Mendengar ucapan Axton yang seperti mengusir dirinya membuat Laninna menggeleng-geleng kan kepalanya tanda kalau Laninna tidak setuju dengan ucapan Axton dan pemuda itu hanya menyahuti kemarahan Laninna dengan serius sebab mau Laninna setuju ataupun tidak mereka hanyalah teman saja.
"Aku tidak akan semudah itu membiarkan kalian bahagia! Harusnya hati Luruh yang patah dan aku akan tetap melakukan apapun yang aku inginkan jadi mau kamu bilang apa juga aku akan tetap tidak setuju dengan ucapanmu dan akan aku buat kamu menyesali keputusan ini, Axton! Hanya aku yang bisa membahagiakan kamu tau tidak?!" ujar Laninna kesal.
"Kalau kami bahagia ya kamu juga urus saja kebahagiaanmu! Kenapa kamu harus mengusik kebahagiaan orang lain!! Aku tak akan menyesali keputusanku dan kebahagiaan itu tercipta dari hati sendiri bukan dari orang lain, Laninna! Sadarlah bahwa kamu hanya temanku saja jadi mau kamu setuju atau tidak sekalipun aku tidak mengurusi keputusanmu," sahut Axton datar.
Air mata Laninna sudah tidak bisa tahan lagi dan gadis itu pergi dengan amarah dan rasa sedih yang terlihat di wajahnya, suara pintu yang tertutup dengan bantingan membuat Axton hanya bisa menghela nafasya lelah sebab ia sudah berjanji bahwa ia hanya akan membahagiakan Luruh bukan seseorang yang memanfaatkan dirinya Laninna.
"Tidak mengurusi keputusanku katanya? Tidak bisakah sedikit saja ia memikirkan perasaanku? Aku benar-benar tak habis pikir sampai hati ia berbicara seperti ini? Apakah semua hal yang aku perjuangkan untuknya tidak sedikitpun membuatnya memahami perasaanku? Teman? Kata itu benar-benar terdengar tega hingga mematahkan hatiku Axton," batin Laninna sendu.
"Kebaikan dan sikap baikku disalah artikan olehnya hingga ia seperti tidak ingin melihat aku dan Luruh bahagia padahal memang sejak awal kita itu murni berteman setelah putus, ia sendiri yang bilang muak dengan sikapku lalu sekarang ia juga yang bilang hanya ia bisa membuat aku bahagia? Benar-benar gadis yang labil sekali dia itu," gumam Axton datar.
Sementara di lain tempat Lara masih sibuk menatap salah satu acara di televisi dan Luruh sibuk memeriksa camilan dan stok buah kakaknya sebab ia tidak ingin Lara kekurangan buah ataupun camilan jadi ia mengamati lemari pendingin dengan serius dan bertanya siapa yang memotong buah Lara jika dirinya tidak ada di samping Luruh.
"Wah beberapa buah dan camilan kakak mulai habis ya? Oh iya siapa yang memotong buah untuk menjadi camilan kakak? Seingatku aku jarang sekali memotong buah dan kalau malam kakak ingin makan buah lalu gak ada aku di samping kakak itu siapa yang menyiapkannya kak? Apakah kakak meminta bantuan perawat yang berjaga? Hm?" tanya Luruh lembut.
Mata Lara masih terlihat fokus dengan acara di televisi sesekali ia melihat Luruh sambil gadis cantik itu menyahuti ucapan adiknya dan Luruh tersenyum melihat usaha Rajan yang benar-benar memperlakukan Lara dengan lembut bahkan rasanya Luruh merasa Lara di mata Rajan seperti ratu untuknya.
"Iya itu mulai habis juga selalu di isi Rajan, orang yang selalu memotong dan menyiapkan buah untukku tentu saja Rajan, dek! Memang siapa lagi yang mau membantu kakakmu ini? Mana tega kakak mengganggu perawat yang sedang bertugas hanya untuk memotong buah! Kamu ini ada-ada saja Luruh," sahut Lara santai.
"Ternyata kak Rajan memang serius dengan perasaannya! Syukurlah jika ada seseorang yang mencintai kakak dengan tulus setidaknya hatiku menjadi terasa lebih tenang dan dari ucapan kakak rasanya aku bisa memahami jika Rajan benar-benar memperlakukan kak Lara dengan lembut seolah di mata kak Rajan ketika melihat kak Lara itu ratu di hatinya," batin Luruh senang.
Lara yang tidak mendengar respon adiknya membuat gadis itu mengalihkan pandangannya dan melihat kenapa Luruh tersenyum seperti ini padahal seingat Lara ia tidak sedang melucu atau bercanda dengan adiknya sedangkan Luruh yang di tanya hanya menjawab asal lalu ia pamit ingin pergi ke minimarket yang dekat sini untuk membeli beberapa buah dan camilan untuk Lara.
"Kenapa kamu diam saja, dek? Loh kenapa kamu tersenyum seperti itu? Emang dari ucapan kakak ada yang lucu ya? Seingat kakak sejak tadi kakak tidak sedang melucu atau bercanda denganmu? Terus kenapa kamu malah senyum-senyum begitu sih, Luruh?" tanya Lara bingung.
"Aku tidak sedang diam, hanya berusaha memahami ucapan kakak saja kok! Memang kenapa jika aku tersenyum? Masa kakak melarang aku tersenyum begitu? Aku kan bukan tertawa kak, ya wajar kalau aku tersenyum jika tidak ada yang lucu atau bercanda itu karena aku sedang ingin tersenyum saja! Oh iya kak, aku pamit ke minimarket ya? Sampai nanti ya kak! Tenang aku gak akan lama kok," ucap Luruh santai.
Mendengar adiknya hendak pergi ke minimarket membuat Lara mengingatkannya untuk hati-hati dan Lara menitip kopi instan yang biasa Rajan beli sebab entah kenapa Lara ingin memberi kopi tersebut untuk Rajan sementara Luruh menggoda kakaknya kemudian berlalu pergi keluar dari ruang rawat Lara.
"Kamu ini pandai sekali mengalihkan pembicaraan, dek! Ya sudah kamu harus hati-hati di jalan dan oh iya aku nitip kopi instan yang kaleng 1 dong! Kamu tau kan kopi yang biasa Rajan beli? Nah belikan 1 untuknya dan ingat kamu tidak boleh pergi lama-lama ya? Kakak takut jika Giran ke sini lagi dek," sahut Lara santai.
"Duh yang teringat ayangnya ya? Hahaha! Baiklah akan aku belikan sesuai nyonya Rajan deh! Beli 10 juga aku tak masalah kok kak! Tenang saja aku akan hati-hati dan tidak akan pergi lama karena tuan Rajan memintaku menjagamu dengan baik kan hahaha! Pria itu tak akan ke sini lagi dan kalau kakak ketakutan panggil saja nama kak Rajan 10 kali kak," canda Luruh senang.
Tak butuh waktu yang lama untuk Luruh sampai di minimarket kemudian gadis itu bergegas mengambil troli dan memasukkan beberapa buah dan camilan yang memang disukai oleh Lara, awalnya Luruh sangat menikmati waktu belanjanya hingga tak sengaja mata Luruh melihat seseorang yang tidak ingin temui.
Melihat Laninna membeli sesuatu di dekatnya membuat Luruh tidak ingin berurusan dengan teman suaminya itu jadi Luruh memutuskan untuk melanjutkan langkahnya untuk memilih-milih beberapa buah yang lain dan kebutuhan kakaknya, tetapi tiba-tiba Laninna mengatakan bahwa dulu Axton selalu menemani dirinya belanja bulanan.
"Aduh! Manusia satu itu lagi? Aku tidak ingin berurusan dengan gadis menyebalkan itu, tetapi kenapa malah bertemu di sini sih?! Kayak gak ada minimarket lain saja! Entah dunia yang terlalu tak luas atau memang dia adalah ujian untukku? Ah sudahlah sebaiknya aku melanjutkan untuk beli pesanan kak Lara saja deh! Daripada berurusan dengan Laninna itu," batin Luruh sebal.
"Tidak aku sangka ternyata bisa bertemu dengan nyonya Axton di minimarket ini, mungkin apa yang akan anda dengar ini akan menyakitkan hatimu hanya saja kamu juga harus tau bahwa dulu suamimu selalu menemani diriku belanja bulanan loh! Gak kayak kamu di jadikan istri, tapi ke mana-mana sendiri? Statusmu tak berarti apapun untuknya tau gak?!" ucap Laninna bangga.
Tentu tidak bisa Luruh bohongi jika hatinya sedih ketika mendengar ucapan Laninna yang selalu saja membahas kenangan mereka padahal gadis itu tau bahwa Luruh adalah istrinya, tetapi meskipun Laninna berusaha mematahkan hati Luruh sebisa mungkin ia menyahutinya dengan santai sementara Laninna merasa geram dengan respon Lara.
"Oh hai, teman suamiku ya? Kamu bebas berkata apapun padaku toh mungkin di matamu aku dan ia hanya memiliki status tak berarti sayangnya ia telah berjanji menemaniku sampai akhir hidupnya jadi mau dia melakukan apapun denganmu saat dulu setidaknya itu hanya kenangan dan masa depannya bukan lagi tentangmu melainkan bersamaku Laninna," sahut Luruh santai.
"Bagaimana bisa gadis ini terlihat santai dan tidak terpengaruh dengan ucapanku? Seperti inikah hati seorang istri? Rasanya aku tidak bisa membiarkan gadis ini berbangga hati di depanku?! Harusnya hatimu yang patah, Luruh! Bukan aku!! Pokoknya aku akan membalasmu lebih dari ucapanmu hari ini padaku!!" batin Laninna geram.
"Aku paham sih dia sengaja berkata menyakitkan untuk membuatku mundur dari sisi Axton lalu dengan begitu hanya dia yang bisa menghibur suamiku dan aku kehilangannya, tetapi maaf aku bukan gadis lemah yang seperti kamu bayangkan, Laninna! Apapun yang kamu katakan padaku maka aku akan tetap bertahan untuknya meskipun rasa sakit ini tetap tak bisa aku hindari setidaknya aku tak ingin kehilangannya hanya karena orang asing sepertimu," batin Luruh sendu.
Entah mengapa melihat Laninna seperti menahan kesal seperti ini membuat Luruh membalas ucapan Laninna sambil gadis itu memperingatkan Laninna untuk jangan terikat pada masa lalu yang sudah berlalu kalau tidak ia akan tenggelam dalam kata andaikan.
"Loh kenapa kamu terdiam seperti ini? Sudah berakhir ya obrolanmu? Kalau begitu aku kasih tau kamu satu hal kalau sebaiknya kamu jangan terlalu terikat pada masa lalu yang sudah terjadi dan tak akan bisa kamu ulangi lagi, Laninna! Hiduplah untuk dirimu sendiri maka dengan begitu tak ada satu orangpun yang menyakitimu! Di banding seperti ini? Kamu hanya tenggelam dalam kata andaikan yang tak pernah terulang lagi," ujar Luruh datar.
Tanpa Laninna sadari Luruh melihat jika tangan Laninna terkepal seperti ia berusaha untuk tidak terpancing dengan ucapannya kemudian dengan santainya Laninna berusaha untuk membuat Luruh menyerah atas pernikahannya dan ia juga menghina Luruh yang di anggap harusnya hati gadis aneh ini yang patahkan bukan dirinya.
"Kesombongan hanya akan menghancurkan manusia sepertimu, Luruh! Mungkin sekarang kamu bisa berpikir jika kalian akan bahagia selamanya! Hanya saja kehidupan berputar dan kalian belum tentu selamanya seperti ini! Baik Axton yang mematahkan hatiku atau ucapanmu yang seperti ini! Pokoknya akan aku buat hatimu yang patah bukan aku!" ucap Laninna geram.
Luruh yang mendengar ucapan Laninna tanpa sadar memahami jika Axton sudah memperingati Laninna hingga hati gadis itu merasa di patahkan makanya ia berusaha membalas rasa sakitnya pada Luruh dan entah mengapa rasanya Luruh senang karena Axton lebih memilihnya jika di banding gadis ini.
"Apa katanya barusan? Axton yang mematahkan hatinya? Jadi Axton sudah berusaha untuk memperingati Laninna? Pantas saja dia membalas rasa sakitnya padaku karena dia merasa hatinya dipatahkan oleh Axton! Ya wajar orang Axton suamiku! Dia pikir suamiku itu macam suami dalam film yang mendukungnya apa! Eh kok aku senang ya Axton lebih memilih aku di banding gadis itu!" batin Luruh senang.
Dalam diam Laninna merasa heran mengapa Luruh bisa terlihat biasa saja padahal ucapannya telah menyakitkan dan harusnya ia balik marah atau paling tidak gadis itu memandangnya kesal, tetapi Luruh malah terlihat biasa saja seolah-olah ucapan Laninna hanya angin lalu.
"Rasanya seperti ada yang salah melihat gadis itu biasa saja ya? Seingatku ucapanku telah menyakitkan dan harusnya ia balik marah atau paling gak mata dia bisa terlihat memandang aku kesal kan ya? Terus kenapa dia seperti tak berekspresi apapun? Apa jangan-jangan dia itu berpikir ucapanku itu cuma angin lalu aja?" batin Laninna bingung.
Bahkan tak hanya sampai di sana saja melainkan Luruh memilih melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Laninna sendirian, dari kejauhan Laninna melihat punggung Luruh yang seolah-olah menghinanya membuat gadiis itu mengeluarkan kaca dari alat riasnya yang kemarin tidak sengaja pecah dan Laninna ingin membuat Luruh merasakan rasa sakit yang ia rasakan.
"Gak! Aku tidak boleh kalah dan di tinggalkan begitu saja nih?! Dia harus menerima rasa sakit yang lebih sakit dariku! Pokoknya siapapun tidak boleh mengambil Axtonku dan ia harus lebih menderita dari aku?! Rasakan pembalasan aku ini Luruh! Kamu akan paham sesakit apa aku bertahan di antara kalian!!" gumam Laninna geram.