Awalnya Rajan tidak berniat memperdulikan ponselnya, tetapi ketika matanya melihat nama dari orang yang akrab dengannya yakni Luruh membuat pemuda itu melihat isi pesan Luruh dengan serius kemudian tanpa berlama-lama lagi Rajan mengingatkan tangan kanannya untuk selalu melaporkan hal yang terjadi di restoran ini padanya dan jangan lupa menutupnya dengan benar sebab Rajan harus pergi dulu.
"Ruy! Tolong nanti lu selalu melaporkan hal yang terjadi di restoran ini sama gue ya! Oh iya sama jangan lupa menutup restoran dengan benar kalau udah pada balik ya! Gue gak bisa lama-lama di sini soalnya ada urusan dulu dan paling besok pagi gue baru ke sini lagi, hasil dari pendapatan restoran jangan lupa kirim ke rekening gue ya! Assalamualaikum," ujar Rajan serius.
Tanpa menunggu jawaban dari tangan kanannya kemudian Rajan bergegas menuju rumah sakit untuk menemui Lara yang sepertinya sendirian di sana, pemuda itu mengendarai mobilnya dengan cepat sebab ia khawatir jika Giran lebih dulu datang di banding dirinya lalu sesampainya Rajan di rumah sakit pemuda itu disapa oleh dokter yang merawat luka Luruh tadi.
"Selamat sore mas Rajan! Mau bergantian menjaga nona Lara ya? Oh iya tadi nona Luruh di bawa ke ruang UGD karena lengannya terluka jadi mungkin karena itu dia pulang dan gantian sama mas Rajan ya? Tolong mas Rajan awasi luka nona Luruh juga ya," ucap dokter itu ramah.
Mendengar hal ini Rajan mengerutkan dahinya bingung dan ia balik menanyakan apa yang di maksudkan dokter sebab Luruh tidak bercerita soal luka yang di katakan dokter ini lalu dengan santai dokter itu menjelaskan bahwa Luruh di bawa pemuda karena lengannya terluka cukup dalam.
"Sore juga, dokter! Hah? Siapa terluka? Luruh? Maksudnya bagaimana sih dokter? Kapan Luruh terluka? Luruh tidak bilang apa-apa sama saya loh! Apa mungkin dokter salah orang kali? Dokter yakin Luruh yang dokter bicarakan itu adiknya Lara yang sedang di rawat di rumah sakit? Tidak tertukar dengan pasien lainkah dokter?" tanya Rajan bingung.
"Tidak mungkin tertukar, tadi itu saya sedang membantu di ruang UGD terus ada pemuda yang membawa Luruh ke UGD dengan lengan luka seperti tergores benda tajam yang cukup dalam, tapi tidak sampai harus dijahit hanya di obati dan di perban saja untuk memulihkan luka itu dan saya pesankan pada mereka untuk periksa kembali 3 hari kemudian! Tentu saja Luruh yang adiknya nona Lara memang siapa lagi mas Rajan? Masa mas tidak tau?" tutur dokter itu serius.
Rajan terdiam dan ia langsung menghubungi Luruh dan menanyakan apa yang terjadi padanya sebab bagaimanapun juga Rajan mengkhawatirkan Luruh yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri sedangkan Luruh meminta Rajan untuk jangan bercerita dengan Lara yang khawatirnya keadaan kakaknya bisa menurun karena mengetahui lukanya.
"Halo, assalamualaikum! Luruh! Kamu dimana? Apa maksud ucapan dokter yang biasa datang memeriksa Lara, dek? Memang apa yang terjadi pada lenganmu itu? Yakin lukanya sudah baik-baik saja? Mau aku pesankan perban lagi tidak? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kenapa kamu gak cerita sama kak Rajan?" ujar Rajan khawatir.
"Waalaikumsalam, aduh iya! Dia itu dokter yang biasa memeriksa kak Lara ya? Tenang saja aku baik-baik saja hanya musibah biasa dan sudah membaik kok! Oh iya kak Rajan tolong jangan bilang atau cerita ke kakak ya? Aku tidak mau keadaan kak Lara semakin memburuk hanya karena mengetahui kalau aku terluka, rahasiakan ini dari kakakku ya?" ucap Luruh sendu.
Dalam diam Rajan mengerti mengapa Luruh berbicara seperti ini memang keadaan Lara sangat mengkhawatirkan jadi satu-satunya pilihan mereka adalah menganggap jika ucapan Luruh ini adalah pilihan terbaik untuk semuanya dan tak lama panggilan telepon berakhir dengan lalu Rajan kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat Lara.
"Jadi seperti itu maksudnya Luruh ya? Dia tidak ingin membuat kakaknya khawatir, untuk itu kami terpaksa merahasiakan hal ini demi kebaikan Lara juga sih ya? Sangat logis jika Luruh tak bercerita apapun ya karena dia berusaha untuk melindungi Lara dan tidak membuat orang lain khawatir padanya? Sedikit ironis cuma ya sudahlah Luruh yang mau begini," batin Rajan datar.
"Kak Rajan? Halo kak? Kakak masih bisa dengar ucapanku bukan? Pokoknya tolong banget ya kak! Jangan sampai keadaan kak Lara memburuk karena hal yang menimpaku! Aku tidak ingin menjadi masalah untuknya jadi hal yang bisa aku lakukan hanya seperti ini kak! Kak Rajan juga tidak mau melihat kakakku masuk ICU lagikan? Nah sama aku juga begitu," ujar Luruh serius.
"Iya masih dengar dek! Baiklah kalau itu maumu kakak akan merahasiakan ini, tapi jika butuh bantuan atau apapun bilang sama kakak ya? Ya sudah aku tutup teleponnya dulu! Jangan lupa rawat lukamu dengan benar dan jangan sampai Lara melihat lukamu itu nanti malah kamu yang tanpa sengaja membocorkan rahasiamu sendiri," ucap Rajan santai.
Sesampainya di kamar rawat Lara dari kejauhan Rajan memandang Lara yang sibuk menonton televisi sambil menulis sesuatu di buku yang baru kali ini Rajan lihat gadis itu menulis di buku itu kemudian ketika pintu terbuka Lara menyimpan buku itu di belakang punggungnya dan Lara menyapa Rajan lembut.
"Rasanya aku tidak membawakan buku untuk Lara? Eh? Itu dia menulis sesuatu ya? Baru kali ini aku melihat Lara menulis seperti itu? Bukunya juga terlihat tak biasa di mataku? Sebenarnya itu buku apa sampai aku yang biasanya menjaga Lara saja tidak pernah sadar kalau dia menulis sesuatu di sana? Apa mungkin itu diary ya? Sejak kapan Lara menulis itu?" batin Rajan bingung.
"Wah, akhirnya kamu datang juga ya Rajan? Bagaimana pekerjaanmu apakah hari ini restoranmu ramai? Harusnya saat ini kamu masih di sana kan ya? Hanya saja karena Luruh ada urusan mendadak ia jadi memintamu menjagaku, maafkan kami yang menyusahkanmu ya? Oh iya aku menitip kopi instan untukmu di lemari pendingin! Jangan lupa di minum ya," ucap Lara lembut.
Sebenarnya Rajan bisa saja bertanya langsung pada Lara mengenai buku yang gadis itu pegang dan ia sembunyikan seperti itu, tetapi Rajan paham satu hal jika Lara belum berbicara apapun padanya maka artinya Lara belum mau bercerita apapun jadi ia memilih menanyakan apa yang Lara lakukan saat adiknya pergi tadi.
"Maaf jika aku terlalu lama ya? Ya tidak terlalu ramai hanya saja ada beberapa makanan yang terjual! Tenang saja kamu tidak menyusahkan sama sekali kok, wah! Terima kasih untuk kopinya lalu sejak tadi Luruh pergi apa yang kamu lakukan sendirian di kamar ini? Sepertinya wajahmu tidak bosan sama sekali ya," ujar Rajan santai.
Gadis itu tersenyum dan menjawab jika dirinya sibuk menonton salah satu acara televisi dan Rajan hanya menanyakan bagaimana hari Lara bersama Luruh, sayangnya Lara memilih fokus dengan acara di televisi dan menyimpan buku yang tadi Rajan lihat di bawah bantalnya lalu Lara memilih bersikap santai saja.
"Tidak lama kok, syukurlah jika usahamu berjalan lancar Rajan! Sama-sama, sejak tadi aku cuma menonton acara televisi saja dan kebetulan acaranya cukup seru jadi mungkin karena itu wajahku jadi tidak terlihat tidak bosan sama sekali ya? Terkadang wajah dan perasaan yang di rasakan oleh hati itu tak sama jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan Rajan," ucap Lara santai.
"Iya aku merasa senang jika banyak hal baik terjadi dalam hidupku, menyenangkan ya acaranya? Bagaimana dengan harimu bersama Luruh tadi? Hm? Apakah kalian bersenang-senang selama aku tidak ada? Aku harap kamu bisa selalu bahagia dengan begitu keadaanmu bisa semakin membaik dan tadi tidak ada masalah apapun saat aku pergi kan ya?" tanya Rajan lembut.
Dalam diam pemuda itu menyadari jika Lara tidak ingin di ajak bicara dulu untuk saat ini jadi tak lama Rajan memutuskan untuk menyiapkan buah untuk dijadikan camilan Lara, suasana itu terasa begitu hening dan Lara paham jika Rajan berusaha mengajaknya bicara hanya saja Lara merasa tak ada yang bisa ia bicarakan pada pemuda itu.
Di saat Rajan yang sedang sibuk memotong buah sambil menyiapkan obat dan makan malam untuk Lara tiba-tiba ia di tanya oleh Lara mengenai buku lain yang biasanya Rajan bawakan untuk teman Lara di saat gadis itu merasa bosan seperti saat ini, kemudian Rajan meminta maaf dan ia berjanji besok akan membawa buku yang lain untuk Lara.
"Oh iya, Rajan! Tumben sekali hari ini kamu tidak membawakan aku buku untuk aku baca? Apakah kamu tidak pulang ke rumah dulu? Aku jadi tak memiliki teman kalau nanti aku merasa bosan? Rasanya buku-buku yang kamu pinjamkan padaku seperti dunia baru yang membantuku mengetahui banyak hal, lalu kenapa sekarang tak ada buku-buku itu Rajan?" tanya Lara bingung.
"Astagfirullah, aku lupa Lara! Maaf ya? Maafkan aku yang hari ini tidak membawa buku untuk menjadi temanmu saat bosan, tenang saja besok akan aku bawakan buku yang lain agar kamu bisa mengetahui banyak hal lagi ya? Bagaimana kalau sekarang kamu bosan ajak saja aku bicara agar kamu memiliki temanmu saat bosan? Aku tidak keberatan kok," ucap Rajan santai.
Lara yang mendengar nada santai pemuda itu membuat Lara tersenyum lalu gadis itu bertanya mengapa Rajan bersikap baik padanya padahal pemuda itu bisa mengabaikan Lara jika ia mau lalu dengan santai Rajan balik bertanya apakah perlu alasan untuk bersikap baik pada orang.
"Baiklah aku maafkan, oh iya Rajan! Kenapa kamu bersikap baik padaku? Padahal kamu bisa loh mengabaikan aku jika kamu mau, lalu kenapa kamu bersusah-susah bersikap baik padaku? Apa alasanmu sebenarnya? Apakah kamu tak lelah bersikap baik pada orang penyakitan seperti aku ini? Hm?" tanya Lara serius.
"Tiba-tiba saja kamu bertanya begini, Lara? Apakah aku harus memiliki alasan untuk bersikap baik pada orang? Manusia itu punya pilihan untuk menjadi baik atau apapun dan kita tidak boleh membeda-bedakan manusia lainnya hanya karena kita terlihat lebih baik darinya, coba kamu pikirkan kenapa aku baik padamu? Adakah alasan yang terlintas olehmu?" tanya Rajan lembut.
Mendengar ucapan tidak biasa dari Rajan membuat Lara memandang sendu dan ia tak masalah jika Rajan ingin menjauhinya sebab Lara hanya ingin Rajan bahagia dengan hidupnya bukan malah kerepotan karena keterbatasan yang Lara miliki ini, tetapi dengan santai Rajan bilang bahwa kebahagiaannya adalah Lara dan ia tak memiliki alasan apapun untuk menjauh.
"Aku bertanya padamu karena aku juga tak paham dengan pikiranmu, Rajan! Aku tak apa-apa jika kamu ingin menjauh dariku sebab aku hanya ingin kamu bahagia dengan hidupmu bukan malah kerepotan karena penyakit dan keterbatasan yang aku punya ini! Tolong jauhi aku jika memang itu yang bisa membuatmu lebih bahagia tanpaku," ujar Lara sendu.
"Kamu tak perlu memikirkan aku, Lara! Aku tak akan mungkin menjauhimu karena alasan aku merasa bahagia itu adalah kamu! Kamulah satu-satunya alasan aku merasakan kebahagiaanku jadi mana mungkin aku menjauhimu hanya karena apa yang menimpamu? Di hidupku aku tidak memiliki alasan apapun untuk menjauh darimu Lara," tutur Rajan lembut.
Seketika suasana ruang rawat itu menjadi hening dan Rajan mengusap-usap kepala Lara lembut sebab ia tidak ingin Lara terus-terusan menyalahkan dirinya seperti ini, dalam diam Rajan tau bahwa jika mungkin gadis itu berbicara seperti ini hanya untuk menjauhkan Rajan dari rasa sakit akan cintanya.
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, Lara! Kamu tidak seburuk yang kamu pikirkan kok! Aku memilih untuk selalu berada di sisimu karena itu keinginan diriku sendiri jadi kamu tidak perlu terus-terusan menyalahkan dirimu seperti ini! Bahagiakan saja dirimu maka aku akan bahagia dengan semua pilihanmu Lara! Apapun yang terjadi nantinya aku akan tetap berada di sisimu seperti kamu yang selalu berada di sisiku ketika aku kehilangan kedua orang tuaku waktu kita kecil dulu," ucap Rajan lembut.