Seperti pagi-pagi yang sudah berlalu, pagi ini Jasmine sudah siap dengan seragam sekolah miliknya. Jarum jam yang menujukkan pukul lima pagi, seperti menyuruh Jasmine untuk segera berangkat ke sekolah. Itu juga karena Jasmine tidak ingin dirinya terlambat, lagi.
“Jasmine pergi, ya.”Jasmine menyalim tangan Agung yang sedang duduk di sofa, berlalu ke dapur menemui Yuli dan juga Yosi yang sedang menyiapkan sarapan.
“Kamu enggak makan dulu?”
“Enggak,Tan. Jasmine takut telat, makannya nanti pulang sekolah aja.”
“Hati-hati ya, Nak.”.
Tatapan mata serta senyum lebar milik Yuli membuat Jasmine menahan sesak di dadanya.
‘When you look into your mother’s eyes, you know that is the purest love you can find on this earth.’ — Mitch Albom
Dia rindu tatapan hangat mata itu, kerinduan yang Ia tidak tahu pada siapa harus Ia ungkapkan. Dirinya memeluk Yuli sejenak, memejamkan mata merasakan kehangatan tubuh itu.
Ia benar-benar sangat merindukan mamanya yang dulu. Mama yang dengan bebas dia peluk setiap saat, tanpa harus menunggu suasana hati mama yang sedang baik seperti sekarang.
‘Mama selalu bersama Jasmine, tapi kenapa Jasmine selalu merasa jauh,’ batinnya. Ketika Yuli membalas dengan mengusap kepala Jasmine lembut. Sekarang, waktunya untuk bermanja-manja dengan Yuli serta Agung perlahan hilang. Terkadang mereka akan sangat kejam pada Jasmine, dan terkadang seolah-olah sangat menyayangi Jasmine. Sikap orang tuanya membuat Jasmine belajar peka dengan sebuah keadaan. Dari kedua orang tuanya Jasmine belajar yang namanya bertahan, dan menjadi wanita yang kuat seperti sekarang.
“Tante antar kamu, ya.”
Jasmine menggeleng setelah melepas pelukannya pada Yuli. “Enggak usah, Tante.”
“Kalau gitu Tante antar ke depan.” Jasmine mengangguk.
Sebelum pergi, Yuli memberi uang pecahan lima belas ribu pada Jasmine untuk uang jajan. Setiap hari Yuli hanya memberikan jumlah itu pada Jasmine dengan alasan Ia hanya mampu memberikan itu. Namun, alasan sebenarnya agar Jasmine tidak bisa pergi sesuka hati setelah pulang sekolah. Mengingat itulah, Jasmine tidak pernah makan dan minum apapun selama di kantin, dia hanya akan minum beberapa kali jika memiliki uang lebih sisa pemberian Yosi.
“Pa, Jasmine pergi,” pamit Jasmine sekali lagi pada Agung.
“Baik-baik ya, sayang. Sini sebentar.” Sedikit ragu, Jasmine berjalan menghampiri Papanya.
“Anak papa yang baik,” ucap Agung saat Jasmine sudah duduk di sebelahnya.
Agung mengelus kepala Jasmine lembut. “Papa, sayang kamu, Nak.”
Jasmine menghambur ke dalam pelukan Agung. Setetes air mata jatuh ke pipinya membuat Yosi tidak kuasa menahan haru. Jasmine tidak membalas apapun untuk Agung, Ia memejamkan mata sejenak merasakan kenyamanan di pelukan papanya. Jasmine menghapus jejak air mata di pipinya, setelah itu melepaskan pelukannya pada Agung.
“Hati-hati ya, Nak.” Jasmine mengangguk berlalu pergi bersama Yosi yang merangkulnya.
‘Ayah, yang tak banyak bicara terkesan tidak perduli. Tetapi sesungguhnya yang ada dalam hatinya hanyalah kita.’-Shanks
Yosi tersenyum memberi semangat pada Jasmine. “Sekolah yang rajin sayang.”
Mata Jasmine kembali berkaca-kaca. “Makasih, Tante.”
“Udah jangan nangis, nanti jadi jelek berangkat sekolahnya.”
Jasmine mengindahkan ucapan Yosi dan mengusap wajahnya. Sebelum pergi, Yosi memberikan uang dua ratus ribu untuk Jasmine sebagai uang simpanannya, tidak pernah Jasmine menolak rejeki yang datang, walau terkadang dia ragu menerima.
Benar-benar gila, batin Jasmine.
Dia berangkat terlalu pagi dan kemacetan belum sepenuhnya menguasai jalan, karena itu dia tiba di sekolah pukul setengah tujuh, masih ada waktu satu setengah jam lagi sebelum masuk sekolah, tidak ada ruginya memang, tapi saat memasuki gerbang, hanya ada empat motor yang terparkir di sana. Sambil berjalan Jasmine menatap lantai tiga dimana kelasnya berada masih terlihat sepi. Dia sangat ingin duduk di kelas sekarang, tapi memikirkan kelasnya yang mungkin masih kosong, membuat Jasmine takut menjadi orang pertama.
Jasmine sudah sampai di pintu utama sekolah. Dia yang Jasmine kenal sedang mendribble bola basket hingga memasukkannya ke dalam ring. Hati Jasmine menuntun kakinya melangkah mendekati lapangan. Matanya terpaku pada sosok tinggi itu secara terang-terangan. Ari tersenyum menyadari keberadaan Jasmine yang berdiri di pinggir lapangan.
Ari menghentikan kegiatannya, menatap Jasmine masih dengan posisi di tengah lapangan dan Jasmine di pinggir lapangan. “Kamu ngapain di situ? Nanti kena bola bukan salah kakak, ya.”
Jasmine tersenyum. “Aku takut masuk kelas, Kak,” jawab Jasmine ingin tahu reaksi Ari.
“Ayo bareng. Aku mau ke kelas juga.”
“Aku disini aja, Kak.”
“Loh? Tadi katanya mau ke kelas, kenapa mau disini?”
“Aku kan enggak berani ke kelas, Kak. Sedangkan, Kak Ari mau ke kelas di lantai empat, berarti aku sendiri dong di kelas?” Sekali lagi Jasmine menggeleng menolak ajakan Ari.
Ari menghela napas. “Ya udah aku temenin di kelas?” tanya Ari ragu pada Jasmine.
“Eh ... enggak usah, Kak. Jasmine disini aja. Kalau Kakak mau ke kelas duluan aja, enggak papa.”
“Aku berhenti main dan mau ke atas, karena kamu bilang takut, Jasmine,” jawaban Ari membuatnya ternganga.
Jasmine mulai salah tingkah dan gugup. “Kakak tahu dari mana nama...?”
“Kita udah ketemu beberapa kali, apa guna bet nama itu kalau aku tetap enggak tahu nama kamu, dan tadi, kamu juga sebut nama kamu.”
Sejujurnya, Jasmine tahu hal itu. Pertanyaan yang Jasmine lontarkan tadi hanya sebagai pengalih keterkejutannya dengan jawaban Ari yang mengatakan berhenti main karena ingin menemani Jasmine. Sungguh, jawaban yang tak terduga baginya.
“Jasmine?”
Jasmine menatap sisi kirinya dari pintu utama sekolah. Dian sudah berdiri dengan tatapan penasaran.
“Ternyata beneran lo, ngapain disini? Sama....” Mata Dian melirik ke arah Ari yang menatapnya dengan ekspresi biasa.
“Kak, Dian udah datang, Aku ke kelas bareng dia aja, ya?”
“Enggak papa sih, tapi aku juga mau ke atas. Bareng aja enggak papa kan?” tanya Ari menunggu persetujuan Jasmine.
“Enggak papa, Kak. Yuk, bareng aja,” jawab Jasmine.
Mereka bertiga mulai berjalan dengan Jasmine yang berada di tengah, Ari di samping kanannya dan Dian di samping kirinya. Tidak ada percakapan diantara mereka karena rasa canggung yang lebih menguasai.
Sampai di lantai dua, ponsel Dian yang berada di genggaman berdering. Menandakan ada sebuh notif masuk. Dian menghela napas setelah melihat isi pesan dari grup w******p dirinya, Mota, dan Jasmine.
“Ternyata Mota udah di kelas dari tadi, Jas?”
Mata Jasmine langsung tertuju pada Dian, sedangkan Ari hanya melirik sedikit ke arah Dian.
“Lo tahu dari mana?”
“Barusan Mota chat di grup, nyuruh kita cepetan datang karena bosan di kelas,” jelas Dian setelah itu menepuk bahu Jasmine pelan.
“Ya, ampun ... dia telat banget kasih tahunya!” ucap Jasmine merasa kesal dengan Mota.
Ari yang berada di sebelahnya, melirik wajah kesal Jasmine yang baru pertama kali dirinya lihat. Wajah kesal itu sukses menghadirkan senyuman tipis pada bibir Ari.
Kembali hening sampai mereka tiba di lantai tiga, berdiri tepat di samping kelas Jasmine.
“Kalau gitu aku lanjut naik, ya.”
Jasmine mengangguk. “Bye, Kak.”
Setelah Ari hilang dari pandangannya, Jasmine langsung masuk ke dalam kelas menuju mejanya yang berada di tengah kelas, dengan Mota yang tersenyum lebar menyambut kedatangan Jasmine dan Dian.
“Aw ... Sakit, Jas,” keluh Mota mendapat pukulan mendadak dari Jasmine yang baru datang.
“Lo kenapa lama banget bilang kalau udah di kelas?!”
“Ya, gue pikir awalnya lo berdua bakal datang cepat, jadi gue nunggu aja, tahunya lama.”
“Eh, dodol! gue dari tadi udah di bawah, enggak berani naik ke atas karena mikir kelas kosong, tahunya....” Jasmine mengatakan sambil melihat ke arah dua teman mereka yang bersama Mota di dalam kelas.
“Gue enggak salah, Jasmine.”
“Iya, Jas. Harusnya lo terima kasih sama Mota, karena ini lo dapat berkah pagi-pagi,” sambung Dian yang duduk di bangku kosong depan Mota.
“Berkah apa?” tanya Mota penasaran.
“Tadi di bawah, Dia ditemenin sama Kak Ari, gila enggak tu?”
Mota menggelengkan kepalanya menatap Jasmine. “Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Jasmine?”
“Gue kayaknya makin suka sama Kak Ari,” ucap Jasmine dengan pandangan lurus ke depan.
“Karena kejadian tadi?” tanya Dian.
Jasmine mengangguk-anggukkan kepalanya. “Gue benar-benar gila.”
“Emang lo udah gila! Jangan baper dulu dong, Jas. Bisa aja dia begitu karena peduli,” ujar Dian.
“Dia peduli aja, gue udah bahagia banget, Di.”
“Cuma gitu doang, Jas? Ya ampun ... lo yang suruh kita jangan mudah baper, tapi lo sendiri kayak gitu.”
“Gue juga bingung sama diri gue sendiri, Ta.”
‘There are no great things, only small things with great love.’ – Mother Teresa
(‘Tidak ada hal yang besar, hanya hal yang kecil dengan cinta yang besar.’ – Mother Teresa)
Hal itu benar adanya. Orang yang sedang jatuh cinta akan selalu bahagia dengan perbuatan kecil yang Ia dapatkan, karena di dalam pemberian itu bukan hanya terkandung nilai, tapi juga cinta yang mampu menyandingi nilai kecil itu dengan cinta yang besar.
“Udah siap PR belum?” tanya Mota pada Jasmine.
“Udah dong,” ucap Jasmine bangga.
“Bagi. Gue belum ngerjain-lupa,” ujar Mota menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Eleh ... bilang aja kebanyakan chat sama Kak Leo.”
Alis Jasmine terangkat, menatap Mota meminta penjelasan. Hal itu membuat Mota memukul lengan Dian, karena mulutnya yang sengaja memberitahu Jasmine.
“Lo bilang enggak mau pacaran dulu, tapi chat-nya dibales. Jangan PHP-in cowok, lo!” tegas Jasmine.
“Ih kagak! Kita cuma chat biasa aja,” jawab Mota ragu, karena Mota mengecilkan suaranya saat mengatakan kata ‘Biasa aja’.
Dian tertawa mendengar itu. “Udah ah. Gue ke kelas dulu.”
Jasmine dan Mota melihat Dian beranjak hingga hilang di balik tembok.
“Buruan, Jasmine! Nanti guru udah datang.”
Jasmine menatap Mota tanpa ekspresi sebelum mengambil buku di dalam tasnya. Walau tanpa ekspresi, tatapan mata Jasmine saja sudah mengisyaratkan banyak hal bagi yang sudah mengenalnya dekat. Tentu seperti Mota dan Dian.
Setelah keluar dari kelas MIPA 1. Dian terkejut karena dicegat oleh seorang cowok yang menanyakan tentang Jasmine.
“Maaf, Kak. Permisi.” Hanya itu yang Dian katakan setelah melihat bintang tiga pada seragam cowok di hadapannya itu, yang menandakan kalau dia sudah kelas dua belas.
“Tempat tinggal aja, deh.” bujuk cowok itu pada Dian. Namun, Dian tetap diam dan melangkah terus menuju kelasnya.