Dua hari kemudian, 4 Agustus.
Selin sebenarnya ditawari mobil oleh Satria. Hanya saja ia lebih memilih berangkat kerja seperti biasa. Menggunakan ojek online. Ia tidak ingin terlalu biasa menggunakan mobil orang lain. Apalagi ini hanya satu tahun. Mereka berangkat masing-masing. Kadang bisa bersamaan turun ke lobi, kadang Satria lebih dulu berangkat. Lelaki itu lebih rajin dari dugaan Selin.
Pagi ini Selin berangkat agak awal. Tujuannya sederhana, ia ingin mengucapkan selamat ulang tahun kepada Mamat. Beliau adalah security yang sudah bekerja bertahun-tahun disini. Sekaligus orang yang sangat membantu Selin dulu saat Selin pertama kali menginjakkan kaki di gedung ini. Saat wawancara kerja dulu. Kebetulan Selin selalu merayakan ulang tahun beliau.
“Pagi, Pak.”
“Selamat pagi, Mbak Selin.”
“Selamat ulang tahun, Pak Mamat.”
“Astaga Mbak Selin. Terima kasih banyak ya. Mbak Selin selalu inget lho sama ulang tahun saya.”
Selin kemudian menyerahkan bingkisan yang sudah disiapkan kemarin dan kopi yang baru dibelinya tadi. Ia cukup sering membelikan kopi untuk Mamat. Tentu saja Selin bersikap baik karena lelaki itu juga baik. Mamat sangat banyak membantunya selama bekerja disini.
“Sama-sama, Pak. Semoga sehat selalu dan panjang umur ya, Pak Mamat.”
“Pagi-pagi udah ngobrol aja, Pak? Bukannya fokus kerja.”
Selin menoleh dan ternyata itu Satria.
“Maaf, Pak.”
Mamat pun membungkuk minta maaf dan kemudian menyapa Satria. Sementara Satria hanya melirik Selin selintas sebelum men-tap kartunya dan melangkah menuju lift.
“Apaan sih? Orang sepi juga,” keluh Selin.
“Nggak apa-apa, Mbak. Saya juga salah. Saya titip ini dulu di resepsionis ya, Mbak. Terima kasih banyak, Mbak Selin. Semangat ya kerjanya, Mbak.”
Selin masih tetap di pijakannya dan tersenyum pada Mamat yang berlalu. Padahal ada beberapa security yang bertugas. Selin melirik mereka yang hanya diam berdiri kaku dengan pandangan tajam. Mamat memang spesialis ramah namun yang lain juga baik. Hanya saja tuntutan jobdesk jadi mereka memang harus memiliki persona galak. Selin pun mengangguk bermaksud menyapa kemudian melangkah menuju sofa yang ada di lobi. Ia malas langsung ke ruangan karena bisa jadi hanya ada Satria disana. Jadi lebih baik menunggu disini sebentar.
Lima menit kemudian datang rombongan VIP. Itu dugaan Selin karena para security langsung cepat tanggap. Mata Selin pun membulat saat melihat ada Pak Sandi di antara rombongan itu. Ia berusaha agar tidak terlihat. Untungnya rombongan itu terlalu fokus jadi Selin tidak perlu merasa kikuk dan bingung bagaimana harus menyapa Pak Sandi.
Begitu mereka memasuki lift, Selin menghela napas lega. Ia lantas teringat dengan misinya. Satria sudah mengarahkan agar mereka tidak melakukan apapun selama tiga bulan. Selin akan menurut. Hanya saja melihat Pak Sandi yang datang bersama dua direktur, membuat Selin jadi berpikir apakah mungkin pelakunya salah satu dari dua direktur itu. Biasanya yang terdekat lah yang paling berpeluang menjadi musuh.
“Satria dong,” gumam Selin.
“Bukan berpeluang lagi itu mah,” imbuhnya atas pemikiran sendiri.
***
“Lin besok main yuk?” ajak Ben.
“Kemana?”
“Dufan. Gue traktir.”
“Ih serius? Ayuk!”
Selin sudah lama tidak pergi ke Dufan. Apalagi ia tidak punya teman bermain. Pergi bersama Ben tentu akan seru. Ia sudah pernah beberapa kali perjalanan bisnis dengan lelaki itu jadi tahu betapa Ben bisa sangat diandalkan—dimanfaatkan—. Selin benar-benar sedang ingin pure berlibur. Satu minggu ini terasa sangat berat karena ia harus menyesuaikan tinggal dengan Satria sekaligus menjaga rahasia di kantor. Jangan lupakan sikap Satria yang kadang semena-mena padanya mentang-mentang manajer.
“Oke. Gue jemput besok gimana?”
“Eh jangan. Ketemuan langsung disana aja,” pinta Selin.
Akan menjadi masalah kalau Ben tahu alamat Selin.
“Kejauhan mah lo-nya. Ketemu di stasiun aja gimana? Nanti kita berangkat bareng kesananya. Lo kabarin aja mau ketemuan di stasiun yang mana” tawar Ben.
Sepertinya begitu ide yang bagus. Jadi Selin tidak terlalu jauh kalau pergi. Hanya perlu menentukan ia mau bertemu Ben di stasiun mana.
“Boleh deh,” ucap Selin setuju.
Pasti akan menyenangkan besok.
***
Senang rasanya kalau pulang kerja masih sore. Jadi Selin bisa melakukan hal yang paling diinginkannya. Yaitu rebahan sambil menonton film. Hanya perlu bersantai saja. Akan tetapi dirinya seketika teringat dengan pikiran tadi pagi. Ia tidak mungkin mengajak Satria hal begitu di kantor jadi dirinya memutuskan langsung bangkit dari tidur dan menghampiri Satria.
Selin mengetuk pintu kamar lelaki itu. Seharusnya Satria sudah pulang juga. Akan tetapi tidak ada sahutan. Selin pun kembali ke kamarnya dan mengambil ponsel. Mengirim pesan menanyakan dimana keberadaan Satria. Tidak perlu menunggu lama, lelaki itu langsung membalas bahwa dirinya berada di dapur.
“Ooh.”
Selin tergesa menuju dapur dan lelaki itu ternyata sedang memasak. Sepertinya Satria hobi memasak.
“Apa?” tanya Satria.
“Lo masak apa?” tanya Selin.
“Kalo mau, mending bantuin.”
Selin pun berdecak. Ia padahal bertanya hanya untuk basa-basi.
“Tadi pagi gue..”
Selin seketika teringat tingkah menyebalkan Satria tadi pagi.
“Tadi pagi lo ngapa ngomong gitu ke Pak Mamat sih? Beliau ulang tahun tahu.”
Satria memilih fokus mengiris bawang.
“Padahal lagi sepi juga dan ada security lain. Nyebelin banget lo.”
“Hanya acting,” sahut Satria.
“Acting, acting. Nggak usah mengikutkan Pak Mamat ke lelucon ini deh. Beliau baik banget ke gue.”
“Sebenarnya mau ngomongin apa?” tanya Satria setelah menjeda kegiatan mengirisnya.
“Oh iya. Gue tadi liat bokap lo dateng sama direktur. Terus gue jadi kepikiran. Apa mungkin pelakunya salah satu dari mereka ya?”
“Bisa jadi enggak,” sahut Satria. Kembali fokus pada kegiatan mengirisnya.
“Bisa jadi iya tau. Bisa jadi salah satu atau bahkan dua-duanya.”
Satria meletakkan pisau dan mengambil mangkok untuk mewadahi hasil irisannya tersebut.
“Lo mau masak apa? Kalo menggiurkan, gue juga mau.”
Sebenarnya lebih enak kalau Selin tinggal makan saja. Akan tetapi tidak enak kalau dia tidak membantu apapun. Apalagi ini Satria.
“Coba tebak,” pinta Satria.
“Kalo bener, gue minta tanpa bantuin. Gimana?”
Satria langsung menoleh padanya.
“Kalau salah. Kamu yang masak. Satu kali kesempatan menebak. Gimana?”
Selin langsung menggelengkan kepalanya. Peluangnya 90% kalah. Jadi daripada merepotkan diri memasak nanti, lebih baik merelakan kesempatan makan dengan nyaman. Selin akan pergi membeli sate saja nanti. Sekalian jalan-jalan.
“Enggak deh. Udah pasti kalah kayaknya gue.”
“Cemen,” cemooh Satria.
Selin tidak peduli.
“Lo jadi besok liburan?”
“Kenapa? Berubah pikiran pengen ikut?”
Sebenarnya kemarin Satria dengan baik hati menawarkan apakah Selin mau ikut berlibur apa tidak. Mereka kembali minggu sore kalau Selin mau. Satria ingin pergi ke timur. Ia suka milky way dan menemukan tempat yang di Indonesia bagian timur untuk didatangi. Tidak heran kalau waktu itu Satria ada di pulau itu. Ada milky way disana.
Hanya saja Selin menolak tawaran itu. Ia tidak ingin mengambil risiko dengan pergi berlibur bersama Satria. Bisa saja mereka bertemu seseorang yang mengenali keduanya nanti. Atau bisa saja Satria berbuat macam-macam kan? Yang paling penting sebenarnya memang Selin malas saja pergi bersama lelaki itu. Apalagi tadi Ben sudah mengajak pergi ke Dufan besok.
“Enggak. Lo berangkat subuh kan besok? Nggak packing?”
“Packing nanti malam.”
Selin pun menganggukkan kepalanya. Ia lantas melangkah menuju kulkas. Selin mengamati isi kulkas. Sepertinya ide yang bagus untuk belanja hari minggu. Tugas bersih-bersih akan ditangani oleh maid dari istana tempat Pak Sandi tinggal. Jadi Selin bebas hari minggu. Sepertinya banyak yang harus Selin isi.
“Kartunya kenapa nggak pernah dipakai?” tanya Satria.
“Gue masih ada gaji. Lagian gue kan udah bilang ngga mau pake. Tapi lo bilang ambil aja. Ya udah gue pegang aja.”
Pilihan Selin kemudian jatuh pada minuman kemasan buah jambu. Sepertinya segar kalau minum itu sekarang.
Minuman itu sudah ada di genggaman Selin dan ia mundur sejenak agar bisa menutup pintu kulkas. Akan tetapi punggungnya terasa membentur sesuatu. Selin berbalik dan bersamaan dengan itu terdengar suara tepat di belakang telinganya.
“Pakai aja.”
Satria tahu-tahu sudah berada di belakangnya. Reflek mundur. Hawa dingin kulkas terasa menyapu segar ke punggungnya.
“Asal jangan dipakai buat jalan sama cowok lain,” imbuh Satria.