Apa Yang Salah

1798 Kata
Gadis itu berpikir jika dirinya melukai Luruh maka tak ada yang akan membantu gadis itu, tetapi tanpa Laninna ketahui sebenarnya Axton yang sudah dengan kepergian Laninna yang pergi tiba-tiba seperti itu membuatnya pergi ke rumah sakit dan saat Axton hendak ke kamar rawat Lara dirinya malah melihat Luruh yang berjalan menuju minimarket. Dari sanalah Axton terus mengikuti istrinya bahkan ia juga mendengarkan percakapan antara Luruh dan Laninna hingga ketika Laninna berlari menghampiri Luruh membuat Axton bergegas melindungi Luruh dengan sengaja menutupi punggung bawah istrinya dengan lengannya. Namun sebelum pecahan kaca itu berniat melukai istrinya ia berusaha menahannya sayangnya Laninna tetap melukai Luruh walaupun arahnya tanpa sengaja berubah karena Laninna melihat lengan Axton menutupi punggung bawah Luruh jadi Laninna hanya mampu menggores lengan atas Luruh yang saat itu dekat dengan pecahan kaca yang ia pegang. Seketika tatapan Axton kali ini benar-benar menakutkan untuk Luruh sebab pemuda itu terlihat marah saat ia melihat lengan atas Luruh tergores oleh Laninna yang kini memegang pecahan kaca kecil yang sepertinya gadis itu dapatkan dari alat riasnya. "Kamu ini apa-apaan sih, Laninna! Kenapa kamu malah menyerang istriku?! Apa salah Luruh sampai kamu menyakiti dia seperti ini hah!! Dia tidak pernah mengusik kamu terus kenapa kamu malah melukainya!! Bukankah sudah jelas aku bilang bahwa kamu jangan mengganggu Luruh terus sekarang kamu begini!! Benar-benar memalukan sekali sih!" murka Axton geram. "Kenapa Axton bisa ada di sini? Bukannya sejak tadi hanya ada kami berdua? Ya ampun aku bisa semakin tak di sukai oleh Axton nih?! Tidak! Kenapa aku tidak memperhatikan sekelilingku? Padahal tadi aku kira rencanaku sudah aman dan gadis itu akan habis di tanganku! Terus kok malah jadi seperti ini sih?" batin Luruh terkejut. Beberapa orang terlihat menutup mulutnya terkejut sementara Laninna menangis karena dirinya tak menyangka perbuatannya akan langsung terlihat oleh Axton seketika pecahan kaca yang ada di genggaman tangannya terlepas dari tangan Laninna dan tak cukup sampai di sana Axton memilih membawa Luruh ke rumah sakit tanpa menenangkan Laninna yang terdiam. "Ia lebih memilih pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku? Memang apa salahku sampai ia terlihat tak perduli begini? Aku hanya berusaha mengejar cintaku dan menyingkirkan orang yang menghalangi jalanku! Apa Axton tidak bisakah menanyakan perasaanku sedikit saja? Aku hanya ingin hatinya bukan malah seperti ini," gumam Laninna sendu. Melihat luka Luruh yang masih terus membuat hati Axton khawatir semakin cepat juga langkah kaki Axton membawa istrinya ke ruangan UGD lalu akhirnya Luruh mendapatkan perawatan yang penanganan pertama dan lengan atas Luruh di perban kemudian meminta Axton untuk merawat luka Luruh dan 3 hari kemudian luka istrinya harus diperiksa kembali. "Syukurlah nona ini di bawa ke rumah sakit dengan cepat, lukanya cukup dalam hanya saja tak perlu dijahit hanya di perban saja jadi nanti masnya tolong jangan lupa merawat luka nona ini ya? Nanti 3 hari setelah ini tolong masnya ajak nona untuk memeriksa keadaan lukanya! Tolong jangan kena air dulu biarkan lukanya mengering dan pulih," ucap dokter itu serius. Setelah selesai mengobati luka Luruh tak lama dokterpun pergi dari hadapan Axton dan Luruh lalu ketika hendak kembali ke kamar Lara tiba-tiba saja Luruh memegang ujung kemeja Axton membuat pemuda itu menanyakan apa yang terjadi sampai gadis itu terdiam seperti ini. "Apa Luruh? Sekarang apalagi? Kamu mau aku membiarkan dirimu terluka gitu? Ini kenapa lagi memegang ujung kemejaku? Apa yang ingin kamu katakan padaku? Hm? Jangan bilang kamu mau aku mengantar kamu pulang ke rumah? Atau ada hal lain apa, Luruh?" tanya Axton bingung. Seketika Luruh menangis dan menjelaskan ia belum membawa belanjaannya dan mereka perlu kembali ke minimarket untuk membeli pesanan kakaknya dan beberapa buah yang sudah dirinya pilih dan Luruh masukan ke keranjang belanjaannya. "Bukan ingin pulang, Axton! Aku tadi belum membayar belanjaanku, di sana ada pesanan kak Lara dan beberapa buah dan camilan untuk kakakku! Bagaimana bisa kamu meninggalkan troli yang belum aku bayar itu? Terus sekarang troli aku bagaimana? Jangan-jangan keranjangku sudah di rapihkan staff minimarket itu? Ya ampun Axton," tangis Luruh sedih. Mendengar ucapan istrinya yang seperti ini membuat pemuda itu menggeleng-gelengkan kepala tanda ia tak paham dengan jalan pikiran Luruh, tetapi tangan pemuda itu menyentil dahi Luruh pelan kemudian Axton menggenggam Luruh untuk pergi ke minimarket dengan dirinya. "Astaghfirullah, Ya Allah! Luruh, di kirain tuh kenapa kamu nangis-nangis begini? Taunya kamu cuma kepikiran troli belanjaan doang? Begitu aja mah bisa kita ambil lagi! Udah jangan nangis lagi nih ayok kita ke minimarket buat bayar belanjaan sama pesanan kakakmu! Lagian tadi itu keadaannya darurat makanya aku utamain kamu dulu eh kamu malah mikirin troli belanjaan di banding nyawa kamu sendiri," ujar Axton datar. Sesampainya di minimarket tak lama Axton menanyakan kemana troli belanjaan yang sempat di bawa istrinya pada salah satu staff kemudian staff tersebut menunjukkan troli Luruh yang ada di tempat tadi sebab staff khawatir jika nona akan datang lagi, Luruh yang melihat trolinya mengucapkan terima kasih dan memeriksa belanjaannya. "Mas! Permisi, saya mau nanya soal troli belanjaan istri saya yang tadi terluka itu mas! Ada di mana ya sekarang? Apakah sudah ada yang membereskan trolinya? Atau bagaimana ya mas? Kami mau membayarkan belanjaannya! Bisa tolong tunjukkan jalan menuju keberadaan troli belanjaan kami mas?" tanya Axton serius. "Oh troli yang itu ya? Trolinya masih ada di tempat yang sebelumnya soalnya kamu khawatir jika nona datang dan membutuhkan trolinya lagi! Setelah kepergian nona dan mas, mba yang tadi melukai nona juga ikut pergi entah ke mana, mari saya tunjukkan jalan menuju troli belanjaan kalian! Ke sini jalannya nona," ucap staff itu takut. "Begitu ya mas! Terima kasih banyak karena anda mau membantu kami dan aku senang bisa menemukan troli belanjaanku! Sekali lagi makasih banyak ya mas! Aku dan suamiku jadi lebih terbantu karena usaha masnya! Nah itu dia troli belanjaanku! Akhirnya kita tinggal harus bayar belanjaan ini Axton," tutur Luruh senang. Luruh yang sudah selesai memeriksa belanjanya tak lama bergegas memegang tangan Axton untuk membantunya mendorong troli ke kasir kemudian Axton membayarkan belanjaan Luruh dan ia menyuruh istrinya untuk jangan membawa barang berat dulu biar ia saja yang membawa kedua plastik ini. "Sudah kamu tidak usah ikut mendorong troli ini biar aku saja yang mendorongnya sendiri! Oh iya nanti plastik belanjaannya biar aku saja yang bawa, kamu jangan membawa barang berat dulu karena lenganmu masih terluka kan! Sudah kamu pegangan lenganku saja biar aku yang membawa kedua plastik belanjaanmu ini," ujar Axton serius. Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti dan Luruh memegang lengan Axton erat hingga mereka sampai di depan kamar rawat Lara, tetapi sebelum masuk ke kamar Lara tidak lama Luruh berbisik untuk jangan bercerita soal lukanya karena ia khawatir keadaan kakaknya bisa tak stabil jika tau dirinya terluka. "Eh, Axton! Nanti lu jangan cerita soal luka gue ya? Tolong banget ini tuh! Gue gak mau kak Lara jadi kepikiran dan malah nantinya dia khawatir sama keadaan gue terus bisa jadi keadaan kak Lara malah bisa tidak stabil kalau tau gue terluka pas belanja buat dia! Lu bisa kan tolongin gue? Serius gue gak mau dia kenapa-kenapa Axton," bisik Luruh serius. Tak ada sahutan apapun dari Axton melainkan pemuda itu melanjutkan langkahnya sementara Luruh yang panik terus saja merengek pada Axton untuk jangan membuat kakaknya marah pada dirinya, tetapi Axton lebih memilih memasukkan belanjaan tadi ke dalam lemari pendingin sebab Axton merasa marah pada dirinya sendiri sebab tak bisa melindungi istrinya dan karena dirinya Luruh justru terluka begini. "Ih jangan diem aja dong! Bilang iya gitu! Ya ampun Axton gue minta tolongnya kan cuma hari ini aja masa lu gak mau bantuin gue sih? Ayoklah tolongin gue dan janji sama gue kalau lu gak akan bilang yang tadi gue minta tolong! Jangan menyeramkan begini dong! Asli nih gue takut banget! Takut nantinya malah jadi panjang masalahnya! Ya Allah Axton lu tinggal bilang iya doang masa susah banget sih," gumam Luruh takut. "Apanya yang melindunginya! Dia terluka karena aku dan rasanya kesal banget saat tau hal ini tuh terjadi karena aku! Harusnya gue sebagai suaminya memberikan rasa aman bukan malah jadi penyebab dia terluka begini! Sebenarnya gue ini kenapa sih?! Cuma buat melindungi orang yang berarti di hidup gue masa kesulitan begini sih perasaan," batin Axton sendu. Dalam diam Lara yang melihat Luruh menempel dan terus merajuk pada suaminya membuat hati Lara sedikit merasa lega karena setidaknya Luruh berada di dekat orang yang tepat, tetapi perasaan lega yang di rasakan Lara tak berlangsung lama karena mata Lara melihat lengan baju Luruh terlihat aneh dan ia seperti melihat perban di tangan adiknya. "Syukurlah jika Luruh sudah berada dengan orang yang tepat seperti Axton ini, sepertinya Luruh dan Axton sudah mulai saling terbiasa bersama ya? Eh itu lengan baju Luruh kenapa terlihat agak aneh ya? Perasaan sebelum berangkat gak begitu? Apa cuma perasaan aku aja kali ya? Terus itu yang di lengannya apa? Perban? Kenapa Luruh bisa di perban ya?" batin Lara bingung. Axton yang menyadari jika Lara memperhatikan lengan istrinya membuat pemuda itu bergegas melepaskan jasnya untuk di pakaikan ke bahu Luruh sambil ia memberi kode pada Luruh bahwa ia perlu mengikuti dirinya ke luar dari kamar rawat ini dan Luruh mengerti dan beralasan jika ia ingin pulang untuk menemani Axton makan siang. "Ini udah selesai aku rapihin sayang, kamu harusnya jangan ikut duduk depan lemari pendingin begini dong! Baju kamu kan tipis tuh liat, nih aku pinjamkan jasku nanti kita makan siang di rumah sekalian kamu ganti baju yang lebih tebal supaya kamu gak kedinginan seperti ini lagi ya sayang," ucap Axton lembut. "Oh iya kamu benar! Kebetulan ini sudah waktunya makan siang ya makanya kamu jemput aku kan? Kak, aku sama Axton pulang ke rumah dulu ya sebentar soalnya dia itu kalau makan harus aku temani nanti aku ke sini lagi dan akan aku minta kak Rajan untuk menemani kakak di sini ya kak! Assalamualaikum," sahut Luruh santai. Tanpa menunggu sahutan apapun dari Lara tak lama Luruh dan Axton langsung berjalan keluar kamar rawat untuk pulang ke rumah dan selama di perjalanan Luruh mengirim Rajan pesan jika dirinya ada urusan dengan Axton jadi ia meminta Rajan untuk menemani kakaknya dulu karena Luruh khawatir jika Giran mengganggu kakaknya lagi. "Kak Rajan! Aku ada urusan sebentar sama Axton di rumah jadi tolong temani kak Lara dulu ya di rumah sakit! Tadi Giran gangguin kakak aku lagi jadi buat jaga-jaga lebih baik kakak temani kak Lara supaya dia gak bisa menyakiti atau mengganggu kakak aku lagi," pesan Luruh serius. Di lain tempat Rajan masih memikirkan Lara walaupun sebenarnya pemuda itu ingin sekali tidak perduli dengannya, tetapi hati Rajan tidak bisa ia bohongi dan perasaannya masih jelas dimiliki oleh gadis yang pertama ia cintai dan juga penyebab hatinya hancur seperti ini. "Harusnya aku tidak perlu memperdulikan Lara toh mau diriku berjuang seperti apapun hatinya bukan untukku, tapi aku juga tidak bisa membohongi hatiku yang masih ingin memperjuangkan Lara walaupun dia cinta pertamaku dan juga luka yang aku miliki! Setidaknya aku telah berusaha sebaik mungkin yang aku bisa untuknya," gumam Rajan sendu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN