Mencintaimu

1787 Kata
Rasanya hari itu Rajan tidak tau harus bagaimana dan ia memutuskan memikirkan masalah ini di ruangannya sampai waktu terus bergerak menjadi sore hari, tetapi tak ada solusi yang Rajan temukan jadi pemuda itu hanya bisa mengusap wajahnya berusaha menenangkan dirinya. "Apa yang aku pikirkan sejak tadi sih sebenarnya? Perasaan cinta Lara bukan kendali yang bisa aku paksakan dan gak ada gunanya juga aku memikirkan masalah ini karena di sini keduanya punya sisi salahnya masing-masing jadi aku gak bisa berbuat apapun untuk mereka berdua toh aku di sini cuma sebagai seseorang yang mencintaimu, Lara! Kasihan ya aku," lirih Rajan sendu. Di tengah rasa sedih yang dirasakan Rajan di lain tempat Luruh sudah sampai di depan kamar rawat kakaknya kemudian di sana ia melihat dari balik kaca kecil yang ada di pintu, di dalam sana ada Giran yang seperti mengomeli kakaknya hingga membuat Luruh berusaha memahami apa yang terjadi di antara mereka saat ini. "Pagi seseorang yang masih mencintaiku dengan hebatnya! Aku hadir untuk menjengukmu dan nampaknya kamu semakin tak baik-baik saja jika tanpaku iya bukan? Sudahlah kamu hanya tinggal kembali saja padaku saja maka semua akan kembali baik-baik saja? Bukankah orang yang saling mencintai itu harus berada dalam hubungan yang jelas, Lara!" ujar Giran serius. "Berhentilah berbicara seperti ini, Giran! Aku tak pernah memintamu datang untuk menjengukku! Selama ini aku selalu tanpamu jika kamu lupa jadi tidak usah berpura-pura baik padaku karena aku tau kamu tak pernah ingin bersikap seperti ini padaku kan? Sudahi sandiwaramu ini Giran! Kita sudah berpisah jadi buat apa membahas hal yang sudah hancur ini," sahut Lara datar. "Sepertinya pria itu tidak pernah lelah mengganggu kakakku! Dia yang telah tega mematahkan hati kakakku lalu sekarang ia juga yang dengan santainya bilang cinta? Keadaan macam apa ini? Aku jadi khawatir jika kakak kembali kambuh karena pria tak berlogika itu! Oh iya aku lihat dari sini nanti kalau dia keterlaluan baru aku bantu kakak," batin Luruh khawatir. Sementara di dalam sana Giran masih berulang kali bilang cinta pada Lara dan lagi-lagi pemuda itu membual bahwa hanya dirinya yang bisa bersama dengan Lara, sejujurnya Lara sudah tidak sanggup lagi mendengar hal yang sudah tak bisa ia perbaiki lagi jadi Lara menyuruh Giran untuk berhenti mengganggu dirinya. "Bukankah dulu kamu paling menyukai jika aku banyak berbicara denganmu? Tentu aku datang karena aku ingin menemanimu dan dengan begitu kamu akan paham bahwa aku bersungguh-sungguh padamu jadi berhentilah memandang rendah usahaku, Lara! Sudah hancur masih bisa di perbaiki kenapa kamu tak ingin memperbaikinya? Bukankah itu mudah," ucap Giran santai. "Memperbaiki katamu? Apa yang ingin kamu perbaiki? Sikap selingkuhmu? Mulut manismu pada banyak gadis? Atau sikapmu yang selalu memudahkan segala cara demi egomu? Coba bilang padaku mana yang ingin kamu perbaiki? Hatiku telah remuk lalu kamu meminta kita untuk bersama? Tidakkah ucapanmu ini terlalu egois untukku? Pergi dari sini," ujar Lara datar. Bukannya pergi Giran malah menghina Lara yang sendirian dan gadis itu mulai kehilangan rasa sabarnya hingga ia memarahi Giran yang selalu menghinanya bahkan Lara juga menjelaskan jika pemuda itu telah terlambat jika ingin memperbaiki hubungan mereka yang sudah hancur karena Giran sendiri yang menghancurkannya. "Nampaknya kamu masih payah! Memperbaiki itu hubungan kita bukan diriku! Aku selingkuh? Tidakkah kamu sadar bahwa denganmu aku tak merasa bahagia? Kamu yang keluar masuk rumah sakit membuatku merasa kosong dan tidak ada salahnya jika ada seseorang yang hadir untuk menghiburku! Bagusnya aku masih tetap memilihmu di sini kok," sindir Giran bangga. "Lalu kenapa kamu masih ada di sini membicarakan soal cinta dengan orang payah yang tak pernah membahagiakan kamu! Mana ada orang yang mencintai malah mencari penghibur saat aku tengah berjuang hidup! Ke mana saja kamu saat aku masuk ICU karena selingkuhanmu menghina adikku! Ke mana cinta yang datang terlambat di saat kita telah hancur?! Sekarang kamu sudah terlambat untuk memperbaiki hubungan ini! Kita telah berakhir!" murka Lara geram. Tatapan dan nada yakin dari Lara membuat Giran merasa kesal dan mendorong Lara sampai terjatuh sementara Luruh yang tak terima dengan sikap Giran seperti ini membuatnya bergegas masuk dan membantu kakaknya untuk berdiri dan dengan lembut Lara membantu kakaknya untuk istirahat di tempat tidurnya. "Astagfirullah, kakak! Bagaimana mungkin pria sehat sepertimu melawan seorang gadis yang sedang sakit hah! Apakah kakak baik-baik saja kak? Mari kak kita berdiri! Duduk sini dan coba aku lihat apakah ada yang terluka? Ya ampun tangan kakak terluka begini," ucap Luruh lembut. Melihat ada orang yang mengganggu dirinya membuat Giran memarahi Luruh untuk jangan ikut campur dengan masalahnya sementara Luruh dengan santai menekan tombol memanggil perawat kemudian dua orang perawat datang dan menanyakan kenapa Luruh menekan tombol memanggil perawat. "Menyingkirlah, Luruh! Kenapa kamu mengganggu kami hah?! Bukankah aku pernah bilang bahwa kamu jangan terlalu ikut campur dengan masalah ini!! Lalu kenapa kamu masih saja bersikap sok pahlawan kesiangan begini!! Kami tidak membutuhkan kamu di sini sebaiknya kamu pergi saja dari sini! Cepat, Luruh!!" omel Giran kesal. "Selamat pagi nona! Ada yang bisa kami bantu? Bolehkah kami tau kenapa nona yang di sana menekan tombol memanggil perawat? Apakah nona Lara membutuhkan bantuan kami? Kalau sekiranya nona butuh bantuan silakan katakan pada kami ya?" tanya salah satu perawat serius. Luruh yang paham jika mereka berdua tak akan sanggup mengusir pria batu model Giran ini membuatnya menjelaskan pada kedua perawat untuk membawa pemuda itu pergi sebab tadi ia mendorong dan menyakiti kakaknya, kedua perawat itu menatap tangan Lara yang terlihat terluka kemudian mereka bergegas membawa Giran pergi dari ruangan itu. "Oh iya selamat pagi juga mas, ini loh mas! Kakak saya di dorong hingga tangannya terluka dan pria ini marah-marah tidak jelas mengganggu ketenangan kakak saya yang sedang dalam masa pemulihan! Tolong di tangani ya mas? Saya ingin kakak saya bisa istirahat dengan nyaman bukan malah seperti ini loh mas," tutur Luruh serius. Setelah kepergian Giran tak lama Lara memeluk Luruh dan berterima kasih karena adiknya mau membantu dirinya padahal sejak tadi Lara sudah tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi dan sejenak ia menyadari jika Rajan telah berbuat banyak padanya lalu Luruh menyahuti bahwa Rajan mencintai Lara dan harusnya kakaknya memahami perasaan gadis itu. "Kamu memang pandai, Luruh hehe! Terima kasih banyak karena kamu mau membantu kakak ya! Sejak tadi melihat Giran masuk ke ruangan ini rasanya aku tidak tau harus meminta bantuan pada siapa lagi dan untungnya ada kamu, kalau di pikir-pikir lagi aku jadi sadar bahwa Rajan telah berbuat banyak padaku selama ini! Dia memang orang baik sekali ya," ucap Lara sendu. "Sama-sama kak, nih ya kak! Aku kasih tau kenapa kak Rajan baik sekali sama kakak itu karena dia mencintai kakak jauh lebih besar di bandingkan ia mencintai dirinya sendiri loh! Pria yang tulus pada kakak pasti akan rela melakukan apapun demi kakak dan kak Rajan menerima semua hal yang ada pada kakak loh! Dia benar-benar mencintai kakak," sahut Luruh lembut. Mendengar ucapan adiknya membuat Lara menundukkan wajahnya sendu sebab bukan dirinya tak paham melainkan Lara hanya merasa tidak pantas untuk bersanding di samping Rajan dan gadis itu sadar bahwa ucapan Giran telah menghancurkan kepercayaan dirinya bahkan rasanya Lara hanya bisa menyatukan kepingan hatinya yang kini telah remuk. "Bukan kakak tak tau soal perasaannya pada kakak, dek! Hanya saja rasanya kakak merasa tak pantas untuk bersanding di sampinhnya! Dia layak mendapatkan gadis yang jauh lebih baik dan menemaninya seumur hidup bukan malah gadis penyakitan ini! Mungkin ucapan Giran telah membuatku lebih hancur hingga tak bisa mempercayai diriku sendiri," batin Lara sendu. Tidak hanya Lara saja yang lelah dengan Giran melainkan Axton juga lelah dengan ucapan Laninna yang membuat wajah Axton terlihat tanpa ekspresi saat menghadapi Laninna yang masih saja berbicara omong kosong seperti ini padanya begitu juga di lain sisi Lara sudah tak tau lagi harus membuang jauh-jauh Giran dari pikirannya karena setiap datang ia selalu bilang cinta padahal hubungan mereka telah berakhir jadi untuk apa cinta itu ada di hatinya. "Selamat pagi, Axton! Ini aku buatkan kue buatan aku sendiri loh! Nanti jangan lupa di makan ya karena aku membuat kue ini dengan cinta karena memang hanya aku yang mencintaimu dan paham seleramu di banding siapapun loh! Bagaimana nanti siang aku bawakan bekal juga, Axton? Kamu pasti mau kan ya," ucap Laninna manja. "Mau sampai kapan gadis ini akan menyerah dengan omong kosongnya? Mana ada cinta yang seperti ini? Jelas-jelas aku menyuruhnya untuk tidak mengganggu aku dan Luruh terus lihatlah kelakuannya ini! Sikapnya hanya akan membuat masalah antara Luruh dan Aku! Rasanya aku ingin pindah kota saja bersama Luruh! Mulai lelah sekali aku padanya ini," batin Axton lelah. "Aku masih tak paham dengan jalan pikiran, Giran! Setelah ia mematahkan hatiku dengan tanpa perasaan lalu sekarang ia bilang cinta dan hal yang mudah untuk memperbaiki hubungan? Dia itu kenapa sih?! Hubungan kita telah berakhir jadi untuk apa cinta itu masih ada di hatinya? Bukankah dia mencintai Narunna? Sebanyak apa cinta yang ia miliki hatinya," batin Lara sendu. Sayangnya Laninna seolah-olah tak perduli dengan wajah Axton yang tanpa ekspresi karena ia hanya ingin mendapatkan apa yang ia inginkan dan Axton sudah tak bisa lagi menahan amarah yang ia pendam sejak pagi terlebih ia masih tak menyangka Laninna mencampuri urusan hidup Axton padahal pemuda itu tidak pernah ingin Laninna bersikap seperti ini. "Ini aku potong kuenya ya? Agar kamu bisa langsung makan dan tidak perlu kerepotan maka aku akan membantumu, Axton! Sini mau sekalian aku suapin juga tidak? Kue ini kesukaan kamu tau, Axton! Dari pagi-pagi sekali sudah aku buatkan supaya kamu tau bahwa perasaanku ini sungguh-sungguh padamu Axton," ucap Laninna manja. "Berhentilah bersandiwara di hadapanku, Laninna! Aku tak menyangka kamu menyerang Luruh di belakangku! Kamu menyakiti hati Luruh dengan ucapanmu yang hanya omong kosong itu ya?! Kamu hanya temanku dan kamu tidak harus mencampuri urusan hidupku sebab aku juga tidak pernah menyuruhmu bersikap tamak seperti ini pada istriku!!" murka Axton geram. Biasanya Laninna tidak masalah dengan ucapan apapun yang Axton katakan padanya, tetapi kali ini hatinya seperti di hancurkan hanya karena amarah dari Axton yang di anggap Laninna jika pemuda itu lebih membela Luruh di banding dirinya yang mencintai pemuda itu. "Tak masalah jika ia mau bilang apapun tentangku, tapi entah mengapa rasanya kali ini hatiku seperti di hancurkan olehnya! Aku yang selalu melindungi dan membantunya ketika ia muak dengan gadis-gadis di sekelilingnya! Lalu kenapa aku juga yang merasa seperti di buang juga oleh Axton! Apa kurangku? Aku telah menjadi yang terbaik untuknya," batin Laninna sendu. Wajah teman baiknya memang terlihat sedih, tetapi Axton tidak ingin termanipulasi dan malah kehilangan istrinya hanya demi temannya saja jadi dengan tegas pemuda itu meminta Laninna untuk merenungi kesalahannya dan memikirkan hidupnya sendiri. "Pulang dan renungi kesalahanmu dan bawa semua makanan ini bersamamu, Laninna! Kita itu hanya teman jadi mulai sekarang kamu harus mulai memikirkan hidupmu sendiri! Aku tak akan mungkin lagi membantumu sebab aku perlu menjaga istriku dan kamu bisa menikah dengan pria lajang yang lebih baik dari diriku ini," ujar Axton datar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN