“Hai! Selamat siang.”
Sapaan dari seseorang membuat Jasmine menggantungkan ucapannya pada Yosi.
Tubuh Jasmine membeku.
‘Bagaimana bisa?’ ucap Jasmine dalam hati.
Hatinya semakin tidak karuan, saat cowok itu memberikan senyum manis pada tantenya. Wajah tanpa ekspresi cukup melindungi Jasmine yang sangat gugup.
“Jasmine,” tegur Yosi saat melihat keponakannya hanya terpaku menatap Ari.
Tapi, Ia baru sadar kalau matanya masih terus menatap Ari.
‘Ekspresi datar percuma aja, Jasmine. Kalau sikap kamu udah jelasin semuanya!’ gerutu Jasmine dalam hatinya.
“Hai, Kak,” sapa Jasmine singkat.
Ari tersenyum sebagai balasan, mata coklat terangnya menatap Jasmine terus-menerus, wajah gadis di hadapannya, membuat Ari sangat susah memalingkan wajah.
“Kalian saling kenal?”
“Iy-“
Ari memotong ucapan Jasmine. “Kebetulan Jasmine adik kelas saya di sekolah-“
“Tante, aja,” tandas Yosi, saat menyadari Ari yang bingung ingin memanggil apa.
“Saya tante, Jasmine ... adik mamanya,” sambung Yosi memberitahu Ari.
“Kak Ari ... tentang yang tadi, Jasmin-“
“Saya harap tante dan Jasmine nyaman dengan pelayanan kafe ini.” Lagi-lagi Ari memotong ucapannya, membuat Jasmine semakin bingung harus bagaimana.
Interaksi aneh antara Ari dan Jasmine disadari oleh Yosi. Ia berusaha menghilangkan suasana canggung, karena melihat kedua mahluk itu hanya saling menatap tanpa memperdulikannya.
“Nyaman banget, makanannya juga enak,” jawab Yosi mencoba mencari perhatian Ari.
“Terima kasih, Tante. Kalau gitu saya pergi dulu. Selamat menikmati.” Ari hanya memberikan senyum pada Jasmine tanpa niat menyebut namanya. Sejujurnya, dia sangat ingin bergabung bersama Yosi dan Jasmine, sebagai langkah awal mendekati Jasmine. Tapi, dia menahan dulu untuk melihat reaksi Jasmine terhadap-nya.
Jasmine menatap kepergian Ari sampai dia masuk ke dalam satu ruangan, yang berada di sebelah ruangan yang tertera tulisan ‘untuk karyawan’.
‘Jadi Aku lagi di kafe Kak Ari?’ batin Jasmine.
“Jas,” panggil Yosi memperhatikan Jasmine asik dengan dunianya.
“Jasmine!”
“Iya, Tante. Jasmine dengar kok.” Matanya kembali fokus menatap Yosi.
“Dengar tapi enggak dijawab. Tadi itu sebenarnya siapa?” tanya Yosi sekali lagi karena rasa penasarannya akan sikap Jasmine dan Ari.
“Tadi dia udah bilang. Kakak kelas, Jasmine,” ulangnya.
“Terus kenapa dia di sini?”
“Dia yang punya kafe ini, Tan,” balas Jasmine sambil menyeruput chocolate ice miliknya.
“Yakin kamu?” tanya Yosi tidak percaya.
“Yakin, Tan. Udah ada cabang kayaknya.”
“Wah ... Tante enggak nyangka. Kalau tante masih muda, pasti Tante pacarin,” canda Yosi.
Jasmine menatap Yosi tanpa ekspresi. “Ingat pacar, Tante!”
Yosi memang dekat dengan keponakannya. Selain dia berjiwa muda, umurnya juga masih pertengahan kepala dua yaitu dua puluh enam, karena itu jiwa mudahnya masih membara. Dia belum menikah karena sejak kuliah hanya fokus pada pekerjaan dan pendidikan. Hal itu yang membuat Tantenya sukses seperti sekarang. Memiliki rumah besar berlantai dua, tiga mobil, serta tiga butik besar di Yogyakarta dan Bali. Ya, tante Jasmine adalah seorang Desainer.
“Udah sore banget. Kita pulang sekarang, yuk.” Jasmine mengangguk setuju.
Setelah Yosi membayar tagihan makanan. Yosi dan Jasmine keluar dari kafe menuju mobil Jazz silver milik Yosi, yang terparkir di depan kafe. Jasmine terpaku ketika matanya menatap Ari yang sedang memperhatikan kepergian mereka melalui kaca di dalam kantornya.
Tidak ingin mengambil pusing, Jasmine hanya menyenderkan tubuh pada jok dan memakai safety belt.
****
Sepanjangan perjalanan Jasmine memikirkan kemarahan mamanya yang sedang menunggu di teras rumah, dan benar adanya.
“Jasmine takut, Tan. Sekarang udah jam delapan malam,” cicit Jasmine.
“Lah? Kenapa takut? Kan perginya sama Tante.” Menenangkan Jasmine.
Yosi memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah. Yosi turun terlebih dahulu dan di sambut senyuman oleh Yuli.
“Kak...!” pekik Yosi berhambur ke pelukan Yuli.
Jasmine yang melihat mood mamanya baik-baik saja. Perlahan keluar dari mobil, matanya langsung tertuju pada mata sang mama yang menyadari keberadaannya. Jasmine takut menunggu reaksi mamanya, tapi mengingat Ia memiliki Yosi sebagai tameng, rasa takutnya sedikit hilang.
“Ternyata kamu sama tante? Kenapa enggak kabarin mama, Nak?” tanya Yuli lembut pada Jasmine.
Yosi tersenyum bangga pada Jasmine seperti sedang mengatakan ‘Tante benarkan? Mamamu enggak akan marah.’
“Kita berdua keasikan main, jadinya lupa kabarin Kakak,” jelas Yosi membantu Jasmine.
“Ya udah kamu mandi sana, setelah itu kita makan malam.”
Jasmine mengangguk melewati Yuli dan Yosi memasuki rumahnya.
“Kak Agung mana?” tanya Yosi yang tidak melihat Agung di dalam rumah.
“Tadi katanya mau foto copy sebentar.”
“Baby Yuan-ku mana?”
“Tidur di kamar. Kamu enggak mandi?” Yosi menggelengkan kepalanya.
“Mandi dulu sana, jorok banget!”
“Mager, Kak.”
“Mandi!!!” tegas Yuli.
Yosi menyerah dan masuk ke dalam kamar Jasmine.
“Tante duluan mandi atau Jasmine?” tanya Jasmine pada Yuli yang baru masuk kamar.
“Kamu aja deh, tante mau rebahan dulu.”
Jasmine mengangguk lalu membawa handuk, baju ganti, dan peralatan mandinya. Keluar dari kamar meninggalkan Yosi yang sedang asik ber-chat ria bersama calon Omnya.
Yuli melihat Jasmine memasuki dapur sendirian dan tidak melihat keberadaan adiknya.
“Tante, kamu mana?”
“Di kamar lagi chatan sama Om Frans. Aku disuruh mandi duluan.”
Yuli hanya mengangguk-anggukan kepala, kemudian melanjutkan kembali kegiatannya menyiapkan makan malam. Jasmine yang merasa tidak ada kelanjutan dari perbincangan mereka, memilih masuk ke dalam kamar mandi memulai pembersihan tubuhnya.
Di dalam kamar mandi Jasmine terus berbicarakan hal yang tidak penting layak berbicara dengan seseorang. Itu salah satu kebiasaan mengerikan Jasmine. Ia sangat suka berbicara sambil memikirkan sesuatu hal yang mengganggu di kepalanya. Seperti sekarang, Ia memikirkan bagaimana bisa hari ini dua cowok mengetahui perasaannya hanya dalam menit yang berbeda.
“Mulai sekarang gue kayaknya harus lihat tempat dulu kalau mau ngomong,” ujar Jasmine sembari menyiram tubuhnya dengan satu gayung air.
“Besok, gue enggak tahu harus gimana hadapin mereka,” keluh Jasmine.
“Nasib seorang Jasmine,” ucapnya lagi sambil memakaikan sabun ke tubuhnya.
“Ayolah, Jasmine. Lo, pasti bisa.” Dan Jasmine terbiasa menyemangati diri sendiri. Jasmine berpikir tidak ada orang yang lebih bisa menyemangti dirinya sendiri selain dia. Menyemangati diri sendiri cukup berpengaruh bagi Jasmine dalam keadaan apapun yang membuatnya merasa tidak kuat dan sedih.
‘Tidak ada orang lain yang lebih mengerti perasaan dan sakitmu melebihi dirimu sendiri, karena itu cobalah untuk menyemangati diri sendiri, cari satu hal yang menjadi motivasi untuk melawan rasa sakit, lelah dan keraguan dalam dirimu. Sejatinya seribu orang yang menyemangatimu belum tentu mampu membangkitkanmu, namun jika dirimu sendiri sudah semangat, seribu orang adalah bonus untuk membuatmu semakin semangat.’
Empat puluh menit berlalu, yang dilakukan Jasmine dalam kamar mandi adalah dua puluh menit mandi, selebihnya berpikir dan berbicara sendiri. Orang lain mungkin tidak salah kalau menganggap Jasmine orang gila, saat melihat kegiatannya yang berbicara sendiri.
Tok...
Tok...
“Jasmine, apa kamu sedang yoga di dalam? Kenapa lama sekali?”
“Sudah siap, Tante.” Teriak Jasmine menjawab pertanyaan Yosi.
Jasmine membuka pintu kamar mandi dan disambut dengan wajah kesal tantenya.
Jasmine terkekeh. “Maaf, Tan. Jasmine enggak sengaja.”
“Kamu sengaja!” gerutu Yosi memasuki kamar mandi dengan perlatan mandi di tangannya.
“Cepat setelah itu siapkan piring untuk makan,” ucap Yuli melirik Jasmine sejenak.
“Iya, Ma.”
Jasmine melangkahkan kaki menuju kamarnya.
“Yosi datang?” tanya Agung yang baru memasuki pintu rumah.
“Iya, Pa. Lagi mandi,” jawab Jasmine melirik tumpukan kertas yang berada di tangan sang Papa.
Agung hanya ber-oh ria menanggapi jawaban putrinya itu.
“Jasmine ke kamar dulu, Pa.”
“Hm!” singkat Agung menjawab Jasmine.
Jasmine menatap tidak suka papanya sejenak, yang sudah duduk di kursi, mengecek tumpukan kertas yang tadi Ia bawa.
‘Sabar, Jasmine,’ ucapnya dalam hati.
‘We could never learn to be brave and patient, if there were only joy in the world.’-Helen Keller.
( Kita tidak akan pernah bisa belajar menjadi berani dan sabar, jika hanya ada kesenangan di dunia ini.) - Helen Keller.
Di dalam kamar, Jasmine sedang mengeringkan rambutnya yang masih basah. Satu teriakan keras dari Mamanya membuat Jasmine terperanjat terkejut.
“Salah lagi,” gerutu Jasmine. Ia menggantung handuk di belakang pintu, lalu keluar dari kamar menemui Yuli.
“Tadi mama bilang langsung kesini, ngapain aja sih, Kamu?” kekesalan Yuli langsung meledak saat Jasmine sudah berada di hadapan-nya.
“Aku lagi ngeringin rambut, Ma. Maaf,” ucap Jasmine lalu mengambil beberapa piring, menyiapkan makan malam.
Yosi hanya dapat tersenyum hambar di kamar mandi, membayangkan hal-hal yang dilewati keponakannya selama ini. ‘Semua akan indah pada waktunya, Jasmine,’ batin Yosi berharap.
Yosi keluar dari kamar mandi. Memberi senyuman terbaik pada Jasmine yang melihat ke arahnya.
“Apa yang bisa ku bantu?”
“Kembalikan dulu perlatan mandi-mu ke kamar. Setelah itu, baru membantu,” balas Yuli.
“Kalau sekarang aku ke kamar, aku harus mengeringkan rambut ku dulu.” Yosi memegang rambutnya yang basah.
“Ya udah keringkan dulu, sana.” Suruh Yuli.
“Kakak enggak marah?”
Yuli menghentikan yang dilakukannya dan menatap Yosi bingung.
“Kenapa harus marah?” tanya Yuli tidak mengerti maksud Yosi.
“Pertanyaan terbaik! Kenapa harus marah ... padanya?” Yosi menunjukkan keberadaan Jasmine dengan tatapannya.
Yuli menghela napas melanjutkan kegiatannya.”Dia memang salah.” Hanya itu jawaban Yuli dan mampu menghadirkan senyum palsu Jasmine.
‘Tentu, Jasmine selalu salah,’ kata Jasmine dalam hati.
Yosi yang menangkap senyuman itu hanya semakin kesal, memilih beranjak pergi menuju kamar Jasmine.
****
“Mama makan dulu aja, biar Aku yang gendong Yuan.” Yuli memberikan Yuan ke pangkuan Jasmine, lalu bergabung dengan Yosi dan Agung untuk makan malam.
Yuan yang ingin di gendong oleh Yuli menangis di pangkuan Jasmine. Ia berusaha menenangkan adiknya-bangkit berdiri untuk menimang-nimang, bernyanyi, mengajaknya bermain, tapi Yuan semakin nangis merentangkan tangan pada mamanya.
“Sabar ya, Dedek. Mama lagi makan. Yuan anak baik diem ya, nanti capek lo nangis terus.” Perkataan-perkataan seperti itu terus Jasmine lontarkan sejak tadi untuk menenangkan Yuan, tapi hasilnya tetap sama, tangis Yuan semakin menjadi.
Sepuluh menit berlalu. Yosi selesai dengan makananya, Ia meminta Yuan pada Jasmine agar ponakannya itu bisa makan, tapi Yuli melarangnya.
“Biarin aja dulu, Dia harus belajar menenangkan Yuan,” ketus Yuli menatap Yosi.
Yosi melirik Agung ingin tahu jawaban dari Abang iparnya itu, tapi yang Yosi harapkan sangat berbeda dari realitanya. Agung hanya melirik sejenak dan kembali fokus pada makanannya.
“Iya, biarin aja, Yos, kamu lanjut makan aja.” Yosi menggelengkan kepalanya menatap kedua orang tua yang sungguh tega itu.
“Kamu makan, Jas. Biar tante yang gendong, Yuan.” Putus Yosi merebut paksa Yuan, karena Jasmine takut dengan kedua orang tuanya jika memberikan Yuan pada Yosi.
“Tante di sini,” ucapnya meyakinkan Jasmine yang ragu. Yosi mengambil salah satu mainan Yuan lalu memberikannya pada bayi yang mulai berhenti menangis itu.
Ia benar-benar tidak menyangka kalau kakaknya bisa bersikap seperti itu pada Jasmine. Sampai-sampai dia yang hanya melihat bisa merasakan betapa menderitanya Jasmine selama ini.
‘Terkadang kau memang harus merasakan sakit dahulu agar tahu bagaimana perjuangan untuk bersabar.’