Chapter 12 | Kadang-kadang Akur

1426 Kata
“Campaign bulan kemarin sudah mencapai target KPI. Selain itu, citra menu baru juga diterima secara positif. Peningkatan brand awareness cukup meningkat dan kita sempat trending topic di beberapa platform.” Selin mempersentasikan evaluasi bulanan dengan penuh percaya diri. Memang terkadang tidak selalu memenuhi target KPI namun ia senang karena bulan kemarin kinerjanya bagus. Setidaknya ia bisa pamer kepada Satria. “KPI achieved, positif response, dan peningkatan brand awareness. Tapi Selin, terkait brand awareness. Merk Miekita sudah terkenal senusantara bahkan ke luar negeri. Bukankah seharusnya tidak perlu khawatir dengan brand awareness? Selain itu. Segmentasi pasar kamu terlalu sempit, hanya kalangan anak muda.” Selin tersenyum. Lelaki itu pasti berusaha mencari kesalahannya. Apa Satria serius dengan ucapannya untuk bermusuhan di tempat kerja? Kalau begini Selin tidak keberatan. Anggap saja selama bekerja hanya satu-satunya kesempatan bagi Selin bisa melampiaskan kekesalan pada lelaki itu. Karena Satria tidak bisa berbuat apapun disini. Lelaki itu pasti akan berhati-hati supaya tidak ketahuan. “Terima kasih untuk pertanyaannya, Pak Satria. Awareness masyarakat terhadap Miekita memang sudah tidak perlu diragukan. Brand sudah ada bertahun-tahun dan terkenal juga di luar negeri. Akan tetapi produk baru yang diluncurkan bulan lalu adalah rasa baru. Orang-orang sudah familiar dengan Miekita rasa soto ayam, rasa kari, dan sebagainya. Akan tetapi dengan rasa baru dan kemasan baru, bahkan meski dalam kemasan produk terdapat logo Miekita, tidak banyak yang tahu. Strategi marketing untuk peningkatan brand awareness berfokus pada rasa baru, dan tentunya beriringan meningkatan brand awareness Miekita yang sudah besar. Terkait segmentasi pasar. Pembidikan segmen pada satu kalangan akan jauh lebih fokus dan terarah. Segmen anak muda dipilih karena lebih mudah untuk berpromosi dengan memanfaatkan tren. Pendekatan lebih mudah karena campaign bisa melalui media sosial. Selain itu asumsinya jika segmen anak muda berhasil, akan terjadi marketing word of mouth kepada kalangan lain dalam keluarganya.” Satria mengangkat satu alisnya. “Tren anak muda cenderung tidak bertahan untuk jangka panjang. Secara statistik, sumber pemasukan terbesar masih dari kalangan orang tua, rumah tangga. Dan kamu mengurangi budget untuk promosi di televisi yang mana berpenparuh pada turunnya awareness terhadap kalangan orang tua. Kenapa tidak fokus pada segmen yang sudah berlangganan Miekita? Kamu tidak mempertimbangkan costumer lifetime value?” Bukankah ini evaluasi? Kalau yang Satria bahas itu tadi bisa dibahas nanti saat mereka memasuki sesi untuk perencanaan marketing bulan depan. Selin masih tetap menunjukkan senyumnya meski ia sebenarnya mulai kesal. Ini hal yang normal untuk berdebat. Masalahnya Satria seolah meremehkannya. “Mohon maaf sebelumnya, Pak. Terkait penentuan segmen sudah dirapatkan bulan lalu. Pengurangan budget memang kami lakukan karena fokus segmen pada anak muda. Jadi budget lebih dimaksimalkan untuk promosi di media sosial dan melakukan campaign. Selain itu. Fokus kami juga mencakup anak muda yang tinggal di kost. Ada peningkatan penjualan di akhir bulan. Stereotip anak kost makan mie saat akhir bulan, masih terjadi di kalangan anak muda. Jadi kami juga memanfaatkan ini. Mengenai CLV, tentu saja selalu kami pertimbangkan. Masalahnya adalah sistem distribusi. Belum sepenuhnya dapat merata saat produk baru dirilis. Bulan ini kemungkinan akan lebih merata dan jika Bapak tidak keberatan, kita bisa bahas ini nanti terkait fiksasi marketing bulan ini.” Selin bertatapan dengan Satria. Kalau lelaki itu masih ingin mencecarnya, mungkin Selin benar-benar tidak keberatan mengibarkan bendera perang dengan lelaki itu. “Oke. Laporannya saya terima. Evaluasi hanya untuk budget …” Selin tersenyum karena akhirnya ini sudah berakhir. Ia mendengarkan dengan seksama ucapan Satria. *** “Terima kasih, Pak Okta.” ucap Selin menerima matcha dari Okta. Mereka memang sudah terbiasa memesan minuman bersama jika sedang ingin. Matcha adalah minuman favorit Selin. Ia tidak bisa minum kopi dan untuk membuatnya tidak mengantuk, matcha adalah pilihan terbaik. Selain karena memang lebih suka matcha dibanding rasa lainnya, juga mengandung kafein. Sangat membantu Selin untuk bekerja. Selin, Okta, dan Ben memilih untuk tetap di kubikel dan memesan makanan secara delivery. Sementara yang lain pergi untuk makan siang di luar. Hanya ada mereka bertiga di ruangan ini. Makanan sudah habis dan tinggal menikmati minuman masing-masing. “Ada rekomendasi liburan tidak? Saya mau ajak istri liburan tapi bingung kemana.” Ben langsung menyahut. “Saya tahu ada pulau bagus, Pak. Rekomendasi pokoknya. Oh, Selin baru dari sana kalo nggak salah. Pas cuti kemarin.” Bersamaan dengan Ben yang bicara begitu, Satria masuk ruangan. Juga bersamaan dengan itu Selin tersedak. Ia teringat dengan kejadian nahasnya di pulau itu. Ben langsung memberikan botol minumannya kepada Selin. “Thank you, Ben.” “Oh ya? Bagus kah? Gimana, Lin? Kan kamu baru kesana nih.” tanya Okta. Selin hanya tersenyum kikuk. “Saya yang kasih rekomendasi ke Selin, Pak. Bagus disana. Sebentar saya tunjukin foto-fotonya. Lin, lo juga pasti foto-foto kan disana?” tanya Ben. Selin tidak banyak mengambil foto karena keburu ada musibah itu. “Nah ini, Pak.” Ben menunjukkan foto-fotonya kepada Okta. Ben lantas menoleh kepada Selin. “Kayaknya next time kita harus liburan bareng nggak sih?” ajak Ben. “Boleh tuh. Ide bagus,” sahut Selin. “Kita berdua doang, Lin. Gimana?” tanya Ben. Okta pun langsung berdehem. “Ajak yang lain juga dong,” sahut Okta. Sementara itu Satria yang sudah duduk di kursinya pun mengetukkan jemari di meja tanpa suara. Ia menatap Selin dan Ben secara bergantian. *** Selin sudah pulang lebih dulu dan ia langsung memasak. Sebenarnya yang ia masak adalah mie telor. Mie yang digunakan adalah produk terbaru. Selin suka menu baru itu, jadi dibuatnya saja sebagai mie telor. Entah Satria pergi kemana. Lelaki itu belum kembali. Selin tidak peduli. Ia justru merasa tenang jika sendiri begini. Diseruputnya mie itu. Rasa pedas membuatnya terasa menjadi lebih nikmat. Tiba-tiba Satria masuk ke dapur, membuat Selin terkejut. Untung saja ia sudah menelan makanannya. Jika ia sampai tersedak karena terkejut dengan kedatangan Satria, pasti akan ada rasa panas yang kurang nyaman di kerongkongannya akibat tersedak makanan pedas. “Makan,” ucap Selin basa-basi. Satria hanya mengangguk. Lelaki itu kemudian berdecak melihat perabotan kotor yang menumpuk di wastafel. “Abis makan gue cuci kok. Udah kelaperan banget ini,” ujar Selin. “Jorok,” ucap Satria. Lelaki itu membuka kulkas dan kemudian mengambil daging ayam dari sana. Tangannya kemudian terampil mengambil bahan-bahan lain. Sepertinya lelaki itu pintar memasak. Dilihat dari isi kulkasnya yang beraneka ragam dan juga bahan-bahan dapur yang terhitung lengkap. Selin memilih untuk melanjutkan makan. Ia berusaha tidak terpengaruh dengan ejekan Satria. Lelaki itu sudah cukup mengesalkan hari ini jadi Selin berusaha santai dengan tidak memasukkan ucapan Satria ke hatinya. Tidak ada perbincangan apapun saat Selin makan dan Satria memasak. Diam-diam Selin memperhatikan bagaimana Satria memasak. Lelaki itu cekatan dan bersih. Sepertinya memang benar-benar pintar memasak. Selin pun sengaja memperlambat makannya, hanya agar bisa melihat bagaimana Satria memasak. Lelaki itu membuat ayam kuah kecap. Dari aromanya sangat lezat. Sepertinya sudah terlalu lama Selin duduk dan memperhatikan lelaki itu. Ia langsung bangkit dan menuju wastafel. Langsung mencuci semua perabotan bekas memasaknya tadi. “Lo suka masak ya?” tanya Selin. “Lumayan,” sahut Satria. “By the way, lo beneran mau kita musuhan di kantor?” tanya Selin. “Natural saja.” “Maksudnya natural versi lo itu adalah musuhin gue? Gue tau ya tadi sepanjang rapat lo itu berusaha nyari kesalahan gue.” Dito yang jelas-jelas melakukan banyak kesalahan saja, diapresiasi oleh Satria. Hanya Selin yang dicecar. Bukankah itu terlalu jelas? Apalagi saat rapat pembicaraan fiksasi bulanan. Rasanya kepala Selin ingin meledak karena berdebat dengan lelaki itu. “Itu kan pekerjaan. Bersikap profesional, jangan baper.” Selin pun membuka mulutnya karena terkejut. Satria tiba-tiba mendekat ke wastafel. “Belum selesai nyucinya? Lambat. Makan lambat, nyuci piring lambat.” Selin kemudian menatap hasil masakan Satria. Sudah jadi dan aromanya sanggat menggoda. Selin jadi lapar lagi padahal ia sudah makan dua porsi mie tadi. “Kayaknya enak deh itu. Gue boleh nyobain nggak?” tanya Selin. Ia rela menurunkan gengsi dan rasa kesalnya. “Enggak,” sahut Satria. Satu kata singkat itu berhasil menyulut emosi Selin. Dirinya langsung buru-buru mencuci piringnya. Dalam hati ia banyak mengumpat karena Satria ternyata sepelit itu. Satria yang melihat perempuan itu cemberut pun tersenyum. “Kalau udah selesai cuci piring baru boleh,” ucap Satria kemudian. Selin langsung menoleh dengan mata berbinar. “Serius?” Satria yang awalnya tersenyum langsung mengubah mimik wajah agar Selin tidak melihat senyumnya. Lelaki itu mengangguk. “Makanya jangan lambat,” ucapnya. “Ya sabar dong. Bentar.” Selin berusaha secepat mungkin mencuci perabotan itu. Tidak sabar mencoba makanan yang aromanya sangat lezat itu. “Jadi kamu pergi ke pulau itu karena rekomendasi Ben?” tanya Satria tiba-tiba. Selin mengangguk. “Kalian sudah sedekat apa?” tanya Satria kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN