tadi teh aku ngeliat si Sayudha tu di tv, katanya teh dia baru beli rumah baru atuh!" ucap emak Nindya klepek-klepek sembari menepuk bahu temannya membeli sayur. Terlihat sekarang sangat ramai ibu-ibu kampung sana membeli sayur emaknya Nindya. Mereka teman-teman emak Nindya juga yang sering bergosip dan berkumpul. Mereka memang sangat mengidolakan aktor pemuda yang bernama Sayudha itu. Sayudha memang orang yang tampan, sudah sangat sukses padahal baru berumur 25 tahun. Sudah banyak membintangi sinetron dan selalu mempunyai rating tinggi di setiap sinetron yang di bintanginya. "Ya ampunn beneran kah Jum," jawab nya tak percaya kepada emak Nindya. "Euhh bener teh Miyah, aku juga tadi liat" sahut yang satu nya lagi meyakinkan. "Aduhhh bener-bener dah ya. Udah ganteng, kaya, ramah lagi uhhh naksir aku!" "Euhh naksir berondong malah dia!" ledek Miyah tak terima. Mereka heboh kelelep sendiri. "Hee aku ya yang ganteng banget" sahut bapak Nindya berbadan berisi berperut agak buncit yang tiba-tiba keluar membawa pancingan. "Heeeh!! Enak aja, kamu teh emang ganteng" emak Nindya mengernyitkan kening. Teman-temannya pun menutup mulut mereka menahan tawa. "Woh jelas lah maka dari itu kan kamu cinta mati sama saya hihihi" bapak Nindya nyengir, "Ganderuwo diatas genteng!" Sambung emak Nindya marah. Teman-teman mereka tertawa lebar mendengar perkataan temannya itu mengolok suaminya yang sangat pede itu. "Yehh jahat bener, tak kira beneran" sahut bapak Nindya bernada rendah kesal sembari menggaruk telinganya. Ia nyengir mendengar perkataan istrianya lalu beranjak dari rumah pergi memancing, emak Nindya menahan tawanya sembari melanjutkan membungkuskan sayuran untuk teman-temannya. . . . Hari ini Nindya terlihat sangat malas. Dia masih mencoba memejamkan matanya berebah di kasurnya dari pagi tadi, dan sekarang pukul sudah menunjukkan jam 10.00 pagi. "Nindyaa!, Nakk... Cepat bangun bantuin emak kerumah bibi Miyah atuhh katanya dia mau dianterin sayur nggak bisa ke sini soalnya anaknya demam nggak bisa di tinggalin," ucap emaknya membangunkan Nindya. Nindya menggeliat, terlihat sangat terganggu dan kesal. Namun, dia mencoba bangun. "Duhh ah! Iyaa bentar lagi" tawar Nindya malah memeluk gulingnya. "Euhh! Kapan lagi atuh ini nih udah jam 10! Mana nunggu kamu mandi lagi nanti jadi kapan nganternya!" bentak emaknya kesal sembari menggoyangkan bahu putrinya agar lekas bangun. "Hmm... Iya iya!! Ahh," ucapnya kesal sembari mencoba bangun. Nindya pun pasrah lalu dia bangun dari tidurnya, dia terduduk sejenak mengumpulkan nyawa nya yang masih belum terkumpul sempurna saat dia baru bangun ini. "Naah gitu dong, cantik banget, pinter lagi anak mama," ujar emaknya memuji tersenyum lebar sembari mengelus pipi Nindya. Nindya hanya mengerutkan keningnya tanda kesal bahwa emaknya hanya memujinya agar dia lekas-lekas mandi dan berangkat ke rumah bibi Miyah untuk mengantarkannya ke sana. "Ya udah, Nindya mandi dulu," jawab Nindya beranjak dari tempat tidur. *** Mereka pun berangkat dengan menggunakan motor matic sederhana sembari membawa sayur 1 plastik berukuran sedang penuh. Setelah sampai di depan rumah bibi Miyah, mereka pun turun. Mereka pun di sambut dengan senang hati oleh bibi Miyah. . "Aduhh makasih banyak ya, maaf minta anterin soalnya si Rayan sakit baru dari tadi malam katanya kepalanya sakit badannya demam panas banget," kata bibi Miyah tak enak sembari memberikan uang bayar sayur. "Iyaa nggak papaa kayak apa aja kamu ini, kayak sama orang yang nggak akrab aja," jawab emak Nindya tersenyum ramah menerimanya. "Hehehe, iyaa tapi tetep aja ngerepotin," sahut bibi Miyah. "Ehh ya sudah, minum dulu ya! Nih kami buatin minum," sambung bibi Miyah sembari menyodorkan minuman dari anak perempuan pertamanya yang datang dari dapur. "Ya ampunn ini malah kami yang ngerepotin!" Emak Nindya tak percaya. Nindya hanya tersenyum ramah kepada adik perempuan itu. "Terimakasih banyak ya," ucap Nindya kepada anak itu. Dia hanya malu membalas senyuman Nindya menunduk lalu pergi. "Hehehe iyaa sama-sama kakak cantik," sahut bibi Miyah kepada Nindya, Nindya tertawa. Mereka pun santai sambil menyeruput teh hangat buatan anak bibi Miyah tadi. "Apa ada rencana teh Nindya," bibi Miyah membuka pembicaraan. "Rencana apa teh?" tanya emak Nindya. "Rencana, rencana mau kuliah atau kerja di mana gitu," jawab bibi Miyah sembari menyeruput teh menemani mereka. Nindya mengangkat kening nya sembari minum teh itu. "Ooh hehe, iyaa sebenarnya teh aku suruh kuliah kemaren, tapi Nindya nggak mau katanya masih malas merantau ke kota sana jauh. Jadi kami bahas aja dulu tahun ini mau nya gimana si Nindya," kata emak Nindya. "Oohh, hooh benar sih Jum. Jauh soalnya kita ini dari perkotaan, lumayan" sahut bibi Miyah. "Ehehe iya bi, aku malas kalau berpisah sama emak sama bapak. Takut atuh sendirian di sana" Nindya ikut menjelaskan. Bibi Miyah pun mengangguk, menaruh cangkir tehnya di meja. "Kalau kamu mau kuliah tahun ini, kamu mau bareng keponakannya bibi? Dia katanya juga mau masuk ini Nindya, gimana?" tawar bibi Miyah kepada Nindya. Nindy pun bingung, sebenarnya dia tidak ingin kuliah. "Naah iya, jadi enak itu. Aku kalau begitu mengizinkan Nindya kok Miyah," sahut emak Nindya. "Nahh, jadi gimana Nindya?" tanya bibi Miyah nyengir. Nindya bingung, dia menundukkan kepalanya lalu berpikir. Menggerakkan matanya kiri kanan. Emaknya dan bibi Miyah pun bertatapan. "Uhh, kayaknya enggak deh bi, maaf." sahut Nindya berat hati. "Lhoo, gimana kamu ini nak, kalau kamu mau enak nanti cari kerja ya kuliah. Nggak papa kok nanti emak sama bapak jenguk Nindya kok sering-sering." ucap emaknya meyakinkan. Namun, Nindya masih belum memantapkan niatnya. Sepertinya dia memang tidak berniat untuk kuliah. Bibi Miyah pun menyadari hal itu, dia pun tersenyum menatap ke arah emak Nindya untuk memaklumi dan menerima pendapat Nindya. Emaknya pun agak sedih. Namun, ia mengangguk tanda setuju kepada temannya itu. "Ya sudah, nggak papa kok. Nanti kalo misalkan Nindya mau berubah pikiran, nggak papa. Kabarin aja ya bibi. Biar bibi bilangin sama keponakan bibi kalo Nindya mau." ujar bibi Miyah tersenyum ramah kepada Nindya. Nindya sangat senang. "Iya terimakasih banyak ya bi, iya kayaknya aku masih perlu mikir dulu," jawab Nindya nyengir. Bibi Miyah pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Emaknya Nindya hanya menyeringai. "Iya, pikirin aja dulu nak. Emak terserah kamu aja seng penting kamu bahagia." kata emak Nindya mengelus bahu putrinya. "Iyaa, atau nanti kalau Nindya mau kerja aja bisa nanti bibi kabarin ya kalau ada lowongan pekerjaan." tawar bibi Miyah agar Nindya tak terlalu bosan. Nindya sepertinya agak setuju dengan tawaran bibi Miyah satu ini. "Ah iya bi, beritahu saja nanti kalau ada." sahut Nindya senang. "Hmm, ternyata mau langsung kerja aja ya anak emak." jawab emak Nindya menatap teduh ke arah putri tunggalnya itu. Nindya hanya tersenyum malu. Tak terasa mereka pun sudah menghabiskan secangkit teh hangat manis pemberian bibi Miyah tadi. "Nggak kerasa Miyah udah habis nih minuman kita sembari ngobrol-ngobrol tadi hahaha," emak Nindya tertawa. "Hahaha iyaa nggak papa Jum ambil aja lagi kalau mau," sahut bibi Miyah nyengir. "Sudahh. Ini sudah kenyang kok, sudah enak tenggorokan kami sejukk, kayaknya kami mau pamit aja nih." ucap emak Nindya tersenyum lebar sambil berjabat tangan dengan bibi Miyah. "Lho sudah ya?" tanya bibi Miyah tersenyum kecil. "Haha iyaa, terimakasih banyak ya bunda. Lain kali lagi ya kita." ujar emak Nindya beranjak dari sofa ruang tamu. "Iyaa sama-sama bunda. Hati-hati yaa," bibi Miyah cengengesan. Nindya pun juga bersalaman dengan bibi Miyah dan mereka pamit pulang. . "Aku takut ma, kalau merantau itu kan bebas. Jauh dari emak sama bapak lagi," keluh Nindya bingung dan merasa takut. Dia masih memikirkan hal yang tadi sesampainya di rumah. "Iyaa nak, tapi demi pendidikan yang tinggi. Kamu harus rela, soalnya tempat tinggal kita ini jauh dari perkotaan sayang. Bagaimana lagi?" Nindya hanya memanyunkan bibirnya, berjalan ke arah jendela. "Ya sudah, tak apa. Istirahat saja dulu sana," emaknya memegang pundak anaknya, sebenarnya dia juga tidak tega. Nindya terus memikirkan bagaimana ke depannya. Apa dia harus benar-benar kuliah, karena zaman sekarang pekerjaan memang sangat sulit dicari untuk pendidikan yang hanya lulusan SMU seperti dia. Maka dari itu orang tua nya juga rela membiayainya untuk kuliah nanti, agar masa depannya terjamin dan agar dapat membantu emak bapaknya juga. Hmm, bagaimana ya ini? Gumamnya dalam hati. "Apa aku kuliah saja, di pikir-pikir kasihan juga emak sama bapak kalau aku begini-begini aja." serunya sendiri sembari berebah di kasur atas ranjang kamarnya. "Tapi... Kalau aku kuliah, aku nggak mau sendirian. Takut ihh, takut salah cari teman, takut terhasut lalu ter ikut pergaulan yang salah..." "Haduhhh gimana dong," keluhnya sedih, kesal menjauhkan gulingnya ke samping. "Apa aku tunggu kabar dulu aja ya dari bibi Miyah? Siapa tahu ada kerjaan yang nggak bikin aku jauh dari emak bapak kan?" gumamnya merasa dapat solusi. Dia pun tersenyum lega. Lalu menganggukkan kepalanya mantap. "Ahh, iya! Aku tunggu aja dulu kabarnya. Siapa tau rezeki kan, hii!" ucapnya riang memeluk guling kesayangannya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook