[5] 000101: Telur Dadar

987 Kata
[Ismail]: Lu kelas Pak Bayu kan? [Assar]: Yo, kenapa bro? [Ismail]: Sudah blom telur dadar? [Assar]: Nih tips telur dadarnya: “diasumsikan semua bahan ada”. [Ismail]: Serius? [Assar]: Itu dapat dari sumber terpercaya kok. [Ismail]: Emang siapa sumbermu? [Assar]: Alumni. [Ismail]: Gile. Siapa? [Assar]: Mas Rahman. [Ismail]: Gak kenal. [Assar]: Emang kan dia kenalnya aku wkwkwk. [Ismail]: Oh, begitu ya. Jadi kamu mau nantang aku ya … [Ismail]: Hoho, so you approaching me? [Assar]: I cannot beat the s**t out of you if I don’t get closer to you. [Ismail]: Njir, lu tau ternyata! [Assar]: Gak kudet bro! [Ismail]: Oh ya, gue kerjain bahasa inggris dulu. [Assar mengirim stiker] Bicara soal tugas Pak Bayu, aku masih belum menemukan sepenuhnya maksud kuliah dan kehidupan. Apa yang dimaksud dengan miniatur masyarakat? Masyakatnya dikecilin gitu? Nggak kan. “Apa yang dimaksud Pak Bayu ....” Aku membuka catatan ponselku. Hal-hal aneh yang mencolok belakangan ini semua aku catat. Oh ya, ada satu hal yang baru aku sadari saat membaca catatan kelas, nama dosen. “Bayu Ayyubi, Ahmad Ayyubi. Itu menarik,” komentarku kepada diriku sendiri. Sayang, aku tidak bisa menanyakan kemiripan nama ini. Kemungkinan hanya kebetulan saja, seperti nama Budi yang sering ditemui. Apa mungkin yang dimaksud adalah bagaimana orang-orang di kuliah bervariasi dalam kegiatan di belakang layarnya? Seperti aku dan Ismail yang santai pasca kuliah, Latifah dan Zahra yang sibuk part-time di malam hari, itu kah? Sepertinya bukan kesimpulan yang aku cari. Masih perlu lebih banyak informasi. Aku memutuskan untuk membeli bolu favoritku, tentunya di restoran ibu. Kunci motor ku ambil dari tempatnya, kenapa tidak mobil saja seperti teman-teman yang lain? Toh mereka bisa dengan sombongnya menunjukkan mobil mereka. Ah, nanti kena omel lagi. “Selamat malam, selamat datang di Restoran Lisa. Untuk berapa orang Mas?” tanya salah satu pelayan yang menjaga bagian depan. “Satu orang,” jawabku. Dia pun mengarahkanku ke salah satu meja di dekat jendela. Bukan favoritku, tapi tidak apa. “Permisi Mas, boleh saya terima pesanannya?” tanya pelayan tersebut setelah aku duduk. Aku pun langsung menyebutkan pesananku malam itu. Hanya bolu kecil, yang tentunya akan membuat orang geleng-geleng kepala kenapa susah payah ke sini demi bolu kecil. “Terima kasih, bisa ditunggu pesanannya.” “Sama-sama.” Aku membuka ponselku, membaca situs-situs meme untuk menghibur diriku. Tidak ada informasi menarik malam ini, dan hanya meme yang mengurangi kejenuhanku. “Permisi Mas, ini pesanannya,” ucap seorang pelayan dan aku menerima pesanan itu. Aku melihat Zahra yang menyerahkan pesanan, namun kami hanya bisa membalas dengan sesama senyuman. Senyuman profesional dan senyuman datar beradu. Menyedihkan. Tidak tahu mengapa, aku tidak ingin membahas apapun terkait kehidupan kampus di tempat ini. Dalam hening, aku menikmati makan malam itu, sementara Zahra kembali ke pekerjaannya. Saat di kasir, tidak ada Latifah. Apakah wanita itu tidak mengambil shift hari ini? “Selamat datang kembali!” ucap sang kasir kala aku selesai membayar. Aku pun kembali pulang ke apartemen. [Kak Rahman]: Aku mau datang akhir pekan ini. Mau ketemu sama teman-teman kuliah sekalian bentuk tim buat kompeni. Join kan? [Assar]: Gimana kalo kita nego biar aku bisa join Kak? [Kak Rahman]: Emang tugas apa? [Assar]: Masih yang Pak Bayu. [Kak Rahman]: Sudah dapat apa saja? [Assar]: Ada dua temanku yang ternyata kerja part-time, lalu ketemu Prof Ayyubi yang katanya horor tapi kelihatannya malah santuy, dan pas gak tau mau bentuk kelompok malah ditawarkan teman-teman untuk ikut. [Kak Rahman]: Sudah dapat gak miniatur kehidupannya? [Assar]: Gak yakin sih jawaban teoritisnya gimana, tapi kesimpulan yang Assar dapat sih kurang lebih ya “perkuliahan menunjukkan bayangan daripada kehidupan bermasyarakat”. [Kak Rahman]: Bingo! Kalimatnya gak persis gitu sih, intinya adalah perkuliahan merefleksikan kehidupan masyarakat dengan skala yang lebih kecil. Kan di kampus itu sekitar 40 ribu mahasiswa, plus minus lah, dari berbagai disiplin ilmu. Itu kek miniatur dari jutaan orang yang membentuk masyarakat yang bervariasi. [Assar]: Harus persis kah? [Kak Rahman]: Nggak, yang penting kamu paham inti dari teorinya. Pak Bayu memang gitu. [Assar]: Kakak serius gak pernah ketemu Prof Ayyubi? [Kak Rahman]: Kalau selain berinteraksi di luar sekadar menyapa, nop. [Assar]: Emang kakak akrab sama siapa dosen di sana? [Kak Rahman]: Nggak banyak sih, mungkin separuh. [Assar]: Ah, siapa saja? [Kak Rahman]: Tunggu sampai kamu ketemu saja, nanti kakak bocorkan pernah atau nggaknya. Paling ya sekarang Pak Bayu pernah. [Assar]: Ish. Dasar sok ih bos muda ini! [Kak Rahman]: Perusahaannya aja masih belum diformalitaskan Sar! Panggil Pak Ketua aja. [Assar]: Siap Pak Ketua. Oh ya Kak, kapan kakak tiba? [Kak Rahman]: Jum’at malam. Kira-kira jam 8 malam di sana. [Assar]: Oke. Assar siapkan tempat tidur kakak nanti. [Kak Rahman]: Makasih Dik. Dan sepertinya itu akhir untuk telur dadar dan kuliah kehidupan. Seharusnya, aku bisa ace kuis pekan depan. Sudah lengkap senjata untuk bertarung pekan depan. Sekarang, pekan ini sudah bisa aku jalani dengan santai, oh- “Matematika, hampir lupa,” komentarku menyadari buku matematika di meja belajar dan menutup ponselku. Aku pun mengambil kertas folio yang aku punya dan mulai mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh dosen matematika kelasku. Akhirnya, jam sepuluh malam aku selesai dengan tugas matematika itu. Kalau seseorang memahami konsep dari suatu pelajaran, kompleksitas dari pertanyaan yang diberikan tidak akan berpengaruh. [Kak Rahman]: Oh ya, aku pernah kultam Prof Ayyubi pas tahun terakhir. Seharusnya dosen pengujiku, tapi waktu itu beliau berhalangan hadir. Baru ingat hehe. [Assar]: Kebiasaan kan. [Kak Rahman]: Iya iya. Aku mengusap kepalaku. Kakakku yang baru lulus kemarin ini kadang menjengkelkan. Tapi tidak salah sih, dia nggak pernah bertemu dalam rangka perbincangan serius. [Kak Rahman]: Oh ya, ada temanku yang masih Tugas Akhir sama Prof Ayyubi. Anak game. [Assar]: Nah. Minta sekuriti aja, tapi kan orangnya sudah lulus. [Kak Rahman]: Hehe, iya sih. Angkatan berikutnya belum ada yang berbakat seperti dia. [Assar]: Kalau dosen? [Kak Rahman]: Kan sudah tahu kuliah itu otodidak. Sudah ku ceramahi soal itu kan? [Assar]: Yes yes. Bosan sudah.  [Kak Rahman]: Sip. Jangan lupa Sabtu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN