Selin menatap pantulan tubuhnya di cermin. Pakaian mahal itu menempel sempurna di tubuhnya. Harganya jelas jauh lebih besar dibanding gaji bulanan Selin. Jauh lebih mahal juga dibanding harga sewa tahunan apartemennya. Selin bahkan sangat yakin kalau harga total outfit ini cukup untuk membangun rumah mewah di desanya.
“Wow. Satria bener-bener kaya, ya?” tanya Selin pada dirinya sendiri.
Selin mengambil ponselnya dan segera berfoto mirror selfie. Ia terlalu cantik dalam balutan pakaian mahal ini jadi harus diabadikan.
Suara ketukan tiba-tiba terdengar. Ini saatnya untuk berangkat menuju rumah mertua. Selin mengambil kotak beludru dari atas meja riasnya. Dipakainya cincin pemberian Satria itu. Harga cincin ini pasti mahal jadi Selin tidak akan sering-sering memakainya. Tidak peduli dengan arahan lelaki itu agar Selin terus mengenakan cincin nikah. Tentu saja tidak akan Selin lakukan. Pernikahan ini hanya untuk satu tahun dan Selin tidak mau melepas kesempatan yang mungkin datang selama satu tahun ini. Who knows ada yang ingin mendekatinya? Selin tentu akan profesional sesuai misi dan kesepakatan dalam pernikahan ini. Hanya saja khusus memakai cincin, ia tidak akan melakukannya demi kebaikan sendiri.
Selin membuka pintu dan kemudian menatap Satria. Lelaki itu nampak terpaku sejenak menatap Selin.
“Kenapa? Gue cantik banget ya?” tanya Selin percaya diri.
Satria mengangkat satu alisnya.
“Kita cuma makan di rumah papa. Bukan candle light dinner.”
Apa Satria baru saja bilang kalau Selin salah kostum?
“Ini terlalu heboh ya? Kalo gitu gue ganti aja deh.”
“Lama. Udahlah ayo berangkat.”
***
“Papa paham kemarin kalian repot pindahan dan mengurus banyak hal. Tapi malam ini memangnya tidak bisa menginap disini?”
Selin tidak tahu seperti apa rasanya tinggal di tempat seperti ini meski hanya semalam. Ia bahkan sebenarnya sangat ingin berkeliling. Pasti rumah ini sangat luas. Hanya saja malu kalau ada Pak Sandi. Akan tetapi kalau menginap disini, Selin bisa mati kutu karena salah tingkah. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana supaya tetap sopan di mata konglomerat. Padahal sungguh jiwa kampungnya meronta ingin mengabadikan semua hal mewah di rumah ini. Di desanya, tidak pernah Selin lihat rumah dengan plafon semewah dan setinggi harapan keluarga besar seperti ini. Belum lagi semua interiornya. Selin ingin menyentuh seujung jari saja setidaknya sekali seumur hidup. Barang-barang mewah yang Selin yakin harga minimalnya tiga digit.
“Besok kami harus bekerja, Pa. Ada banyak juga yang harus didiskusikan.”
Selin hanya mengangguk atas apa yang Satria ucapkan. Ia mengikut saja.
“Baiklah. Selin, kamu sudah siap kan besok untuk bersikap biasa saja?”
“Siap, Pak. Saya akan profesional sesuai rencana. Saya juga akan mulai mengintai besok.”
Pak Sandi tersenyum.
“Semoga pekerjaan kalian berjalan lancar. Selin kalau kamu butuh bantuan apapun untuk misi ini, jangan sungkan hubungi saya. Jangan sungkan juga minta bantuan Satria.”
Selin mengangguk.
“Pak saya boleh bertanya?” tanya Selin tiba-tiba.
Satria pun langsung menatap ke arah perempuan itu. Selin tidak peduli. Ia baru terpikir hal ini setelah berdamai dengan keadaan.
“Kalau misalnya pelaku terungkap lebih cepat, apa pernikahan ini juga bisa berakhir cepat?” tanya Selin hati-hati.
Pak Sandi menatap Satria sejenak kemudian terkekeh.
“Selin. Sesuai perjanjian kalian harus bertahan satu tahun. Mengenai misi itu, kalian juga tidak bisa gegabah dan terburu-buru. Masalah ini sudah tersistematis selama bertahun-tahun tanpa bisa saya tahu. Jadi benar-benar harus berhati-hati. Salah pergerakan karena terburu-buru, semuanya bisa hancur. Kami tidak tahu siapa musuh dalam selimut disini. Itu rumit dan berbahaya.”
Selin mengangguk paham. Itu artinya satu tahun tetap akan berjalan sesuai kesepakatan. Tidak ada diskon percepatan waktu meski rencana berhasil lebih cepat.
“Kalau secara natural semuanya terbongkar sebelum satu tahun, Pak?”
Bukan bermaksud bernegosiasi, Selin hanya mempertanyakan term and conditions lanjutan dari kesepakatan ini. Supaya lebih jelas apa yang harus dilakukannya kedepan.
“Apapun itu, pernikahan kalian tetap setahun. Setahun adalah masa persiapan sebelum saya memperkenalkan Satria sebagai calon Wakil Pimpinan. Apa ada yang kamu khawatirkan dari pernikahan ini?”
“Wajar kalau dia khawatir, Pa. Tapi aku pastikan kami akan menyelesaikan ini dengan baik. Papa tidak perlu khawatir.”
Satria menatap Selin dan memberi kode agar Selin tidak bertanya lagi.
“Iya, Pak. Saya pasti akan membantu misi ini sebaik mungkin. Sebuah kehormatan bagi saya bisa membantu.”
“Perusahaan pasti akan membalas jasa kamu dengan sepadan, Selin. Saya pribadi juga akan sangat berterima kasih kalau kamu bisa menjadi partner yang baik untuk Satria.”
***
“Seharusnya kamu tanya itu tadi ke aku, bukan ke Papa.”
Selin merasa akan lebih pasti saja bertanya ke sumber perintah langsung. Lagi pula yang membuat pernikahan ini harus berjalan satu tahun adalah Pak Sandi. Satria pun tidak bisa membantah jadi pasti ada sesuatu. Selin hanya memastikan jalan terbaik apa yang bisa ditempuhnya menjalani ini semuanya. Sayangnya satu-satunya jalan adalah dihadapi saja.
“Udah terjadi,” ucap Selin singkat.
“Kedepannya jangan terlalu banyak tanya ke Papa. Tanya ke aku aja.”
Selin memilih mengangguk karena ia tidak ingin berdebat.
Mereka memasuki apartemen.
“Besok kita berangkat sendiri-sendiri. Urus hidup sendiri-sendiri.”
“Oke,” ucap Selin.
Selin hendak melangkah menuju kamarnya namun tangannya tiba-tiba dicekal oleh Satria.
“Kamu jadi lebih pendiam. Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa. Capek tau abis beres-beres seapartemen.”
Satria kemudian melepas cekalan tangannya. Tidak merespon apapun dan membiarkan Selin memasuki kamar.
Begitu Selin sampai di kamar, ia langsung menguncinya. Ia menatap dirinya sekali lagi sebelum harus melepaskan pakaian mewah itu. Selin memotret dirinya dan ia langsung berganti pakaian, serta menghapus make up.
Selin langsung menuju kerjanya. Ia menyalakan laptop dan membuka kardus berisi seperangkat alat tulis serta buku, dan tempelan dinding. Selin akan memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk menangkap siapa pelaku penggelapan dana dan pemanfaatan ilegal aset perusahaan.
Ponsel Selin masih dalam perbaikan dan besok ia akan memeriksa kembali. Semua kontak dan hal penting ada disana. Memang Selin sudah back up data dengan memanfaatkan penyimpanan awan. Hanya saja ia sengaja menghindar dulu dari semua urusan.
Besok hari pertama setelah kerja. Ia masih belum berkomunikasi dengan keluarganya. Sebenarnya merasa sedih dan rindu namun Selin masih harus pastikan ia menjadi sedikit lebih siap berbohong, baru menghubungi keluarganya. Tentu saja Selin tidak akan memberitahu soal pernikahan ini. Akan lebih rumit jika keluarganya tahu. Untung saja pernikahan ini harus dirahasiakan. Hanya saja berkali-kali Selin berpikir, ia tidak menemukan alasan logis kenapa Pak Sandi bersikeras pernikahan ini harus berjalan setahun. Padahal Selin masih tetap bisa tanda tangan di atas materai untuk kesepakatan membantu misi Satria tanpa mempertahankan pernikahan konyol ini.
***
Satria mendengar ada suara langkah kaki. Sudah jelas itu Selin. Perempuan itu belum tidur di jam segini?
“Nanti aku telepon lagi,” ucap Satria.
Dirinya menoleh saat Selin memasuki dapur.
“Belum tidur?” tanya Satria.
Lagi-lagi Selin terkejut hingga ia mundur beberapa langkah.
“Lo kayak hantu sumpah!”
Satria terdiam dan menatap pakaian tidur yang Selin kenakan. Kain itu tipis dan memamerkan lekuk tubuhnya dengan terang-terangan.
“Kenapa belum tidur?” tanya Satria.
Selin melangkah menuju kulkas, membukanya dan mengambil salad buah yang tadi siang dibelinya sebelum datang kemari.
“Bukan urusan lo.”
Tentu saja Selin belum tidur karena ia masih merancang rencana. Sudah jam dua pagi memang dan ia seharusnya sudah tidur.
Satria meminum minumannya seraya menatap Selin yang sedang menunduk.
“Kamu … mau menggoda aku?”
Selin menutup kulkas. Ia sebenarnya merinding dengan ucapan Satria hanya saja ia berusaha bersikap santai. Siapa sangka lelaki itu ada di dapur jam dua pagi.
Lagi pula Selin memakai gaun tidur sepaha begini karena merasa nyaman. Ia baru keluar sekarang karena mengira ini saat yang aman agar tidak dilihat Satria.
“Gue nggak ngegoda. Lagian lo sendiri yang bilang gue bukan tipe lo.”