[6] 000110: Strata Sosial

1021 Kata
Aku sedang menikmati pemandangan di lapangan olahraga kampus, sekaligus lari pagi. Satu hal yang aku senangi dari semester pertamaku adalah kuliahku tidak setiap hari. Ada dua hari dimana jadwalku bebas: Kamis dan Jum’at. “Lo olahraga pagi?” suara Ismail dari sisi kanan membuatku menoleh. “Tentulah. Biar sehat,” balasku sekenanya. Ismail tertawa. “Makasih banget loh tipsnya, tapi belum tau bakal bener apa kagak,” komentar Ismail. Aku tertawa kecil. “Kalau disalahin nanti aku protes sama alumninya,” balasku diikuti dengan gelak tawa. Ya, kapan lagi mengejek kakak sendiri? “Berani emang sama alumni?” tanya Ismail dengan tatapan heran. “Oh berani dong,” balasku dengan percaya diri, “soalnya dia kakakku sendiri,” tambahku dalam benak. Kami pun berlari pagi dengan percakapan kecil menyelingi. “Capek,” komentar Ismail setelah sejam olahraga. Kami saat ini sedang beristirahat di tepi lapangan olahraga kampus. “Ya kan namanya olahraga, bukan rebahan, wajar capek,” komentarku. Ismail tertawa. “Gak buruk juga, benar sih. Oh ya, kamu satu-satunya asal daerahmu ya?” tanya Ismail. Aku menggelengkan kepala. “Harusnya nggak. Pasti ada anak di kampus ini yang juga satu daerah,” jawabku. Ismail menggelengkan kepala. “Di angkatan kita, di jurusan kita.” “Nggak tahu,” jawabku jujur. Ismail hanya ber-oh ria. Dia lalu membuka ponsel miliknya, dan sepertinya sibuk scrolling di media sosial. “Fatimah?” tanyaku tiba-tiba yang membuat Ismail terkejut. Jelas di ponsel miliknya adalah akun media sosial milik Fatimah. “Jangan dapat ide yang salah. Aku sama dia cuma teman kok,” bela Ismail. Aku tertawa. Teman tapi berharap lebih, itu sih sebenarnya, namun aku tetap diam. “Iya iya. Aku percaya,” balasku, “kalau kamu suka dia,” sambungku dalam hati. “Satu daerah?” tanyaku menjaga topik tetap tentang Fatimah. Ismail menganggukkan kepalanya. “Oalah. Enak ya ada teman satu daerah,” komentarku. Ismail menganggukkan kepalanya. “Lo sama Latifah dan Zahra emang siapa?” tanya Ismail balik. Anak ini, dia sengaja mengganti topik secepat dia bisa. Fatimah jelas adalah satu titik lemah dirinya yang dia tidak ingin buka kepada siapa pun. Apalagi dengan aku yang baru dua hari berteman. “Mereka anak-anak yang ganggu aku baca novel di kelas,” jawabku sekenanya. Aku tidak akan mengatakan kalau mereka kerja di perusahaan kecil milik ibuku, nanti membuat persepsi macam-macam. Selain itu, tidak baik untuk nama mereka sendiri. “Wah, penyuka novel?” tanya Ismail. Aku menggelengkan kepala. “Nggak. Itu novel yang sudah lama dibeli, tapi aku gak ada baca karena bukan milikku,” jawabku. Ismail hanya ber-oh ria. “Tentang apa?” tanya Ismail. “Konspirasi. Memang ada tentang romansa sih, tapi yang gitu aku lewati,” jawabku. Aku lebih tertarik aksi dan momen kritis dalam ceritanya daripada romansa yang disajikan. “Kirain suka yang mellow-mellow gitu. Emang judulnya apa?” tanya Ismail. Aku tersenyum. “Kalau aku beritahu, nanti kamu bisa panik. Nggak perlu tahu deh, nanti tahu sendiri,” jawabku penuh makna. “Tapi serius, zaman gini kamu beli novel fisik?” tanya Ismail lagi. Aku tertawa. “Bukan aku yang beli. Itu kakakku cari referensi tulisan. Sekarang, aku mau iseng baca soalnya di sana banyak tentang konspirasi yang menarik,” jawabku. “Kamu bukan kaum bumi datar kan?” tanya Ismail. Aku tertawa, lalu menggelengkan kepalaku. “Nggak kok,” jawabku dengan yakin. Ismail menghembuskan napas lega. “Kirain situ flat-earthers.” “Aneh sih kalau menurutku flat-earther masuk teknik. Kan teknik kalau kata slogan para senior itu ‘Tuhan dan data’.” Ismail menganggukkan kepalanya mendengar penjelasanku, “Gak mustahil sih, Sar. Cuma ya kemungkinannya kecil,” balasnya. Aku merenungi kalimat itu. “Ya sudah, mau ngapain abis ini?” tanya Ismail lagi. “Entahlah, paling balik ke apartemen,” jawabku sekenanya. “Lo tinggal di apartemen?” tanya Ismail dengan nada sumringah. “Iya, kenapa?” tanyaku heran. “Mau ikut dong ke sana. Gue penasaran gimana sih isi apartemen-apartemen gitu.” Apakah anak ini tidak pernah melihat apartemen? “Ibuku gak mengizinkan orang datang ke tempatku,” jawabku jujur. Ismail tampak kecewa, namun dia menganggukkan kepalanya. Sebenarnya, selain hal itu, aku tidak bisa percaya sepenuhnya dengan Ismail. Masih terlalu cepat untuk akrab. “Ya sudah, mungkin lain waktu saja,” komentar Ismail menahan rasa kecewanya. Deringan ponselnya membuat dia terkejut, dan dia membuka ponselnya menunjukkan telepon dari Fatimah. “Assalamu’alaikum,” ucap Ismail membuka percakapan telepon. Aku memutuskan untuk membiarkan dia sementara menghirup napas sejuk dari pagi ini. “Maaf Fat, kalau sekarang gak bisa. Siang bisa nggak?” “Iya. Nanti ketemu di lingkaran pusat aja.” “Oke oke.” Aku tidak ingin membuat persepsi macam-macam terkait Ismail dan Fatimah, tapi aku tidak bisa tidak curiga mereka ini sepasang couple. Ayolah, percakapan tadi membuatku penasaran. “Aku rasa aku harus pamit dulu,” komentarku pura-pura mengundurkan diri. “Lah, kok gitu sih Sar?” tanya Ismail heran. “Ada urusan yang mau ku kerjakan. Mumpung lagi bebas gini, mau balik tamatin game lama dulu,” jawabku santai. Ahahaha, itu kebohongan klasik. Ismail menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu hati-hati. Assalamu’alaikum,” ucap Ismail. “Wa’alaikumussalam.” Aku tidak bisa tidak penasaran, tapi aku bukan tipe orang yang tertarik untuk mengetahui rahasia orang lain. Biarkan saja Ismail memberi tahu semuanya seiring waktu. Aku hanya akan jadi wingman yang mendukung dia. Aku tiba di apartemen, dan memarkirkan motorku di parkiran yang tersedia. Bicara soal kendaraan, aku bisa saja mengendarai mobil, tapi ada alasan khusus ayah dan ibu menolak memberiku mobil di sini. Lucunya, aku menerima tapi kakakku sendiri sempat protes dan ngambek kabur sehari dari rumah. Konyol memang kakakku itu terkadang. “Assar?” sapaan itu membuatku menoleh ke sumber suara. Aku melihat Fatimah yang keluar dari lift terkejut dengan kehadiranku. “Oh, halo Fatimah,” sapaku seraya memasuki lift. “Tinggal di sini?” tanya Fatimah. Aku melihat dia cukup gugup dengan kehadiranku. “Iya. Mau jalan dengan Ismail kan? Berangkat aja,” jawabku. Fatimah terlihat terkejut namun dia hanya menganggukkan kepala sebelum dia berbalik dan pintu lift menutup. Fatimah terlihat terburu-buru, dan juga ketakutan. Entah apa yang ada di benaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN