Beban Pikiran Jasmine.

1506 Kata
Baru selangkah Dian keluar dari MIPA 1. Tiba-tiba Ia dikagetkan oleh seorang cowok, yang  menanyakan tentang Jasmine. Permintaan maaf, hanya itu yang Dian katakan setelah melihat bintang tiga pada seragam cowok di hadapannya itu, yang menandakan kalau dia sudah kelas dua belas. “Tempat tinggal aja, deh,” bujuk cowok itu pada Dian. Namun, Dian tetap diam dan melangkah terus menuju kelasnya. “Gue serius!” geram cowok itu menahan pergelangan tangan Dian. Dian benar-benar kesal saat ini. Bagaimana bisa ada orang yang tidak saling mengenal melakukan ini padanya? “Gue juga serius, Kak! Gue enggak tahu tentang, Jasmine.” “Bacot! Jelas-jelas lo temannya.” Pertengkaran keduanya menuai perhatian dari murid-murid yang ada di sekitar mereka, memasang kuping dengan mengatur pendengaran setajam mungkin. “Mulut dijaga, ya. Dari tadi gue berusaha sabar karena lo kakak kelas, jangan sampe gue enggak hormat sama lo!” Dian melangkahkan kakinya, namun kembali ditahan oleh cowok itu. “Mau lo apasih?!” kesal Dian. “Gue mau tahu Jasmine tinggal dimana!” “Emang kenapa? Lo suka?” Cowok itu menggelengkan kepalanya cepat. “Enggak mungkinlah! Gue disuruh sama temen.” Jawaban itu membuat Dian mendekatinya, menginginkan penjelasan lebih. “Kasih tahu gue siapa yang suruh, gue kasih tahu rumahnya Jasmine di mana, gimana?” Cowok itu tampak berpikir. “Bonus nomor lo juga, gimana?” Mata Dian melotot pada cowok di hadapannya itu. “Gila!” “Kenalin nama gue Jodi, nama lo siapa?” tanya Jodi tidak menghiraukan perkataan Dian. “Siapa yang suruh lo, Kak? Mau gue kasih tahu alamatnya enggak?” “Sumpah, ya! Lo harus kasih tahu.” “Iya-iya!” “A-ari,” jawab Jodi ragu. “Jalan Suparto, Gg. Hena No. 28.” Setelah mengatakan itu Dian pergi meninggalkan Jodi memasuki kelasnya. “Cewek gila!” kesal Jodi. Tettt... Tett.. Bel istirahat sudah menghebohkan seluruh kelas di Xaverius. Jam istirahat adalah jam terbaik saat sekolah, itu bukan opini, tapi fakta yang membahagiakan. “Kita sudahi sampai disini dulu. Selamat siang,” ucap Guru Kimia mengingat jam sudah menunjukkan pukul dua belas. “Jasmine, jangan lupa antarkan buku tugas ini ke ruang guru, ya,” sambung guru itu memerintahkan Jasmine. “Iya, Buk,” balas Jasmine. Jasmine, ketua kelas? Tidak. Hari ini ketua kelas mereka tidak hadir, karena itu sejak tadi Jasmine yang disuruh oleh para guru yang masuk ke kelas mereka. Jasmine anak yang pintar, ramah juga baik, karena itu banyak guru yang menyukai dan mengandalkannya. Setelah menyusun barang-barangnya ke dalam tas. Jasmine bangkit berdiri diikuti Mota. “Buruan. Gue belum makan tadi pagi, laper banget.” Mota mengikuti Jasmine menuju meja guru. Mengangkat masing-masing setengah buku di tangan mereka. “Wah ... disuruh lagi, Jas?” tanya Dian yang berdiri di ambang pintu kelas menunggu Jasmine dan Mota yang sedang menghampiri Dian. “Lo udah bisa minta gaji sama sekolah, Jas. Disuruh mulu,” gerutu Mota. “Kalau enggak ikhlas, sini, gue aja yang bawa,” kata Jasmine berhenti melangkah. “Iya-iya ikhlas!” Jasmine mengintip sedikit ke arah tangga. Melihat betapa padatnya tangga yang dipenuhi para murid yang berbondong-bondong ke lantai bawah. “Tunggu bentar lagi aja ya, Jas?” bisik Mota. “Lanjut ajalah, Ta. Nunggu tangga kosong mustahil banget.” Jasmine melangkah, bergabung dengan beberapa orang yang sedang menunggu untuk menuruni anak tangga, diikuti oleh Mota dan Dian. Selangkah, demi selangkah, dengan penuh kesabaran dan hawa panas. Akhirnya, mereka sampai di lantai satu. “Kalian duluan aja ke kantin, ntar gue nyusul.” Mota memberikan tumpukan buku itu pada Jasmine, dan berlalu bersama Dian menuju kantin. Jasmine melangkahkan kakinya memasuki ruang guru, menyapa beberapa guru yang ada di ruangan itu. “Ini bukunya, Buk.” Jasmine meletakkan tumpukan buku itu di atas meja dengan rapi. “Jasmine, duduk dulu, Ibu mau bicara.” Jasmine bingung, namun dirinya tetap duduk menuruti perkataan guru Kimia yang menjabat sebagai wali kelasnya juga. “Begini. Tadi pihak koperasi memberitahu Ibu kalau ternyata kamu belum membayar uang buku, apa benar?” Jasmine mengangguk. “Iya, Buk.” “Kenapa, Nak?” “Orang tua Saya belum ada uang, Buk. Tapi secepatnya akan Jasmine bayar.” “Iya, Jasmine. Kamu tahukan bagaimana sekolah ini? Hanya kamu yang menerima dispensasi dan dapat membayar uang buku dengan mencicil, Ibu takut kamu enggak bisa ikut ujian kalau belum membayar.” Jasmine ingat itu. Bagaimana orang tuanya memohon pada pihak sekolah mengenai biaya sekolahnya. Untungnya Jasmine mendapatkan beasiswa, walau bukan beasiswa full setidaknya setengah dari biaya sekolah dan uang buku ditanggung oleh pihak sekolah. Memang Yosi yang memilih Xaverius untuk Jasmine, tapi keduanya tetap berpikir bahwa Xaverius adalah sekolah elite yang biayanya sangat mahal. Tidak mungkin mereka hanya menerima Yosi membayar seutuhnya biaya sekolah Jasmine. “Secepatnya Jasmine akan bayar, Buk.” “Baiklah, Nak. Kamu sudah bisa istirahat.” “Oh, iya, Buk. Kalau boleh tahu, berapa lagi yang harus Saya bayar?” “Karena pembayaran terakhir, berarti delapan ratus lagi, Nak.” Jasmine tersenyum. “Terima kasih, Buk. Kalau gitu Saya pamit.” Ia bangkit berdiri, melangkah meninggalkan meja. Jasmine menghela napas setelah keluar dari ruang guru. Kepala Jasmine mendadak penuh memikirkan dari mana dirinya mendapatkan uang sebanyak itu dengan waktu yang cepat? Meminta uang pada mama-papanya sangat tidak mungkin. Nama Yosi terlintas di benaknya, tapi segera Ia tepis karena tidak ingin kembali merepotkan Yosi. Biaya masuk sekolah di Xaverius hingga uang sekolah Jasmine sejak masuk, Yosi lah yang membayar, dan sekarang Ia tidak ingin merepotkan tantenya itu lagi. “Jasmine?” Mata Jasmine menatap Jere yang menatapnya, lalu beralih menatap Ari yang berada tidak jauh di belakangnya. “Hai, Jer.” “Hai, Ka....” Belum sempat Jasmine menyapa. Ari sudah pergi melewati mereka tanpa mengatakan apapun. “Kamu ngapain disini?” “Hem ... mau ke kantin,” jawab Jasmine cepat. “Aku nanya kamu ngapain disini, bukan mau kemana.” “Eh ... maksud Aku ... E ... baru ngantar buku ke dalam.” Jasmine menunjukkan pintu ruang guru yang berada di belakang tubuhnya. Jere terkekeh, membuat Jasmine bingung. “Kamu kenapa ketawa?” “Lucu aja. Terkadang pakai aku, kamu, terkadang kita pakai lo, gue.” Jasmine hanya tersenyum tipis tidak tahu harus mengatakan apa. “Gimana kalau mulai sekarang, kita pakai aku, kamu aja?” “Terserah, Kamu.” Jasmine tidak ingin pembasan ini semakin panjang. “Ya udah, sekarang kita ke kantin. Udah mau masuk lima menit lagi.” “E-enggak deh, Jer. Aku balik ke kelas aj-“ Jasmine nyaris jatuh karena perbuatan Jere yang tiba-tiba menarik tangannya, menyatukan jemari mereka yang terlihat sangat pas. “Aku beneran mau ke kelas, Jer,” bujuk Jasmine. “Kamu belum beli apapun! Setidaknya beli sesuatu untuk perutmu, setelah itu baru kembali ke kelas,” putus Jere. Awalnya, Jasmine berpikir kalau Jere terlalu sempurna untuknya, tapi akhirnya Jasmine menemukan hal yang tidak Ia sukai dari cowok itu. Sifatnya yang seperti ini, memaksakan kehendak tanpa peduli dengan keputusan orang lain. Jasmine sadar kalau Jere melakukan itu demi kebaikannya, tapi Ia juga tidak suka dipaksa. Jasmine menghela napas dan memilih mengikuti langkah Jere saja. Hingga sampai di kantin matanya menangkap Mota dan juga Dian yang sedang melambaikan tangan padanya. “Jer, Aku sama teman ku aja.” Jasmine menunjuk meja dimana Mota dan Dian berada. “Ya udah, kamu mau beli apa? Biar aku beliin,” ucap Jere melepaskan genggaman tangannya dengan Jasmine. “Roti sama air mineral aja.” Ia memberikan uang pecahan sepuluh ribu pada Jere.                                                                                                                              “Pakai uang ku aja.” Jere sudah melangkah pergi sebelum Jasmine bisa menolaknya. Ia memilih melangkahkan kaki menuju meja sahabatnya sembari menunggu Jere. Kali ini Jasmine tidak sadar kalau kedatangannya tadi tidak hanya disambut oleh mata kedua sahabatnya, tapi Ari dan juga Jodi menatap kedatangan dua sejoli yang bergandengan tangan itu. Pemikiran yang sedang kacau membuat Jasmine sulit memikirkan hal lain dan tidak menyadariitu. “Hai!” sapa Jasmine. “Ditungguin dari tadi, tahunya pacaran.” Jasmine tersenyumkecut. “Gue lagi enggak mood bahas itu,” jawab Jasmine dengan tatapan kosong lurus ke depan. Mota dan Dian yang menyadari sesuatu telah terjadi. Meletakkan sendok mereka, menggeser posisi duduk agar fokus pada Jasmine. “Cerita sama kita,” pinta Mota to the point. “I’m fine,” jawab Jasmine melirik kedua sahabatnya bergantian. Dian yang berada di sebelah Jasmine mengelus bahu sahabatnya itu dengan lembut. “Kita maksa lo buat cerita. Kalau lo enggak terima bantuan kita enggak papa, asal lo bagi ke kita apa yang jadi masalah.” “Gue mau istirahat. Rasanya capek banget.” Suara lirih Jasmine akhirnya keluar. Ia menundukkan kepalanya sembari menutup wajah dengan telapak tangan. “Jangan gini dong, Jas.” Dian memeluk Jasmine dari samping merasakan kesedihan sahabatnya itu. Selain Yosi, Dian dan Mota juga menjadi saksi berubahnya hidup dan penderitaan Jasmine. “Kita tahu lo selalu kuat,” lirih Dian. Mota hanya bisa diam menatap kedua sahabatnya berpelukan. Mota ingin memeluk Jasmine, tapi memikirkan mereka di kantin. Tiga orang berpelukan akan mencuri perhatian orang yang berada di sekeliling mereka. “Jas....” panggil Mota. Jasmine menarik napas, lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Menghilangkan jejak air mata yang jatuh di pipinya. Jasmine tersenyum. Senyuman yang di dalamnya terkandung kepura-puraan. “Gue udah lebih baik.” Kedatangan Jere yang di sadari oleh Jasmine membuatnya memberitahu Mota dan Dian untuk bersikap biasa saja. Ia tidak ingin orang lain tahu apa yang Ia rasakan. “Ini pesanan kamu.” Tet... Tet... “Pas banget,” ucap Jere saat Jasmine mengambil roti dan ari mineral dari tangannya. “Ini beneran kamu yang bayar?” “Iya.” Jasmine tersenyum. “Kalau gitu kita duluan, ya.” Jere mengangguk. “aku mau makan dulu sebentar.” Setelah berpamitan. Mereka bertiga pergi berjalan meninggalkan Jere keluar dari kantin. Mota mengambil alih air mineral Jasmine untuk dia pegang. “Lo sambil makan aja, ngisi perut, kali ada mood lo balik.” Jasmine membuka plastik roti selai itu dan memakannya perlahan. Langkah kaki Jasmine sangat tidak bersemangat kali ini, setiap gigitan pada roti juga tidak Jasmine nikmati karena jiwa dan pikirannya berkelana. “Kayaknya kita enggak bisa main ke rumah gue dulu.” “Ha? Kenapa?” “Lo, lagi ada masalah. Enggak mungkin kita bisa senang-senang,” ujar Dian lagi. Jasmine menggelengkan kepalanya. “Jangan kayak gini dong. Gue enggak papa, beneran.” “Jas...,” panggil Dian ingin membantah. “Kalian harus pergi! Kalau kalian enggak pergi, gue bakal ngambek!” menatap kedua sahabatnya. Dian menghela napas. “Oke, kita berdua jadi main ‘tanpa lo, lagi’!” Mota menekankan kalimat ‘tanpa lo, lagi’. Jasmine mengangguk. “Sekarang kita naik.” Mereka bertiga kembali melangkah menuju tangga untuk kembali naik ke lantai di mana kelas mereka berada.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN