Chapter 7 Hati-hati

1166 Kata
Selin membulatkan matanya terkejut. “Nah gitu dong, diem.” Satria menatap isi kulkas. Mencari-cari siapa tahu ada yang bisa ia minum untuk menghilangkan rasa hausnya. “Lo m***m ya!” pekik Selin. Satria tersenyum saat ia memilih mengambil air dingin. Mungkin hanya itu satu-satunya yang bisa ia minum. “Biar kamu diem karena kamu berisik.” Satria melangkah mengambil gelas dan kemudian menuangkan air dingin tersebut. Selin memilih untuk melangkah pergi meninggalkan dapur. Perempuan itu belajar bahwa cara terbaik melindungi dirinya adalah menjadi tenang. Satria sepertinya tidak suka terlalu berisik. Jadi Selin akan mempermudah hidupnya. Setelah memasuki kamar, Selin segera membuka jendela kamar. Ia lebih suka udara segar dari jendela yang terbuka dibanding kamar yang terasa sejuk karena AC. Jadi meski ada AC di kamarnya, ia lebih sering membuka jendela. Bisa dibilang, AC hanya dinyalakan saat ia benar-benar merasa gerah atau sesekali saat malam. Selin merebahkan dirinya di atas ranjang dan kemudian terdiam menatap langit-langit kamar. Andai saja saat itu ia lebih memilih mengurung diri di kamar ini setelah kembali dari rumah orang tuanya, bukankah akan jauh lebih baik? Ah, mengenai orang tua. Selin bahkan tidak tahu harus bagaimana memberitahu mereka. Mungkin Selin tidak akan memberitahu. Lagi pula ini hanya satu tahun dan pernikahan ini pada dasarnya memang disembunyikan kan? Selin masih tidak paham kenapa ia harus bertahan satu tahun. Padahal kalau soal membantu penyamaran Satria atau membantu misi ini, Selin bisa bersikap kooperatif tanpa harus tertahan dalam pernikahan. “Berantakan.” Selin langsung terduduk begitu mendengar suara Satria. Ia tidak dengar kalau pintu kamarnya terbuka. Tahu-tahu Satria sudah masuk ke kamarnya. “Siapa yang ngizinin lo masuk?!” “Oh jadi gini kamar istriku,” ucap Satria seolah meledek. Selin langsung bangkit dan menarik tangan Satria. Berusaha memaksa lelaki itu keluar meski kelihatannya tidak mungkin. Tenaga Satria jelas lebih kuat jadi sekeras apapun Selin berusaha menariknya, lelaki itu tetap bertahan di pijakan. “Lo nggak sopan banget sumpah!” Satria nampak tidak peduli dan ia mengedarkan pandangan ke seluruh sisi kamar. Selin memilih menutup mata lelaki itu. Ia malu. Tentu saja. Ini ranah privasi dan kondisinya memang berantakan. Lalu orang asing seperti Satria tahu-tahu masuk kesini. Selin menjadi merasa sangat tidak nyaman. Satria menyentuh tangan perempuan itu dan dengan mudah menyingkirkan tangan Selin yang menutupi pandangannya. “Keluar nggak!” Satria terdiam menatap mata perempuan itu. Kali ini sangat jelas bahwa Selin benar-benar marah. Tatapan mata perempuan itu menunjukkan semuanya. “Telepon aku besok biar aku jemput. Kabari juga kalau sudah selesai berberes. Anak buah aku akan bantu pindahan. Jangan lupa besok kita harus makan malam sama papa. Jadi maksimal sore, semuanya harus sudah selesai.” Satria lantas melangkah keluar. Selin menghela napasnya. Ia ikut keluar untuk memastikan Satria benar-benar pergi. Dan ya, lelaki itu pergi. *** Keesokan harinya.. Selin melangkah lemas memasuki kamar barunya. Tempat ia akan menghabiskan waktu satu tahun kedepan. Dirinya kembali siang hari kemari. Sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu lebih lama di apartemennya itu. Hanya saja teringat kalau ia harus membereskan barang-barangnya di kamar baru, Selin bergegas. Ada banyak barang namun itu tidak sampai membuat kamarnya penuh. Kamar ini benar-benar luas. “Kenapa nggak nelpon?” Selin hanya memutar bola matanya malas saat mendengar suara Satria. Lelaki itu sudah kembali ternyata. Tadi saat Selin tiba dan mengawasi orang-orang yang mengantar barangnya, lelaki itu tidak ada. “Nggak perlu. Aku bisa urus sendiri.” Satria menatap kardus-kardus yang begitu banyak. “Siapa yang bantuin kamu mindahin ini?” tanya Satria. “Sayangnya aku,” ucap Selin. Ia lantas melangkah mendekati koper berukuran besar. Hanya beberapa pakaiannya yang ada disana. “Selin. Aku serius. Siapa aja yang mindahin barang ini kesini?” Lelaki itu tahu-tahu menyentuh kedua pundak Selin. “Jasa pindahan langganan aku,” sahut Selin cepat. Satria menghela napas. “Aku udah bilang kan untuk telepon. Biar anak buah aku yang urus ini semua.” “Udahlah. Udah selesai juga. Nggak usah lebay” Selin menepis tangan lelaki itu dan melanjutkan langkahnya sembari menarik koper mendekati lemari. “Kamu biarin orang asing masuk kesini dan tahu kamu tinggal disini. Mereka bakal curiga ngeliat kamu di apartemen elit begini. Kenapa kamu nggak hati-hati?” Selin langsung menoleh. “Eh, Bang. Mereka itu langganan bertahun-tahun dan mereka selalu jaga privasi klien. Kenapa emangnya kalo mereka tahu gue tinggal disini? Mereka bakal mikir gue simpenan Om Om karena bisa tinggal di gedung mahal ini?” tanya Selin. “Suatu saat bisa aja pengetahuan mereka membongkar kita.” Selin berdecak. “Lo nggak ada disini tadi dan itu cukup membuat mereka beropini gue tinggal sendiri. Lagian lo juga nggak ada majang foto apapun di dinding jadi nggak ada yang tahu ini tempat tinggal laki-laki. Kenapa sih lo takut banget? Mereka itu bisa dipercaya tau!” Selin membuka lemari dan terkejut saat menemukannya sudah terisi penuh. Yang membuatnya lebih terkejut adalah karena pakaian yang berada disana merupakan barang-barang branded. “Ini. Kenapa disini?” tanya Selin. “Untuk kamu. Pakai aja.” Selin selalu ingin memakai semua merk ternama itu namun ia tentu tidak bisa menghamburkan uang yang dikumpulkan susah payah. Lalu sekarang semua itu ada di hadapannya seperti ini? Ia pasti bisa gila. “Lo gila? Kalo pakaian gue tiba-tiba berubah jadi branded gini, bakal memancing kecurigaan orang kantor tau.” “Kalo gitu pake pas ketemu Papa aja. Papa akan ngira aku nggak menafkahi kamu kalau kamu masih pakai pakaian yang seperti biasanya.” Selin tahu bahwa pakaiannya adalah pakaian murah jadi ia seharusnya tidak perlu tertohok dengan ucapan jujur Satria itu. “Oke. Karena udah dikasih, ya mau nggak mau harus gue terima.” Selin akan memakai itu disini, hanya di kamar ini saja. Ia jadi tidak sabar memakainya. Biar bagaimana pun ia tidak bisa membohongi diri kalau ingin memakai semua itu. Hanya saja ia kemudian teringat bahwa bisa saja ini ditagih sebagai hutang. Jadi Selin harus benar-benar sadar dan tidak boleh gelap mata. “Gue cuma akan pake ini untuk nemui Papa. Jadi bisa nggak ini ditaroh di kamar lo aja? Pakaian gue banyak dan lemari ini nggak bakal cukup.” Satria mengangkat satu alisnya. “Kamu juga bisa pake ini kalau mau main atau me time. Asal nggak ada orang kantor yang lihat, semuanya akan baik-baik aja kan?” tanya Satria. Selin tidak ingin tergoda dan ia tidak boleh tergoda. Hanya saja tiba-tiba sebuah pemikiran muncul. “Sebentar.” Selin langsung menoleh pada Satria. “Lo bilang kalau ada yang tahu gue tinggal disini, bisa aja suatu saat membongkar rahasia kita. Tapi gimana sama orang-orang yang tinggal disini? Yang ngeliat gue mondar mandir tiap hari?” “Jangan khawatir. Privasi penghuni terjaga. Selain itu, gedung ini punya Papa.” Mata Selin mendelik. “Gedung ini?” tanya Selin terkejut. Ia tahu kalau Satria dari keluarga kaya. Hanya saja ia sungguh tidak menduga benar-benar sekaya ini. Satria mengangguk. Lelaki itu merogoh sakunya dan kemudian mengeluarkan kotak beludru dari sana. “Apa ini?” tanya Selin. “Cincin nikah. Pakai. Supaya lelaki yang mendekat tahu kalau kamu punya suami,” ucap Satria.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN