03 • Pertemuan pertama

1343 Kata
Aruza Roselin, gadis berumur 10 tahun yang saat ini tengah berdiam di depan sekolahnya, menunggu kakaknya datang menjemput. Ruza telah menunggu selama dua jam namun kakaknya tak kunjung datang untuk menjemput. Gadis manis itu akhirnya memilih pulang dengan berjalan kaki. Saat sampai di rumah, Ruza berganti baju lalu menggoreng telur untuk lauk makannya. Sore harinya Ruza berdiam di depan pintu rumah, menanti kakaknya yang tak kunjung pulang. Ruza takut jika sendirian di rumah, jadi gadis itu lebih memilih berdiam dan menunggu di depan rumah. Setelah beberapa saat kakak Ruza datang. Gadis itu langsung berlari, menuju kakaknya yang masih berada di atas motor. Saat kakaknya melepas helm, matanya melihat memar di wajah kakaknya. "Kakak," panggil Ruza sambil memegang lengan kakaknya. Kakak Ruza hanya diam dan turun dari motor lalu meninggalkan Ruza yang masih berdiam di garasi. Namun dengan cepat Ruza berlari menyusul kakaknya. Gadis itu mengikuti kakaknya sampai ke kamar kakaknya. "Kak," panggil Ruza lagi sambil meraih jaket kakaknya. Kakak Ruza tidak menanggapi panggilan Ruza. Cowok jangkung dan tampan itu berganti baju lalu mengobati lukanya. Ruza menyentuh lengan kakaknya yang terluka. "Sakit?" tanya gadis itu. Kakak Ruza lagi-lagi tidak menanggapi dan membiarkan apa yang Ruza lakukan. Cowok itu memilih fokus mengobati lukanya. Kakak Ruza yang tidak menanggapi pertanyaan Ruza membuat Ruza kembali bertanya. "Lengan kak Hades kenapa?" tanya Ruza, merasa sedih melihat memar di tangan kakaknya. Hades menatap Ruza. "Gapapa," sahut cowok itu. "Mau Ruza bantu obatin?" "Gausah." Hades membereskan kotak obatnya. Menuju ke dapur, hendak memasakkan makanan untuk Ruza. "Udah makan?" tanya Hades, karena telur yang tadinya berjumlah 6 menjadi 5. "Udah, tadi Ruza masak telur sendiri." Hades duduk di kursi dan memegang wajah adiknya. "Dirumah dulu. Gue mau keluar lagi." "Mau kemana? Ruza ikut ya?" tanya Ruza, menatap kedua bola mata kakaknya, berharap kakaknya mengijinkannya untuk ikut. "Diem di rumah!" perintah Hades dengan nada yang mulai kasar. Jika menggunakan nada lembut adiknya akan semakin melunjak. "Tapi Ruza mau ikut Kak Hades." Hades menghela napas, tidak memperdulikan Ruza. Cowok itu berjalan ke kamar, kembali memakai jaketnya lalu pergi ke luar, hendak menaiki motornya. "Kak, Ruza ikut," rengek Ruza. Dari atas motor Hades sedikit menunduk dan menatap wajah adiknya. "Kalo mau ikut jangan nangis!" ucap Hades dengan tegas. Bibir Ruza cemberut, gadis itu mengelap air matanya lalu memegang lengan sang kakak. "Ruza naik?" "Ganti baju dulu!" "Baju apa?" Hades melepas helmnya, merapikan rambutnya sambil menghela napas. Cowok itu turun dari motor dan langsung menggendong Ruza. Setelah sampai di kamar adiknya, Hades membuka lemari dan lagi-lagi cowok itu menghela napas. "Baju warna hitam?" tanya Hades karena hanya melihat deretan baju berwarna cerah di lemari Ruza. Ia yang membelikan adiknya baju, namun ia tidak sadar warna apa saja yang ada di lemari adiknya. Ruza turun dari gendongan Hades, berlari menuju lemari satunya dan membuka laci paling bawah. Gadis itu mengambil sebuah rok dan menunjukkannya pada Hades. "Ada ini," ucap Ruza dengan ceria. Hades menghela napas. "Gausah ikut," ucap Hades sambil berjalan pergi, keluar dari kamar Ruza. Hades enggan membawa Ruza jika bocah itu tidak memakai pakaian gelap. Sambil membawa roknya Ruza berlari mengejar Hades. "Kak," panggil gadis itu. "Kak." Ruza terus mengejar Hades sampai halaman depan. Hades menghentikan langkahnya, menggendong Ruza dan mendudukkan Ruza di motornya. "Kalo lo rewel lagi, gue buang," ucap Hades, memberi adiknya peringatan terakhir. Setelah mengatakan itu, Hades melajukan motornya menuju salah satu toko baju. Cowok itu membeli baju serba hitam dan membeli sebuah topeng mata berwarna pink. Niat awalnya membeli topeng berwarna hitam, namun sayangnya tidak ada. Ruza berganti baju dan kembali di gendong oleh Hades. Hades terlalu malas jika harus menunggu jalan Ruza yang lambat, jadi lebih baik ia gendong. Cowok itu melajukan motornya menuju salah satu club di kota tersebut. Sebelum turun dari motor Hades memakaikan topeng yang tadi ia beli pada Ruza. Karena membawa adiknya, Hades tidak melewati pintu utama club, melainkan melewati pintu samping. Ia bisa dengan mudah membawa Ruza masuk karena ia kenal dekat dengan penjaga club. Wajar saja karena pemilik club adalah salah satu anggota Deluc. Hades membawa adiknya ke salah satu bar yang ada di sana. "Inget, ga boleh lihat sana-sini. Lihat gue! Kalau lo lihat kemana-mana, lo gue tinggal, ngertikan?" Ruza menanggapi ucapan Hades dengan anggukan. Fokus mata Ruza terus terarah pada apa yang dilihat Hades. Gadis itu tidak berani melanggar perintah kakaknya. "Ruza juga mau minum," pinta Ruza karena melihat kakaknya minum tanpa menawarinya. "Peraturan pertama, jangan rewel, peraturan kedua sama dengan yang pertama. Jadi diem aja, oke?" Ruza menatap kakaknya dengan pandangan tidak suka. Gadis itu hanya diam sambil memainkan jarinya. Seorang cowok tiba-tiba duduk disamping Hades. Cowok itu adalah Theo. Theo tidak menyapa Hades, hanya duduk sambil meminun alkohol. Hades menatap Theo. Tangannya memainkan gelas berisikan minuman itu. "Sendiri? Empat temen lo kemana?" tanya Hades, memulai percakapan. "Mereka kumpul di deket alun-alun, gue nyusul agak nanti," jawab Theo sambil menatap gadis kecil di samping Hades, merasa heran karena ada anak kecil di club malam. Ruza menatap kakaknya dan memegang erat lengan kakaknya. "Pengen pipis." Mendengar ucapan Ruza, Hades merasa ingin melempar adiknya yang sangat merepotkan dan menyusahkan itu. "Pipis ya pipis aja!" Mengapa ia dengan gila membawa adiknya kesini. Sekarang ia menyesal. "Kak..." rengek Ruza, lagi. "Lo anggota Deluc kan? Berarti gue ketua lo dan lo di bawah gue. Jadi lo urus dulu tu bocah!" perintah Hades pada Theo. Hades berdiri, berjalan pergi meninggalkan adiknya. Theo mengerutkan dahinya sambil melirik Ruza. Sedangkan Ruza mengejar kakaknya. Namun tangan Theo dengan cepat mencegah Ruza. "Lepas!" Ruza menatap tajam Theo dan berusaha menyingkirkan tangan Theo dari perutnya. Theo meneguk habis alkoholnya lalu mengangkat Ruza dan membawa gadis itu menyusul Hades. "Anak lo?" tanya Theo dari belakang Hades. "Gila lo, bawa aja dia ke tempat balapan. Gue mau main." Tangan Ruza meraih bahu kakaknya. "Kak..." panggil Ruza. "Diem sama dia atau lo gue jual!" ancam Hades, membuat Ruza langsung terdiam. Setelah Ruza terdiam Hades melanjutkan langkahnya, pergi memasuki sebuah ruangan. "Mana rumah lo? Gue anter pulang," ucap Theo. Ruza menatap Theo tidak suka, gadis itu berusaha turun dari gendongan Theo. Theo yang sudah malas dengan Ruza menurunkan bocah itu dari gendongannya. Memang Hades penuh kejutan, tidak ia sangka seorang ketua Deluc pergi ke club malam sambil membawa bocil SD. Ruza berusaha masuk ke ruangan yang tadi dimasuki oleh kakaknya. Namun percuma saja karena ruangan itu terkunci. Sedangkan Theo hanya melihat kelakuan bocil satu itu sambil menghisap rokoknya. "Coba buka topeng, nanti gue bawa lo masuk." Ruza lagi-lagi menatap Theo dengan tajam. Gadis itu memegang topengnya. "Gak akan!" tegas Ruza sambil melotot. "Punya wajah burik ya dek?" tanya Theo dengan nada yang sedikit mengejek, merasa sebal dengan Ruza. Ruza berbalik dan melempar Theo dengan sandal, tidak terima jika Theo menghinanya. "Ck," decak Theo, melihat sandal yang mendarat di depannya. Bocil tenaga semut mau menantangnya? Lucu sekali. Setelah melempar sandal yang tidak bisa mengenai Theo. Ruza mengambil kembali sandalnya dan memukul lutut Theo dengan sandal. Lalu gadis itu berjalan menuju pintu ruangan dan kembali mencoba membuka pintu ruangan itu. Theo hanya menatap Ruza, aneh. Pukulan sandal di lututnya sama sekali tidak terasa. Ia sampai sempat merasa heran. Apakah ia yang terlalu kebal atau bocil itu yang memang tidak bertenaga. "Percuma lo buka, kakak lo dah kabur, lo dijual ke gue," ucapnya menakut-nakuti. Ruza semakin sebal dengan Theo. Gadis itu datang mendekat pada Theo yang sedang duduk berjongkok. "BOHONG!!" teriak Ruza di depan Theo. Theo menyinggungkan senyum smirknya, lalu cowok itu berdiri dan berjalan pergi. Ruza membiarkan Theo pergi. Sampai beberapa saat kemudian gadis itu mengejar Theo. Gadis manis itu terlalu takut sendirian, apalagi di tempat yang sebelumnya belum pernah gadis itu kunjungi. Dari firasatnya, Theo tau bahwa Ruza mengejarnya. "Bocil," ejek Theo dengan pelan tanpa terdengar oleh Ruza. Theo tersenyum, merasa puas. Entah mengapa ia merasa seru mempermainkan bocil bertopeng itu. Jarang-jarang ia mendapat hiburan seperti ini. ••***•• "Andai gue masih punya Ayah Bunda, pasti gue minta adik, biar rumah itu rame dan gue ada harapan setiap pulang ke rumah" "Sayangnya Ayah Bunda udah gaada, jadi keramaian yang gue harapin cuman angan, wkwk" - Antheo Killian - ••***••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN