Permohonan yang terasa begitu melekat di hati Luruh dan Axton membuat keduanya bersantai di pantai itu dengan menikmati setiap deburan ombak serta menikmati indahnya pemandangan malam itu sementara di lain tempat Lara masih asik membaca lembaran buku di hadapannya.
Rajan yang sibuk menyiapkan selimut untuk dirinya tidur tiba-tiba saja di kejutkan oleh ucapan Lara mengenai apa pendapat Rajan saat melihat Giran yang selalu datang dan mengatakan hal yang sudah terlambat ia katakan, mendengar pertanyaan ini membuat pemuda itu ikut berpikir dan ia merasa jika dirinya tak akan memahami Giran karena pemikiran berbeda satu sama lain.
"Aku ingin bertanya pendapatmu, Rajan! Apa alasan Giran hadir kembali dan selalu datang untuk mengatakan hal yang sudah jelas terlambat untuk ia katakan padaku bukan? Sebagai sesama pria itu menurutmu bagaimana? Ataukah ia hanya ingin mempermainkan perasaanku saja ya, Rajan?" tanya Lara sendu.
"Loh kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti ini, Lara? Kalau di pikir-pikir memang terasa agak aneh ya? Hanya saja aku tak akan memahami alasan Giran hadir kembali karena bagaimanapun juga pemikiran kami berbeda satu sama lain dan harusnya kamu tidak perlu memikirkan hal ini toh tak akan merubah apapun bukan," ucap Rajan lembut.
Lara menundukkan wajahnya sebab ia berharap jika setidaknya ucapan Rajan bisa menghibur hatinya yang terasa cukup dilema padahal Lara sendiri tau jika dari hubungannya dengan Giran sudah tak ada yang bisa ia selamatkan dan tak ada juga yang perlu Lara pikirkan lagi tentang pemuda itu.
"Benar juga, bukankah kami telah berakhir dan tak ada gunanya aku memikirkan hubungan yang telah hancur ini! Memang Giran yang menginginkan perpisahan ini dan sudah tak ada yang bisa aku selamatkan lagi kan? Harusnya aku tidak perlu memikirkan orang yang jelas-jelas tak akan mungkin ia memikirkan diriku ini kan ya," batin Lara sedih.
Melihat gadis yang Rajan cintai seperti sedang dalam keadaan perasaan yang tak baik seketika Rajan berusaha menanyakan apa alasan Lara menanyakan soal Giran padanya padahal selama ini Lara jarang sekali menceritakan perasaannya kepada Rajan sedangkan Lara yang di tanya seperti ini hanya menjelaskan jika ia sendiri juga tidak tau mengapa berpikir seperti ini.
"Tumben Lara membahas hal ini, sebenarnya ada apa? Hm? Apakah ada alasan tertentu yang membuatmu menanyakan Giran padaku? Padahal selama ini kamu jarang sekali menceritakan perasaanmu padaku jadi rasanya ada hal yang ingin aku tanyakan sekarang kamu seperti ini, Lara?" tanya Rajan lembut.
"Maaf jika pertanyaanku ini terdengar tak bersahabat di telingamu, sejujurnya aku juga tidak tau mengapa aku berpikir seperti ini! Mungkin aku hanya semakin terganggu dengan kedatangan Giran yang selalu mengatakan hal yang sama padahal aku sendiri jelas tau bahwa semuanya sudah berakhir tak ada alasan apapun lagi yang perlu aku pahami kan ya," ucap Lara sendu.
Nada sedih yang terdengar oleh Rajan tentu membuat hatinya juga ikut bersedih, tetapi pemuda itu paham jika saat ini Lara lebih butuh untuk ditenangkan di banding Rajan memikirkan hatinya yang sedih toh ini salahnya karena mencintai gadis yang lebih mencintai orang lain di banding Rajan.
"Kamu tak perlu meminta maaf toh kamu hanya mencari teman berceritakan? Aku baik-baik saja kok! Jadi seperti itu ya? Kalau begitu kamu tidak perlu menyalahkan dirimu atau terus saja mempertanyakan masalah ini, Lara! Cukup pikirkan hal yang ingin kamu lakukan dan jangan lupa bahagiakan dirimu ya? Tenang saja aku akan tetap ada untukmu," tutur Rajan lembut.
Lara tidak tau harus mengatakan apa saat matanya menatap wajah Rajan yang terlihat sendu jadi gadis itu hanya sanggup mengangguk-anggukkan kepalanya dan tak lama ia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sementara Rajan memandang gadis itu dengan tatapan sendu dan berbagai perasaan yang bercampur aduk.
"Aku ini berpikir apaan sih? Jelas-jelas aku memahami perasaan Rajan! Mengapa aku bertanya seperti ini dan malah membuat ia terlihat sedih? Harusnya kalau aku belum bisa memberikan hatiku untuknya aku tidak boleh menyakiti hati Rajan! Melihatnya berpura-pura tegar di depanku semakin membuat hatiku ikut berdenyut sakit ya Allah," batin Lara tak tega.
"Kesalahan terbesarku bukan tak mengatakan perasaanku padamu melainkan aku tidak bisa berbuat apa-apa di saat hatimu terluka sendirian, Lara! Entah sampai kapan aku harus bertahan dan memasang topeng baik-baik saja seperti ini di hadapanmu Lara, tapi ya sudahlah aku akan terima apapun lagipula ini kesalahanku karena mencintaimu dalam diam! Apa lagi yang bisa aku harapkan cinta sendirian ini ya," batin Rajan sendu.
Keduanya larut dalam mimpi indah mereka hingga bulan yang awalnya menemani kini berubah menjadi silaunya mentari pagi yang membuat Rajan bergegas menyiapkan segala kebutuhan Lara dan sebelum gadis itu terbangun, tak lama ia menulis surat untuk Luruh yang menemani kakaknya ketika Rajan harus memeriksa usahanya.
"Maaf karena aku pergi tanpa berbicara dengan kalian dulu, Luruh dan Lara! Aku harus pergi ke restoranku jadi tolong kamu temani Lara sampai nanti malam ya, Luruh! Kalau begitu sampai jumpa nanti malam dan terima kasih karena kamu sudah menemani Lara saat aku pergi kerja ya Luruh," pesan Rajan santai.
Setelah selesai menulis surat tak lama pemuda itu bergegas menuju usahanya sebuah restoran yang di desain bernuansa cafe yang nyaman dan pagi itu Rajan membersihkan dirinya di kamar mandi pribadi di ruangannya, meskipun raganya terlihat sibuk ke sana kemari hanya saja pikiran Rajan masih memikirkan ucapan Lara.
"Harusnya aku tidak perlu memikirkan hal ini, tetapi melihat Lara meratapi perjalanan asmara yang menyakitkan untuknya membuatku ikut memikirkan apa alasan Giran hadir kembali di hidup Lara ya? Sebenarnya pria itu maunya apa sih? Dia yang sendiri yang minta putus dan memandang Lara sebelah mata lalu ia sendiri yang bilang cinta? Sepertinya ada yang tidak beres nih dari pria itu, tapi apa ya? Pikiran dia itu gimana sih?!" gumam Rajan gelisah.
Tidak butuh waktu lama untuk Rajan membersihkan dirinya tak lama Rajan sudah siap untuk ia membantu para barista dan pekerjanya yang mulai kewalahan dengan banyaknya pengunjung restoran pagi ini karena kebetulan ini jam untuk beberapa orang sarapan sebelum bekerja.
Awalnya pagi itu terlihat biasa saja untuk Rajan sebab ia telah menjalankan usahanya bukan dalam waktu sebentar, tetapi tak lama pemuda itu melihat seseorang yang terlihat menyebalkan di matanya dan semakin Rajan lihat dengan seksama memang benar itu orang yang ia kenal.
Dalam diam Rajan memperhatikan pemuda yang ia kenal tersebut dengan cukup serius sebab dari percakapan ia dan teman-temannya, Rajan merasa ada hal yang ingin ia dengar terlebih beberapa kali dalam obrolan itu nama Lara di sebut dengan cara yang membuat emosi Rajan berusaha ia tahan sekuat tenaga sebab Rajan sadar betul ia sedang berada di restoran miliknya.
"Kabarnya Lara menyetujui permintaan putus lu ya, Giran? Wah sayang banget dia itukan anak perempuan pertama jadi udah pasti semua hal yang di inginkan dia mudah aja diberikan keluarganya! Apalagi adiknya sekarang menikahi keluarga kaya raya wah namanya sih bakal semakin bagus di komplek kita! Nyesel kan lu putus sama dia haha!" ujar teman Giran senang.
"Tentu aja dia setuju karena dia kan cinta banget sama gue! Jangankan putus mobil punya dia gue pake jemput Narunna aja dia gak marah kok hahaha! Kenapa gue harus menyesal orang dia masih cinta sama gue jadi gampang aja buat menarik hatinya?! Cewek kalau udah cinta cuma ikutin hatinya jadi mana mungkin gue gak bisa dapatin dia! Gampang kok," sahut Giran bangga.
"Hidup itu gak boleh gampangin hal yang lu gak akan tau hasilnya akan bagaimana, Giran! Kalau di pikir-pikir lagi harusnya lu belajar dari kesalahan bukan malah tamak dan menginginkan harta dari cewek yang tulus sama lu! Karma itu datangnya gak terduga dan nantinya lu malah benar-benar kehilangan dia aja! Baru nyesal dah lu kalau begitu," ucap teman Giran yang lain datar.
"Di kamus hidup gue gak ada kata menyesal dong! Karma tuh cuma omong kosong aja tau eh selain harta keluarga Lara yang gak sedikit alasan gue hadir kembali di hidup Lara ya buat memiliki nama yang bagus dong! Secara dia orang yang di pandang kenapa gue gak deketin lagi ya kan? Cinta sama dia mah gue gak akan sudi! Dia kan penyakitan gitu dah," sindir Giran santai.
"Contoh manusia yang ingin gue musnahkan dari bumi adalah Giran ini! Setelah ketahuan tak bisa setia dan mempermainkan perasaan Lara terus sekarang dia hadir kembali cuma demi harta dan nama bagus doang?! Kalau gak di restoran gue udah gue lempar dia ke tengah jalan biar dia liat sendiri karma yang layak buat dia itu apa!!" batin Rajan geram.
Tak lama Giran terlihat hendak membayar makanannya dan Rajan memerintahkan staffnya yang mengurusinya sebab Rajan tidak ingin berhadapan dengan pria memuakkan seperti itu dan Rajan memilih membelakangi Giran dan pura-pura menyibukkan diri dengan memotong bahan makanan di banding melihat wajah pria itu.
"Tolong kamu tangani bagian kasir ini dulu ya! Saya masih harus mengurusi hal lain dan masih ada beberapa bahan yang belum saya potong-potong untuk di masak jadi mohon bantuannya dan jangan panggil-panggil saya dulu selama saya sibuk memotong bahan ini ya! Kamu paham dengan perintah saya kan?" bisik Rajan serius.
Suara tawa dan hinaan yang Giran lontarkan masih terdengar di telinga Rajan hingga tak lama Rajan bisa mendengar suara pintu yang tertutup dan seketika ia meminta staff lain untuk fokus bekerja tanpanya sebab ia ingin menenangkan dirinya di ruangan pribadinya.
"Restoran yang gak terlalu bagus cuma bukan yang gak baik juga sih, entah kenapa restoran ini mirip sama Lara yang menguntungkan cuma dia bukan prioritas sih hahaha! Emang gue cerdas sih makanya wajar aja dia cinta sama gue kan cuma gue pria yang dia cinta jadi mana mungkin dia menaruh hati ke pria lain," ujar Giran bangga.
"Ini bahan-bahan yang udah siap kalian masak, tolong hari ini kalian tangani setiap masalah dan pesanan dulu ya! Saya lagi gak mau di ganggu jadi tolong jangan ada yang memanggil atau mengganggu saya hari ini dulu ya! Kalau begitu saya mohon bantuan kalian," ucap Rajan datar.
Pemuda itu tak menyangka jika Giran memiliki alasan yang memalukan menurutnya dan ia juga tak bisa mengatakan hal ini pada Lara sebab jelas-jelas gadis itu masih memiliki perasaan yang dalam untuk Giran jadi Rajan hanya khawatir hati gadis itu akan semakin merasa hancur lebih dari sekedar ia berpisah dengan pemuda itu.
"Ternyata alasan Giran hadir kembali seperti itu ya? Menguntungkan diri sendiri padahal dia itu seorang pria! Benar-benar memalukan sekali sih manusia satu itu?! Cuma kalau gue ngomong hal ini ke Lara pasti akan menyakiti hati Lara karena dia masih cinta sama pria memuakkan itu! Cuma kalau Lara gak tau hal ini hatinya bisa semakin hancur dan sedih lagi," gumam Rajan khawatir.